Bitna mengecek kembali isi tas selempangnya. Memastikan tak ada barang yang tertinggal. Seteleh itu ia menatap cermin di depannya. “Tidak buruk,” gumamnya pelan saat melihat pantulan bayangan dirinya di cermin.
Sebenarnya Bitna terlalu rendah hati. Penampilan gadis itu sangat jauh dari kata ‘tidak buruk’. Bitna sebenarnya gadis yang cantik sejak dulu. Hanya saja karena sibuk bekerja, dia memang tak pernah memperhatikan penampilanya. Namun, sekarang berbeda. Sejak menikah dengan Yo Han, Bitna lebih memperhatikan penampilannya dan mulai merawat diri. Awalnya memang karena Yo Han yang menyuruhnya, tapi sekarang merawat diri dan berdandan sudah menjadi kebiasaannya. Dan sekarang gadis itu terlihat jauh lebih cantik dari pada sebelumnnya.
Hari ini Bitna mengenakan tea length dress berlengan pendek berwarna biru pastel dengan motif bunga. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai, memberi kesan feminin pada penampilannya. Tak lupa ia juga mengenakan riasan natural hari ini. Meskipun sebenarnya Bitna sudah terlihat cantik tanpa riasan, tapi gadis itu ingin terlihat cantk di depan Yo Han. Walaupun dia tahu itu akan menjadi sia-sia karena Yo Han tak mungkin tertarik.
“Sudah selesai? Kita berangkat sekarang?” tanya Yo Han yang sudah bersiap sejak tadi.
“Sudah,” jawab Bitna sambil memakai sepesang flat shoes berwarna pink pastel. Bitna sengaja memilih flat shoes agar bisa berjalan dengan nyaman dan kakinya tidak sakit karena mereka akan berjalan-jalan seharian nanti.
Yo Han mengerutkan dahi menatap tas hitam berukuran cukup besar yang dibawa Bitna. Padahal gadis itu sudah membawa tas selempang, lalu untuk apa tas hitam itu?
“Apa yang kau bawa?”
“Ini?” Bitna menunjuk tas hitam yang ia bawa. “Kamera.”
“Kamera? Untuk apa?”
“Tentu saja untuk memotret, untuk apa lagi?”
Yo Han menggelengkan kepalanya menatap Bitna yang saat ini membawa dua buah tas. Satu tas selempang berisi barangnya—yang entah apa itu, satu lagi tas berisi kamera. Dia tidak mengerti kenapa Bitna membuat repot dirinya sendiri. Jika hanya untuk memotret atau mengambil gambar, bukankah bisa menggunakan kamera ponsel. Kenapa repot-repot membawa kamera yang ukurannya jauh lebih besar. Padahal hasil foto menggunakan kamera ponsel juga tak kalah bagus dari kamera profesional.
Setelah sarapan di hotel, Bitna dan Yo Han memulai perjalan mereka dengan menyusuri jalanan di sekitar hotel Le Meurice. Bukan tanpa alasan Yo Han memilih menginap Le Meurice. Hotel ini berada di pusat kota Paris, selain itu letaknya juga dekat dengan banyak tempat wisata yang dapat ditempuh hanya dengan jalan kaki. Tempat wisata yang ada di dekat hotel ini, ada Rue de Rivoli, Place Vendome, Tuileries Garden, Champs Elysees, Place de la Concorde, Grands Boulevards, Rue Saint-Honore, Musee d’Orsay dan masih banyak lagi.
“Kita ke mana dulu? Tempat ini cukup dekat dengan banyak tempat wisata,” tanya Yo Han, sejak awal Bitna yang memang antusias memilih Paris sebagai tempat liburan mereka, jadi dia hanya akan mengikuti Bitna. Lagi pula dia juga tidak tahu apa-apa tentang kota Paris.
“Kita ke Museum Louvre dulu, bagaimana?” usul Bitna.
“Museum?”
“Iya, Louvre adalah salah satu museum seni terbesar dan paling banyak dikunjungi di dunia, serta menjadi salah satu monumen bersejarah paling indah di Paris. Di sana ada lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci yang sangat terkenal itu,” jelas Bitna bersemangat.
Yo Han menatap takjub istrinya itu. Dia tidak menyangka gadis itu tahu banyak tentang Museum Louvre. “Kau tahu banyak juga soal tempat itu.”
“Tentu saja,” sahut Bitna dengan bangga. Ia lalu mengeluarkan sebuah notebook kecil berwarna cream dari dalam tas selempangnya. “Aku sudah mencari tahu tempat-tempat yang harus dikunjungi saat di Paris dan mencatatnya di sini.”
Yo Han meraih notebook itu lalu membaca isinya. Ia kembali dibuat takjub setelah membaca catatan Bitna tentang tempat-tempat wisata di Paris. Gadis itu mencatat semuanya dengan rinci, mulai dari letak hingga sejarahya. Dengan catatan seperti ini Bitna lebih mirip seorang tour guide dari pada seorang wisatawan.
***
Bitna dan Yo Han akhirnya sampai di Museum Louvre yang hanya berjarak 600 meter dari Le Meurice, hotel tempat mereka menginap. Karena datang cukup pagi Bitna dan Yo Han tak perlu melewati antrian yang panjang untuk masuk ke dalam museum itu. Jika banyak museum yang melarang pengunjungnya untuk memotret di dalam museum, tapi Museum Louvre berbeda. Museum ini memperbolehkan pengunjung untuk memotret.
Sejak menginjakkan kakinya di museum berbentuk piramida ini Bitna sudah meniyiapkan kameranya untuk mengabadikan apa yang dia lihat di dalam museum bersejarah ini. Bitna tampak begitu terampil menggunakan kamera itu. Yo Han yang mengekor di belakangnya sampai dibuat kaget melihat Bitna yang begitu terampil dalam memotret setia sudut Mueum Louvre. Melihat Bitna yang begitu fokus menikmati koleksi barang-barang dari zaman prasejarah hingga abad ke-21 sambil sesekali mengarahkan kameranya pada koleksi benda yang menurutnya menarik, tanpa sadar Yo Han menarik sudut bibirnya. Rasanya Yo Han seperti melihat sisi lain dari Bitna yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Gadis itu tampak sangat berbeda dan sangat menarik perhatiannya.
Setelah cukup puas mengambil gambar di Museum Louvre, Bitna diam-diam mengarahkan kameranya ke arah Yo han. Ia lalu mencari waktu yang tepat untuk memotret pria itu. Bitna lantas tersenyum sambil menatap hasil foto Yo Han.
“Kau memotretku?” tanya Yo Han yang tiba-tiba berdiri di depan Bitna, membuat gadis itu terlonjak kaget.
“Tidak sengaja,” kilah Bitna.
“Tidak sengaja apanya? Aku melihat kau sengaja mengarahkan kamera ke arahku.”
“Memangnya kenapa kalau aku memotretmu? Harusnya kau bersyukur bisa difoto olehku.”
“Untuk apa? Pasti hasil fotonya tidak bagus,” cibir Yo Han.
“Wah, kau meremehkanku?” ucap Bitna tak percaya. “Kau lihat saja sendiri.”
Gadis itu lantas menyodorkan kameranya pada Yo Han. Memang Bitna baru beberapa bulan terakhir belajar menggunakan kamera, tapi hasil foto-foto yang diambil Bitna lumayan. Dia bahkan mendapat pujian dari ketua club fotografi di kampusnya.
Yo Han melihat hasil foto yang diambil Bitna dengan teliti. Untuk ukuran seorang pemula seperti Bitna, hasil foto gadis itu cukup bagus. Namun, Yo Han enggan memuji memuji Bitna. Yo Han yakin Bitna akan besar kepala jika dia memujinya.
“Biasa saja,” ucap Yo Han lalu mengembalikan kamera milik Bitna.
Sambil mendengus Bitna meraih kameranya. “Kau mana tahu soal yang beginian.”
Setelah puas mengunjungi Museum Louvre, Bitna dan Yo Han sekarang menuju Tuileries Garden. Dan lagi-lagi Bitna yang menyarankan untuk pergi ke sana. Hari ini sepertinya gadis itu menjadi tour guide untuk Yo Han. Tuileries Garden terletak di antara Museum Louvre dan Place de la Concorde. Tuileries Garden merupakan sebuah oase yang indah di jantung kota Paris. Taman ini merupakan tempat yang tepat untu bersantai setelah mengunjungi Museum Louvre.
“Tuileries Garden terdiri dari 4 bagian, yaitu Jardin du Carrousel, Terasse, Moat of Charles V dan Grand Carre of the Tuileries. Sebagian besar bagian-bagian tersebut menampilkan karya seni patung pahatan,” jelas Bitna sambil menyusuri Tuileries Garden.
Namun, sayang Yo Han sama sekali tak terlihat antusias. Pria itu hanya berjalan mengekor di belakang Bitna tanpa tertarik dengan penjelasan gadis itu. Jika saja tujuan mereka bukan Paris, Yo Han pasti akan sangat menikmati liburan ini dengan tenang tanpa harus dipusingkan dengan urusan pekerjaan. Sayangnya Bitna memilih kota cinta ini sebagai tujuan bulan madu mereka. Bukan tanpa alasan Yo Han tak menyukai ibu kota Prancis ini. Di sini ada seseorang dari masa lalunya yang tak boleh ia jumpai bersama Bitna. Dia tahu Paris adalah kota yang besar dan luas, tapi tetap saja ada kemungkinan untuk bertemu. Yo Han takut hatinya akan kembali goyah jika bertemu orang itu, dan akhirnya akan menggagalkan rencana yang sudah sampai sejauh ini.
***
Bitna duduk di depan meja rias. Ia menatap bayangan Yo Han yang sedang duduk di atas ranjang dari cermin di depannya. Ini adalah hari ketiga mereka di Paris, tapi rasanya Bitna sudah lelah dan ingin kembali ke Seoul. Liburan yang amat dia nantikan rasanya menjadi sia-sia karena hanya dirinya yang merasa antusias dengan liburan ini, sementara Yo Han tidak sama sekali. Memang Yo Han tidak pernah mengeluh dan selalu mengikuti ke mana pun dia pergi, tapi rasanya tidak seperti liburan berdua, karena Yo Han hanya mengikutinya tanpa menunjukkan ketertarikan pada tempat-tempat wisata yang mereka datangi. Bahkan selama 3 hari ini pria selalu terlihat gelisah.
“Kau tak suka Paris?” tanya Bitna yang mengubah posisinya menghadap Yo Han.
Yo Han mengerutkan dahi menatap istrinya karena pertanyaan Bitna yang tiba-tiba. Memang dia tidak menyukai kota ini, tapi tak mungkin Yo Han mengatakan hal itu pada Bitna. Gadis itu akan kecewa nantinya.
“Tidak,” jawab Yo Han singkat.
“Jangan bohong, sejak awal kau sama sekali tak tertarik saat aku memilih kota Paris. Harusnya sejak awal kau bilang tak mau ke mari, tak perlu memaksakan diri dan mengikutiku, tapi justru kau merasa tak nyaman.”
Meskipun Yo Han bilang tidak, Bitna tahu jika pria itu berbohong. Melihat ekspresi wajah Yo Han selama 3 hari ini cukup memberitahu Bitna jika pria itu tak menyukai Paris.
“Tidak, aku sama sekali tidak merasa terpaksa. Aku hanya kepikiran masalah pekerjaan saja, jadi terlihat tidak antusias.”
Yo Han menatap Bitna yang saat ini terlihat sedang menahan rasa kesalnya. Jika jadi gadis itu, Yo Han pasti juga merasa kesal. Mereka pergi berlibur berdua, tapi rasanya seperti sendirian karena yang lain merasa tak nyaman.
“Jika kau memang tak suka tempat ini, lebih baik kita kembali saja ke Seoul-”
“Bukankah aku bilang bukan seperti itu!” bentak Yo Han membuat Bitna terjungkit kaget. “Aku sudah bilang aku hanya kepikiran soal pekerjaan!”
