Bagian 28

1704 Words
Bitna menutup matanya rapat-rapat saat Yo Han membaringkannya ke ranjang rumah sakit. Dia berharap pingsan saja saat ini. Akan sangat memalukan jika Yo Han tahu penyebab sakit perutnya. Siialan, kenapa juga harus datang di saat seperti ini, rutuk Bitna dalam hati. “Jadi bagaimana keadaan istri saya?” tanya Yo Han pada dokter setelah selesai memeriksa Bitna. “Pasien mengalami kram perut prammenstruasi,” jawab dokter. “A-apa?” “Kram perut seperti ini memang sering terjadi pada wanita saat atau menjelang mensstruasi. Namun kram perut bukanlah kondisi yang mengkhawatirkan.” “Ah...” ucap Yo Han bernapas lega. Bitna baik-baik saja. “Lalu apa ada obat untuk mengurangi rasa sakitnya?” “Kram perut bisa di obati dengan mengompres bagian perut yang terasa sakit dengan air hangat, karena itu dapat membantu melemaskan otot perut. Pasien juga bisa mengonsumsi obat pereda rasa sakit,” jelas dokter. “Istri saya tidak perlu dirawat di rumah sakit?” tanya Yo Han. Meskipun dokter bilang kram perut prammenstruasi bukanlah kondisi yang mengkhawatirkan, dia tetap tidak bisa tenang mengingat betapa Bitna terlihat kesakitan tadi. “Tidak perlu, dengan istirahat yang cukup dan banyak minum air putih kondisinya pasti akan berangsur-angsur membaik,” jawab dokter. “Begitu ya.” “Kalau begitu saya permisi dulu.” Yo Han sedikit membungkukkan badannya pada dokter. Ia lalu beralih menatap Bitna. Gadis itu menutup rapat matanya, tapi Yo Han tahu Bitna sama sekali tidak pingsan atau tertidur. Dia pasti merasa malu. Bahkan di pipi Bitna muncul semburat merah jambu yang menandakan dirinya sedang malu. “Kau malu?” tanya Yo Han. Meskipun mendengar jelas pertanyaan Yo Han, Bitna enggan menjawab pertanyaan suaminya itu. Tentu saja dia merasa malu. Hal-hal seperti mensstruasi adalah hal yang sangat sensitif menurutnya. “Kenapa harus malu, semua wanita juga seperti itu. Itu hanya kram perut biasa sama seperti flu atau pilek. Prammenstruasi? Kau sudah bukan anak kecil lagi, kenapa harus malu membicarakan hal-hal seperti itu.” Bitna menggigit bibirnya. Yo Han mana tahu perasaannya, pantas dia bisa bicara semudah itu. Coba saja jika ‘miliknya’ tiba-tiba berdiri di tempat umum apa dia bisa bicara seperti itu lagi? Yo Han melihat ponselnya yang kembali berdering entah untuk yang ke berapa kali. Seung Ah meneleponnya. Gara-gara tadi dia bilang pada ibunya jika Bitna tiba-tiba sakit perut dan dibawa ke rumah sakit, Seung Ah terus menghubunginya untuk menanyakan keadaan Bitna, menantu kesayangannya—menantunya memang hanya Bitna. Untung saja Yo Han tidak bilang membawa Bitna ke rumah sakit mana, jika dia bilang pasti Seung Ah sudah ada di sana sekarang dan membuat keributan karena terlalu khawatir. Setelah berbicara dengan Seung Ah di telepon dan mengatakan bahwa Bitna baik-baik saja, tidak perlu sampai di rawat inap, Yo Han kembali beralih pada Bitna. Istrinya masih berada dalam posisi yang sama. Berbaring dengan mata tertutup rapat. “Kau tunggu di sini, aku akan mengurus administrasi dulu,” ucap Yo Han lalu pergi meninggalkan Bitna untuk mengurus administrasi. Setelah Yo Han benar-benar pergi barulah Bitna membuka matanya lalu mengubah posisinya menjadi duduk. “Sungguh memalukan,” gumam Bitna sambil mengusap kasar poninya. Selama dia tinggal bersama Yo Han dalam beberapa bulang terakhir baru kali ini Yo Han melihatnya mengalami gejala prammenstruasi. Padahal sebelumnya dia bisa menyembunyikan ya dengan baik. Tapi hari ini rasa sakit yang menyerang perutnya sama sekali tak bisa tahan, padahal sebelumnya tak pernah sesakit ini. “Apa karena aku punya banyak pikiran?” gumam Bitna lagi. Beberapa hari terakhir memang sangat berat menurutnya. Bertengkar dengan Yo Han lalu keputusan pria itu untuk bercerai setelah lima tahun. Semua itu sungguh mengganggu pikirannya. “Sudah bangun?” tanya Yo Han yang tiba-tiba kembali dan membuat Bitna terlonjak kaget. Gadis itu kemudian kembali berbaring dan pura-pura tidur lagi. “Ayo bangun, jangan pura-pura tidur lagi atau aku akan menggendongmu.” Dengan cepat Bitna membuka matanya dan segera turun dari ranjang. “Ayo pulang.” Yo Han tidak boleh menggendongnya, jika Yo Han melakukannya itu akan membuat daddanya berdebar-debar lagi, dan pasti Yo Han bisa mendengarnya. Bitna tidak mau itu terjadi. Yo Han menggelengkan kepalanya menatap Bitnya yang berjalan di depannya. Keadaannya memang sudah membaik dibanding tadi. Namun masih terlihat jelas Bitna menahan sakit di perutnya. “Masih sakit?” tanya Yo Han saat berhasil menyusul Bitna. “Jangan tanya,” jawab Bitna. Sekarang dia hanya ingin pulang dan istirahat. Dia tidak mau menjawab pertanyaan apa pun karena tiba-tiba moodnya menjadi sangat buruk malam itu. Melihat ekspresi Bitna yang begitu kesal, Yo Han tahu gejala prammenstruasi lainya baru saja muncul, yaitu hilangnya mood Bitna. Tak mau mencari masalah, Yo Han memilih diam. Ternyata memiliki kakak perempuan ada manfaatnya. Berkat Yoo Rin, Yo Han belajar bagaimana menghadapi wanita yang sedang mengalami gejala prammenstruasi. Walaupun dulu Yoo Rin sering membuatnya tersiksa saat mengalami gejala prammenstruasi, tapi apa yang dia alami dulu menjadi pelajaran untuk menghadapi Bitna. *** Begitu sampai di apartemen Bitna hendak langsung masuk ke kamar tapi Yo Han mencegahnya. “Apa lagi?” tanya Bitna malas. Sekarang dia hanya ingin cepat-cepat istirahat. “Minum obat dulu,” jawab Yo Han sambil menyodorkan kantong plastik berisi obat pada Bitna. Bitna meraih kantong itu lalu menuju dapur untuk mengambil minum. Setelah minum obat Bitna bergegas masuk ke dalam kamar. Dari kerasnya bunyi pintu yang tertutup Yo Han tahu jika Bitna sedang merasa kesal sekarang. Sampai saat ini Yo Han masih tidak mengerti tentang jalan pikiran para wanita. Bagaimana bisa mood mereka berubah sangat drastis dalam waktu yang singkat. Menurutnya wanita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling rumit dan merepotkan. Oleh karena itu Yo Han malas berurusan dengan mereka. Yo Han masuk ke kamarnya setelah dia selesai membereskan makanan sisa makan malam tadi serta mencuci piring dan peralatan makan lainnya. Yo Han membaringkan tubuhnya ke atas ranjang lalu menutup matanya dengan sebelah tangannya. Tiba-tiba saja bayangan Bitna yang sedang kesakitan tadi terlintas di pikirannya. Jika terjadi sesuatu pada gadis itu, dia akan sangat merasa bersalah pada mendiang mertuanya. Dia merasa tak bisa menepati janji untuk menjaga Bitna. Aku Cuma ingin kau menjaga Bitna-ku dengan baik dan membuatnya bahagia. Selama ini dia sudah hidup menderita karena aku. Aku hanya ingin melihatnya hidup dengan bahagia nantinya. Yo Han kembali teringat dengan ucapan Ayah Bitna sebelum pria itu meninggal. Yo Han menghela napas kasar. Mengingat kembali pertemuannya dengan Kim Chul Sik, ayah Bitna sebelum beliau meninggal membuatnya merasa bersalah pada Bitna. Jika Gadis itu tahu alasan sebenarnya dia menikahinya, Bitna mungkin akan sangat marah dan berakhir membencinya. Yo Han tidak mau itu terjadi. Oleh karena itu dia harus menyembunyikan semuanya sebaik mungkin. Karena jika Bitna sampai tahu bukan hanya gadis itu yang akan membencinya tapi kedua orang tuanya juga. *** Yo Han dan Bitna sedang sarapan bersama. Tak banyak makanan yang tersaji di atas meja. Pagi itu Bitna hanya memanaskan makanan yang dikirim oleh mertuanya. Seung Ah memang hobi memasak dan Bitna akui masakan mertuanya itu sangat enak. Tak seperti biasanya pagi itu Bitna terlihat begitu gelisah. Dia bahkan hanya mengaduk-aduk makanannya. “Kau kenapa?” tanya Yo Han. “Ha?” “Sejak tadi kau hanya mengaduk-aduk makananmu, masakan ibuku tidak enak?” Bitna menggeleng. Masakan mertuanya adalah yang terenak menurutnya. “Lalu kenapa?” Bitna menggigit buku jarinya. Dia terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu kepada Yo Han. “Begini, kemarin aku tidak sengaja menumpahkan air ke laptopku.” Yo Han menghela napas. Kenapa Bitna begitu ceroboh hingga bisa menumpahkan air ke laptopnya. “Jangan mengomel dulu!” sela Bitna sebelum Yo Han mulai mengomelinya. “Aku punya tugas yang harus aku selesaikan minggu ini tapi, karena laptopnya rusak aku tidak bisa mengerjakannya.” “Jadi?” Bitna menautkan jari-jarinya di depan d**a lalu menatap Yo Han dengan melas. “Boleh aku pinjam laptop di ruang kerjamu?” “Kenapa kau selalu ceroboh? Minggu lalu ponselmu tersiram air, sekarang laptop besok kau akan menceburkan dirimu ke kolam?” omel Yo Han. Dia tidak mengerti kenapa Bitna begitu ceroboh. Jika tidak memecahkan sesuatu, barangnya tertinggal pasti dia akan merusak sesuatu. Sungguh merepotkan. “Jika tidak mau meminjamkannya, aku bisa pinjam pada Seung Woo,” kata Bitna dengan kesal. Dia tahu dirinya salah dan ceroboh tapi Yo Han tak perlu sampai seperti itu. “Bukannya tidak mau, tapi kau memang harus diomeli.” Mendengar nama si anak anjing, Yo Han tidak bisa membiarkan Bitna meminjam laptop si anak anjing karena tentu potensi mereka berduaan akan besar. Dan itu tidak bisa di biarkan. “Laptop di ruang kerjaku kau boleh memakainya untuk mengerjakan tugas,” kata Yo Han. “Benarkah?” Bitna menatap Yo Han dengan mata berbinar. “Tapi, ingat kau harus berhati-hati menggunakannya.” “Siap!!!” Setelah itu Bitna melahap makanannya dengan cepat membuat Yo Han yang melihatnya menggelengkan kepala. Lamat-lamat mengamati Bitna yang terlihat kegirangan setelah ia bilang boleh memakai laptopnya, membuat Yo Han tersenyum sekilas. Entah kenapa setiap kali melihat tingkah Bitna selalu bisa membuatnya tersenyum. Yah walaupun banyak juga tingkah istrinya itu yang membuatnya naik darah. “Hati-hati, kau seperti orang yang belum makan berhari-hari saja,” cibir Yo Han melihat Bitna begitu lahap menyantap makanannya. Mendengar Yo Han mencibirnya Bitna hanya menjulurkan lidahnya. Terserah Yo Han mau mengatainya apa, dia tidak peduli. Lagi pula suaminya itu memang cerewet dan suka berkomentar. *** “Ingat, hati-hati saat menggunakan laptopnya,” ucap Yo Han sebelum berangkat ke kantor. Pria itu sudah mengenakan setelan jas yang membuatnya terlihat semakin tampan dan berwibawa. “Aku tahu,” sahut Bitna yang sedang sibuk dengan tayangan berita di layar TV. Hari ini dia tidak ada jadwal kuliah, jadi kemungkinan seharian ini Bitna akan berada di apartemen dan mengerjakan tugasnya. “Setelah kau pakai letakkan kembali di tempatnya,” ucap Yo Han kembali mengingatkan Bitna. Bitna menatap suaminya itu dengan kesal. Apa Yo Han pikir dia ini anak kecil yang harus selalu diingatkan? Menyebalkan. “Aku berangkat sekarang,” pamit Yo Han. “Ya, hati-hati,” sahut Bitna tanpa menoleh. Tayangan di TV pagi itu jauh lebih menarik perhatiannya dibanding wajah tampan Yo Han. Selain itu ini adalah cara Bitna agar perasaan yang harusnya tidak boleh ada itu cepat menguap menghilang. Dengan tidak terlalu sering melihat wajah suaminya, Bitna berpikir bisa membawa dirinya kembali ke keadaan semula. Saat dia hanya merasa Yo Han adalah penolongnya tidak lebih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD