Bagian 34

1816 Words
“Kenapa kau ada di sini?” Yo Han menatap bingung ke arah Soo Jin yang tiba-tiba ada di lobi hotel. “Untuk bertemu denganmu.” Soo Jin tersenyum menatap Bitna. “Selamat pagi Bitna-ssi.” “Oh... selamat pagi.” Yo Han mengerutkan dahinya. “Menemuiku? Kenapa?” “Kenapa apanya? Apa salah aku menemui teman lamaku? Benarkan Bitna-ssi?” Bitna mengangguk dengan canggung. Memang tidak salah jika Soo Jin ingin bertemu Yo Han—teman lamanya, tapi yang membuatnya kaget adalah Soo Jin yang tiba-tiba muncul di lobi hotel. “Kita sudah lama kan tidak bertemu, dan kemarin juga kita tidak sempat mengobrol. Aku sudah menunggu kalian sejak tadi, untung saja kalian belum pergi jalan-jalan. Kalian sudah sarapan?” Bitna menggeleng lalu melirik Yo Han yang masih terlihat kaget dengan kemunculan Soo Jin di sana. “Baguslah, mau sarapan bersama?” Yo Han melirik Bitna, dia takut gadis itu merasa tidak nyaman jika mereka sarapan bersama Soo Jin. “Boleh, sekalian aku ingin membalas kebaikanmu kemarin.” Bitna melirik Yo Han. “Bagaimana menurutmu?” “Aku sih tak masalah,” sahut Yo Han. “Kalian mau sarapan apa?” “Bitna bilang tadi dia ingin makan waffle.” “Waffle? Kita ke Haagen Dazs bagaimana? Jaraknya lumayan jauh dari sini, tapi Caramel Belgian Waffle-nya terkenal enak.” “Boleh,” sahut Bitna. “Oke, kita ke sana.” Soo Jin merangkul lengan Bitna, mengajak gadis itu untuk berjalan keluar. Yo Han menatap kedua wanita yang saat ini berjalan di depannya. Di satu sisi dia merasa senang bisa bertemu Soo Jin, tapi di sisi lain ia juga merasa takut karena kemunculan wanita itu. Sejujurnya ada banyak hal yang ia rahasiakan dari Bitna. Yo Han takut dengan bertemunya mereka dengan Soo Jin rahasia yang coba ia sembunyikan selama ini akan terbongkar. “Kau tak ikut?” Soo Jin menoleh menatap Yo Han yang masih berdiri di tempatnya. “Iya, aku ikut.” Yo Han melangkah menyusul Bitna dan Soo Jin. Mereka hanya akan sarapan bersama kan? Harusnya tak apa-apa. Dia tak perlu merasa takut yang berlebihan, lagi pula hubungannya dengan Soo Jin sudah berakhir 7 tahun yang lalu. *** Bitna, Yo Han dan Soo Jin menyusuri jalanan Rue Saint Honore. Rue Saint Honore adalah sebuah jalanan panjang yang tersohor dengan museum terkenal, bangunan bersejarah dan toko retail mewah. “Hari ini kalian mau ke mana saja?” tanya Soo Jin memecah keheningan di antara mereka bertiga. Sejak meninggalkan Haagen Dazs setelah sarapan tadi mereka hanya berjalan beriringan tanpa mengucap sepatah kata. “Belum tahu,” jawab Bitna. “Niatnya kami cuma ingin jalan-jalan saja ke pusat kota.” “Sudah coba ke Le Palais Royal?” Bitna menggeleng. “Bagaimana kalau ke sana? Di sana pemandangannya bagus dan cocok untuk orang yang ingin mencari ketenangan. Aku akan menemani kalian.” Bitna dan Yo Han saling bertatapan. “Kami tidak mau merepotkanmu,” tolak Yo Han. “Tidak, sama sekali tidak merepotkan. Hitung-hitung aku membantu teman lama dengan menjadi tour guide selama kalian di Paris. Kau bisa anggap ini sebagai hadiah pernikahan dariku, sebenarnya aku agak kecewa kau menikah, tapi tidak mengundangku,” ujar Soo Jin lalu memasang ekspresi kecewa. Dia memang merasa kecewa, tapi itu bukan karena Yo Han tak mengundangnya dalam acara pernikahan pria itu. Namun, Soo Jin kecewa karena pria itu telah menikah. “Bagaimana aku bisa mengundangmu? Kita saja hilang kontak selama 7 tahun,” kilah Yo Han. Bohong. Dia bisa saja mengundang Soo Jin dalam pernikahan mereka, dia juga bisa dengan mudah menemukan kontak wanita itu jika dia ingin. Namun Yo Han tak melakukannya. “Aku sempat mengirimimu email beberapa bulan lalu, kau tak melihatnya?” Yo Han menggeleng. “Tidak, aku tidak mendapat email