Bagian 23

1621 Words
Tubuh Bitna tiba-tiba menjadi kaku saat Yo Han mengusap puncak kepalanya. Perasaan aneh yang susah payah dia abaikan tiba-tiba saja muncul kembali saat pria itu menyentuhnya seperti tadi. Usapan tangan Yo Han di kepalanya terasa lembut dan membuat tubuhnya berdesir. Oh Tuhan. Bitna ingin sekali membuat jantungnya diam karena saat ini jantungnya sedang berdebar hebat bahkan seperti ingin melompat keluar dari tempatnya. Bagaimana jika Yo Han atau mungkin semua orang di sana mendengar suara detak jantungnya. “Yeobo.” Kesadaran Bitna akhirnya kembali saat Yo Han memanggilnya. Gadis itu lalu menatap ngeri ke arah Yo Han. Yeobo? Apa Yo Han kerasukan hantu? “Ayo pergi, kau pasti lapar.” Kali ini Yo Han menarik Bitna mendekat lalu merangkul gadis itu. Baru saja Bitna bisa mengatasi jantungnya yang tadi berdebar hebat, sekarang Yo Han kembali membuat tubuhnya berdesir hebat. Sebenarnya apa yang direncanakan pria itu? Apa dia sengaja melakukan semua ini untuk membuatnya kesal? Jika benar, Yo Han telah sukses besar membuatnya kesal. Bitna benar-benar merasa kesal sekarang, karena Yo Han perasaan aneh yang susah payah dia kubur tiba-tiba saja kembali bergejolak dan Bitna hampir saja tak bisa mengendalikannya. “Kami pergi dulu ya,” pamit Yo Han pada Seung Woo yang masih diam meratapi kenyataan bahwa gadis yang dia sukai ternyata telah bersuami. Seung Woo menatap nanar punggung Bitna yang berjalan menjauhinya. Melihat tangan Yo Han melingkar di bahu gadis itu membuat hatinya terasa sakit. *** Sampai tempat parkir, Bitna segera menyingkirkan tangan Yo Han yang melingkar di bahunya. Ia lalu menatap nyalang ke arah Yo Han. “Sebenarnya apa yang kau rencanakan?” Yo Han mengerutkan dahi menatap Bitna yang tiba-tiba saja marah. “Rencana apa? Aku memang datang untuk menjemputmu. Bukankah wajar suami menjemput istrinya?” “Kau mau membuatku kesal kan?” “Aku membuatmu kesal? Untuk apa?” Bitna menghela napas kasar. “Sebelumnya kau mengantar jemputku setiap hari juga untuk membuatku kesal kan? Dan kau berhasil, aku sangat kesal karenamu dan karena kau juga semua gosip tentangku dimulai.” “Oke untuk itu aku minta maaf, tapi kali ini sama sekali tidak berniat membuatmu kesal. Aku ingin meluruskan gosip-gosip tentangmu jadi aku datang dan memberi kejutan.” Bitna menatap jengah ke arah Yo Han. Pria itu memang berhasil mengejutkannya, tapi apa yang dilakukan Yo Han bukannya akan membuat gosip tentangnya menghilang tapi justru akan muncul gosip baru yang mungkin lebih menyakitkan. “Apa kau pikir dengan kau datang semua gosip itu akan hilang? Tidak. Yang ada justru gosip-gosip baru akan muncul. Seperti aku menikahi pria kaya karena hartanya, aku menikah dengan direktur perusahaan besar setelah menggoda—” “Kenapa berpikir seperti itu?” potong Yo Han. “Apa pikiranmu sepicik ini? Apa kau memang selalu memandang rendah dirimu? Apa menurutmu kau tak pintas menikah dengan pria kaya sepertiku?” Ucapan Yo Han itu memukul Bitna tepat pada sasaran. Karena sering mendengar orang bergunjing tentangnya dan memandangnya rendah, Bitna juga ikut memandang dirinya seperti itu. Dia merasa gadis sepertinya miskin, dan hidup terlilit hutang tak pantas jika bersanding dengan Yo Han. Pria mapan dari keluarga kaya. Harusnya pria itu mencari wanita lain yang sepadan dengannya untuk menikah dengannya. Meski bukan anak teman orang tuanya, jika wanita itu berasal dari keluarga kaya dan berpendidikan bagus pasti kedua