“Are you okay?”
Bitna mendongak, menatap sosok yang saat ini berdiri di depannya. Seorang wanita berwajah khas orang Asia sedang menatapnya khawatir.
“Are you okay?” tanya wanita itu sekali lagi.
“Ah...nde,” jawab Bitna refleks menggunakan bahasa Korea. Gadis itu kemudian menggeleng cepat begitu sadar wanita di depannya mungkin saja tidak mengerti yang dia katakan. “I... mean... no no,” ralat Bitna dengan terbata-bata. Dia tidak pandai berbahasa Inggris.
“Kau orang Korea?”
Bitna segera berdiri sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan saat mendengar wanita berparas cantik di depannya itu kembali bertanya dengan bahasa Korea. “Ya aku orang Korea, kau juga?” tanya Bitna.
Wanita itu mengangguk lalu kembali bertanya, “kau tersesat?”
“Sepertinya begitu,” jawab Bitna.
Wanita itu menatap ke sekitar dengan khawatir. “Bahaya jika kau tersesat di tempat seperti ini, kau bisa bahasa Prancis atau bahasa Inggris?”
Bitna menggeleng. Dia juga tahu sangat berbahaya tersesat di tempat seperti ini terlebih lagi dia sama sekali tak bisa berbahasa Inggris.
“Namaku Soo Jin, Lee Soo Jin.” Wanita bernama Soo Jin itu mengulurkan tangannya.
Bitna menatap wanita bernama Soo Jin itu. Rasanya dia pernah mendengar nama itu, tapi dia tidak ingat di mana dia pernah mendengarnya. Hanya saja Soo Jin bukanlah nama yang asing untuknya.
“Namamu?”
“Bitna, Kim Bitna,” jawab Bitna.
Soo Jin kemudian mengajak Bitna ke cafe terdekat dan duduk di sana. Soo Jin memesan dua cangkir kopi untuk mereka.
“Merci,” ucap Soo Jin pada pelayan yang mengantar pesanan mereka.
*Merci : Terima kasih dalam bahasa Prancis.
“Minumlah,” ucap Soo Jin lalu tersenyum lembut.
“Terima kasih.” Bitna lantas meniup pelan secangkir kopi itu sebelum meminumnya. Ia lalu melirik Soo Jin yang juga tengah menyesap secangkir kopi. Sungguh dirinya sangat beruntung bisa bertemu dengan Soo Jin. Jika tidak, dirinya pasti masih berkeliaran seperti orang bodoh di luar sana.
“Bagaimana kau bisa tersesat? Kau tidak mungkin datang sendirian ke Paris?” tanya Soo Jin memecah keheningan di antara mereka.
“Aku datang bersama suamiku dan tadi kami bertengkar, karena marah tanpa berpikir panjang aku langsung pergi begitu saja dan berakhir tersesat seperti orang bodoh,” jawab Bitna sambil menatap ke dalam cangkir kopi miliknya.
“Kau sedang berbulan madu?”
Bitna mengangguk. “Awalnya memang seperti itu, tapi rasanya aku jadi seperti liburan sendiri.”
“Kenapa?”
“Sepertinya suamiku tak menyukai kota ini,” jawab Bitna lalu kembali menyesap kopi miliknya.
“Kenapa? Bukankah Paris kota yang indah dan romantis? Suamimu pasti orang bodoh jika tidak menyukai kota ini.”
Bitna mengangguk setuju dengan ucapan Soo Jin. Yo Han memang pria bodoh karena tak menyukai kota seindah ini.
“Kau tak menghubungi suamimu? Dia pasti khawatir.”
“Aku tak membawa ponsel,” ucap Bitna lalu menunduk meratapi kebodohannya yang pergi tanpa membawa ponsel atau dompetnya. Yo Han pasti—mungkin sekarang sedang kalang kabut mencarinya.
“Mau aku antar pulang? Kau menginap di mana?”
Bitna menatap Soo Jin dengan mata berbinar. Bukan hanya berparas cantik Soo Jin ternyata sangat baik hati. Dia benar-benar beruntung bertemu dengan Soo Jin.
“Apa tidak merepotkanmu?” tanya Bitna. Dia memang senang dengan tawaran Soo Jin itu, tapi dia tak enak terus merepotkan wanita itu. Soo Jin sudah sangat baik mengajak minum kopi di Cafe.
Soo Jin menggeleng. “Sama sekali tidak merepotkan, aku malah tidak tenang membiarkanmu sendirian.”
“Aku menginap di Le Meurice.”
“Hotel di seberang Tuileries Garden?”
Bitna mengagguk. “Kau tahu jalan ke sana.”
“Tentu.” Soo Jin sudah lama tinggal di Paris tentu dia tahu di mana letak hotel bintang 5 yang Bitna sebutkan tadi. Dia hanya tak menyangka gadis dengan penampilan sederhana seperti Bitna menginap di hotel semewah itu. Tebakan Soo Jin, pasti suami Bitna adalah pria kaya. Jika tidak tak mungkin gadis itu bisa menginap di sana.
***
Soo Jin benar-benar mengantarkan Bitna kembali ke hotel. Selama perjalanan mereka saling mengobrol dan akhirnya Bitna tahu jika ternyata Soo Jin adalah seorang model, pekerjaan yang cocok untuk wanita secantik Soo Jin. Jika dibandingkan dirinya, Bitna bukanlah apa-apa. Soo Jin mempunyai tubuh yang tinggi, langsing, parasnya juga cantik. Bentuk tubuhnya juga bagus. Pria yang melihat Soo Jin pasti akan terpukau dengan paras wanita itu.
“Sudah berapa lama kalian menikah?’’ tanya Soo Jin lalu menoleh ke arah Bitna yang berjalan di sampingnya.
“Sekitar 6 bulan,” jawab Bitna.
“Kenapa baru bulan madu sekarang?”
“Karena kesibukan masing-masing.”
Soo Jin mengangguk mengerti. “Sampai kapan kalian akan berada di Paris?”
“Rencana awal kami akan sepuluh hari di sini, tapi setelah pertengkaran tadi mungkin kami akan segera kembali ke Seoul,” jawab Bitna dengan nada kecewa.
“Kenapa harus buru-buru kembali? Kalau suamimu tak mau menemanimu jalan-jalan, biar aku saja. Aku tahu semua tempat bagus di Paris.”
Bitna tersenyum mendengar tawaran Soo Jin. “Terima kasih untuk tawarannya.”
Bitna melirik Soo Jin sekilas. Sungguh dia merasa pernah melihat wajah wanita itu, tapi Bitna tak ingat di mana dia pernah melihatnya.
“Sudah pergi ke mana saja selama di Paris?”
“Museum Louvre, Tuileries Garden, dan Arc de Triomphe du Carrousel.”
“Sayang sekali kalau kau cepat-cepat kembali ke Seoul, masih banyak tempat-tempat di sini yang bisa kau kunjungi.”
Bitna mengangguk setuju. Memang sangat disayangkan jika dirinya harus kembali ke Seoul secepat ini. Tapi tak mungkin dia terus berada di sini dengan keadaan yang tak nyaman.
“Kim Bitna!”
Bitna dan Soo Jin menoleh kaget ke sumber suara. Yo Han sedang berlari ke arah mereka dengan tergesa-gesa.
“Kau dari mana saja? Kau tahu berapa kali aku mengelilingi Tuileries Garden untuk mencarimu? Kau bodoh? Kenapa pergi tanpa membawa ponsel dan dompet? Kau mau jadi mangsa pria-p****************g di luar sana?” omel Yo Han begitu pria itu sampai di hadapan Bitna.
Meskipun Yo Han sedang mengomel sekarang, Bitna bisa melihat jika Yo Han sangat khawatir sekarang. Anehnya Bitna merasa lega dan senang melihat suaminya itu sangat khawatir padanya. Itu artinya Yo Han peduli padanya.
“Nam Yo Han.”
Tubuh Yo Han mematung saat mendengar suara seorang wanita memanggil namanya. Suara itu terdengar tak asing di telinganya. Ia kemudian perlahan menoleh menatap wanita yang berdiri di samping Bitna. Karena sangat khawatir pada istrinya Yo Han tak sadar jika ternyata Bitna bersama seorang wanita.
Yo Han terkejut menatap wanita yang berdiri di samping Bitna. Wanita itu juga menatapnya terkejut. Yo Han tahu betul siapa wanita yang bersama Bitna saat ini. Dia adalah wanita yang pernah mengisi kehidupannya 7 tahun lalu.
Sama seperti Yo Han, Soo Jin juga terkejut bertemu pria itu di Paris. Namun, yang lebih mengejutkan adalah fakta bahwa Yo Han ternyata adalah suami Bitna, gadis yang ia tolong.
Bitna menatap suaminya dan Soo Jin bergantian. Melihat keduanya saling bertatapan, Bitna berasumsi bahwa keduanya saling mengenal. “Kalian saling kenal?” tanya Bitna membuat Yo Han dan Soo Jin tersadar dari lamunan mereka.
“Ah... iya. Dia teman kuliahku dulu,” jawab Yo Han cepat.
Soo Jin mengerutkan dahinya menatap Yo Han. Teman kuliah?
“Ah, aku ingat sekarang!” seru Bitna tiba-tiba, membuat Yo Han dan Soo Jin menatapnya kaget. “Dia wanita yang ada di dalam foto di laci meja kerjamu.”
