Yo Han, Bitna dan Soo Jin melangkah beriringan menyusuri Sungai Seine. Dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah dengan desain klasik, membuat Sungai Seine menjadi spot romantis yang ramai di kunjungi wisatawan.
“Bukankah pemandangan di sini tampak indah? Dengan latar belakang menara Eiffel serta dikelilingi oleh bangunan-bangunan-bangunan bersejarah dengan desain klasik, membuat tempat ini jadi terlihat romantis,” ujar Soo Jin.
Bitna mengedarkan pandangannya ke sekitar. Benar kata Soo Jin, Sungai Seine adalah tempat yang romantis. Meskipun ramai dikunjungi oleh wisatawan, hal itu sama sekali tak mengurangi nuansa romantis di sekitar sungai ini.
Ketiganya lalu melanjutkan langkah mereka menuju jembatan yang membentang di atas Sungai Seine.
“Nama jembatan ini adalah Pont des Invalides,” ucap Soo Jin menunjuk jembatan yang mereka lewati.
“Kalian lihat gembok-gembok yang ada di sepanjang pagar itu? Konsepnya mirip dengan gembok cinta di Namsan Tower. Ini merupakan tradisi memasang gembok yang sudah dipahat nama seseorang dengan pasangannya sudah dimulai sejak lama. Setelah gembok dipasang, kuncinya dibuang ke Sungai Seine.”
Bitna menatap gembok-gembok yang terpasang di sepanjang pagar jembatan. Mengingatkannya pada gembok-gembok Namsan Tower. “Apa ada kisah di balik tradisi ini?” tanya Bitna.
“Sebelum Perang Dunia I, seorang gadis bernama Nada saling jatuh cinta pada pemuda bernama Relja. Setelah perang dunia I meletus, Relja harus berperang di Yunani, pemuda itu kemudian jatuh cinta dengan gadis Yunani dan tak pernah kembali. Hati Nada pun hancur hingga meninggal dunia. Itu adalah kisah legenda cinta dari Serbia yang dikisahkan pada masa Perang Dunia I. Karena tak ingin seperti Nada yang malang ditinggal kekasih, gadis-gadis Vrnjacka Banja -kota di Serbia- yang ingin melindungi kisah cinta mereka harus menuliskan namanya dan sang kekasih di suatu gembok.”
“Kemudian, gembok itu dicantolkan dan dikunci ke jembatan Most Ljubavi alias Jembatan Cinta, tempat yang disebut-sebut sebagai lokasi Nada dan Relja biasa bertemu. Setelah dicantolkan di jembatan, kuncinya dilemparkan ke sungai, dengan demikian tak bisa ditemukan lagi oleh yang lain,” jelas Soo Jin.
Bitna tampak serius mendengarkan cerita Soo Jin. Memang memasang gembok cinta terdengar romantis, namun ternyata di balik tradisi ini menyimpan cerita yang menyedihkan tentang seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya.
“Terdengar romantis tapi sebenarnya sangat menyedihkan bukan? Tradisi ini muncul setelah seorang gadis yang hatinya hancur karena ditinggalkan oleh kekasihnya,” tukas Soo Jin seolah mengerti isi pikiran Bitna.
“Tapi sayangnya tradisi ini terancam punah, karena pemerintah melarangnya. Katanya gembok-gembok yang terpasang di jembatan membebani jembatan dan bisa membuatnya runtuh. Beberapa jembatan sudah disterilkan, tapi seperti yang kalian lihat masih banyak wisatawan yang memasang gembok di jembatan seperti ini dan ini salah satu yang tersisa.”
“Apa kau pernah memasang gembok cinta selama di Paris?”
Soo Jin terkesiap mendengar pertanyaan Bitna. Ia lalu menatap penuh arti ke arah Yo Han sekilas.
“Pernah,” jawab Soo Jin kemudian. “Tapi kau tahu itu cuma takhayul, buktinya nama orang yang aku ukir di gembok itu juga pergi meninggalkanku.”
Yo Han yang sejak tadi hanya diam mengamati Soo Jin dan Bitna, tiba-tiba saja tertegun setelah mendengar jawaban Soo Jin.
“Meninggalkanmu?” Bitna kembali bertanya. Dia tidak menyangka wanita secantik Soo Jin di tinggalkan oleh seorang pria. Jika benar pria itu pasti sudah gila karena meninggalkan wanita secantik Soo Jin.
“Dia menikahi wanita lain.”
Lagi-lagi Yo Han dibuat tertegun oleh ucapan Soo Jin. Pria itu merasa semua ucapan Soo Jin ditujukan untuknya.
Bitna mengangguk, ia kemudian tak bertanya lebih lanjut. Ini pasti kisah yang menyakitkan hati Soo Jin. Bitna tak mau membuka luka hati wanita itu hanya karena rasa penasarannya.
Soo Jin kembali melirik Yo Han. Tatapan mata keduanya kemudian bertemu. Saling menatap beberapa saat, merasa seolah ada getaran di hati satu sama lain.
Yo Han buru-buru mengalihkan pandangannya sebelum Bitna menatap mereka dan curiga. “Sudah sore, kita kembali ke hotel sekarang?”
Bitna melihat jam tangannya, benar tak terasa hari sudah sore. Karena terlalu menikmati perjalanan hari ini, dia tak sadar jika waktu cepat berlalu. Semua berkat Soo Jin, berkat wanita itu Bitna bisa mengunjungi tempat-tempat menakjubkan dan indah hari ini. Yah, walaupun dalam hati ia sedikit merasa kesal, karena banyak diabaikan saat Yo Han dan Soo Jin mengobrol.
“Kalian mau kembali sekarang? Sayang sekali, duduk santai di pinggir Sungai Seine sambil menikmati pemandangan matahari terbenam adalah yang terbaik,” ucap Soo Jin. Memang benar menikmati matahari terbenam sambil duduk di tepi sungai yang membelah kota Paris ini adalah hal harus dicoba.
Yo Han melirik Bitna, sempat mengecewakan gadis itu sejak mereka menginjakkan kaki di Paris, Yo Han ingin menebus kesalahannya dengan mengikuti keinginan Bitna. “Bagaimana, kau mau melihat matahari terbenam?”
Bitna mengangguk. Melihat matahari terbenam sambil duduk santai di tepi Sungai Seine bersama Yo Han pasti terasa romantis—mungkin juga tidak karena ada Soo Jin bersama mereka.
“Baiklah, kalian bisa cari tempat duduk dulu, aku akan ke Cafe dan membeli minuman,” kata Soo Jin yang hendak melangkah pergi, tapi Bitna mencegahnya.
“Biar kami ikut juga.”
Soo Jin menggeleng. “Jangan, sebentar lagi pasti banyak orang yang datang untuk melihat matahari terbenam, kalian cari tempat saja dulu. Aku akan menyusul nanti, kalian suka ice americano?”
Yo Han dan Bitna mengangguk bersamaan.
“Oke.”
***
“Kita duduk di sini saja,” ujar Yo Han setelah mereka sampai di tepi Sungai Seine.
Bitna mengangguk lalu ikut duduk di samping Yo Han.
“Kau senang hari ini?”
Bitna menoleh, menatap Yo Han. “Iya.”
Sejak menginjakkan kaki di Paris memang hari ini yang terasa paling menyenangkan. Walaupun tidak bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Yo Han, setidaknya bukan hanya dia saja yang merasa antusias hari ini.
“Kau dan Soo Jin sangat dekat dulu?”
Yo Han balik menatap Bitna. Pertanyaan gadis itu tiba-tiba saja membuatnya merasa gugup.
“Ya, bisa dibilang begitu,” jawab Yo Han kemudian. “Kau merasa cemburu?”
Bitna terperanjat kaget mendengar pertanyaan Yo Han. “Aku, cemburu? Tidak sama sekali,” kilah Bitna.
Sejujurnya gadis itu sempat merasa cemburu walau hanya sebentar.
“Ingat jangan sampai menyukaiku, kau akan patah hati nanti.”
Bitna mendengus lalu memalingkan wajahnya. “Jangan khawatir.”
Bitna tahu dia tidak boleh menyukai atau sampai jatuh cinta pada Yo Han, karena dirinya pasti akan berakhir dengan patah hati. Namun sayangnya Bitna tak bisa mengatur perasaannya agar tak jatuh cinta pada pria itu. Dan berakhirlah Bitna seperti sekarang, mencintai Yo Han diam-diam dan menyembunyikan perasaannya agar tidak ketahuan.
Bitna menarik napas perlahan sambil menatap ke arah Sungai Seine yang tampak berkilauan karena terkena sinar matahari. Meskipun ada kapal yang berlalu lalang di sungai itu, namun hal itu sama sekali tak mengurangi keindahan sungai ini.
Yo Han diam-diam melirik Bitna. Gadis itu tampak tenang menikmati pemandangan sungai Seine di depan mereka. Entah karena pemandangan Sungai Seine yang indah, Yo Han merasa Bitna terlihat lebih cantik saat ini. Rambut hitam panjang milik Bitna yang cepol, membuat leher jenjang gadis itu tampak begitu jelas. Yo Han menelah ludahnya saat matanya tertuju pada kulit mulus leher jenjang Bitna. Ia lalu menatap wajah gadis itu, mata sipit khas orang Korea, hidung mancung, bibir mungil, semuanya terlihat begitu sempurna di wajah gadis berusia 25 tahun itu.
Yo Han menatap Bitna semakin dalam. Seolah dirinya ditarik oleh pesona gadis itu. Mereka sudah tinggal bersama selama 6 bulan terakhir, tapi kenapa Yo Han baru sadar jika Bitna ternyata secantik ini.
Bitna menoleh ke arah Yo Han, tatapan mata keduanya bertemu. Iris mata berwarna cokelat milik Bitna semakin menenggelamkan Yo Han dalam pesona gadis itu. Bisa Yo Han rasakan sesuatu berdesir dalam dirinya saat ia menatap manik mata milik Bitna. Begitu juga dengan gadis itu. Melihat Yo Han tengah menatapnya membuat jantungnya kembali berulah. Berdegup kencang, hingga Bitna hampir tak bisa menyembunyikan perasaannya. Mungkin saja wajahnya sekarang sedang berseri karena Yo Han menatapnya begitu dalam. Bitna tidak tahu apa arti tatapan pria itu, tapi yang jelas tatapan Yo Han itu bisa saja membuatnya kehilangan akal dan melakukan hal gila setelah ini.
“Kalian menunggu lama?”
Kedatangan Soo Jin sungguh merusak suasana romantis antara Bitna dan Yo Han. Kedua segera meraih cup berisi ice americano yang di bawa Soo Jin.
“Terima kasih,” ucap Bitna dan Yo Han hampir bersamaan. Mereka kembali saling memandang, lalu sedetik kemudian sama-sama memalingkan wajah dengan canggung.
Baik Yo Han dan Bitna segera meneguk ice americano pemberian Soo Jin. Tiba-tiba saja mereka merasa kehausan padahal suasana sore itu sama sekali tak panas.
Soo Jin menatap keduanya bergantian. “Apa aku mengganggu kalian?”
“Tidak kok,” sahut Bitna cepat.
Sebenarnya iya, kenapa kau cepat sekali kembalinya, batin Bitna.
Soo Jin lalu menjatuhkan pantatnya di samping Yo Han. “Maaf kalau aku mengganggu.”
“Tidak, sungguh sama sekali tidak mengganggu, omong-omong terima kasih untuk hari ini. Aku dan Bitna sangat menikmatinya.”
Soo Jin tersenyum menatap Yo Han. “Syukurlah kalau kalian menikmatinya, aku ikut senang.”
Soo Jin meminum ice americano miliknya sambil menatap ke arah Sunga Seine yang sekarang tampak berwarna jingga karena terkena cahaya matahari yang hampir tenggelam. Harusnya pemandangan di depan matanya ini terlihat indah dan memesona. Namun, melihat bagaimana cara Yo Han memandang Bitna tadi membuat hatinya terasa sakit.
Menatap pemandangan Sungai Seine di depannya membuat ingatan Soo Jin kembali ke masa lalu. Masa-masa bahagia saat dirinya masih menyandang status sebagai kekasih Yo Han. Andai saja mereka tak pernah berpisah, mungkin dirinya sekarang yang berbulan madu bersama Yo Han, bukan Bitna.
Sekali lagi Soo Jin menyesap ice americanonya. Membiarkan minuman yang memiliki rasa pahit ini melewati lidahnya lalu masuk ke kerongkongan. Rasa minuman ini mirip dengan apa yang Soo Jin rasakan saat ini. Pahit, mendapati kenyataan pria yang pernah ia cintai ternyata telah bersanding dengan wanita lain.
Soo Jin menghela napas sepelan mungkin. Mengingat kisah cinta legenda Serbia yang ia ceritakan pada Bitna tadi membuatnya tiba-tiba tertawa dalam hati. Kisah itu mirip dengan kisahnya. Ditinggal pria yang ia cintai. Hanya saja hatinya tak sehancur hati Nada hingga membuat gadis itu akhirnya mati. Setidaknya sampai titik ini Soo Jin masih bisa bertahan, melihat Yo Han bersanding dengan wanita lain.