Bitna membawa beberapa buku sebagai referensi untuk mengerjakan tugasnya. Setelah meletakkan buku-buku dan alat tulis yang dibawanya tadi ke atas meja kerja Yo Han, Bitna keluar lagi untuk mengambil minuman dan makanan ringan. Setelah membawa semua yang dia butuh kan, Bitna menjatuhkan pantatnya ke kursi di balik meja kerja Yo Han.
“Wah...!” seru Bitna saat duduk di kursi itu. Pantas saja Yo Han betah sekali berlama-lama duduk di sana. Ternyata kursi itu sangat nyaman.
Cukup dengan mengagumi nyamannya kursi kerja Yo Han, Bitna kembali fokus untuk mengerjakan tugasnya. Dia hanya punya waktu sampai besok untuk menyelesaikan tugas ini. Jika saja dia tidak berbuat ceroboh dan menumpahkan air ke atas laptopnya pasti tugas itu sudah selesai sekarang.
Mata Bitna menatap layar laptop yang menyala di depannya dengan berapi-api sementara tangannya menari dengan lincah di atas keyboard laptop itu. Bisa dilihat jika dirinya sedang sangat serius untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Setidaknya dia harus mendapatkan nilai B untuk tugas ini, mengingat dosen yang mengajar mata kuliah ini sangat menyeramkan. Bahkan dosen itu tidak mau menerima nilai C.
Sambil mengerjakan tugas sesekali tangan Bitna terulur mengambil makanan ringan yang dibawanya tadi dan memasukkannya ke mulut. Tak lupa dia juga meminum secangkir kopi yang dibawanya tadi. Dia butuh kafein untuk membuatnya tetap terjaga dan memastikan tugasnya selesai tepat waktu.
***
“Eunghh!” lenguh Bitna sambil meregangkan kedua tangannya ke atas. Akhirnya tugasnya selesai juga. Bitna menatap tumpukan bungkus makanan ringan yang sudah habis dimakannya tadi. Jika Yo Han melihatnya pria itu pasti akan mengomelinya karena membuat meja kerja pria itu kotor dan berantakan. Tak mau Yo Han mengomelinya Binta segera mengumpulkan bungkus-bungkus kosong itu dan berniat membuangnya.
“Aduh!!!” Seru Bitna saat kakinya terbentur laci bagian bawah meja yang terbuka.
Gadis itu kemudian membungkuk untuk menutup kembali laci yang terbuka itu. Namun sebuah foto dalam laci itu menarik perhatiannya. Karena penasaran tangan Bitna tanpa sadar terulur untuk mengambil foto itu. Bitna menatap foto yang saat ini dipegangnya. Itu adalah foto Yo Han bersama seorang wanita. Dalam foto itu terlihat mereka saling merangkul sambil tersenyum lebar ke arah kamera. Melihat penampilan Yo Han di foto itu yang masih tampak muda Bitna yakin foto itu adalah foto lama. Bitna kemudian membalik foto itu. Di bagian belakang foto itu tertulis sesuatu.
“Yo Han dan Soo Jin, Jeju,” gumam Bitna membaca hal yang tertulis di balik foto itu. Mendengar nama Soo Jin, Bitna merasa pernah mendengar atau membaca nama itu, tapi dia lupa. Rasanya nama itu tidak asing.
Tit... Tit... Tit...
Mendengar suara seseorang memasukkan password apartemennya, Bitna bergegas mengembalikan foto tadi ke dalam laci. Ia lalu bergegas keluar dari ruang kerja Yo Han.
“Kau mengagetkanku,” ucap Yo Han terkejut melihat Bitna tiba-tiba muncul dengan penampilan yang—berantakan.
“He he he maaf,” kata Bitna lalu menyengir. Ia kemudian merapikan rambutnya.
“Sudah selesai tugasmu?”
Bitna mengangguk. “Kau beli ayam goreng?”
Bitna mencium bau ayam goreng dari bungkusan yang dibawa Yo Han.
“Iya, jangan menyentuhnya! Kau harus mandi dulu!” ucap Yo Han saat Bitna hendak mengambil bungkusan berisi ayam goreng yang dibawanya.
Dia tidak mau ayam goreng yang dibawanya terkontaminasi dengan kuman—melihat betapa kacau dan berantakannya penampilan Bitna.
“Iya-iya.” Sambil merengut Bitna beranjak menuju kamarnya untuk bersiap mandi. Sementara itu Yo Han masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mengecek apakah Bitna membuat kekacauan di dalam sana.
Yo Han berkacak pinggang melihat bungkus makanan ringan yang berserakan di meja dan lantai. Memang ya Bitna itu tidak bisa menjaga kebersihan.
“Dasar,” omel Yo Han lalu memungut sampah bungkus makanan ringan itu.
“Oh.” Yo Han terdiam melihat laci bawah mejanya yang terbuka. Pria itu kemudian berjongkok dan mengambil selembar foto di dalam sana.
Raut wajah Yo Han seketika berubah saat melihat wajah wanita yang bersamanya dalam foto itu. Yo Han menatap foto itu cukup lama. Raut wajahnya terlihat sendu, seakan merindukan sosok wanita itu.
“Aku sudah mandi, ayo makan!” ucap Bitna yang tiba-tiba muncul. Yo Han bergegas menyembunyikan foto itu di balik punggungnya.
“Kau hobi mengagetkan orang ya,” omel Yo Han.
Bitna mendengus. Lihatlah siapa yang bicara, bukankah Yo Han juga hobi mengagetkan orang?
“Ayamnya aku letakkan di atas meja makan, kau keluarkan saja dulu. Siapkan juga cola, aku akan menyusul nanti.”
“Oke.”
Setelah Bitna keluar, Yo Han bergegas memasukkan kembali foto tadi ke dalam laci lalu menutup laci itu rapat-rapat.
“Dia tidak melihat foto ini kan? Semoga saja dia tak melihatnya,” gumam Yo Han sebelum keluar dari ruang kerjanya.
Sayang sekali harapan Yo Han tak jadi kenyataan. Bitna sudah melihat foto itu, tapi gadis itu sama sekali tak curiga. Bitna pikir itu adalah foto Yo Han dengan temannya dulu.
***
“Lain kali cuci gelas bekas minummu,” ucap Yo Han sambil meletakkan gelas kotor bekas Bitna minum kopi saat mengerjakan tugasnya tadi.
“Aku lupa,” sahut Bitna. “Tadi aku sudah berniat membereskannya tapi, keburu kau datang.”
“Alasan.”
“Tidak, aku sungguh-sungguh akan membereskannya tadi—”
“Diam dan makan.” Yo Han menyuapkan bagian paha ayam ke mulut Bitna agar gadis itu diam.
Bitna mendengus lalu memakan paha ayam pemberian Yo Han. “Kau tidak mandi dulu?”
“Tidak, nanti saja setelah makan,” jawab Yo Han. Pria itu lalu duduk di depan Bitna.
Bitna mengunyah paha ayam pemberian Yo Han tadi sambil sesekali melirik Yo Han. Pria itu masih saja terlihat tampan padahal belum mandi. Bitna menelan ludahnya perlahan saat melihat Yo Han menggulung bagian lengan kemejanya hingga ke siku. Pria itu lalu melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. Hanya melakukan dua hal sederhana itu tapi, menurut Bitna Yo Han terlihat sangat seksi.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Yo Han melihat Bitna terus menatapnya.
“Tidak apa-apa,” jawab Bitna cepat. Ia kemudian mengambil sepotong ayam goreng lagi dan memasukkannya ke dalam mulut. Bagaimana bisa dia dengan cerobohnya menatap Yo Han seperti tadi? Tidak peduli betapa tampan dan seksinya Yo Han, harusnya dia bisa mengendalikan dirinya. Jika terlalu terang-terangan seperti tadi mungkin saja Yo Han tahu jika dia menyukainya. Itu tidak boleh terjadi.
“Apa ibuku meneleponmu?”
“Ibu?” Bitna menggeleng. “Dia tidak menelepon, kenapa?”
“Karena sebentar lagi liburan musim panas, ibu bilang kita harus pergi berbulan madu. Katanya kita sudah terlalu lama menunda untuk pergi bulan madu,” jawab Yo Han lalu menyuapkan sepotong ayam goreng ke dalam mulutnya.
Bitna berhenti mengunyah ayam goreng di dalam mulutnya ketika mendengar kata bulan madu. Bulan madu? Itu artinya dia akan pergi liburan berdua saja dengan Yo Han? Memikirkannya saja sudah membuat Bitna berdebar-debar. Mereka memang sengaja menunda bulan madu mereka dengan alasan Bitna baru masuk kuliah. Tapi sebenarnya itu hanya alasan saja, mereka awalnya memang tak berniat pergi bulan madu atau semacamnya.
Jika dulu Bitna sempat takut kita dirinya akan pergi berbulan madu bersama Yo Han tapi, sekarang Bitna malah menantikannya. Pergi berlibur bersama Yo Han dan menghabiskan waktu sepanjang hari mengelilingi tempat-tempat wisata bersama Yo Han, rasanya terdengar romantis. Yah, walaupun sebenarnya hubungan mereka jauh dari kata romantis.
“Ada negara yang mau kau kunjungi?” tanya Yo Han. Meskipun sebenarnya dia enggan sekali pergi berbulan madu tapi, ini bisa dia jadikan kesempatan untuk menyenangkan Bitna. Yo Han yakin gadis itu tidak pernah pergi berlibur sebelumnya.
Bitna menyentuh dagunya lalu berpikir negara mana yang ingin ia kunjungi bersama Yo Han.
“Paris,” jawab Bitna. “Bagaimana menurutmu?”
Raut wajah Yo Han berubah ketika mendengar nama ibu kota Prancis itu disebut. “Bagaimana kalau ke Thailand atau Indonesia, katanya di sana ada banyak tempat wisata yang menarik.”
Bitna menggeleng. Paris terkenal sebagai kota cinta. Di sana ada banyak tempat wisata yang terkenal sangat romantis. Dan dia ingin mengunjungi tempat romantis itu bersama Yo Han. Hitung-hitung sebagai kenangan setelah mereka bercerai suatu saat nanti.
“Kenapa? Kau tak menyukai Paris?” tanya Bitna yang menyadari perubahan ekspresi Yo Han setelah mendengar nama ibu kota Prancis itu.
“Tidak, bukan begitu,” sangkal Yo Han. Pria itu bukannya membenci atau tidak menyukai Paris, hanya saja ada sesuatu di sana yang membuatnya merasa tidak nyaman. “Tapi di sana pasti juga sedang musim panas, kau tidak masalah?”
“Ya, tentu saja,” seru Bitna bersemangat.
Melihat Bitna yang begitu bersemangat membahas tentang kota Paris, Yo Han merasa tak tega jika harus menolak negara pilihan istrinya itu. “Baiklah sudah di putuskan kita akan ke Paris liburan musim panas nanti.”
Bitna tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapi. Dia terlihat senang saat Yo Han akhirnya memutuskan bahwa mereka akan berlibur ke Paris saat liburan musim panas nanti. Berbanding terbalik dengan Bitna yang terlihat senang, Yo Han justru terlihat tidak tenang dan gelisah. Yo Han merasa seperti tak senang mereka akan pergi ke Paris saat liburan musim panas nanti. Memang Paris adalah kota yang indah, tapi di sana ada seseorang yang harusnya tak boleh dia temui apalagi bersama Bitna. Meskipun Paris kota yang luas, tapi kemungkinan untuk bertemu tetaplah ada. Dan Yo Han takut jika pertemuan itu nantinya menghancurkan rencananya selama ini.
***
Bitna membereskan buku-buku dan alat tulisnya segera setelah dosen yang mengajar hari itu keluar dari ruangan. Setelah ini dia tidak ada mata kuliah lagi, rencananya dia ingin minum kopi bersama Minah di Cafe. Sejak masuk kuliah dirinya jarang bertemu gadis itu.
“Sudah mau pergi?” tanya Seung Woo yang duduk di samping Bitna. Meskipun tahu jika Bitna ternyata sudah menikah, Seung Woo tak lantas menjauhi gadis itu. Pasti akan sangat aneh jika dia tiba-tiba menjauhi Bitna, mengingat di angkatan mereka Bitna paling dekat dengan dirinya. Yah walaupun Seung Woo merasa hatinya sakit setiap kali melihat Bitna karena perasaannya yang terpaksa kandas sebelum berjuang. Namun, seperti ini saja sudah cukup baginya. Di samping Bitna dan menjadi teman gadis berusia 25 tahun itu.
“Iya, aku sudah ada janji,” jawab Bitna.
“Dengan suamimu?” Sungguh menyebut kata suami membuat hati Seung Woo semakin sakit.
“Bukan, dengan seorang teman.”
“Eonni,” panggil Hye Won, salah satu mahasiswi di angkatan mereka. “Liburan musim panas nanti kau ada rencana apa? Teman-teman yang lain rencananya akan menyewa vila di Jeju, Seung Woo kau ikut kan?”
“Liburan musim panas nanti aku akan ke Paris.... Dengan suamiku,” ucap Bitna tersipu malu saat menyebut kata suamiku di depan Hye Won dan Seung Woo.
“Kalian akan pergi bulan madu?” tanya Hye Won antusias.
Bitna mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Memikirkan dirinya akan berbulan madu ke Paris bersama Yo Han saja sudah membuatnya berdebar-debar. Yah walaupun sebenarnya mereka akan liburan biasa saja dan tidak akan terjadi sesuatu di sana.
Berbeda dengan Hye Won yang terlihat antusias dan senang saat mendengar Bitna akan berbulan madu bersama suaminya, Seung Woo justru terlihat tidak senang. Bagaimana bisa dia merasa senang saat gadis yang dia sukai akan pergi liburan bersama pria lain yang ternyata adalah suaminya.
Seung Woo menghela napas. Ternyata memiliki cinta bertepuk sebelah tangan sangat menyakitkan apa lagi jika orangnya selama ini selalu dekat dengannya. Mulai sekarang dia harus belajar merelakan perasaannya pada Bitna. Dia tidak mau dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain. Lagi pula Bitna juga terlihat bahagia dengan kehidupan pernikahaannya.