Yo Han menatap Bitna terkejut. Ternyata Bitna sempat melihat foto yang ia sembunyikan di dalam laci meja kerjanya. Ia lalu beralih menatap Soo Jin. Sempat takut bertemu wanita itu ketika di Paris, anehnya Yo Han justru merasa senang bertemu gadis itu sekarang. Entah kenapa hatinya tiba-tiba terasa menghangat saat menatap paras cantik Soo Jin, wanita yang selama 7 tahun terakhir ini tak pernah ia lihat.
“Jadi dia istrimu?” tanya Soo Jin menatap Bitna dan Yo Han bergantian. Entah kenapa Soo Jin masih tak percaya jika pria yang sekarang berdiri di depannya ini sudah menikah.
“Iya, dia istriku,” jawab Yo Han lalu merangkul bahu Bitna.
“Ahhh begitu ya, aku hanya kaget ternyata kau sudah menikah. Selamat ya, walau terlambat.” Soo Jin mengulurkan tangannya.
Yo Han menatap uluran tangan Soo Jin cukup lama, lalu menjabat tangan wanita yang berprofesi sebagai model itu. “Terima kasih.”
Yo Han menjabat tangan Soo Jin cukup lama. Tangan wanita itu masih terasa sama seperti 7 tahun lalu. Terasa hangat dan menenangkan.
Bitna menatap tangan Yo Han dan Soo Jin. Kenapa mereka berjabat tangan selama itu? Apa mereka teman dekat? Pertanyaan itu terlintas di kepala Bitna. Melihat reaksi keduanya tadi, sepertinya hubungan mereka sangat dekat.
“Ah terima kasih juga sudah mengantar Bitna,” ucap Yo Han lalu buru-buru menarik tangannya sebelum Bitna merasa curiga. “Kalau begitu kami pergi dulu.”
Yo Han mengajak Bitna pergi dari sana. Sebelumnya Bitna sempat sedikit membungkukkan badannya pada Soo Jin untuk berpamitan.
Soo Jin menatap punggung Yo Han yang mulai menghilang dari pandangannya. Hatinya terasa sakit melihat pria itu melingkarkan tangannya di bahu wanita lain. Bagaimana hatinya tak sakit, jika dia melihat pria yang pernah mengisi hatinya ternyata telah bersanding dengan wanita lain.
***
Bitna menatap Yo Han yang pagi itu tengah duduk di sofa sambil menyesap secangkir kopi. Sejak bertemu Soo Jin semalam, yang katanya teman kuliah suaminya dulu, Yo Han sama sekali belum bicara dengannya. Ekspresinya juga terlihat dingin, sedingin es di Kutub Selatan membuat Bitna takut memulai pembicaraan. Jangan-jangan Yo Han marah lagi padanya gara-gara dia pergi semalam.
“Hari ini mau ke mana?” tanya Yo Han memecah keheningan.
Bitna menghela napas lega mendegar pertanyaan Yo Han. Dia sempat berpikir Yo Han marah dan tidak mau bicara padanya, tapi ternyata tidak.
“Hari ini mau ke mana?” Yo Han mengulangi pertanyaannya karena Bitna tak segera menjawab.
“Tidak tahu,” jawab Bitna. Gara-gara pertengkaran semalam dia merasa malas melanjutkan liburan ini, karena pasti hanya dia yang terlihat antusias dan Yo Han tidak. Percuma saja dia membuat daftar hal-hal yang ingin dia lakan bersama Yo Han selama di Paris.
Yo Han menghela napas lalu bangkit dari sofa. “Maaf soal kemarin, mulai hari ini aku akan sungguh-sungguh menemanimu jalan-jalan.”
Bitna menatap Yo Han, pria itu terlihat tulus meminta maaf.
“Jadi kau mau ke mana? Aku akan menemanimu.”
Bitna tampak berpikir. Memilih tempat mana yang ingin ia kunjungi. Paris punya banyak tempat wisata yang wajib dikunjungi dan itu membuat Bitna bingung untuk memilih. “Tidak tahu.”
“Ya sudah kita jalan-jalan saja di pusat kota, soal mau ke mana bisa kita pikirkan nanti.”
“Baiklah.”
“Mau sarapan apa? Sarapan di hotel atau di luar?”
Bitna menatap Yo Han tak percaya. Pria itu rasanya seperti kerasukan sesuatu. Yo Han tiba-tiba berubah menjadi sangat perhatian padanya pagi ini. “Waffle saja.”
“Oke, kita sarapan di luar saja sekalian jalan-jalan.”
Bitna dan Yo Han kemudian berjalan keluar kamar menuju lift. Sampai di lobi hotel Yo Han menghentikan langkahnya saat netranya menangkap sosok yang tak asing sedang duduk di sofa di lobi tersebut. Sosok itu saat ini juga menatapnya sambil tersenyum hangat.
“Kenapa berhenti? Ada yang ketinggalan?” tanya Bitna karena Yo Han tiba-tiba saja berhenti. Gadis itu lalu mengikuti arah pandangan Yo Han. “Oh...?”