Tak ada respons dari Bitna, Yo Han pun memasang ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar gadis itu. Bagaimanapun caranya mereka berdua harus bicara agar dia tahu penyebab gadis itu jadi pendiam.
“Oke karena kau diam saja aku akan mendobrak pintu ini,” ucap Yo Han mulai bersiap-siap mendobrak pintu kamar Bitna.
“Satu....”
“Dua....”
“Tiga....”
Kriet.....
Tepat di hitungan ketiga Bitna membuka pintu kamarnya. Yo Han yang hendak mendobrak pintu itu jatuh tersungkur di depan Bitna karena gadis itu tiba-tiba membuka pintu kamarnya.
Yo Han segera bangun dan bersikap tak terjadi apa-apa—walaupun sebenarnya jatuh tersungkur seperti tadi sangat memalukan baginya.
“Ayo kita bicara,” ucap Yo Han.
Bitna kemudian mengekor di belakang Yo Han. Sebenarnya gadis itu tidak mau melihat wajah Yo Han apa lagi bicara dengannya. Jika saja Yo Han tidak mengancam akan mendobrak pintu kamarnya, Bitna pasti masih tetap di kamarnya yang nyaman.
“Jadi kenapa kau sangat pendiam akhir-akhir ini?” tanya Yo Han.
Dia dan Bitna sudah duduk berhadapan di ruang makan. Tapi sejak menjatuhkan pantatnya ke kursi Bitna hanya menundukkan kepalanya. Gadis itu seakan enggan melihat wajah Yo Han, membuat pria itu makin merasa tak enak karena mengira berbuat salah pada Bitna.
“Aku memang pendiam,” jawab Bitna pelan hampir seperti bergumam.
“Tidak, kau tidak seperti ini sebelumnya.” Yo Han tahu Bitna memang pendiam sebelum bertemu dengannya, tapi Bitna tidak pernah seperti ini. “Apa terjadi sesuatu di kampus?”
Benar mungkin saja ada hal yang terjadi di kampus dan membuat Bitna jadi lebih pendiam dari pada biasanya.
“Itu bukan urusanmu, ingat di kontrak—”
“Aku tahu kita dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing,” potong Yo Han. “Tapi melihat wajahmu seperti kertas kusut itu sangat mengganggu, dan lagi tempat ini jadi seperti rumah kosong karena kau jadi sangat tenang.”
“Jika sangat mengganggu kau hanya perlu tidak melihatku kan? Jika ingin terdengar ramai kau bisa menyetel musik dengan keras,” ucap Bitna.
Yo Han menghela napas. Niatnya mengajak Bitna bicara adalah untuk tahu penyebab gadis itu jadi sangat pendiam tapi kenapa malah berakhir dengan perdebatan panjang.
“Oke, mungkin aku kurang peka. Apa aku melakukan kesalahan?” Ini adalah kemungkinan terakhir yang menyebabkan Bitna jadi sangat pendiam.
Bitna mengangkat kepalanya lalu menatap Yo Han. Melihat reaksi Bitna sepertinya memang dia yang menyebabkan gadis itu jadi seperti ini. “Jadi kesalahan apa yang aku buat? Aku sudah tidak pernah menjahilimu lagi.”
Bitna menghela napas lalu membuang muka menatap ke arah lain. “Bisa kau berhenti mengantar dan menjemputku ketika kuliah?”
Yo Han mengerutkan dahinya. Jadi gara-gara ini Bitna jadi seperti ini. “Kenapa? Bukankah kau harusnya senang karena bisa menghemat biaya transportasi? Kau kan paling suka berhemat.” Benar Bitna paling suka berhemat, padahal sekarang dia tidak perlu lagi pusing memikirkan soal uang. Dia punya segalanya sekarang.
“Karena kau mengatar dan menjemputku setiap hari, ada gosip tentangku yang menyebar di antara mahasiswa lain.” Setiap kali mengingat gosip tentangnya yang beredar di kampus selalu membuat Bitna tak nyaman.
“Gosip? Tentang kau berasal dari keluarga kaya? Bukannya itu cerita lama dan kau baik-baik saja—”
“Kali ini berbeda!” potong Bitna. “Mereka bilang aku mengencani pria-pria kaya jadi bisa hidup dengan mewah.”
Suara Bitna terdengar tercekat saat mengatakan hal itu. Setelahnya gadis itu kembali menundukkan kepalanya. Dulu dia memang tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan tentangnya, tapi sekarang entah kenapa dia merasa sangat terluka mendengar orang lain bergunjing tentangnya. Dia bisa saja mengatakan pada mereka jika sebenarnya dia sudah menikah. Tapi pasti nantinya mereka akan membuat gosip baru, seperti dirinya menikah dengan pria kaya yang lebih tua darinya agar bisa hidup mewah atau dia menikah dengan Yo Han hanya karena harta pria itu.
Melihat Bitna kembali menundukkan kepalanya membuat Yo Han sadar jika gadis itu benar-benar merasa tidak nyaman dengan gosip tentang dirinya. Awalnya dia mengantar jemput Bitna untuk membuat gadis itu kesal sekalian membuat pemuda bernama Seung Woo itu jadi patah hati kalau tahu ternyata Bitna tidak menikah. Tapi selama dua minggu dia bahkan tak melihat batang hidup pemuda itu setiap kali mengantar atau menjemput Bitna. Dan sekarang ulahnya itu malah membuat Bitna merasa tidak nyaman.
“Maaf,” ucap Yo Han kemudian. Dia benar-benar merasa bersalah. “ Kalau begitu mulai besok aku tak akan mengantar atau menjemputmu lagi.”
Bitna mengangkat kepalanya kemudian menatap Yo Han. “Percuma, mereka sudah terlanjur berpikir seperti itu.”
Benar meski Yo Han sudah tak lagi mengantarnya, bukan berarti mereka akan mengubah pemikiran mereka tentang dirinya.
“Setidaknya kau harus berangkat dengan nyaman, berangkat bersamaku pasti tak nyaman karena gosip itu.”
Bitna mengerjapkan matanya. Sebenarnya ada apa dengan Yo Han? Kenapa pria itu jadi peduli dengan kenyamanannya? Bukankah Yo Han mengantar jemputnya untuk membuatnya kesal?
“Pembicaraan kita sudah selesai, kau tidurlah besok kau harus pergi kuliah kan,” ucap Yo Han lalu berdiri dan meninggalkan Bitna menuju kamarnya.
Memang dengan tak lagi mengantar dan menjemput Bitna tidak akan membuat gosip tentang gadis itu menghilang. Oleh karena itu Yo Han harus menemukan cara agar gosip itu hilang. Dia sudah berjanji pada ayah Bitna untuk membuat gadis itu hidup dengan nyaman, walaupun pernikahan mereka hanya sandiwara dan hanya sebuah status di atas kertas. Tapi dia harus tetap menempati janji itu.
***
Bitna menatap kosong pintu loker di hadapannya. Yo Han benar-benar tak mengantarnya pagi ini. Rupanya pria itu sungguh-sungguh dengan ucapannya. Tapi meskipun tak di antar Yo Han, Bitna masih menjadi bahan pembicaraan mahasiswa lain. Dan itu sungguh tak nyaman. Apa lagi memikirkan sikap Yo Han yang menjadi sangat peduli padanya kemarin mulai mengganggu Bitna. Apakah pria itu memang peduli padanya? Atau Yo Han punya niat terselubung.
“Noona,” panggil Seung Woo saat menghampiri Bitna di lokernya.
“Oh Seung Woo-ya.”
“Masih memikirkan gosip itu?” tanya Seung Woo. Dari ekspresi Bitna yang terlihat murung dia tahu gadis itu masih memikir tentang gosip-gosip tentang dirinya.
“Aku mencoba mengabaikannya seperti saranmu, tapi ternyata tak semudah itu,” jawab Bitna. Mengabaikan gosip-gosip tentang dirinya ternyata tak mudah karena ke mana pun dia pergi pasti dia akan mendengar mereka berbisik tentangnya.
“Tenanglah, pasti nanti juga akan menghilang sendiri,” ucap Seung Woo menenangkan Bitna. Setidaknya ini yang bisa dia lakukan untuk gadis yang dia sukai. Bitna sangat tertutup. Dia tak banyak memberitahu hal-hal tentang dirinya. Bahkan sampai saat ini Seung Woo tidak tahu alamat rumah gadis itu. Dia hanya tahu jika Bitna tinggal di Gangnam karena tak sengaja bertemu di Cafe.
“Terima kasih.”
“Mau ke kafetaria?”
“Ya, aku tidak sempat sarapan tadi pagi.”
Saat menuju kafetaria, langkah Bitna tiba-tiba saja terhenti. Membuat Seung Woo menatapnya bingung. “Ada apa?”
Tak menjawab pertanyaan Seung Woo, bola mata Bitna fokus menatap pria tinggi dengan setelan jas yang sedang berjalan ke arahnya. Di tangan kanan pria itu memegang sebuah buket bunga mawar merah. Bitna menyipitkan matanya memastikan sosok yang dia lihat. Itu Yo Han, suaminya.
Yo Han berjalan menyusuri koridor sambil memegang buket mawar merah di tangannya. Banyak mahasiswa perempuan yang terpesona dengannya ketika Yo Han berjalan melewati mereka. Siapa yang tidak akan terpesona dengan pria tampan berbadan atletis seperti Yo Han. Dari pada seorang pengusaha penampilan Yo Han lebih mirip seorang aktor.
Bitna menatap tak percaya ke arah Yo Han yang sedang berjalan ke arahnya. Harusnya dia tidak sepenuhnya percaya jika pria itu menjadi peduli padanya. Buktinya pria itu malah datang ke kampusnya dan mungkin akan—sudah terjadi kehebohan di sini. Bitna menghela napas kasar. Yo Han memang pria menyebalkan, dia pikir jika pria itu tahu tentang gosip di kampus yang menerpanya Yo Han akan berhenti mengantarnya. Memang Yo Han berhenti mengantarnya, tapi pria itu malah membuat keributan yang jauh lebih besar.
“Kau sudah selesai?” tanya Yo Han begitu sampai di hadapan Bitna.
Bitna menatap ke sekitar. Para mahasiswa di sana terlihat mulai berbisik sambil menatapnya. Ia lalu menatap kesal ke arah Yo Han. “Apa yang kau lakukan di sini.”
“Tentu saja menjemputmu,” jawab Yo Han sambil menyerahkan buket bunga mawar yang di bawanya. “Aku membelinya karena mirip denganmu.”
Bitna merinding mendengar ucapan suaminya itu. Sebenarnya apa yang dilakukan Yo Han di sana.
“Noona dia siapa?” tanya Seung Woo berbisik. Melihat seorang pria tiba-tiba datang dan memberikan buket bunga mawar pada Bitna membuat hatinya terasa terbakar.
Seung Woo merasa cemburu.
“Dia—”
“Kenalkan, aku Nam Yo Han suami Bitna,” sela Yo Han sebelum Bitna menjawab pertanyaan Seung Woo.
Seung Woo melebarkan matanya tak percaya. Pria yang saat ini berdiri di depannya adalah suami Bitna? Pemuda itu kemudian menatap Bitna, meminta kebenaran dari apa yang baru saja dia dengar.
“Dia suamiku,” ucap Bitna seolah tahu arti tatapan Seung Woo.
Seung Woo lalu kembali menatap Yo Han. Kakinya tiba-tiba saja terasa lemas setelah mengetahui fakta bahwa Bitna telah menikah. Hatinya sekarang terasa sakit. Perasaannya untuk Bitna harus kandas sebelum dia bisa mengungkapkannya pada gadis itu.
Apakah patah hati rasanya memang seperti ini? Seung Woo tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Bitna adalah gadis pertama yang dia sukai dan sekarang jadi gadis pertama yang membuatnya patah hati bahkan sebelum dia berusaha untuk mendapatkan gadis itu.
Bukan hanya Seung Woo yang terkejut mengetahui bahwa Bitna sudah menikah. Mahasiswa lain yang berdiri di dekat mereka juga sama terkejutnya. Mereka merasa tak enak karena telah bicara hal-hal yang tidak benar tentang Bitna sebelumnya.
“Kau suka bunganya?” tanya Yo Han memecah keheningan di antara mereka bertiga.
Seung Woo sedang meratapi perasaannya yang berakhir dengan cinta bertepuk tangan. Bitna sedang menerka-nerka apa yang sebenarnya direncanakan Yo Han. Apa pria ini mengerjainya lagi? Ingat pria itu sangat menyebalkan, dia bisa saja melakukan segala hal untuk membuat Bitna kesal, seperti kejadian saat malam pertama.
“Kau pasti lelah,” ucap Yo Han. Kali ini pria itu mengusap puncak kepala Bitna dan membuat tubuh gadis itu berdesir karena sentuhan Yo Han itu.