Bitna meletakkan sendoknya lalu menatap Yo Han. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan suaminya sampai menatapnya seperti itu.
“Apa teman-teman kuliahmu tidak tahu kalau kau sudah menikah?” tanya Yo Han.
“Entah, mereka tidak pernah bertanya hal-hal seperti itu,” jawab Bitna. Teman-temannya memang tidak pernah bertanya tentang statusnya, jadi dia juga tidak membahas pada mereka kalau dia sudah menikah.
“Lalu cincinnya? Kau selalu memakainya?”
Bitna mengacungkan jari manisnya.
“Yak!!!” ucap Yo Han kaget karena Bitna seperti mengacungkan jari tengah.
“Cincin ini tidak pernah lepas kecuali saat aku mandi.”
Yo Han menghela napas pelan. Cincin yang melingkar di jari manis Bitna tampak seperti aksesoris biasa, sama sekali tidak terlihat seperti cincin pernikahan. Pantas saja masih ada pria yang berani mendekati Bitna, teman-temannya juga tidak tahu jika gadis itu telah bersuami.
“Kau tidak bilang kalau sudah menikah?”
Bitna menghela napas. “Bukankah tadi aku sudah bilang kalau mereka tidak pernah menanyakan hal-hal seperti itu. Jadi aku juga tidak membahasnya. Jelas akan terlihat aneh jika aku bilang sudah menikah padahal mereka tak menanyakannya.”
“Kau pasti sangat senang bisa dikira masih lajang,” sindir Yo Han.
“Wah.... Kau ini benar-benar. Apa sampai perlu aku memakai kertas bertuliskan sudah menikah saat kuliah agar kau senang? Apa kau cemburu? Kau sendiri yang bilang jangan menganggap pernikahan ini serius, tapi kenyataannya kau yang rewel hanya karena aku tidak bilang jika sudah menikah. Dan lagi kau ini gay kan? Harusnya kau tidak cemburu jika kau dekat dengan laki-laki lain, lagi pula kami hanya berteman. Tidak lebih.”
Satu kalimat dari ucapan Bitna menohok Yo Han. Menyadarkan pria itu bahwa dirinya adalah seorang gay.
“Cemburu? Yang benar saja. Jika nantinya aku akan menyukai perempuan, itu pasti bukan dirimu. Kau sama sekali bukan tipeku!”
Bitna menatap kesal ke arah Yo Han. Pria itu sudah mencari keributan padahal masih pagi. Apa mereka tidak bisa sarapan dengan tenang seperti pasangan normal—Tunggu mereka memang bukan pasangan normal. Ingat Yo Han itu gay.
“Mulai hari ini aku akan mengatarmu kuliah!”
Bitna hampir tersedak nasi goreng yang dia makan setelah mendengar ucapan Yo Han. Gadis itu kemudian segera meneguk jus jeruk di depannya.
“Mengantarku? Tapi kenapa?” tanya Bitna. Mengingat bagaimana tatapan mahasiswa lain saat dia keluar dari mobil mewah milik Yo Han membuat Bitna tak nyaman. Dan karena itu dia tidak mau diantar Yo Han lagi.
“Tidak ada alasan khusus, dan aku juga tidak menerima penolakan. Mulai hari ini aku akan mengantarmu,” jawab Yo Han.
“Tapi—”
“Cepat makan lalu mandi. Kita berangkat bersama pagi ini,” ucap Yo Han sebelum pergi ke kamarnya meninggalkan Bitna yang masih kaget karena menerima kenyataan bahwa mulai hari ini Yo Han yang akan mengantarnya kuliah.
Bitna mengusap poninya kasar. Jika begini gosip tentang dia berasal dari keluarga kaya akan muncul lagi ke permukaan. Padahal dia sudah bersusah payah agar gosip itu menghilang. Dia hanya ingin kuliah dengan tenang, menjadi mahasiswa biasa-biasa saja yang tidak dikenal banyak orang.
***
Sungguh hari ini Bitna malas sekali pergi ke kampus. Bukan karena hari ini hari Senin, tapi karena Yo Han mengantarnya. Apa lagi suaminya itu mengantarnya tepat di depan gerbang universitas. Padahal Bitna sudah memohon untuk diturunkan di Cafe dekat kampus agar tidak ada yang melihatnya keluar dari mobil Yo Han. Tapi suaminya itu sangat keras kepala, dan tidak mau mendengarkan ucapannya.
“Tidak turun?” tanya Yo Han melihat Bitna masih duduk manis di sampingnya padahal mereka sudah sampai di depan kampus.
Bitna menghela napas. Ia lalu menatap keluar jendela. Ada banyak mahasiswa dari jurusannya yang juga baru datang.
Dengan sangat terpaksa Bitna akhirnya keluar dari mobil Yo Han.
“Aku akan menjemputmu nanti,” kata Yo Han setelah Bitna turun dari mobil.
Tak peduli dengan ucapan Yo Han, Bitna segera menutup pintu mobil. Dia lalu cepat-cepat menjauh dari sana sebelum ada yang melihatnya.
Yo Han hanya tersenyum tipis melihat tingkah Bitna dari dalam mobil. Gadis itu terlihat lucu karena tingkahnya mirip seorang pencuri yang takut tertangkap polisi. Tapi senyum di wajah Yo Han tidak bertahan lama. Wajahnya berubah serius saat mendapati dirinya jadi sering tersenyum karena Bitna.
Dia dulu jarang sekali tersenyum. Tapi sejak kehadiran Bitna segala tingkah gadis itu dapat membuatnya tersenyum. Entah itu tingkah polosnya atau kecerobohan Bitna selalu bisa membuatnya tersenyum.
Sesaat kemudian Yo Han menggelengkan kepalanya agar pikiran tentang Bitna menghilang dari kepalanya. Dia harus menyingkirkan segala pikiran tentang Bitna agar bisa mengendalikan dirinya.
Saat hendak melajukan mobilnya, lagi-lagi pandangan Yo Han tertuju pada Bitna. Gadis itu sekarang tidak berjalan sendirian, ada Seung Woo pemuda yang dilihatnya di Cafe kemarin menghampiri Bitna sambil tersenyum lebar.
Entah kenapa melihat Seung Woo tersenyum seperti itu pada Bitna membuat Yo Han kesal. Melihat Bitna juga balas tersenyum membuat Yo Han semakin kesal. Sebagai suami Bitna wajar jika dia merasa kesal dan marah saat ada yang mendekati gadis itu. Tapi, masalahnya adalah dia tak punya ketertarikan pada gadis itu, jadi harusnya dia merasa biasa saja kan saat melihat Bitna bersama pria lain?
Namun menurut Yo Han ini benar-benar aneh. Melihat Bitna bersama Seung Woo membuatnya kesal, seperti saat orang lain berusaha mengambil barangnya.
Tak mau berlarut-larut dengan rasa kesalnya Yo Han segara melajukan mobilnya menjauh dari area universitas. Dia harus segera pergi ke kantor karena ada banyak pekerjaan yang menantinya.
***
Yo Han nyatanya benar-benar serius dengan ucapannya. Pria itu setiap hari mengantar jemput Bitna untuk kuliah. Entah karena ingin membuat gadis itu kesal—Bitna tak suka jika diantar Yo Han sampai ke depan kampus. Atau karena ingin memastikan Bitna tidak dekat dengan laki-laki lain.
Sudah dua minggu sejak Yo Han mengantar jemput Bitna pergi kuliah. Rasanya Bitna ingin sekali diam di rumah hari ini dan tidak pergi kuliah. Sejak Yo Han mengantar dan menjemputnya dia mulai mendengar banyak gosip tentangnya, seperti dia berasal dari keluarga kaya atau dia mengencani pria kaya.
Bitna sudah berusaha mengabaikan gosip itu tapi nyatanya tak mudah. Setiap kali ia lewat akan ada mahasiswa yang menatapnya lalu berbisik tentangnya. Memang dia sudah terbiasa menjadi bahan gunjingan dulu, tapi entah kenapa kali ini rasanya berbeda. Dulu dia tak akan peduli dengan apa yang orang katakan tentangnya karena dia hanya fokus untuk bekerja dan bertahan hidup. Namun rasanya sekarang rasanya benar-benar sulit, setiap kali dia berusaha mengabaikan omongan orang lain tentangnya, justru perkataan mereka semakin terngiang-ngiang di kepalanya.
Yo Han pagi itu sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Dia sedang menunggu Bitna keluar dari kamarnya. Seperti biasa dia akan mengantar istrinya itu ke kampus.
Bitna keluar dari kamarnya. Dia sudah berpakaian rapi dan juga membawa tasnya. Tapi wajah gadis itu terlihat tidak bersemangat.
“Kenapa dengan wajahmu itu?” tanya Yo Han melihat wajah Bitna yang mirip kertas yang diremas-remas.
Tak menjawab pertanyaan suaminya Bitna lebih dulu keluar dari apartemen. Meskipun dia ingin menolak diantar Yo Han, pria itu pasti mengabaikannya. Jadi dia memilih segera keluar dan menuju tempat parkir di mana mobil Yo Han berada.
Melihat Bitna yang lebih dulu keluar Yo Han segera menyusul istrinya. Sampai di tempat parkir begitu dia membuka mobilnya Bitna langsung masuk dan memasang sabuk pengaman. Gadis itu bahkan tak protes atau merengek tidak ingin diantar. Sungguh berbeda dengan Bitna yang biasanya.
Sejak mobil Yo Han melaju meninggalkan tempat parkir hingga sampai di universitas Bitna hanya diam sambil menatap keluar jendela. Diamnya Bitna ini membuat suasana antara gadis itu dan Yo Han terasa sangat tidak enak. Bahkan menurut Yo Han rasanya sangat mencekam. Pria itu bahkan beberapa kali menelan ludahnya karena merasa tak nyaman.
Biasanya Bitna selalu cerewet dan membuatnya kesal, tapi pagi ini gadis itu jadi sangat pendiam. Membuat takut jika ternyata dia berbuat salah pada gadis itu. Tapi kesalahan apa yang dia buat?
“Apa dia punya masalah di kampus?” gumam Yo Han sambil menatap punggung Bitna yang berjalan menjauh dari mobilnya.
“Mungkinkah tugas kuliahnya menumpuk?” gumam Yo Han sekali lagi. Pria itu kemudian melajukan mobilnya menjauhi area kampus Bitna.
Awalnya sempat khawatir, Yo Han memutuskan untuk tak peduli kenapa Bitna jadi pendiam pagi ini. Lagi pula di dalam kontrak mereka tertulis untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Jadi dia harus tetap berada di jalannya dan tidak boleh melewati batas yang sudah mereka tentukan.
***
Yo Han malam itu tampak gelisah sambil menatap pintu kamar Bitna. Beberapa hari ini Bitna jadi sangat pendiam. Memang Yo Han memutuskan untuk tidak peduli, tapi melihat Bitna jadi pendiam seperti ini mulai mengusiknya. Dia mulai merasa khawatir pada istrinya. Apa lagi sejak pulang dari kampus tadi Bitna belum keluar dari kamarnya.
Tok... Tok... Tok...
“Bitna,” panggil Yo Han setelah mengetuk kamar istrinya.
“Bitna,” panggil Yo Han sekali lagi karena tak ada respons dari istrinya.
“Kau mau makan apa? Sudah waktunya makan malam?” tanya Yo Han saat Bitna kembali tak menjawab panggilannya. Biasanya gadis itu selalu bersemangat jika menyangkut makanan.
“Aku tidak lapar,” sahut Bitna. Perkataan Bitna itu sangat berbanding terbalik dengan Bitna yang biasanya.
“Kau yakin?”
“Ya.”
Yo Han menghela napas. Sepertinya memang ada yang tidak beres tentang Bitna. Dia tidak bisa membiarkan ini begitu saja. Dia dan Bitna harus bicara. Tinggal berdua dengan keadaan seperti ini sangatlah tidak nyanam.
Tok... Tok... Tok...
Yo Han kembali mengetuk kamar istrinya. “Kim Bitna, kita harus bicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan,” kata Bitna dari dalam kamar.
Yo Han kembali menghela napas. Bitna sangat keras kepala, tapi dia tidak bisa membiarkannya begitu saja.
“Kita harus bicara. Jika kau tidak mau keluar, aku akan mendobrak pintu kamarmu!”