Bitna mematung saat mendengar Yo Han membentaknya. Ini pertama kalinya pria itu membentaknya sekeras ini.
“Kenapa kau terus mengajakku berdebat? Aku tahu kau kesal karena tak bisa menikmati liburan ini dengan nyaman karena aku, dan untuk itu aku minta maaf. Bukankah masalahnya selesai? Kenapa tiba-tiba kau ingin kembali ke Seoul? Kau pikir semudah itu?”
Bitna menatap Yo Han yang terlihat sangat marah. Dia tak percaya pria itu marah padanya, padahal di sini harusnya dia yang marah bukan Yo Han. Bitna sangat menantikan liburan ini karena dia pikir bisa membuat kenangan indah bersama Yo Han di Paris. Namun nyatanya? Jangankan kenangan indah, sejak meninjakkan kaki di kota ini Bitna hampir tak pernah melihat Yo Han tersenyum.
“Kau marah padaku?”
“Tidak, aku tidak marah. Hanya saja-”
“Sudahlah, aku malas bertengkar dengamu,” potong Bitna lalu menyambar cardigan rajut berwarna cream di atas ranjang. Ia lalu keluar dari kamar. Tak lupa Bitna membanting pintu cukup keras membuat Yo Han terlonjak kaget.
“Aish!” Yo Han mengusap kasar rambutnya. Dia sama sekali tidak berniat marah atau bertengkar dengan Bitna, tapi tadi emosinya meluap begitu saja. Harusnya dia lebih memahami perasaan Bitna, bukannya memikirkan diri sendiri. Dia sudah berjanji untuk membuat gadis itu bahagia selama mereka menikah, tapi dia baru saja membuat Bitna marah karena sikapnya.
“Sial.” Yo Han segera beringsut dari tempat tidu lalu mengambil ponsel dan dompetnya. Setelah itu ia bergegas keluar kamar. Yo Han lupa jika mereka sedang berada di Paris. Bagaimana bisa dia tadi membiarkan Bitna pergi begitu saja. Gadis itu tak bisa berbahasa Inggris dan juga tak tahu tentang jalanan kota ini. Bagaimana jika gadis itu tersesat dan bertemu orang jahat, apa lagi sekarang sudah malam.
“Dasar Nam Yo Han bodoh,” rutuk Yo Han pada dirinya sendiri.
Yo Han sudah mengelilingi hotel dan jalanan di sekitarnya, tapi dia tetap tak bisa menemukan keberadaan Bitna. Jika sesuatu terjadi pada gadis itu, Yo Han pasti akan merasa sangat bersalah pada mendiang Kim Chul Sik karena sudah melanggar janji untuk menjaga Bitna dengan baik. Kedua orang tuanya pasti juga akan sangat marah jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap menantu kesayangan mereka.
Yo Han bergegas keluar dari hotel untuk kembali mencari Bitna, dia berharap gadis itu belum pergi terlalu jauh.
***
Dengan gelisah Bitna berjalan menyusuri jalanan di depannya. Karena terlalu marah dia tidak sadar berjalan terlalu jauh dari hotel dan sekarang dia tidak tahu jalan pulang. Sialnya lagi Bitna tak membawa ponsel ataupun dompetnya. Sial sekali nasibnya harus tersesat di negara orang. Harusnya bisa berpikir dengan jernih tadi meskipun sedang marah karena Yo Han.
Bitna menatap ke sekitar, jalanan itu masih cukup ramai dengan orang yang berlalu lalang. Namun, dia tidak bisa bertanya atau meminta bantuan pada siapa pun di sana. Bitna sama sekali tak bisa berhasa Inggris. Sekarang Bitna sungguh menyesal. Harusnya tadi dia pergi saja ke bar yang ada di dalam hotel, tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia hanya bisa pasrah menunggu Yo han mencarinya. Namun, Bitna tidak yakin suaminya itu akan mencarinya mengingat Yo Han juga marah padanya tadi.
“Aish sial!!!” umpat Bitna lalu berjongkok sambil memegang kepalanya. Sekarang dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana dan kemana.
“Are you okay?”