Tidak seperti biasanya, makan malam bersama orang tua Yo Han dan Yoo Rin, kakak iparnya terasa hening dan mencekam. Bukan karena orang tua Yo Han atau Yoo Rin bersikap buruk padanya. Tapi karena sejak tadi Yo Han hanya diam saja. Pria itu bahkan tak meliriknya sama sekali.
Melihat Yo Han mengacuhkannya membuat Bitna makin merasa bersalah. Dia ingin sekali meminta maaf, tapi bagaimana dia bisa minta maaf jika melihatnya saja tak mau.
Seung Ah melirik Yo Han dan Bitna bergantian. Melihat keduanya hanya diam dan wajah Yo Han yang sedingin es itu Seung Ah bisa menebak dengan mudah jika mereka sedang bertengkar. Jangankan Seung Ah, Yong Bae dan Yoo Rin saja bisa tahu mereka bertengkar sejak Yo Han masuk ke dalam rumah tadi.
“Apa kau bertengkar dengan Yo Han?” tanya Seung Ah saat Bitna membantunya menyiapkan teh untuk ayah mertuanya dan Yo Han.
“Apa terlihat sangat jelas?” Bitna balik bertanya pada mertuannya. Padahal di sudah berusaha agar tidak terlihat sedang bertengkar dengan suaminya.
Seung Ah mengangguk. “Sebenarnya ada masalah apa?”
Bitna menatap ragu mertuanya. Dia tidak mungkin memberitahu Seung Ah penyebab Yo Han marah padanya. Bisa-bisa Seung Ah merasa curiga pada hubungannya dan Yo Han.
“Kau tak mau memberi tahu ibu?”
“Maaf,” lirih Bitna. “Tapi dia marah karena memang aku yang salah.”
Seung Ah mengusap kepala Bitna. “Mau ibu bantu kalian agar bisa berbaikan?”
Bitna menoleh menatap Seung Ah lalu mengangguk semangat. Seung Ah adalah ibu Yo Han, tentu wanita itu pasti tahu apa yang bisa membuat Yo Han luluh dan mau bicara lagi dengannya.
“Sekarang kau antar teh dan kue ini untuk ayah dan Yo Han, ibu akan membantumu agar bisa berbaikan dengan Yo Han, oke?”
“Nde,” sahut Bitna semangat.
Membayangkan dirinya akan segera berbaikan dengan Yo Han membuat gadis itu tersenyum kegirangan. Jujur, selama beberapa hari ini Bitna merasa kesepian. Sebelumnya Yo Han hampir setiap hari mengomel tentang hal-hal kecil, tapi sejak pertengkaran mereka di kampus Bitna, jangankan mengomel bicara saja tidak pernah.
Bitna juga merasa mulai merindukan kehadiran Yo Han di apartemen. Tidak bertemu pria itu selama beberapa hari ternyata cukup menyiksanya. Entah kenapa Bitna merasa ada sesuatu yang kurang tanpa kehadiran Yo Han di apartemen. Meskipun sempat mengelak dan berusaha mengubur perasaan aneh yang selalu muncul saat Yo Han menyentuhnya, tidak bisa Bitna ungkiri jika pria itu mulai menarik perhatiannya. Entah karena terbiasa tinggal bersama dan sedikit demi sedikit mulai memahami satu sama lain atau mungkin karena Bitna menganggap Yo Han sebagai sosok ibu peri baginya. Bitna mulai merasa nyaman bersama Yo Han.
Meskipun Yo Han sering membuatnya kesal, selalu mengomel setiap hari, tapi Bitna menyukai semua itu. Bitna tahu di balik omelan-omelan Yo Han sebenarnya pria itu sangat perhatian padanya. Yo Han berusaha menepati janji pria itu pada mendiang ayahnya untuk menjaganya dengan baik. Dan itu membuat Bitna tersentuh.
***
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Dan Yo Han sedang berjalan-jalan di taman belakang. Yoo Rin bilang ibunya ingin bicara dengannya dan menunggu Yo Han di rumah kaca yang ada di taman belakang.
“Eomma,” panggil Yo Han setelah melewati pintu rumah kaca itu.
“Eomma,” panggil Yo Han sekali lagi saat tak bisa menemukan ibunya di sana.
Yo Han menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia merasa aneh dengan situasi ini. Apa Yoo Rin sedang mengerjainya? Jangan-jangan Yoo Rin ingin menguncinya di rumah kaca?
Yo Han menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Yoo Rin melakukan hal itu. Mereka sudah dewasa, jika mereka masih anak-anak mungkin saja Yoo Rin melakukannya. Karena merasa tak tenang akhirnya Yo Han kembali pintu masuk, mengingat kakaknya itu sedikit ‘gila’ bisa saja Yoo Rin benar-benar melakukan apa yang dia pikirkan tadi l.
Langkah kaki Yo Han terhenti saat melihat Bitna di dorong masuk ke rumah kaca oleh Yoo Rin. Setelah gadis itu masuk Yoo Rin bergegas mengunci pintu rumah kaca itu dari luar.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Yo Han tak percaya dengan apa yang baru Yoo Rin lakukan.
“Ibu bilang kalian harus berbaikan!” teriak Yoo Rin dari luar.
Yo Han menatap kesal kakaknya. Ternyata ibu dan kakaknya merencanakan ini semua.
“Buka pintunya!” geram Yo Han. Mereka bukan anak-anak lagi, jadi tak perlu melakukan hal seperti ini.
“Tidak mau!” tolak Yoo Rin lalu menjulurkan lidahnya. “Ibu juga bilang, kalian punya waktu dua jam untuk berbaikan. Dia sudah menyiapkan sesuatu yang romantis di dalam sana, jadi nikmati saja dan berbaikan. KALIAN SANGAT MEREPOTKAN!!!”
Setelah mengatakan itu Yoo Rin berbalik meninggalkan Yo Han dan Bitna di dalam rumah kaca. Tak lupa wanita berusia 35 tahun itu juga melambaikan tangannya, tanda menyuruh Yo Han dan Bitna bersenang-senang di dalam sana.
Yo Han menghela napas kasar lalu melirik Bitna yang tampak kebingungan.
“Maaf, gara-gara aku, kita jadi terjebak di sini,” ucap Bitna merasa bersalah. Dia tidak tahu jika mertuanya akan mengurung mereka di rumah kaca selama dua jam hanya untuk membuat mereka berbaikan. Dia pikir Seung Ah akan membujuk Yo Han agar mau bicara dan berbaikan dengannya.
Yo Han menatap ke sekitar. Ibunya sungguh luar biasa. Bagaimana wanita paruh baya itu punya ide untuk mengurungnya di rumah kaca bersama Bitna.
“Siial,” umpat Yo Han saat sadar dia tidak membawa ponselnya. “Kau bawa ponsel?”
Bitna menggeleng. Dia meninggalkan ponselnya di dalam kamar.
Yo Han mengusap wajahnya. Tak ada satu pun di antara mereka yang membawa ponsel, berteriak dari sini pun juga percuma karena tidak ada bisa mendengar mereka. Itu artinya mereka terpaksa berada di sana selama dua jam ke depan sesuai rencana Seung Ah.
Karena mereka akan berada di dalam rumah kaca selama dua jam, Yo Han akhirnya berjalan ke bagian dalam rumah kaca itu. Di tengah-tengah rumah kaca itu ada air mancur serta satu set meja dan kursi. Mereka tidak mungkin akan terus berdiri selama dua jam ada di sana.
“Kau tak ikut?” tanya Yo Han yang melihat Bitna masih terpaku di tempatnya.
“Ya?”
“Kau mau terus berdiri selama dua jam?”
Bitna menggeleng cepat. Tentu saja dia tidak mau.
“Di tengah sana ada meja dan kursi,” ucap Yo Han lalu berjalan lebih masuk ke dalam rumah kaca.
Bitna mengekor di belakang suaminya. Gadis itu menatap takjub rumah kaca itu. Di dalam sana penuh dengan berbagai macam tanaman dan juga bunga. Udara di sana juga terasa sangat berbeda. Lebih bersih dan segar.
“Ibumu sangat menyukai tanaman?” tanya Bitna memecah keheningan di antara mereka.
“Ya,” jawab Yo Han singkat.
Bitna menatap punggung Yo Han yang berjalan di depannya. Entah kenapa punggung pria itu tampak sangat nyaman di peluk dari belakang. Malam itu Yo Han mengenakan kaos berwarna biru dan juga cardigan berwarna hitam. Dari belakang tubuh Yo Han terlihat sangat sempurna dan menggoda setiap wanita yang melihatnya untuk memeluk tubuh itu.
Kim Bitna sadarkan dirimu, batin Bitna.
Bitna menampar pipinya pelan untuk menyadarkan dirinya. Bagaimana bisa dia berpikir untuk memeluk Yo Han dari belakang. Dia pasti sudah gila.
“Wah....” Yo Han menggelengkan kepalanya saat sampai di bagian tengah ruang kaca. Dia tidak percaya dengan apa yang ada di depannya.
Karena penasaran Bitna melangkah maju hingga berdiri di samping Yo Han. Kedua matanya terbuka lebar melihat lilin-lilin yang menyala di sekitar air mancur dan meja serta kelopak bungan mawar merah yang bertebaran di lantai. Ibu Yo Han yang menyiapkan semua ini?
Di atas meja dekat air mancur ada sebotol wine dan dua gelas yang sudah berisi wine. Jangan lupakan ada lilin yang menyala di tengah meja. Sungguh ini sangat romantis menurut Bitna. Dia sangat merasa tersentuh dengan usaha mertuanya yang menyiapkan ini semua.
Bitna dan Yo Han duduk berhadapan. Pria itu menatap Bitna sekilas. Gadis itu masih saja terpesona melihat indahnya lilin-lilin yang menyala di sekitar mereka.
“Jangan minum terlalu banyak, cukup satu gelas saja,” ucap Yo Han mengingatkan Bitna. “Jika sampai mabuk itu akan sangat merepotkan.”
Bitna mengangguk paham. Benar jika dia sampai mabuk, tentu akan sangat merepotkan Yo Han. Dan lagi Bitna tentu tidak akan bisa mengendalikan dirinya saat mabuk. Tadi saja dia berpikir ingin memeluk Yo Han dari belakang. Bisa-bisa dia akan melakukan hal yang lebih gila jika mabuk nanti.
Bitna menatap Yo Han yang duduk di depannya. Pria itu sedang menatap kosong ke arah gelas wine di depannya.
Bitna menyentuh buku-buku jarinya karena gugup. Dia memang berniat meminta maaf pada Yo Han, tapi setelah berdua saja bersama pria itu tiba-tiba saja lidahnya terasa kelu dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Dan lagi kata-kata permintaan maaf yang sudah susah payah dirangkainya tiba-tiba saja menguap dan menghilang dari kepalanya.
“Maaf,” lirih Bitna pada akhirnya.
Yo Han menatap Bitna yang saat ini menatapnya sendu. “Untuk apa?”
“Untuk kejadian di kampus beberapa hari lalu.”
“Untuk apa kau minta maaf, kau tak salah apa-apa kan? Aku yang salah karena datang ke kampusmu dan membuat kekacauan.”
“Tidak, kau tidak salah. Aku yang salah.”
Bitna menjeda kalimatnya. Entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa kesulitan untuk mengatakan apa yang dipikirkan.
Yo Han melipat tangannya ke depan d**a sambil menatap Bitna. Gadis itu menundukkan kepalanya. Seolah takut menatap wajahnya.
“Kau benar, aku memang picik dan selalu memandang rendah diriku sendiri. Aku selalu takut orang-orang bergunjing tentang aku yang tiba-tiba menikah dengan pria kaya. Harusnya aku tidak perlu memikirkan perkataan mereka, karena mereka juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maaf karena sudah marah dan membentakmu waktu itu,” kata Bitna dengan tulus. Dia benar-benar meminta maaf pada Yo Han atas kejadian di kampus beberapa hari lalu.
“Kau sudah sadar sekarang?”
Bitna mengangguk.
“Kau tahu kenapa aku tak memilih wanita lain untuk diajak menikah?” tanya Yo Han.
Bitna menggeleng. Yang dia tahu Yo Han memilihnya karena dia adalah putri dari teman baik ayahnya.
“Aku bisa saja menikah dengan wanita kaya dan berpendidikan, tapi mereka belum tentu bisa menjaga rahasia tentang kekuranganku. Tapi kau, berbeda. Kau tak mungkin membocorkan rahasia ini. Aku tahu kau gadis yang baik dan sangat berbakti pada ayahmu, satu-satunya keinginanmu adalah hidup bebas dari hutang-hutang itu dan kau bukan orang yang serakah. Jadi kau pasti bisa menjaga rahasia.”
Bitna tersenyum kecut saat Yo Han menyebutnya sebagai anak berbakti. Menurutnya dirinya jauh dari kata anak berbakti. Tidak ada seorang anak yang berharap ayahnya menghilang seperti dirinya.
“Bitna-ya, bisa kau mulai berubah? Kau harus lebih percaya diri dan jangan memandang rendah dirimu. Semua yang kau dapatkan sekarang itu memang pantas kau dapatkan, lalu jangan pedulikan lagi tentang gunjingan orang-orang. Bukankah sebelumnya kau juga tak memedulikan itu?”
Ucapan Yo Han selalu saja bisa memukul Bitna tepat sasaran. Yo Han memang benar, harusnya dia lebih percaya diri sekarang. Bitna yang sekarang telah berubah. Dia bukan lagi gadis miskin yang hidup terlilit hutang. Harusnya dia memanfaatkan kebebasan yang telah diberikan Yo Han untuk memperbaiki hidupnya bukan sibuk memikirkan orang-orang yang bergunjing tentangnya.
“Kau paham?”
“Nde,” sahut Bitna sambil mengangguk. “Jadi kita sudah berbaikan?”
“Bisa dibilang seperti itu?”
“Aku bisa melihatmu lagi kan di apartemen?”
Yo Han mengerutkan dahinya. “Apa maksudmu?”