orang tua Yo Han akan setuju. Bukan seperti dirinya, orang tua Yo Han menerimanya hanya karena dia anak dari teman mereka. “Kim Bitna sadarkan dirimu! Meski pernikahan ini hanya karena kesepakatan,” ucap Yo Han setengah berbisik karena takut orang lain mendengar mereka. “Aku memilihmu karena kau memang gadis yang baik. Aku bisa memilih wanita lain yang kaya, berpendidikan tinggi, memiliki karier yang bagus tapi mereka setuju karena ada maksud tersembunyi. Tapi kau tidak seperti itu.” Bitna memalingkan wajahnya karena tak bisa membalas perkataan Yo Han. Semua ucapan pria itu seperti pukulan keras yang menyadarkannya. Bitna memang picik dan selalu memandang rendah dirinya seperti apa yang dikatakan Yo Han. “Masuklah, aku tak mau berdebat lagi denganmu,” ucap Yo Han yang kemudian masuk ke dalam mobilnya. Terus berdebat di sana tak ada gunanya. Dan akan sangat merepotkan jika orang lain mendengar pembicaraan mereka. “Kau tak masuk?” tanya Yo Ham setelah menurunkan sebelah kaca mobilnya. Bitna masih diam di tempatnya. Tangannya mengepal karena menahan rasa kesal. Dia merasa kesal karena semua ucapan Yo Han tentang dirinya benar dan dia tidak bisa menyangkalnya. “Kau mau orang lain melihat kita bertengkar?” Dengan terpaksa Bitna masuk ke dalam mobil Yo Han. Memang perjalanan menuju apartemen mereka pasti terasa tidak nyaman setelah perdebatan tadi. Tapi ini lebih baik dari pada orang lain melihat mereka bertengkar. *** Setelah kejadian di kampus Bitna beberapa hari lalu, gadis itu dan Yo Han tak pernah bertemu secara langsung. Yo Han selalu berangkat sebelum Bitna bangun dan pulang larut malam setelah gadis itu tidur. Bitna menghela napas kasar saat lagi-lagi mendapati apartemen itu kosong karena Yo Han yang pasti sudah berangkat sejak pagi. Bitna merasa seperti tinggal sendirian karena tak pernah melihat wajah Yo Han beberapa hari ini. Pria itu juga tak lagi mengiriminya pesan. Padahal sebelumnya Yo Han selalu mengiriminya pesan mengingatkannya untuk tidak pulang melewati jam malam atau jangan terlalu sering makan ramyeon. Bitna melangkah ke arah dapur. Ia lalu mengeluarkan sekotak jus jeruk dari dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas. Bitna kemudian membawa segelas jus jeruk itu ke ruang TV. Setelah meneguk jus jeruk itu Bitna menyandarkan kepalanya ke sofa. Bitna kembali menghela napas. Dia merasa bersalah pada Yo Han. Pria itu berniat membantunya untuk meluruskan gosip tentangnya di kampus, tapi karena pikirannya yang sempit Bitna justru marah dan mengira Yo Han mengerjainya. Padahal berkat Yo Han yang datang ke kampus hari itu, gosip-gosip tentangnya tiba-tiba saja menghilang bak ditelan bumi. Tidak ada lagi mahasiswa yang bergunjing tentangnya. Mereka justru memuji Yo Han yang sangat tampan dan romantis padanya. Sungguh Bitna sangat menyesal dan bersalah sekarang. Karena kemarahannya Bitna lupa jika Yo Han sangat berjasa dalam hidupnya. Jika bukan karena pria itu dirinya pasti hidup terlilit hutang. “Arrgghh.... Bodohnya aku,” teriak Bitna meratapi kesalahannya. Dia ingin sekali meminta maaf pada Yo Han. Tapi bagaimana bisa melakukannya jika dia tak pernah bertemu dengannya. Bitna segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja saat dia mendengar bunyi notifikasi dari sana. Melihat nama Yo Han terpampang di layar, Bitna dengan semangat membaca pesan dari suaminya itu. Yo Han : Ibu menyuruh kita ke rumah utama. Seung Min akan menjemputmu sore nanti, siapkan pakaian ganti untuk di sana. Ibu menyuruh kita menginap. Bitna bergegas membalas pesan Yo Han lalu melemparkan ponselnya ke sofa. Gadis itu kemudian berlari ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian ganti. Tidak seperti biasanya Bitna terlihat bersemangat akan menginap di rumah mertuanya. Padahal sebelumnya Bitna tak pernah senang menginap di sana. Bukan karena orang tua Yo Han tak memperlakukannya dengan baik, tapi karena dia harus tidur di kamar yang sama dengan Yo Han. Dan mereka selalu berdebat untuk menentukan siapa yang akan tidur di ranjang dan siapa yang akan tidur di sofa. Bitna dengan semangat memilih pakaian mana yang akan di pakai nanti dan pakaian yang akan dibawanya. Ini kesempatan yang bagus untuk berbaikan dengan Yo Han. Di rumah orang tuanya Yo Han tak mungkin bersikap dingin padanya. Dan dia bisa meminta maaf pada pria itu. *** Bitna sampai lebih dulu di rumah orang tua Yo Han. Seung Min bilang Yo Han akan datang terlambat karena masih ada pekerjaan yang harus di urus. Begitu sampai di rumah mertuanya, Bitna di sambut Seung Ah dan Yong Bae. Mereka terlihat senang karena kedatangan menantu mereka. Memang sudah lama Bitna tidak bertemu dengan mertuanya karena kesibukannya sebagai mahasiswa. Setelah berbasa-basi Seung Ah lalu mengantar Bitna ke kamar Yo Han agar gadis itu bisa meletakkan barang-barangnya di sana. “Bitna-ya kau istirahat saja di kamar, ibu dan ahjumma akan menyiapkan makan malam untuk kita.” “Aku akan membantu ibu,” ucap Bitna tak enak jika dia harus bersantai di kamar sedang ibunya sibuk menyiapkan makan malam bersama pelayan di rumah itu. “Tidak-tidak, kau istirahat saja sambil menunggu Yo Han. Kau pasti juga lelah karena sibuk dengan tugas-tugas kuliah.” Karena Seung Ah terus menolak Bitna membantunya, akhirnya berakhirlah Bitna dengan duduk di tepi ranjang sambil menunggu Yo Han datang. Dia juga sedang merangkai kata-kata permintaan maaf yang akan dia sampaikan kepada Yo Han nanti. “Apa seperti ini rasanya menunggu suami pulang kerja,” gumam Bitna. Baru kali ini dia benar-benar menunggu kedatangan Yo Han. Sebelumnya dia sama sekali tidak peduli Yo Han pulang jam berapa atau mungkin tak pulang ke rumah. Mengingat mereka tak mungkin tidur seranjang, Bitna bergegas menata bantal dan selimut di sofa. Kali ini dia akan mengalah pada Yo Han. Dia akan tidur di sofa dan membiarkan Yo Han tidur di ranjang. Hitung-hitung sebagai permintaan maafnya. Kriet... Bitna menoleh ke arah pintu kamar dengan bersemangat. Dilihatnya Yo Han baru saja masuk ke dalam kamar. “Malam ini aku yang akan tidur di sofa, kau bisa tidur di ranjang,” ucap Bitna pada Yo Han. Pria itu melirik sekilas ke arah sofa panjang di samping jendela. Di sana sudah ada sebuah bantal dan selimut. “Tidak perlu, kau bisa tidur di ranjang seperti biasanya,” ucap Yo Han dingin. Pria itu lalu membuka jas yang ia kenakan dan melemparnya ke atas ranjang. Pria itu kemudian mengambil pakaian ganti dari lemari dan melenggang masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar. Bitna menatap nanar punggung Yo Han yang masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu benar-benar marah padanya. Entah kenapa rasanya sangat sakit di hati Bitna saat mendengar ucapan Yo Han yang sedingin es tadi. Mereka memang sering bertengkar, tapi Yo Han tak pernah bersikap dingin padanya. Bahkan tadi Yo Han sama sekali tak melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD