Bitna dan Yo Han sarapan bersama dengan orang tua Yo Han serta Yoo Rin. Di atas meja makan itu tersaji banyak sekali makanan. Padahal mereka hanya berlima. Seung Ah selalu menyiapkan banyak makanan setiap kali Bitna dan Yo Han berkunjung ke rumah. Alasannya agar Bitna merasa nyaman di sana. Setelah tahu ibu Bitna yang pergi meninggalkan gadis itu setelah ayahnya bangkrut, Seung Ah berjanji untuk membuat Bitna kembali merasakan kasih sayang seorang ibu. Selama ini Bitna pasti merindukan sosok ibunya, walaupun tak pernah memperlihatkannya pada orang lain.
“Bagaimana kalau setelah ini kita berlima pergi ke pantai?” usul Seung Ah tiba-tiba. Karena sudah memasuki musim panas, ini waktu yang tepat untuk pergi jalan-jalan. “Kita sudah lama tidak pergi jalan-jalan bersama karena Yo Han dan Yoo Rin sibuk dengan perusahaan.”
“Ide yang bagus,” sahut Yong Bae. Memang sejak dia menyerahkan urusan perusahaan pada Yo Han dan Yoo Rin, mereka jarang sekali pergi berlibur bersama kedua anaknya karena mereka selalu sibuk.
“Aku tidak ikut,” sela Yoo Rin. Melihat ayah ibunya yang selalu bersikap mesra dan romantis di rumah saja sudah membuatnya mual. Dan sekarang ditambah lagi pasangan pengantin baru, Yo Han dan Bitna. Dia tidak mau menjadi obat nyamuk di antara dua pasangan itu dan harus melihat mereka bermesraan di depannya. Membayangkannya saja sudah membuat Yoo Rin mual.
“Kenapa? Kita kan sudah lama tidak pergi jalan-jalan bersama dan lagi ini pertama kalinya kita akan pergi bersama anggota keluarga baru kita,” protes Seung Ah.
“Tidak mau. Aku tidak tahan melihat kalian nanti bermesraan di depanku, membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri.”
“Makanya kau juga harus segera menikah seperti Yo Han. Lihat adikmu itu jadi sangat bahagia setelah menikah, ada yang mengurusnya, ada yang memeluknya saat tidur,” ucap Yong Bae melirik Yo Han dan Bitna bergantian.
Mendengar ucapan ayah mertuanya itu Bitna hampir saja tersedak.
“Ini alasan kenapa aku tidak mau menikah, kenapa harus menikah? Hidup sendiri saja sudah sangat nyaman dan bahagia. Untuk apa aku membawa orang asing masuk ke dalam hidupku dan mengusik zona nyamanku.”
Seung Ah menghela napas. Memikirkan Yoo Rin yang bersikeras tidak mau menikah membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut. Dia sendiri tidak mengerti dengan jalan pikiran putrinya itu. Bagaimana bisa Yoo Rin berpikir bisa hidup bahagia jika hanya sendirian. Manusia itu adalah mahluk sosial, yang artinya tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Menikah bukan hanya tentang hidup bersama dengan orang kau cintai dan mencintaimu. Menikah punya makna yang lebih dalam. Menikah adalah sebuah keputusan akhir yang kau buat setelah bertemu dengan belahan jiwamu, mereka yang sangat memahami dan menerima bagaimanapun keadaanmu, mereka yang akan selalu ada di pihakmu, mereka yang rela mengorbankan hidupnya untukmu. Apa Yoo Rin tidak ingin bertemu dengan belahan jiwanya dan menghabiskan sisa hidupnya bersamanya.
***
Bitna menatap pemandangan pantai di depanya dengan mata berbinar. Setelah perdebatan yang cukup panjang tadi saat sarapan , mertuanya memutuskan untuk mengujungi Pantai Sokcho yang terletak di Sokcho-si, Gangwon-do. Mereka hanya pergi berempat tanpa Yoo Rin, kakak permpuan Yo Han itu bersikeras tak mau ikut. Yoo Rin tidak mau menjadi obat nyamuk di antara kedua pasangan itu.
Bitna menatap takjub pemandangan hutan pinus yang menghiasi pesisir pantai. Karena sibuk bekerja untuk melunasi hutang ayahnya dan bertahan hidup, Bitna tak pernah sekalipun pergi berlibur atau sekedar jalan-jalan untuk melepas penat. Dalam lima tahun terakhir ini adalah pertama kalinya Bitna pergi ke pantai.
Pemandangan Pantai Sokcho ini sangat indah. Pasir putih bersih yang menghampar di sepanjang garis pantai, laut biru yang begitu memesona dan juga hutan pinus yang menghiasi pesisir pantai. Bitna begitu takjub melihat pemandangan di depannya, seakan dia tidak pernah pergi ke pantai sebelumnya—memang Bitna tidak pernah pergi pantai selama lima tahun terakhir.
“Bisa-bisa matamu itu melompat keluar,” cibir Yo Han melihat Bitna yang tak berkedip melihat pemandangan di depanya.
“Cih,” Bitna mendecih pelan. Yo Han merusak suasana saja.
“Jangan begitu,” ucap Seung Ah sambil memukul lengan Yo Han membuat putranya itu mengaduh. “Bitna kau senang kita kemari?”
“Ya,” ahut Bitna bersemangat. Memang ya cara terbaik untuk menghilangkan penat dan stress adalah pergi jalan-jalan.
“Kalian jalan-jalan saja berdua di sekitar pantai ini, ayah ibu sudah tua jadi kami akan menunggu di sini dan menyiapkan makanan,” ucap Yong Bae.
Bitna dan Yo Han saling melirik. Mereka bisa saja jalan-jalan berdua di sekitar sana, tapi melihat ada kedua orang tuanya di sana, tentu mereka harus bersikap selayaknya pasangan suami istri.
“Ayo.” Yo Han mengulurkan tangannya pada Bitna.
Bitna menatap ragu tangan Yo Han yang terulur di depannya. Dia memang sudah biasa menggandeng tangan pria itu di depan mertuanya, tapi sekarang dia ragu untuk meraih tangan suaminya.
Melihat Bitna tak kunjung meraih tangannya, Yo Han berinisiatif meraih tangan Bitna lalu menggenggamnya membuat gadis itu terlonjak kaget.
“Kami pergi dulu,” pamit Yo Han pada yah ibunya. Pria itu kemudian mengajak Bitna menjauh dari sana.
“Omo-omo, mereka terlihat sangat serasi,” ucap Seung Ah. Melihat Yo Han dan Bitna berjalan sambil bergandengan tangan membuatnya sangat senang. Mereka benar-benar telihat seperti pasangan yang serasi. Melihat Yo Han akhirnya menikah membuat wanita paruh baya itu sangat bahagia, jika saja Yoo Rin anak sulungnya itu mau menikah, kebahagiaan yang dia rasakan sangat lengkap.
***
Yo Han dan Bitna berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri garis pantai. Karena belum masuk musim liburan, tidak terlalu banyak pengunjung di pantai ini. Namun saat liburan musim panas tiba bisa dipastikan Pantai Sokcho ini akan dipenuhi oleh wisatawan.
Meskipun sudah berjalan cukup jauh dari tempat orang tuanya tadi, Bitna dan Yo Han masih bergandengan tangan. Entah mereka lupa kalau sudah tidak ada Seung Ah dan Yong Bae yang mengawasi, atau sudah merasa terlalu nyaman dengan satu sama lain.
“Apa kau sesenang itu pergi ke pantai?” tanya Yo Han. Sejak mereka tiba di sana gadis itu tak bisa berhenti tersenyum.
“Iya, sudah lama sekali aku tidak jalan-jalan seperti ini,” jawab Bitna sambil menunjukkan senyum manisnya, membuat siapa pun yang melihat terpesona dengan kecantikan gadis itu.
“Tapi apa kau tak berniat melepaskan ini?” Yo Han mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Bitna.
“Oh.... Maaf.” Bitna buru-buru menarik tangannya.
“Bukannya dulu kau paling anti soal skinship?”
Benar sejak awal pernikahan mereka Bitna lah yang paling anti dengan skinship. Sebisa mungkin dia akan menghindari untuk bersentuhan dengan Yo Han. Tapi yang terjadi sekarang sangat berbeda. Gadis itu sama sekali tak protes saat Yo Han menggenggam tangannya tadi. Justru Bitna terlihat sangat nyaman.
“Ohh... Benarkah,” kata Bitna lalu tertawa canggung. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa rasanya begitu nyaman saat Yo Han menggenggam tangannya seperti tadi. Tangan pria itu besar dan hangat.
“Aduh!!!” Bitna mengaduh saat seorang anak laki-laki berlari menabraknya.
“Maafkan saya,” ucap anak laki-laki lalu kembali berlari menyusul teman-temannya.
“Kau tak apa?” tanya Yo Han.
“Ya, tadi hanya kaget saja,” jawab Bitna.
“Dasar anak-anak itu, di mana orang tuanya? Kenapa membiarkan anak-anak mereka berlarian?” omel Yo Han.
“Sudah jangan mengomel, lagi pula mereka tidak sengaja.”
Bitna melihat ke arah anak-anak yang berlari tadi. Mereka terlihat sangat menggemaskan. Jika nanti mereka punya anak pasti anak-anak mereka juga akan terlihat menggemaskan seperti mereka.
Apa yang aku pikirkan? ucap Bitna dalam hati.
Dia pasti sudah gila membayangkan dirinya memiliki anak dengan Yo Han. Terus berada di samping Yo Han ternyata sangat berbahaya. Bitna terus-terusan berpikir tentang hal-hal yang seharusnya tidak boleh dia pikirkan.
“Kim Bitna,” panggil Yo Han. Suara pria berusia 32 tahun itu tiba-tiba terdengar serius.
“Ya?” sahut Bitna menoleh ke arah Yo Han.
“Apa kau bisa bertahan selamanya dengan pernikahan ini?”
Bitna mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Yo Han.
“Aku sudah berpikir tentang hubungan palsu ini. Dan tidak mungkin kita akan terus melanjutkannya sampai tua. Kau pasti juga punya hal lain untuk dilakukan atau impian yang ingin kau wujudkan. Seperti kataku di awal perjanjian kita, bahwa kita tidak mungkin selamanya akan hidup bersama. Jika kau bisa, aku ingin kau bersabar sampai kau lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan impianmu. Setelah itu aku akan melepaskanmu dan mengakhiri kontrak kita.”
Bitna menatap Yo Han. Dia sedang berusaha memahami apa Yo Han katakan. Mengakhiri kontrak? Melepaskannya? Itu artinya mereka akan bercerai?
“Kau juga bisa bertemu orang kau sukai dan hidup bersamanya,” lanjut Yo Han.
Kepala Bitna tiba-tiba saja berdengung mendengar perkataan Yo Han. Ini terlalu mengejutkan baginya. Dulu dia memang merasa senang jika kontrak hubungannya dengan Yo Han bisa berakhir, tapi sekarang rasanya berbeda. Bitna seperti tidak ingin kontrak hubungan palsu ini berakhir. Rasanya sudah terlalu nyaman berada di samping Yo Han dan menyandang status sebagai istrinya. Dia juga sudah terlanjur sayang pada kedua orang tua Yo Han yang sangat baik padanya. Mereka benar-benar memperlakukannya selayaknya putri mereka sendiri.
Jika dia dan Yo Han bercerai nantinya, hubungannya dengan orang tua Yo Han pasti juga ikut berakhir. Bitna tak bisa membayangkan betapa sedihnya dia harus berpisah dengan mereka nantinya. Namun yang paling menyedihkan adalah dia yang harus berpisah dengan Yo Han. Walaupun berusaha menyangkal perasaannya, Bitna tahu dia mulai memiliki perasaan terlarang untuk pria itu. Bitna akui dia mulai menyukai Yo Han. Tidak, mungkin juga rasa suka itu mulai berubah menjadi cinta.
Tinggal bersama, bertemu setiap hari, berdebat tentang hal-hal kecil setiap kali bertemu, perhatian yang Yo Han berikan di balik omelannya, semua hal itu membuat Bitna perlahan menyukai Yo Han. Perang dingin beberapa hari lalu saja membuatnya tersiksa karena merindukan Yo Han. Dan dari sana Bitna sadar akan perasaannya pada Yo Han.
Bitna tahu dia tidak seharusnya memiliki perasaan apa pun pada Yo Han. Rasanya sangat tidak pantas bagi Bitna memiliki perasaan pada Yo Han yang sudah membebaskannya dari belenggu hutang ayahnya. Harusnya Bitna cukup bersyukur pria itu membatunya melunasi semua hutang ayahnya, dan juga membiayai kuliahnya sekarang. Jika Bitna berharap Yo Han juga memilik perasaan padanya, itu artinya dia serahkan. Untung Bitna tahu hal itu tidak akan pernah terjadi. Yo Han adalah seorang gay jadi tak mungkin dia membalas perasaannya.
Bitna memang sedang berusaha mengendalikan perasaannya pada Yo Han agar tidak semakin bergejolak. Namun ucapan Yo Han tentang mereka yang akan bercerai setelah dirinya lulus kuliah membuat Bitna patah hati. Meskipun tahu Yo Han tak akan membalas perasaannya, tapi hidup bersama pria itu sudah cukup bagi Bitna. Dia tidak menginginkan hal lebih.
“Mungkin sekitar 5 tahun lagi sampai kau lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang mapan. Jadi ayo hidup bersama dengan akur selama lima tahun ke depan,” ucap Yo Han lalu mengulurkan tangannya.
Bitna menatap kosong tangan Yo Han di depannya. Suara dari deburan ombak berbaur dengan angin pantai yang berembus cukup kencang itu seolah menutup indra pendengarannya. Ucapan Yo Han terdengar samar-samar di telinganya, tapi dia tahu Yo Han mengajaknya untuk hidup dengan akur selama 5 tahun ke depan.
Jadi hanya 5 tahun aku bisa bersamamu, batin Bitna.
“Bitna, Kim Bitna. Kau dengar aku,” panggil Yo Han.
“Oh.... Iya aku mendengarmu.” Bitna meraih tangan Yo Han dan menjabatnya. “Baik, ayo hidup bersama dengan aku selama lima tahun ke depan.”
Meskipun terasa sakit saat mengatakannya, Bitna harus berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja. Dia tidak akan membiarkan Yo Han tahu perasaannya yang sebenarnya. Karena jika Yo Han tahu pria itu pasti akan membencinya, karena itu melanggar kontrak mereka. Yang bisa Bitna lakukan adalah menahan dan menyembunyikan perasaannya agar bisa menghilang dengan sendirinya tanpa terlalu melukai hati Bitna.