apa pun darimu.” Sekali lagi Yo Han berbohong. Dia tahu Soo Jin mengiriminya email beberapa bulan lalu, tapi Yo Han sengaja tak membukanya dan langsung menghapus email itu. “Aneh sekali, padahal aku yakin mengirimnya ke alamat email yang benar.” Bitna menatap Soo Jin dan Yo Han bergantian. Mendengar kata email Bitna akhirnya ingat, jika dia pernah melihat notifikasi email masuk di laptop Yo Han saat ia mengambil dokumen Yo Han yang tertinggal di rumah. Bitna memiringkan kepalanya, dia tidak mengerti kenapa Yo Han berbohong tidak mendapatkan email itu. “Bitna-ssi, bagaimana menurutmu?” “Ya?” sahut Bitna bingung. “Soal aku menjadi tour guide kalian, kemarin aku bilang jika suamimu tidak mau menemanimu jalan-jalan aku dengan senang hati akan menggantikannya.” “Ah... Soal itu, aku...” Bitna melirik Yo Han, sebenarnya dia ingin menolak tawaran Soo Jin. Namun, mengingat kembali bahwa wanita itu adalah teman lama Yo Han, ia merasa tak enak menolak tawaran Soo Jin. Lagi pula wanita sudah berbaik hati menolong dan mengantarnya kembali ke hotel saat tersesat kemarin. Jika bukan karena Soo Jin mungkin hari ini dia belum bisa bertemu dengan Yo Han. “Aku tidak masalah, kalau kau?” Yo Han balik menatap Bitna. “Baiklah kalau kau setuju, aku juga setuju.” “Oke kalau begitu mulai hari ini aku adalah tour guide kalian,” ucap Soo Jin lalu tersenyum. Melihat wanita yang berprofesi sebagai model itu tersenyum membuat Yo Han terpana. Soo Jin tak pernah berubah, wanita itu masih sama seperti dalam ingatannya. Cantik, jauh lebih cantik saat ia tersenyum. “Kita berangkat sekarang?” ajak Soo Jin. “Ya,” sahut Yo Han dan Bitna bersamaan. *** Yo Han, Bitna dan Soo Jin akhirnya sampai di Le Palais – Royal. Begitu sampai di sana, Bitna melebarkan matanya mengagumi bangunan megah di depannya itu. Le Palais – Royal menghadap ke Place du Louvre dan berdiri di sebarang Museum Louvre. “Le Palais Royal di bangun tahun 1939. Sebelumnya tempat ini adalah rumah seorang bangsawan, tapi sekarang bangunan megah ini tidak terbuka untuk umum, bukankah bangunan ini terlihat menakjubkan?” Bitna mengangguk setuju. Mengikuti saran Soo Jin untuk kemari ternyata tidaklah sia-sia. “Meskipun tidak terbuka untuk umum, taman dan halamannya yang indah bisa dikunjungi, tamannya dikenal sebagai Cour d’Honneur.” Soo Jin melanjutkan penjelasannya tentang bangunan megah di depan mereka. “Tempat ini sangat cocok untuk menghindar dari hiruk pikuk kota Paris, di sini sangat tenang.” Bitna menatap ke sekitar, benar kata Soo Jin, di sini sangat tenang. Tempat yang cocok untuk berlindung dari hiruk pikuk kota Paris. “Kalian mau berfoto? Aku akan memotret kalian.” Yo Han dan Bitna saling bertatapan. 3 hari mereka di sini belum pernah sekalipun mereka mengambil foto bersama, Bitna sibuk mengambil foto-foto tempat wisata sambil sesekali diam-diam memotret Yo Han, sedangkan pria itu sama sekali tak tertarik untuk berfoto. “Ayo jangan sungkan.” Soo Jin merebut ponsel di tangan Yo Han lalu mendorong pria itu agar mendekat ke arah Bitna. “Tersenyum ke kamera, 1...2...3...” Soo Jin menatap Yo Han yang berdiri di sebelah Bitna sambil merangkul bahu gadis itu. Oh Tuhan, memang dia yang menawarkan diri untuk memotret mereka berdua, tapi Soo Jin tidak tahu jika rasanya akan sakit saat melihat Yo Han merangkul bahu Bitna. “Sudah.” Soo Jin menyerahkan kembali ponsel milik Yo Han. “Terima kasih,” ucap Yo Han mengambil ponselnya kembali. “Setelah ini kalian mau ke mana? Sudah ke Menara Eiffel?” Bitna menggeleng. Meskipun Menara Eiffel adalah landmark kota Paris yang paling terkenal, mereka belum menginjakkan kaki ke sana. Hanya beberapa kali melewatinya saat berjalan-jalan. “Kalian harus ke sana, tapi saranku saat malam saja. Ada pertunjukkan cahaya khusus setiap jam yang membuat Menara Eiffel tampak berkilau selama 5 menit.” Soo Jin mendekat ke arah Yo Han lalu berbisik, “suasana di sana sangat romantis.” Tubuhnya Yo Han tiba-tiba saja berdesir saat mendengar suara Soo Jin yang berbisik di telinganya. Dadanya berdegup kencang, sudah lama berlalu tapi wanita itu masih saja bisa membuatnya berdebar-debar. Mata Bitna melebar melihat Soo Jin mendekat ke telinga suaminya lalu berbisik. Tiba-tiba saja dia merasa udara sekitarnya terasa panas. Apa ini yang namanya cemburu? “Bitna-ssi kau tak cemburukan?” Soo Jin beralih menatap Bitna, gadis itu terlihat sedang menahan rasa kesalnya. Dengan cepat Bitna mengubah ekspresinya menjadi tersenyum. “Tidak, tidak sama sekali.” Soo Jin terkekeh, meskipun Bitna menyangkal dia tahu gadis pasti merasa kesal dengan tindakannya tadi. “Kalian bisa menghabiskan malam yang romantis di sana sambil duduk berdua menikmati pemandangan Menara Eiffel di malam hari,” lanjut Soo Jin. “Setelah ini kita ke Sungai Seine? Di sekitar sana ada banyak Cafe, atau duduk di sekitar sungai sambil menikmati pemandangan juga lumayan, bagaimana?” Soo Jin menatap Bitna dan Yo Han bergantian. Keduanya lalu mengangguk setuju dengan usulan Soo Jin. Soo Jin, Bitna dan Yo Han kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sungai Seine. Sesekali Bitna melirik ke arah Soo Jin dan Yo Han tampak asyik mengobrol. Padahal sampai beberapa menit lalu suaminya itu masih terlihat canggung di depan Soo Jin, tapi sekarang mereka terlihat sangat dekat dan mengobrol dengan santai. Bitna menghela napas pelan. Entah kenapa melihat Soo Jin begitu akrab dengan Yo Han membuatnya kesal, padahal mereka hanya teman—kata Yo Han. Bitna tahu Yo Han itu gay jadi tak mungkin tertarik pada wanita, tapi entah kenapa ia tak suka melihat kedekatan mereka. Mungkin Bitna terlihat kekanak-kanakan karena merasa cemburu pada Soo Jin yang merupakan teman Yo Han, tapi dia dunia ini tidak ada wanita yang tidak cemburu jika melihat suaminya begitu akrab dengan wanita lain. Meskipun dalam kasus Yo Han berbeda, dia tidak mungkin tertarik pada Soo Jin tak peduli secantik apa wanita itu. *** Soo Jin memutuskan mengajak Bitna dan Yo Han untuk makan siang di restoran di sekitar Sungai Seine sebelum mengajak pasangan itu menyusuri sungai yang membelah kota Paris menjadi dua bagian ini. Soo Jin sengaja memilih restoran yang memiliki pemandangan langsung ke arah Sungai Seine, agar Bitna dan Yo Han bisa menikmati pemandangan sungai itu sambil menikmati makan siang mereka. “Bitna-ssi, apa kegiatanmu di Seoul?” tanya Soo Jin memulai pembicaraan. “Aku seorang mahasiswa.” “Mahasiswa?” Bitna mengangguk. Ia lalu menatap Yo Han tak percaya. “Usianya 25 tahun,” ucap Yo Han seolah mengerti arti tatapan Soo Jin. “Kau pikir aku menikahi anak?” “Tidak, memangnya aku bilang begitu?” kilah Soo Jin. “Jadi jarak usia kalian... 7 tahun? Tak masalah sih sekarang banyak juga pasangan yang terpaut jarak usia yang jauh.” Bitna tersenyum canggung. Dia tidak tahu apa maksud perkataan Soo Jin, tapi rasanya wanita itu ingin mengatakan bahwa jarak usianya dan Yo Han terlalu jauh. “Ini makanlah.” Yo Han menukar steik milik Bitna dengan miliknya yang sudah ia potong-potong. “Terima kasih,” ucap Bitna lalu tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Soo Jin mengamati mereka berdua. Lagi-lagi hatinya terasa sakit. Andai saja dia bisa memutar waktu dan kembali ke masa lalu mungkin saja posisi Bitna saat ini ia yang akan menempatinya. Dia yang akan menjadi istri Yo Han.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD