Bagian 31

1630 Words
Yo Han dan Bitna sampai di Charles de Gaulle Airport hampir jam 8 malam. Tampak dari wajah keduanyaa terlihat sangat lelah karena lamanya perjalanan. Dari Incheon International Airport ke Charles de Gaulle Airport memubutuhkan waktu kurang lebih 9 jam. Selama 9 jam perjalanan itu banyak waktu yang mereka habiskan untuk tidur. Walaupun mereka bisa tidur di pesawat, tapi tentu rasanya tidak senyaman tidur di atas tempat tidur. Bitna rasanya ingin segera berbaring di atas ranjang yang nyaman dan beristirahat. “Masih lama?” tanya Bitna sambil meregangkan kedua tangannya. Mereka sedang berdiri di depan bandara menunggu taksi yang di pesan Yo Han datang. “Sebentar lagi,” jawab Yo Han tak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. “Kau lelah?” Bitna memutar bola matanya malas. Tak usah bertanya harusnya Yo Han tahu jika dia lelah. Siapa yang tidak lelah menghabiskan waktu 9 jam di dalam pesawat. Jangan bandingkan Bitna dengan Yo Han yang memang biasa pergi ke luar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis. Tentu waktu 9 jam bukan apa-apa untuk pria itu. “Itu taksinya datang,” ujar Yo Han menunjuk taksi berwarna hitam yang sekarang berhenti di depan mereka. Dibantu sopir taksi itu Yo Han memasukkan koper-koper mereka ke dalam bagasi. Karena membawa 4 koper berukuran besar, Yo Han sengaja memesan taksi berukuran besar agar bisa memuat semua koper yang mereka bawa. Setelah memasukkan semua koper ke dalam bagasi, Yo Han menyusul Bitna yang sudah lebih dulu duduk di kursi belakang. “Sudah kau masukkan semuanya?” tanya Bitna. Yo Han menatap kesal ke arah istrinya. “Enak ya kau langsung duduk manis di dalam?” “Memasukkan koper, mengangkat koper, bukankah itu memang tugas para suami?” “Pintar sekali kau bicara.” Karena sudah lelah dan tidak mau membuang tenaga percuma hanya untuk berdebat dengan Bitna, Yo Han menyuruh sopir taksi itu untuk segera mengemudikan taksi meninggalkan area bandara. Sempat mengeluh lelah dan ingin segera beristirahat, rasa lelah Bitna tiba-tiba saja menghilang secara ajaib saat taksi yang mereka tumpangi memasuki pusat kota Paris. Gemerlap nyala lampu di sepanjang jalanan kota Paris mampu mengusir rasa lelah Bitna. Paris, ibu kota negara Prancis ini dikenal dengan sebutan The City of Love. Sekarang Bitna mengerti kenapa Paris disebut dengan kota cinta. Karena suasana kota Paris saat malam hari bak menghadirkan romansa. Pada sore menjelang malam hari Paris semakin menunjukkan keindahan dan kemolekannya. Menjelang sore perlahan lampu-lampu jalan di sekitar jalanan Paris mulai menyala. Suasana Paris yang tadinya meriah, perlahan digantikan oleh suasana syahdu dan temaram. Yo Han melirik Bitna yang dengan mata berbinar-binar menatap pemandangan kota Paris di malam hari. Gadis itu terlihat sangat senang walau hanya melihat lampu yang menyala di sepanjang jalan. “Seperti anak kecil saja,” ujar Yo Han lalu mengusap kepala Bitna. Setelah itu Yo Han kembali fokus pada ponsel yang dipegangnya. Sementara Bitna tiba-tiba saja mematung setelah Yo Han mengelus kepalanya. Bisa Bitna rasakan wajahnya tiba-tiba menghangat setelah perlakuan Yo Han tadi. Oh Tuhan, bahkan mereka belum benar-benar memulai liburan di kota cinta ini, tapi Yo Han sudah membuatnya berdebar-debar seperti ini. Jika begini bagaimana Bitna bisa menahan perasaannya agar tak bergejolak selama 10 hari ke depan? *** Taksi yang ditumpangi Yo Han dan Bitna berhenti di depan hotel Le Meurice. Le Meurice adalah hotel mewah yang terletak di pusat kota Paris. Saat pertama kali masuk ke dalam hotel Le Meurice, Bitna disambut dengan kemewahan hotel bergaya abad ke-18. Bitna melebarkan matanya menatap setiap sudut hotel mewah itu. Dia sedang membayangkan berapa banyak uang yang Yo Han keluarkan untuk biaya liburan mereka ini. “Ayo, aku sudah dapat kuncinya,” ajak Yo Han setelah kembali dari meja resepsionis. Bitna lalu berjalan di samping suaminya, sementara di belakang mereka ada seorang porter yang membantu membawa koper-koper yang mereka bawa. “Kita benar-benar akan menginap di sini?” tanya Bitna masih tak percaya mereka akan menginap di hotel mewah ini. “Iya, kau tak suka? Mau menginap di tempat lain?” Bitna menggeleng. Bukan dia tak suka dengan hotel ini, hanya saja rasanya tempat ini terlalu mewah untuknya. Sampai di dalam kamar Bitna kembali dibuat terpukau dengan kamar bergaya klasik dengan sentuhan modern itu. Ditambah lagi kamar yang mereka tempati ini memiliki pemandangan Menara Eiffel yang indah dengan Arc de Triomphe di satu sisi dan Katedral Notre Dame di sisi lainnya. Bitna kemudian menoleh ke belakang, dilihatnya Yo Han juga ikut masuk ke dalam kamar itu sambil membawa koper-koper mereka. Apa Yo Han juga akan tidur di kamar ini? Memang kamar ini cukup—sangat luas untuk mereka berdua. Ranjangnya juga besar, tentu sangat cukup untuk mereka berdua. Tapi, di sini tak ada yang mengenal mereka, jadi mereka tak perlu berpura-pura bersikap seperti suami istri. “Kau juga akan tidur di sini?” tanya Bitna sambil menggaruk tengkuknya. Entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa gerah padahal pendingin ruangan di kamar itu menyala dan berfungi dengan baik. “Iya, kau tidak nyaman jika tidur di kamar yang sama denganku? Kalau begitu aku akan pesan satu kamar lagi-” “Tidak, tidak perlu,” potong Bitna. “Kita bisa berbagi ranjang seperti di rumah orang tuamu.” “Baiklah kalau begitu.” Bitna menarik napas perlahan untuk menangkan dirinya. Berdua bersama Yo Han di dalam sebuah kamar dengan suasana romantis seperti ini tentu saja membuatnya tidak tenang. “Kau yang mandi dulu, atau aku?” “Aku, aku saja yang mandi dulu,” jawab Bitna cepat lalu segera membuka kopernya untuk mengambil baju ganti. Begitu kopernya terbuka lebar, mata Bitna menangkap sepasang pakaian dalam berwarna pink yang terlihat begitu jelas. Dengan cepat Bita kembali menutup koper itu lagi sebelum Yo Han melihat isinya. Bodohnya dia kenapa menata pakaiannya seperti itu di dalam koper. Yo Han berusaha menahan tawanya melihat Bitna yang salah tingkah karena malu pakaian dalam yang dibawanya tampak begitu jelas saat Bitna membuka kopernya. Sungguh melihat wajah Bitna yang berubah merah semerah kepiting rebus sangatlah lucu, tapi dia harus menahan tawanya jika tidak mau Bitna mengamuk nantinya. *** “Kau tidak lapar” tanya Yo Han yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kaos polos berwarna putih dan celana olahraga berwarna abu-abu. Bitna menoleh ke arah Yo Han. Tadinya gadis itu sedang sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya untuk jalan-jalan besok, tapi karena Yo Han bertanya Bitna menghentikan sementara aktivitasnya. Ia lalu melirik ke arah jam dinding, sudah hampir jam 11 malam. Dia memang merasa lapar, tapi tengah malam begini Bitna merasa malas jika harus ke luar untuk membeli makanan atau makan di luar. “Tidak,” jawab Bitna lalu kembali memasukkan barang-barang yang mungkin ia butuhkan besok ke dalam tas selempangnya. “Aku pikir kau lapar, kalau tidak ya sudah. Aku tidur dulu,” ucap Yo Han lalu berbaring di atas rajang. Bitna menatap suaminya yag sudah berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Mereka memang sudah sepakat untuk berbagi tempat tidur, tapi melihat Yo Ha yang berbaring di atas ranjang berukuran besar itu membuatnya tiba-tiba gelisah. Bitna bukan takut Yo Han akan berbuat sesuatu padanya, justru dia takut dirinya tak bisa mengontrol diri dan berbuat hal yang seharusnya tidak boleh dia lakukan—seperti memeluk Yo Han saat tidur. Kim Bitna sadarkan dirimu, batin Bitna untuk menyadarkan dirinya. Setelah bisa menenangkan dirinya dan membuat kesadarannya kembali, Bitna perlahan mendekati ranjang tempat Yo Han berbaring. Sebelum ikut berbaring di sisi yang lain, Bitna terlebih dahulu meletakkan dua buah guling di bagian tengah sebagai pembatas. Berjaga-jaga agar dia tidak melewati batas ketika tidur nanti. Setelah itu barulah Bitna berbaring perlahan agar tidak membangunkan Yo Han, pria itu terlihat sudah terlelap dalam tidurnya. Setelah merasa nyaman dengan posisinya, Bitna perlahan memejamkan matanya. Besok mereka akan menghabiskan sepanjang hari dengan mengunjungi tempat-tempat wisata di kota Paris. Dia harus segera tidur agar besok punya tenaga yang cukup untuk mengunjungi tempat wisata, dan berkeliling kota Paris. Tuhan, aku hanya ingin membuat kenangan yang indah bersamanya. Aku hanya tidak ingin berpisah dengan penyesalan nantinya. *** “Bitna.” “Bitna.” “Kim Bitna,” panggil Yo Han untuk ketiga kalinya, tapi gadis itu sama sekali tak bergeming membuat Yo Han merasa kesal dan hampir menarik paksa Bitna agar gadis itu segera bangun. “Tidak ada cara lain,” ujar Yo Han lalu bersiap berteriak di telinga gadis itu untuk membangunkannya. “Aaaa!” teriak Bitna kaget saat membuka mata dan mendapati wajah Yo Han begitu dekat dengannya. “Apa yang kau lakukan?” “Berusaha membangunkanmu yang tidur seperti koala,” jawab Yo Han yang sudah kembali berdiri tegak. “Bohong,” kata Bitna tak percaya. Yo Han memutar bola matanya. Dia memang berniat membangunkan gadis itu, tidak lebih. “Terserah mau percaya atau tidak, sekarang cepat bangun, mandi, berganti pakaian lalu kita berangkat,” ucap Yo Han. Dia tak mau berdepat dengan Bitna. Ini masih pagi dan dia ingin menghemat tenaganya. Sambil merengut, Bitna beringsut dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi. Setelah mengunci pintu kamar mandi, gadis itu menyandarkan punggungnya ke pintu lalu mengembuskan napas perlahan. Melihat wajah Yo Han begitu dekat saat ia membuka mata tadi, membuatnya berdebar-debar. Wajah tampan pria itu terlihat sangat jelas dan dekat tadi, bahkan Bitna bisa merasakan embusan napas Yo Han yang menerapa kulit wajahnya. Bitna menyentuh wajahnya yang tiba-tiba terasa hangat. Untung saja Yo Han tak melihat wajahnya yang memerah seperti kepeting rebus. “Wah jantungku!” ucap Bitna saat menyentuh dadanya. Bisa dia rasakan jantungnya sekarang sedang berdebar-debar seperti ingin melompat keluar dari tempatnya. Ini masih pagi, tapi Yo Han sudah membuatnya berdebar-debar seperti ini. Bagaimana bisa dia melewati hari ini? Niatnya Bitna hanya ingin membuat kenangan indah bersama Yo Han selama mereka di Paris, tapi jika pria itu terus membuatnya berdebar-debar seperti tadi Bitna takut akan kehilangan kendali atas perasaaanya. Dan akhirnya menggagalkan rencananya untuk menyembunyikan perasaannya pada pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD