Bagian 36

1680 Words
Bitna duduk di sofa sambil menatap kecewa ke luar jendela. Hujan turun mengguyur kota Paris malam ini. Sungguh hal yang tak terduga, padahal sore tadi cuacanya sangat cerah. Bahkan sama sekali tidak ada awan mendung di langit. Bitna menghela napas untuk entah yang ke berapa kalinya. Jika saja tak turun hujan, mungkin dirinya sekarang sedang meinikmati keindahan menara Eiffel bersama Yo Han. Sayangnya hujan merusak semua angannya. “Bisa kau berhenti?” Yo Han menatap jengah Bitna yang sejak tadi menghela napas. Mendengar gadis itu terus menghela napas membuat dadanya terasa berlubang. “Helaan napasmu itu sungguh menggangguku!” “Aku hanya meresa kesal karena hujan turun,” ucap Bitna lalu mengubah posisinya menjadi menghadap Yo Han. “Hujan itu rahmat yang harus kau syukuri, bukannya kau malah merasa kesal karena turun hujan.” “Aku tahu, tapi karena hujan kita tidak bisa pergi jalan-jalan kan? Padahal suasana kota Paris di malam hari itu sangat indah.” Yo Han menatap Bitna tak percaya. Apa gadis itu robot yang tak punya rasa lelah? “Apa kau tak lelah? Seharian ini kita sudah jalan-jalan dan kau masih ingin jalan-jalan?” Bitna merengut menatap Yo Han. Bukannya dia tidak punya rasa lelah, hanya saja jika bersama Yo Han rasa lelahnya menghilang secara ajaib. “Tak perlu merengut seperti itu, besok kita masih bisa jalan-jalan.” “Ya.” Bitna kembali menatap keluar jendela. Mengamati hujan yang turun cukup deras malam itu. Rintik hujan di antara gemerlap lampu yang menyala di sepanjang jalan, membuat suasana kota Paris malam itu terasa lebih syahdu dan romantis. Di bawah jalan sana terlihat banyak pasangan yang berbagi payung dan menerobos derasnya hujan malam itu. Bitna kembali menghela napas menatap mereka. Bukankah berbagi payung bersama pasangan di bawah rintik hujan terasa romantis? Gadis itu melirik Yo Han sekilas, pria itu sibuk dengan ponselnya. Melihat tangan Yo Han bergerak lincah menyentuh layar ponselnya Bitna tahu pria itu pasti sedang berkirim pesan dengan seseorang. Bitna penasaran dengan siapa pria itu berkirim pesan hingga terlihat sangat fokus dan serius. “Soo Jin bilang, besok dia akan membawa kita jalan-jalan mengelilingi kota Paris dengan mobilnya.” Bitna mengerutkan dahi menatap Yo Han. Mendengar nama Soo Jin disebut Yo Han membuatnya tak senang. “Katanya jalan kaki dan naik kendaraan umum terlalu merepotkan dan melelahkan, bagaimana menurutmu?” “Boleh juga,” sahut Bitna lalu kembali menatap ke luar jendela kaca. Raut wajahnya berubah kecewa. Ternyata Yo Han asyik berkirim pesan dengan Soo Jin sejak tadi. “Kalian bertukar nomor? Kapan?” “Di Sungai Seine, sebelum berpisah tadi,” jawab Yo Han. Bitna menatap sedih keluar jendela. Dia tahu mereka hanya teman lama, dan Yo Han yang seorang gay tak mungkin akan tertarik pada wanita. Namun, entah kenapa hatinya terasa sedih melihat kedekatan Yo Han dan Soo Jin. Melihat kedua orang itu terasa seperti sesuatu sedang megusik hatinya dan membuatnya tak tenang. *** Soo Jin menjemput Yo Han dan Bitna tepat jam 8 pagi di depan hotel Le Meurice. Bitna terperangah menatap mobil BMW X2 yang berhenti di depan mereka. Soo Jin keluar dari dalam mobil itu. Wanita terlihat elegan dan sexy secara bersamaan. Maxi dress berbahan viscose warna putih motif florist dengan model tali spageti terlihat begitu pas di tubuh ramping Soo Jin. Di tambah make up flawless yang Soo Jin kenakan, membuat siapa saja yang memandang wanita itu pasti terpesona akan parasnya yang begitu cantik. Bitna melirik Yo Han yang berdiri di sampingnya. Pria itu tampak tertegun menatap Soo Jin. Membuat hati Bitna terbakar cemburu. Dia tahu Soo Jin cantik—sangat cantik malah, tapi harusnya Yo Han tak perlu menatapnya seperti itu. Apa pria itu lupa ada dirinya di sana? Ingin rasanya Bitna menusuk mata Yo Han dengan jari telunjukknya agar pria itu berkedip. “Kalian sudah lama menunggu?” tanya Soo Jin. Yo Han mengerjapkan matanya. Penampilan Soo Jin hari itu sangat cantik hingga membuatnya kehilangan kesadaran selama beberapa saat. “Tidak kok, kami juga baru keluar,” jawab Bitna. “Kita berangkat sekarang?” Mereka bertiga lalu masuk ke dalam mobil milik Soo Jin. Yo Han duduk di balik kemudi, Soo Jin duduk di samping pria itu dan Bitna duduk di kursi belakang. Bitna menatap Yo Han yang fokus menyetir lalu beralih pada Soo Jin yang duduk di sampingnya. Dia tahu ini adalah mobil Soo Jin dan Soo Jin sudah sangat berbaik hati memberi mereka tumpangan untuk jalan-jalan hari ini. Tapi bukankah ini agak keterlaluan? Kenapa dia yang harus duduk di depan bersama Yo Han? “Bitna-ssi kau tak merasa kesal atau cemburu aku duduk di depan bersama Yo Han?” Soo Jin menoleh ke arah Bitna. Gadis itu lalu dengan cepat mengubah ekspresinya. “Tidak, tenang saja aku ini bukan tipe pencemburu. Kau tak perlu khawatir,” jawab Bitna lalu tersenyum, seolah dia tidak merasa kesal apalagi cemburu. “Syukurlah.” Bitna membuang muka ke arah jendela. Menatap deretan bangunan dengan desain klasik di sepanjang jalan setidaknya jauh lebih menyanangkan dari pada menatap Yo Han dan Soo Jin yang asyik mengobrol. Bitna menatap layar ponselnya setelah sedetik yang lalu benda itu berdering. Hye Won, salah satu teman kuliahnya menelponnya. Bitna segera menggeser ikon berwarna hijau, lalu mengarahkan ponselnya ke wajahnya. “Eonni!!!” sapa riang Hye Won dalam panggilan video itu. “Oh Hye Won-ah, ada apa?” Bitna tersenyum menatap Hye Won. “Bagaimana bulan madunya? Kenapa tak pernah telepon? Aku dan yang lain sangat penasaran.” Bitna menatap canggung ke arah Yo Han. “Menyenangkan, bagaimana liburanmu? Kalian jadi menyewa vila di Jeju?” “Tentu saja, kami di Jeju sekarang.” Hye Won mengarahkan ponselnya ka arah pantai hinggat Bitna bisa melihat teman-teman kuliahnya sedang asyik bermain air di sana. “Seung Woo juga ikut?” Mendengar nama si anak anjing refleks Yo Han melirik Bitna dari kaca spion. Entah kenapa dia selalu merasa kesal mendengar nama pemuda itu, apa lagi jika Bitna yang menyebutnya. “Eonni jangan lupa oleh-olehnya.” “Tentu, kalian bersenang-senang di sana?” “Tentu saja, tapi Seung Woo sepertinya baru saja patah hati.” Hye Won mengarahkan ponselnya pada Seung Woo. Pemuda itu sedang duduk termenung sambil menatap kosong ke arah laut di depanya. “Patah hati? Apa dia baru saja di tolak seorang gadis?” Hye Won menggeleng. “Setahuku dia yang sering menolak, mungkin juga dia sedang memikirkan hutangnya.” Bitna dan Hye Won terkekeh bersama. Hye Won benar, Seung Woo memang terkenal di antara mahasiswa perempuan, tapi anehnya dia selalu menolak setiap gadis yang mengajaknya berkencan. Mungkinkah Seung Woo sama seperti Yo Han? Bitna segera membuang pikiran itu dari kepalanya. Sepertinya Seung Woo bukan pria seperti 'itu'. “Eonni, sudah dulu ya, selamat berbulan madu.” “Ya, kalian juga selamat menikmati liburannya.” Bitna memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas setelah Hye Won menutup panggilan video itu. Mengobrol sebentar dengan Hye Won cukup menghilangkan rasa kesalnya. Rasanya bitna sudah merindukan Seoul, setelah melihat teman-temannya tadi. “Temanmu?” tanya Yo Han setelah mendiamkannya dan hanya mengobrol dengan Soo Jin sejak tadi. “Iya,” jawab Bitna singkat. “Mereka liburan di pulau Jeju?” “Iya, katanya mereka menyewa vila di sana.” “Si anak anjing juga ikut?” “Iya.” Bitna terdiam sejenak setelah Yo Han menyebut anak anjing. Ia ingat jika pria itu selalu kesal setiap kali dirinya terlihat dekat dengan Seung Woo. Terbesit di pikiran Bitna untuk membuat Yo Han merasa kesal. “Tadi Seung Woo mengirim pesan, dia bilang agar kita bersenang-senang selama di Paris dan jangan lupa tentang oleh-olehnya.” Yo Han melirik Bitna dari spion, wajah gadis itu terlihat berseri saat menyebut nama Seung Woo. Yo Han tiba-tiba saja merasa kesal. Yo Han menginjak pedal gas lalu menyalip mobil di depan mereka. Bitna dan Soo Jin sedikit terpental ke belakang karena ulah Yo Han itu. “Kau mau membuat kami jantungan?” omel Bitna. Jantungnya serasa mau melompat keluar karena ulah Yo Han barusan. “Tidak sengaja,” kilah Yo Han. Sebenarnya pria itu sengaja menginjak pedal gas tadi. Melihat wajah berseri Bitna saat menyebut nama Seung Woo tadi membuatnya kesal. Soo Jin mengamati Yo Han dan Bitna. Melihat reaksi Yo Han saat Bitna menyebut nama pria lain, Soo Jin dapat dengan mudah tahu bahwa pria itu sedang cemburu. Soo Jin lalu menatap ke luar jendela sambil menghela napas. Melihat Yo Han yang cemburu, membuat hatinya terasa sakit. Soo Jin memang sudah berusaha menerima kenyataan bahwa Yo Han telah menjadi milik wanita lain, tapi sepertinya tak mudah. Hatinya masih terasa sakit setiap kali melihat Yo Han dan Bitna. Meski sudah 7 tahun berlalu perasaanya untuk Yo Han tak pernah berubah. Ia tahu mungkin dirinya akan dianggap gila jika berharap pria itu masih punya perasaan yang sama padanyaa. Namun, kenyataannya iya. Soo Jin memang masih berharap Yo Han masih mencintainya. Ia berharap suatu saat Yo Han akan kembali padanya dan mereka akan hidup bahagia bersama. *** Bitna, Yo Han dan Soo Jin melangkah menelusuri jalanan di bukit Montmatre. Montmatre adalah sebuah bukit dengan ketinggian 130 meter. Montmatre juga merupakan titik tertinggi di kota Paris. Daerah ini sangat memesona dengan jalan-jalannya yang sempit dan berliku serta cafe-cafe mungil di tiap bloknya. Di sinilah tempat kaum Borjuois-Bohemian, berjalan santai dengan anjing French bulldog seharga ribuang euro. Soo Jin mengajak Bitna dan Yo Han ke bukit ini bukan karena di sini ada gereja Sacre-Coeur dan Moulin Rouge yang terkenal di kalangan wisatawan. Namun, karena di sini menawarkan banyak wisata unik yang tidak ada habisnya untuk dieksplorasi. “Hati-hati.” Yo Han mengulurkan tangannya pada Bitna. “Ada banyak anak tangga di sini, kau bisa terpleset dan jatuh jika tidak berhati.” Bitna dengan malu-malu meraih tangan Yo Han. Pria itu lalu menggenggam tangannya. Soo Jin menatap mereka dari belakang. Haruskah Yo Han melakukannya? Dia tahu mereka adalah pasangang suami istri, tapi tak bisakah Yo Han menjaga perasaannya? Apa Yo Han tak sadar yang dilakukan Yo Han itu bisa saja melukai perasaannya? Mereka dulu pernah terikat dalam sebuah hubungan dan saling mencintai dulu, harusnya Yo Han bisa menjaga perasaannya sebagai mantan kekasih pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD