Bitna dan Minah duduk berhadapan di dalam sebuah Cafe di dekat kampus mereka. Di atas meja ada segelas ice latte milik Bitna, segelas ice americano milik Minah dan sepotong red velvet cake. Keduanya mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari pekerjaan Minah di Cafe hingga kehidupan Bitna sebagai mahasiswa. Bitna yang sebelumnya pendiam terlihat lebih banyak bicara sekarang. Minah yang melihat perubahan Bitna itu merasa senang. Karena itu artinya Bitna merasa nyaman dan bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Dulu dia tahu Bitna sangat pendiam karena gadis itu sibuk bekerja untuk bertahan hidup tapi, sekarang keadaan sudah berubah. Bitna tak perlu lagi sibuk banting tulang untuk melunasi hutang ayahnya dan bertahan hidup. Minah merasa senang Bitna akhirnya menikah dengan Yo Han, dan pria itu bisa membebaskan Bitna dari hutang-hutang ayahnya dan membuatnya eonni-nya itu bahagia sekarang.
“Eonni, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Minah.
“Tentu,” sahut Bitna.
“Kenapa kau memilih jurusan film dan televisi? Awalnya aku pikir kau akan memilih jurusan manajemen bisnis.”
“Karena aku suka nonton film,” jawab Bitna lalu menyesap ice latte pesanannya.
“Kenapa?”
“Entah, rasanya menyenangkan saja menonton film lalu ikut menebak apa yang akan terjadi selanjutnya dalam film itu. Kau tahu rasanya sungguh menakjubkan saat kau tahu bahwa seseorang bisa membuat cerita yang sangat menarik,” jelas Bitna dengan mata berbinar. Bitna memang sangat menyukai film. Dulu jauh sebelum keluarganya bangkrut Bitna akan selalu menyempatkan dirinya menonton film di bioskop. Bahkan dalam seminggu dia bisa pergi menonton tiga kali. Selain itu dia juga sering menonton ulang film-film lama di rumah setiap ia selesai belajar.
Impian Bitna dulu adalah menjadi seorang penulis naskah film. Karena begitu terpesona bagaimana seseorang bisa membuat alur cerita yang begitu mengesankan, Bitna juga ingin membuat ceritanya sendiri lalu membuatnya menjadi sebuah film. Namun sayang, baru selangkah perjalanannya menuju impiannya, bisnis ayahnya bangkrut dan dia terpaksa merelakan impiannya itu. Kuliah membutuhkan biaya yang besar, dan kondisi ayahnya yang terlilit hutang tentu sulit bagi Bitna untuk tetap melanjutkan kuliahnya.
Namun, sekarang berkat Yo Han Bitna bisa kembali merajut mimpinya yang sempat ia kubur. Jika bukan karena pria itu Bitna sekarang masih sibuk bekerja siang dan malam untuk melunasi hutang ayahnya. Yo Han memang sosok ibu peri bagi Bitna.
“Eonni, apa kau bahagia menikah dengan suamimu?” tanya Minah tiba-tiba, membuat Bitna menatap bingung ke arahnya. “Maksudku, kalian kan hanya berkenalan sebentar lalu tiba-tiba memutuskan menikah.”
“Sampai saat ini aku pikir, aku cukup bahagia,” jawab Bitna lalu tersenyum.
Awalnya dia memang terpaksa menikah dengan Yo Han karena pria itu berjanji akan melunasi semua hutang ayahnya. Namun, seiring berjalannya waktu, tinggal bersama, saling terlibat pertengkaran kecil membuat Bitna sadar jika dia memiliki perasaan lain pada Yo Han. Perasaan yang seharusnya tidak boleh dimiliki.
Antara dirinya dan Yo Han ada dinding pembatas yang tak terlihat. Bukan masalah Yo Han adalah seorang gay, yang membuat Bitna tak bisa memiliki pria itu. Namun, mengingat pria itu telah berjasa dalam hidupnya, membebaskannya dari belenggu hutang sang ayah, rasanya tak pantas bagi Bitna menaruh hati pada pria itu. Bitna akan terlihat sangat serakah jika berharap Yo Han akan memiliki rasa yang sama dengannya. Mengingat semua itu membuat Bitna merasa sedih karena dia harus menyimpan perasaannya sendirian. Yo Han tidak boleh tahu tentang perasaannya ini. Jika pria itu tahu, mungkin saja dia akan membenci dirinya. Dan Bitna tidak mau itu terjadi.
***
Bitna menatap layar laptop yang menyala di depannya. Di depannya juga terbuka lebar sebuah buku. Niatnya Bitna ingin belajar untuk ujian akhir semester pertama yang akan di adakan sebelum liburan musim panas dimulai. Tapi sejak tadi dia hanya melamun sambil menatap kosong layar laptop di depannya. Pikirannya saat ini dipenuhi oleh obrolannya siang tadi dengan Minah.
Ia teringat pertanyaan Minah tentang apakah dirinya bahagia menikah dengan Yo Han. Dia memang bahagia sekarang, walaupun sebenarnya pernikahan ini hanya lah status di atas kertas. Mereka menikah untuk menutupi kekurangan Yo Han, dan untuk membebaskannya dari belenggu hutang ayahnya. Namun, meskipun hanya status di atas kertas, Bitna bahagia dengan pernikahan ini. Karena dia bisa hidup bersama dengan seseorang yang di cintai, walau perasaannya ini muncul setelah mereka menikah, walaupun Yo Han juga tak mungkin membalas perasaannya. Hidup bersama seperti ini saja sudah cukup bagi Bitna.
Namun, bagaimana jika mereka bercerai nantinya? Apa dia sanggup berpisah dengan Yo Han, ibu perinya? Apa dia sanggup hidup sendiri tanpa pria itu? Membayangkannya saja Bitna tak sanggup.
“Tenang, masih lima tahun lagi,” gumam Bitna menenangkan dirinya. “Lima tahun waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri berpisah dengannya.”
Bitna menggelengkan kepalanya untuk membuatnya fokus dengan apa yang ingin dia lakukan awalnya—belajar untuk ujian akhir semester. Lima tahun mungkin waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri berpisah dengan Yo Han dan juga membuat kenangan bersama pria itu. Yang perlu Bitna lakukan sekarang adalah menjalani hari-hari seperti biasanya dengan tetap memendam perasaannya, agar Yo Han tak pernah tahu.
***
Setelah ujian akhir semester selesai, itu saatnya para mahasiswa bergembira menyambut liburan musim panas. Karena selama liburan musim panas mereka tidak akan berpusing-pusing ria memikirkan tentang tugas kuliah. Setelah ini mereka akan menikmati liburan musim panas mulai pertengahan Juli hingga akhir Agustus.
Sama seperti mahasiswa lainnya Bitna juga sangat senang menyambut liburan musim panas ini karena dia akan pergi berbulan madu—liburan biasa bersama Yo Han ke Paris selama sepuluh hari. Karena sangat sibuk Yo Han hanya bisa menyempatkan waktu 10 hari untuk berlibur dengan Bitna. Tapi, Bitna tidak masalah. Tidak peduli itu hanya 10 hari atau 3 hari, yang terpenting dia akan bersama Yo Han sepanjang hari. Bitna memang sangat antusias dengan liburan mereka. Bukan karena dirinya akan berlibur ke luar negeri, tapi karena dia bisa menghabiskan waktunya bersama Yo Han. Mereka memang tinggal serumah dan bertemu setiap hari. Namun, sungguh mereka jarang sekali menghabiskan waktu bersama—kecuali saat sarapan dan makan malam. Sebagai seorang pebisnis, Yo Han sangat sibuk. Meskipun telah di rumah pria itu selalu disibukkan dengan pekerjaannya.
Pagi itu Bitna dan Yo Han sudah sampai di Incheon International Airport. Jadwal penerbangan mereka adalah jam 9 pagi, dan mereka sudah tiba di bandara satu jam sebelumnya diantar oleh Seung Ah dan Yong Bae. Seung Ah memang menyarankan agar mereka datang lebih awal agar tidak ketinggalan pesawat. Memang sedikit berlebihan, tapi Seung Ah melakukannya agar perjalanan bulan madu putra dan menantunya berjalan dengan lancar. Dia juga berharap setelah pulang bulan madu nanti Yo Han dan Bitna membawa kabar bahagia, seperti kehamilan Bitna.
Seung Ah sangat menantikan kehadiran seorang malaikat kecil di dalam keluarga mereka. Dia sudah sangat kesal dan jengkel setiap kali teman-temannya menanyakan kapan menantunya hamil. Meskipun sudah berulang kali Seung Ah menjelaskan pada mereka bahwa Bitna sedang fokus pada kuliahnya, tapi mereka tak pernah berhenti menanyakan kapan Bitna hamil. Yang paling membuat kesal adalah teman-temannya yang selalu memamerkan cucunya yang begitu lucu.
“Kalian hati-hati ya selama perjalanan, hubungi ibu atau ayah saat akan take off dan juga saat sudah sampai nanti,” ucap Seung Ah.
“Iya kami tahu, ibu sudah mengatakannya berulang kali,” ucap Yo Han setengah kesal. Dia tahu ibunya memang orang yang berlebihan tapi dia tidak menyangka jika akan sampai seperti ini. Mereka berdua akan pergi liburan bukan ke medan perang tapi ibunya terlalu khawatir.
“Oh ya, ibu harap kalian akan membawa kabar baik setelah kembali dari paris.” Seung Ah mengedipkan sebelah matanya pada Bitna, membuat menantunya itu salah tingkah.
“Sudah-sudah ayo kita pulang, mereka sudah dewasa dan bisa mengurusnya sendiri.” Yong Bae menarik lengan istrinya itu dan mengajaknya pulang. Jika tidak begitu Seung Ah pasti akan terus mengoceh tentang hal-hal tidak perlu. “Ayah dan ibu pulang dulu, kalian selamat menikmati waktu liburan ya.”
“Iya, hati-hati di jalan,” ucap Yo Han dan Bitna hampir bersamaan.
“Yeobo, apa kita juga ikut ke paris menyusul mereka nanti? Bagaimana kalau kita juga pergi honeymoon?” tanya Seung Ah pada suaminya. Dia masih tidak tenang membiarkan Yo Han dan Bitna pergi hanya berdua.
“Sadar umur, biarkan saja mereka menikmati waktu berdua. Jika kita menyusul mereka, justru akan membuat mereka risi dan tidak nyaman.”
Mendengar ucapan suaminya membuat Seung Ah kesal. Memang apa masalahnya dengan umur mereka. Mereka memang sudah tua tapi tidak masalahkan jika ingin pergi honeymoon. Lagi pula sudah lama sekali mereka tidak pergi liburan berdua. Sekalian memastikan agar harapannya untuk segera memiliki cucu bisa terwujud di Paris.
***
Bitna dan Yo Han duduk di ruang tunggu. Di samping mereka ada 4 koper besar. 1 koper berisi pakaian Bitna, 1 koper berisi pakaian Yo Han dan 2 koper sisanya adalah koper kosong. Mertuanya yang menyuruhnya membawa tambahan 2 koper kosong. Katanya untuk tempat membawa oleh-oleh nanti. Dari pada harus membeli koper tambahan di sana lebih baik membawanya dari Korea.
Bitna melirik Yo Han sang sibuk dengan ponselnya. Padahal katanya pria itu sudah mengambil cuti selama 10 hari, tapi nyatanya Yo Han masih sibuk dengan pekerjaannya.
Dasar maniak kerja, batin Bitna.
Tatapan Bitna tiba-tiba berubah sendu saat menatap Yo Han. Sangat disayangkan pria setampan itu adalah gay. Jika kedua mertuanya tahu tentang keadaan Yo Han yang sebenarnya mereka pasti akan sangat terpukul. Jika saja Yo Han bukanlah seorang gay, mungkin harapan kedua mertuanya untuk segera memiliki seorang cucu bisa segera terwujud. Sayang sekali harapan itu hanya akan menjadi sia-sia, karena dia dan Yo Han tidak akan bisa mewujudkannya.
“Kau yakin tak ada yang tertinggal?” tanya Yo Han menyadarkan Bitna dari lamunannya.
“Ya?”
“Tak ada yang tertinggal?” ucap Yo Han mengulangi pertanyaannya.
“Oh... Tidak ada,” jawab Bitna.
“Kau gugup karena akan naik pesawat?” Melihat Bitna yang melamun seperti tadi, Yo Han pikir mungkin saja istrinya itu merasa gugup karena akan naik pesawat. Dan lagi waktu penerbangan mereka nantinya yang lebih dari 9 jam.
“Tidak, kau pikir aku tidak pernah naik pesawat sebelumnya,” ucap Bitna kesal. Meskipun jatuh miskin setelah ayahnya bangkrut, Bitna pernah menikmati hidup mewah seperti Yo Han.
“Mungkin saja.”
“Wah, baru mau berangkat kau sudah memancing pertengkaran ya?”
“Siapa yang memancing pertengkaran? Aku hanya bertanya saja kan? Kenapa kau sewot?” gerutu Yo Han. Dia hanya bertanya apakah mungkin Bitna gugup karena akan naik pesawat, tapi gadis itu malah menganggapnya memancing pertengkaran. Kenapa wanita serumit ini? Dia pikir hanya Yoo Rin yang jalan pikirannya rumit, ternyata Bitna juga. Apa semua wanita juga seperti ini? Mudah sekali terpancing emosinya.
Bitna menatap sebal ke arah Yo Han. Padahal untuk liburan ini dia sudah membuat daftar tempat-tempat yang dia kunjungi dan hal-hal yang ingin dia lakukan bersama Yo Han di Paris nanti. Tapi bahkan sebelum sampai di sana mereka sudah terlibat pertengkaran. Melihat keadaan ini Bitna tidak yakin apakah semua yang ada dalam daftar yang dia buat bisa terwujud.