Bagian 25

1858 Words
Bitna mengerjapkan matanya begitu dia sadar dengan apa yang dia katakan. “Apa katamu tadi? Melihatku di apartemen?” tanya Yo Han. “Itu... maksudku... beberapa hari ini kan kau selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Aku jadi merasa tinggal sendirian, rasanya aneh.... ya begitu maksudku,” jelas Bitna agak tergagap. “Oh...” Bitna memaligkan wajahnya. Bodoh sekali dia sampai kelepasan bicara seperti tadi. Dia memang merindukan bertemu dan melihat wajah Yo Han di apartemen tapi, harusnya dia bisa mengendalikan mulutnya tadi. Hanya karena merasa senang sudah berbaikan dengan Yo han , Bitna sampai tidak sadar dengan apa yang dia katakan. Bitna menyentuh kedua pipinya. Tiba-tiba saja terasa hangat, dan entah kenapa dia juga merasa udara di sekitar jadi lebih panas. Apa karena sudah masuk musim panas? Padahal sudah hampir jam sembilan, harusnya udaranya menjadi tambah dingin bukan. Apa karena dia hanya berdua saja dengan Yo Han? Biasanya dia juga sering berdua saja dengan Yo Han di apartemen mereka, tapi rasanya tidak seperti ini. Apa karena pemandangan di rumah kaca ini di tambah lilin yang menyala membuat suasana di sekitar mereka jadi terasa romantis? Bitna bergegas menggelengkan kepalanya. Dia harus menyingkirkan segala macam pikiran tentang Yo Han yang mengarah pada hal romantis. Dia dan Yo Han tidak ditakdirkan untuk memiliki hal-hal seperti itu. Dan dia sadar tidak bahwa tak mungkin memiliki hubungan romantis dengan Yo Han. Hubungan mereka hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas. Tidak lebih dari itu. “Apa mereka benar-benar mengurung kita selama dua jam?” tanya Yo Han membuat Bitna tersadar dari lamunannya. “Entahlah,” jawab Bitna. Melihat sampai sekarang tak ada tanda-tanda Seung Ah atau Yoo Rin di sana itu artinya mereka berdua benar-benar dikurung di sana selama dua jam. “Apa kau tak kedinginan?” Yo Han menatap Bitna yang malam itu mengenakan dress motif bunga berwarna salem dengan model tali spageti, membuat Yo Han dan siapa saja yang melihatnya bisa menikmati kulit mulus Bitna. Yo han segera memalingkan wajahnya lalu menelan ludah. Dia pasti sudah gila karena berpikir Bitna terlihat sangat cantik dengan dress itu. “Tidak,” jawab Bitna cepat. Sebenarnya udara malam itu terbilang cukup dingin, hanya saja karena berdua saja dengan Yo Han dengan suasana romantis seperti ini membuat tubuh Bitna terasa gerah. Yo Han mengusap tengkuknya. Dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari bahu Bitna. Pemandangan mulus kulit Bitna itu hampir saja membuatnya gila. Yo Han melepas cardigannya lalu melemparnya pada Bitna. “Pakai itu kalau kau tidak mau masuk angin.” “Tidak perlu, aku sama sekali tidak kedinginan,” tolak Bitna. Daripada kedinginan gadis itu lebih merasa kepasanan sekarang. “Pakai aja,” paska Yo Han. Dia tidak bisa membiarkan kulit mulus Bitna terekspos terlalu lama. Karena itu akan berbahaya. Karena Yo Han memaksa akhirnya Bitna memakai cardigan milik suaminya itu. Dari cardigan berwarna hitam itu Bitna bisa mencium aroma tubuh Yo Han. Aroma maskulin yang segar. Aneh. Sebelumnya Bitna selalu biasa saja saat mencium aroma parfum Yo Han, tapi entah kenapa mencium aroma parfum itu sekarang bisa membuatnya hilang kendali. Apa benar dia mulai merasakan sesuatu yang harusnya tak boleh dia rasakan pada Yo Han? “Bagaimana kabar si anak anjing itu?” tanya Yo Han tiba-tiba. Bitna mengerutkan dahi. Anak anjing? Seingatnya ia dan Yo Han tidak punya hewan peliharaan di apartemen mereka. “Maksudku si Seung Woo teman kuliahmu,” jelas Yo Han sadar Bitna tak tahu siapa yang dia maksud. Melihat Seung Woo yang selalu tersenyum lebar pada Bitna saat di Cafe mengingatkan Yo Han pada seekor anak anjing. Jadilah dia menyebut pemuda itu dengan sebutan anak anjing. “Kalian sering bertemu?” “Kami hanya bertemu saat di kampus. Kau masih curiga kalau kami punya hubungan khusus?” “Aku hanya penasaran saja.” “Aku dan Seung Woo hanya berteman, tidak lebih,” tegas Bitna, dia tidak mau Yo Han masih berpikir bahwa dia Seung Woo memiliki hubungan khusus. Melihat Bitna yang terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya membuat Yo Han sedikit menarik sudut bibirnya. Tanpa alasan jelas dia merasa senang karena Bitna ternyata memang tidak memiliki hubungan khusus dengan si anak anjing. Tak terasa mereka sudah berada di dalam sana selama satu jam. Dalam sisa waktu satu jam sebelum Seung Ah dan Yoo Rin mengeluarkan mereka, Bitna dan dan Yo han menghabiskan waktunya untuk mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari kehidupan Bitna di kampus hingga curhatan Yo Han soal banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan. Untuk pertama kalinya Bitna dan Yo Han mengobrol tentang banyak hal. Sebelumnya mereka memang sering mengobrol, tapi obrolan itu selalu berakhir dengan perdebatan. Dan ini pertama kalinya tidak ada perdebatan dalam obrolan mereka. Bitna memperhatikan Yo Han yang sedang berbicara di depannya. Diam-diam Bitna menelisik wajah pria itu. Mata bulat, hidung mancung dan garis rahang yang begitu tegas membuat pria itu terlihat tampan. Entah karena sebelumnya Bitna tak pernah memperhatikan Yo Han begitu detail, gadis itu baru sadar jika suami gay-nya ini ternyata sangat tampan. Wajah Yo Han mirip aktor papan atas Korea Selatan, Song Joong Ki. Hanya saja Yo Han terlihat lebih gagah. Dalam hatinya Bitna mendesah pelan, sangat disayangkan pria setampan Yo Han ternyata adalah gay. Andai saja jika Yo Han bukan seorang gay, mungkin dia masih punya sedikit kesempatan untuk memiliki harapan pada pria itu. “Kalian tak mau keluar?” Bitna dan Yo Han menoleh kaget ke sumber suara. Yoo Rin berdiri di dekat mereka sambil memegang sebuah kunci. “Kelihatannya kalian sangat menikmati terkurung di sini,” ucap Yoo Rin sedikit menyindir. Tadi saja Yo Han terlihat seperti akan mengamuk saat dirinya mengunci pintu rumah kaca dari luar. Tapi sekarang dia terlihat senang berhahaha-hihihi dengan istrinya. “Cepat keluar!” Yo Han dan Bitna begegas berdiri dari kursi mereka. Duduk selama dua jam membuat kaki Bitna tiba-tiba saja terasa kesemutan. Dia hampir saja terjatuh karena kehilangan keseimbangan saat berdiri. Untung Yo Han dengan cepat memegangnya. “Kau tak apa?” tanya Yo Han khawatir. “Ya... ya,” jawab Bitna tergagap karena wajah Yo Han yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya. “Apa kalian sedang syuting drama?” cibir Yoo Rin. Posisi Bitna dan Yo Han saat ini mirip dengan adegan yang sering muncul dalam drama, yaitu adegan saat pemeran utama pria menolong pemeran utama wanita yang hampir terjatuh. Melihat adegan itu di drama memang terasa romantis, tapi melihatnya secara langsung seperti ini membuat Yoo Rin ingin muntah. Apa lagi yang memperagakannya adalah Yo Han. “Aku akan mengunci kalian di sini semalaman jika kalian tidak segera keluar.” Yo Han dan Bitna segera memisahkan diri lalu berjalan cepat menyusul Yoo Rin yang sudah pergi lebih dulu. Kim Bitna sadarkan dirimu, batin Bitna. *** Bitna membuka matanya perlahan. Ia hampir saja terjatuh dari ranjang saat melihat Yo Han tidur di sampingnya. Setelah berdamai semalam mereka memutuskan untuk berbagi ranjang. Lagi pula ranjang di kamar Yo Han itu cukup besar dan luas untuk mereka berdua. Mereka sepakat untuk tidur bersama dengan pembatas dua buah guling di sisi tengah. Bitna memandangi wajah Yo Han yang masih tertidur pulas. Pria itu masih terlihat sangat tampan walau sedang tertidur. Biasanya orang-orang akan membuat ekspresi wajah aneh saat tidur, seperti mulut menganga atau mata yang setengah terbuka. Tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Yo Han, pria itu masih tetap terlihat sangat tampan. Bagaimana bisa kau juga terlihat tampan saat tidur, ucap Bitna dalam hatinya. “Eungh....” Bitna buru-buru memejamkan matanya kembali dan berpura-pura tidur saat Yo Han melenguh. Dia tidak boleh ketahuan jika sedang menikmati pemandangan wajah tampan Yo Han. “Hei, Kim Bitna kau tidak bangun,” kata Yo Han berusaha membangunkan Bitna. Dia tidak tahu saja jika Bitna sudah bangun lebih dulu dan sedang berpura-pura tidur sekarang. Bitna membuka matanya perlahan, seolah-olah dia baru saja bangun tidur. “Kau sudah bangun?” tanyanya begitu matanya terbuka sempurna. “Menurutmu? Apa kau pernah melihat orang yang bicara sambil tidur atau tidur dengan mata terbuka,” jawab Yo Han lalu beringsut dari tempat tidur menuju kamar mandi. Bitna mengerucutkan bibirnya. Baru saja semalam dia memuji Yo Han sangat tampan, pagi ini suaminya itu kembali menjadi si pria menyebalkan. Memang wajah yang rupawan tidak menjamin sikap seseorang juga rupawan, contohnya Yo Han. Pria itu memang tampan, sangat tampan malah. Namun sayang kepribadiannya sungguh membuat Bitna jengkel. Namun menurut Bitna begini lebih baik. Yo Han tetap menjadi pria yang menyebalkan. Karena dengan begitu akan memudahkan Bitna untuk menahan perasaannya agar tidak semakin bergejolak. Agar perasaan itu padam dengan sendirinya. Kriett... Bitna menutup matanya dengan telapak tangan saat Yo Han keluar dari kamar mandi. Pria itu keluar hanya memakai handuk putih yang melilit bagian bawah tubuhnya dan membiarkan d**a bidangnya terekspos bebas. “Kenapa kau menutup wajahmu seperti itu?” tanya Yo Han heran melihat Bitna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Bukankah kita sudah sepakat untuk berpakaian sopan?” protes Bitna. Bagaimana bisa Yo Han dengan santainya keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk melilit bagian bawah tubuhnya. “Itu kan di rumahku, ini rumah orang tuaku. Jadi aku bebas mau berpakaian seperti apa. Jika mau aku bisa saja berkeliling sambil telanjang.” Telanjang? Bitna dengan cepat menghapus kata itu dari otaknya. Bagaimana bisa dia membayangkan penampilan Yo Han saat sedang telanjang. Dia pasti sudah gila. “Apa kau tak ada niat untuk mandi? Mau sampai kapan kau meringkuk di bawah selimut?” “Aku memang berniat untuk mandi setelah kau keluar, tapi siapa sangka kau akan keluar dengan penampilan seperti itu,” protes Bitna. “Memangnya kenapa? Aku punya tubuh yang bagus jadi tak masalah jika aku memamerkannya.” “Iya, iya. Bisa kau berpakaian sekarang. Aku ingin segera ke kamar mandi!” “Aku memang sudah berpakaian.” Bitna membuka matanya lalu mengintip dari sela-sela jarinya. Benar Yo Han sudah berpakaian lengkap. Bitna kemudian menurunkan tangannya lalu bersikap seolah-olah baik-baik saja. Walaupun sebenarnya jantungnya sedang maraton sekarang. Meskipun Bitna menutup mata dengan cepat tadi, dia Bisa melihat sekilas bagaimana bentuk tubuh Yo Han. Perutnya yang sixpack, d**a bidangnya dan juga lengannya yang berotot. Sungguh Yo Han memiliki tubuh yang bagus. Sekarang Bitna tahu alasan Yo Han rajin sekali olah raga meski punya jadwal yang sibuk. Karena pria itu ingin mempertahankan bentuk tubuhnya. Bitna kembali membayangkan d**a bidang milik Yo Han. d**a bidang Yo Han itu pasti sangat nyaman untuk dijadikan tempat bersandar. Sekali lagi Bitna segera menghapus pikiran kotor dari kepalanya. Kenapa setiap kali menyangkut Yo Han dia hampir tidak bisa berpikir dengan jernih. “Katanya ingin pergi ke kamar mandi?” tanya Yo Han menyadarkan Bitna dari lamunannya. “Eh... iya,” jawab Bitna lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Melihat Bitna buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, Yo Han sedikit menyunggingkan senyum di wajah tampannya. Dia tadi memang sengaja keluar hanya memakai handuk. Dia ingin melihat reaksi Bitna. Dan sesuai dugaan gadis itu akan langsung menutup wajahnya karena malu. Bagi Yo Han menggoda Bitna seperti tadi sangat menyenangkan, tapi juga menakutkan. Dia takut jika tiba-tiba saja Bitna menangis karena berpikir dirinya akan berbuat macam-macam seperti saat malam pertama mereka di hotel dulu. Jika sampai begitu akan sangat merepotkan nantinya. Orang tuanya pasti juga akan merasa curiga pada mereka. Untung saja reaksi Bitna sedikit berbeda dari perkiraannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD