Bagian 27

1666 Words
Bitna menatap pantulan wajahnya di cermin. Kantong mata di bagian bawah matanya terlihat hitam dan membuatnya sekilas terlihat seperti zombi. Kemarin, setelah pulang dari pantai dan kembali ke apartemen Yo Han, dirinya sama sekali tidak bisa tidur. Mungkin hanya sekitar 3 jam dia bisa terlelap. Sisanya gadis itu sibuk mengubah posisi tidurnya. Perkataan Yo Han kemarin masih terngiang jelas di telinganya. Bercerai? Mengakhiri kontrak? Bitna sebenarnya tidak rela. Dia barus saja merasa nyaman bersama Yo Han, tapi pria itu justru memupuskan harapannya untuk tetap bersama dengan mengatakan mereka akan bercerai dalam jangka waktu 5 tahun lagi. Rasanya Bitna tidak siap jika harus berpisah dengan Yo Han. Memang masih lima tahun lagi, tapi dia terlanjur nyaman berada di sisi pria itu. Jika bisa, tak masalah bagi Bitna jika harus selamanya bersama Yo Han terikat dengan kontrak mereka. Meskipun Yo Han tak bisa mencintainya, setidaknya berada di sisi pria itu saja sudah cukup baginya. Mungkin juga suatu saat nanti Yo Han bisa berubah menyukai wanita. Tok... Tok... Tok... “Bitna, aku akan berangkat duluan,” ucap Yo Han dari depan kamar gadis itu. “Tunggu, kita berangkat bersama.” Bitna bergegas menyapukan lipstik berwarna peach ke bibirnya lalu menyambar tasnya yang tergeletak di atas ranjang. Yo Han menatap wajah istrinya yang baru saja keluar dari kamar. “Kenapa matamu? Kau begadang?” “Ah... Iya tugas kuliahku menumpuk,” jawab Bitna berbohong. Tidak mungkin dia akan bilang jika dia tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan Yo Han kemarin. “Kau yakin berangkat bersamaku?” “Iya.” “Kalau teman-temanmu melihat bagaimana?” Yo Han ingat banyak gosip tentang gadis itu setelah dia sering mengantar dan menjemputnya. Dan karena itu Yo Han sempat merasa bersalah. “Tidak masalah, lagi pula aneh jika aku tidak berangkat bersamamu setelah mereka tahu aku sudah menikah. Hitung-hitung hemat biaya transportasi juga,” jelas Bitna setengah berbohong. Dengan berangkat bersama Yo Han dia bisa lebih lama bersama pria itu. Hemat biaya transportasi? Itu hanya alasan saja agar Yo Han tidak curiga. *** “Kau tak masalah turun di sini?” tanya Yo Han. Tak seperti biasanya, pagi itu Bitna minta diturunkan di depan universitas. “Ya,” jawab Bitna. “Terima kasih sudah mengantarku.” Bitna melepas sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil Yo Han. “Pulangnya nanti bagaimana?” tanya Yo Han sebelum Bitna menutup kembali pintu mobilnya. “Aku pulang sendiri saja, kau pasti sibuk,” jawab Bitna. “Baiklah kalau begitu.” Yo Han menatap punggung Bitna yang mulai menjauh. Bukannya dia tidak sadar, dia tahu Bitna mulai berubah menjadi lebih kalem setelah dikurung di rumah kaca kemarin. Bitna sekarang tidak lagi membantah kata-katanya, dia juga jadi lebih penurut. Bahkan tadi pagi saat dia menyuruh gadis itu makan sayur, Bitna melahap habis sayuran yang dimasaknya tanpa protes. “Dia tidak mungkin suka padaku kan?” gumam Yo Han. Entah kenapa melihat perilaku Bitna sejak mereka dikurung di rumah kaca membuat Yo Han berpikir jika gadis itu menyukainya. Saat di pantai kemarin, Bitna bahkan terlihat santai menggenggam tangannya. Padahal sebelumnya gadis itu paling anti bersentuhan dengannya. Lalu cara menatapnya juga berubah. Setiap kali menatapnya, Yo Han bisa melihat mata Bitna begitu berbinar-binar, benar-benar seperti melihat orang yang disukai. “Kim Bitna jangan menyukaiku, kau akan menyesal nanti,” guman Yo Han lalu menjalankan mobilnya menjauh dari kampus Bitna. Memang seharusnya Bitna tak boleh suka atau sampai jatuh cinta padanya. Bagi Yo Han, dirinya bukanlah pria yang baik. Bitna pantas mendapatkan seorang laki-laki yang lebih baik darinya setelah mereka bercerai. Dia sama sekali tak pantas untuk disukai atau bahkan sampai dicintai oleh gadis sebaik Bitna. Ada banyak sisi buruk dalam dirinya yang Bitna tak tahu, jika gadis itu mengetahuinya Bitna akan terluka dan membencinya pada akhirnya. *** Bitna terlihat begitu sibuk di dapur. Dia sedang memasak makan malam. Karena tadi pagi Yo Han yang sudah membuatkannya sarapan, sekarang gilirannya menyiapkan malam untuk suaminya. Bitna sedang membuat kimchi jjigae. Kimchi jjigae adalah makanan Korea berupa sup pedas yang direbus di dalam panci bersama kimchi dan air cabai dari kimchi. Sup ini berisi sayuran, tahu, dan daging babi atau daging sapi. Tapi kali ini Bitna menambahkan daging sapi ke dalamnya. Selain kimchi jjigae, Bitna juga membuat gyeran-mari. *Gyeran-mari adalah telur gulung khas Korea. Bitna menatap takjub masakannya yang telah matang dan ditata dengan rapi di atas meja makan. Dia berharap Yo Han akan menyukai masakannya. Meskipun sederhana, untuk membuat masakan ini dia benar-benar berusaha sebaik mungkin. “Sekarang aku hanya tinggal mandi,” ucap Bitna. Ia kemudian bergegas ke kamar untuk mengambil baju ganti lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mandi dan berganti baju, Bitna duduk di balik meja rias di dalam kamarnya. Dia ingin merias diri dengan riasan sederhana. Entah kenapa dia ingin terlihat cantik di depan Yo Han. Padahal tak peduli betapa cantiknya dia merias diri, Yo Han tak akan mungkin tertarik padanya. Bitna bergegas keluar kamar setelah mendengar pintu apartemen terbuka. “Sudah pulang?” tanya Bitna begitu melihat Yo Han masuk ke ruang tamu. “Kau pikir, aku kemari untuk apa? Tentu saja pulang,” jawab Yo Han seperti biasanya, dengan menyebalkan. Bitna mendecih pelan, memang sifat Yo Han yang menyebalkan itu tidak bisa hilang. Yo Han menatap Bitna dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kau berdandan?” tanya Yo Han tak percaya. Biasanya setiap kali di rumah penampilan Bitna selalu terlihat acak-acakan. Kaos, celana olahraga, sweter, piama, biasanya Bitna hanya mengenakan pakaian-pakaian itu di rumah. Lalu rambutnya juga diikat asal-asalan dan make up? Cuci muka saja jarang ketika di rumah. Tapi malam ini gadis itu terlihat rapi, rambutnya diikat ponytail dan sepertinya Bitna juga memakai riasan. “Aku berdandan? Tentu saja tidak,” jawab Bitna lalu tertawa canggung. “Aku hanya habis mandi setelah masak malam karena badanku berkeringat, untuk apa juga aku berdandan?” “Masak?” "Iya, kimchi jjigae.” “Kau bisa memasaknya?” “Tentu saja, jangan remehkan aku,” ucap Bitna percaya diri. Meskipun lebih suka makan ramyeon tapi jangan memandang Bitna sebelah mata. Untuk urusan soal masak-memasak Bitna cukup bisa diandalkan. “Aku tidak yakin, pasti rasanya tidak enak.” Bitna menatap sebal ke arah Yo Han. Dia sudah bersusah payah membuatkan makan malam untuknya, tapi pria itu malah mengatakan bahwa masakannya pasti tidak enak. “Ayo bertaruh,” tantang Bitna. “Jika masakanku terbukti tidak enak, aku akan menyiapkan sarapan, mencuci piring dan membuang sampah selama seminggu penuh.” “Oke.” Bitna dan Yo Han duduk berhadapan di ruang makan. Yo Han sudah mandi dan berganti baju. Kedua saling bertatapan penuh ambisi seolah mereka sedang melakukan sebuah perlombaan. “Ingat, jika terbukti masakanku enak kau yang harus menyiapkan sarapan, mencuci piring dan membuang sampah selama seminggu penuh,” ucap Bitna. “Tapi jika tidak enak kau yang akan melakukan semua itu,” ucap Yo Han. Pria itu lalu mengisi mangkuknya dengan kimchi jjigae buatan Bitna. Setelah meniupnya perlahan, Yo Han menyuapkan sesendok kuah kimchi jjigae ke dalam mulutnya. Bitna memperhatikan ekspresi Yo Han dengan saksama. “Bagaimana? Enak?” Yo Han diam tak menjawab, membuat Bitna yang menatapnya berpikir pasti masakannya tak enak. Gadis itu lalu mengambil kimchi jjigae dan mencicipinya. “Enak kok,” ucap Bitna setelah mencicipi masakannya. “Lumayan lah,” ucap Yo Han lalu mencampurkan nasi ke dalam mangkuk berisi kimchi jjigae tadi. “Lumayan tapi kau terlihat lahap sekali makannya,” cibir Bitna. “Jadi aku yang menang kan?” “Iya,” ucap Yo Han singkat. Lebih baik dia mengiyakan kata Bitna, dia sudah lapar karena lelah bekerja di kantor seharian dan ingin makan dengan tenang. “Yesss!” seru Bitna kegirangan. Yo Han melirik Bitna sekilas. Hanya karena terbebas dari menyiapkan sarapan, mencuci piring, dan membuang sampah selama seminggu Bitna bisa sesenang itu. “Dasar,” gumam Yo Han pelan melihat tingkah Bitna. “Cepat makan dan jangan berisik.” Bitna mengerucutkan bibirnya. Lalu memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut. Dia sendiri merasa sangat senang bukan hanya karena menang taruhan dengan Yo Han, tapi karena secara tidak langsung Yo Han mengakui bahwa masakannya enak. Bitna menyentuh bagian bawah perutnya. Tiba-tiba saja perutnya terasa sakit. Gawat, jangan sekarang, batin Bitna. “Ada apa?” tanya Yo Han yang melihat Bitna seperti sedang kesakitan. “Tidak apa-apa, kau makan saja aku akan ke kamar,” jawab Bitna lalu berdiri dari kursinya. Brukk... Baru selangkah berjalan, Bitna jatuh tersungkur ke lantai. Sakit di perut bagian bawahnya semakin parah seperti ditusuk oleh benda tajam. Melihat Bitna jatuh tersungkur, Yo Han segera menghampiri istrinya. “Kim Bitna, apa yang terjadi? Kau sakit?” tanya Yo Han khawatir. “Aku... tidak... apa-apa,” jawab Bitna sambil merintih. Sungguh perut bagian bawahnya sekarang terasa sangat sakit. “Tidak apa-apa bagaimana, kau kesakitan seperti ini,” omel Yo Han. “Kita ke rumah sakit ya?” Bitna menggeleng lemah. “Tidak...perlu...nanti akan sembuh sendiri.” “Sembuh sendiri bagaimana? Lihat kau bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin! Kita ke rumah sakit sekarang, tunggu di sini aku akan mengambil kunci mobil dulu.” Yo Han bergegas masuk ke dalam kamar mengambil kunci mobil dan dompet. Setelah itu menggendong Bitna di punggungnya. “Tahan, kita ke rumah sakit sekarang.” *** Yo Han membawa Bitna ke rumah sakit terdekat dari apartemen mereka. Selama perjalanan bisa dia lihat Bitna sedang menahan sakit yang luar biasa. Apa dia terkena usus buntu, kata Yo Han dalam hati. Melihat dari gejala yang di alami Bitna mungkin saja gadis itu terkena usus buntu. Bitna juga sering mengonsumsi makanan yang pedas. Setelah sampai di rumah sakit Yo Han segera menggendong Bitna menuju IGD. Ia mengatakan pada perawat bahwa istrinya mengalami sakit perut yang hebat. Perawat tadi lalu menyuruh Yo Han untuk membaringkan Bitna di salah satu ranjang yang kosong di dalam IGD. Setelah itu seorang dokter laki-laki datang dan memeriksa Bitna. Yo Han terlihat sangat khawatir melihat Bitna yang sangat kesakitan. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Bitna. Jika terjadi sesuatu pada gadis itu dia akan merasa sangat bersalah pada ayah Bitna, karena dia telah berjanji untuk menjaga gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD