Bitna, Yo Han dan Soo Jin melangkah menulusuri jalan berbatu di Montmatre. Montmatre sungguh tempat yang antik, bernuansa kota kecil dan menawan. Dengan segala pesona dan sejarahnya, menjadikan Montmatre salah satu kawasan paling colourful dan menarik di Paris. Objek wisata di Paris ini juga termasuk tempat paling romantis di Paris.
Bitna sangat setuju bahwa Montmatre adalah tempat yang memiliki sejuta pesona. Sejauh mata memandang, ada banyak bangunan, toko dan Cafe bergaya unik dan klasik berdiri berdempetan. Beberapa rumah zaman dulu dengan dinding dipenuhi tanaman rambat juga bisa di temui di kawasan ini. Adanya pertunjukkan oleh musisi atau pementas jalanan juga menjadi pemandangan biasa di Montmatre.
Bitna menatap Yo Han yang berjalan di sampingnya. Sejak tadi pria itu tidak melepaskan genggaman tangannya. Walau sempat membuatnya kesal pagi ini, karena kedekatan pria itu dan Soo Jin, tapi kali ini Yo Han benar-benar memperlakukannya dengan baik seolah mereka adalah pasangan suami istri yang romantis. Siapapun yang melihat mereka sekarang pasti mengira mereka adalah pasangan yang saling mencintai satu sama lain, mereka pasti tak menyangka bahwa hubungan Yo Han dan Bitna hanyalah status di atas kertas.
Bitna sama sekali tak bisa menyembunyikan senyumnya karena merasa senang. Yo Han benar-benar memperlakukan dirinya seperti istri pria itu, walaupun memang statusnya adalah istri Yo Han. Namun, Yo Han jarang sekali memperlakukannya sebagai istrinya kecuali di depan anggota keluarga.
Soo Jin menatap nanar Bitna dan Yo Han yang bergandengan tangan di depannya. Hatinya terasa pilu meyaksikan pria yang ia cintai menggenggam tangan wanita lain di hadapannya. Hati wanita mana yang tak akan sakit jika melihat pria yang dicintai telah bersanding dengan wanita lain. Dirinya sangat mirip dengan Nada, wanita dalam cerita legenda Sebria. Mereka sama-sama ditinggal oleh pria yang mereka cintai.
“Apa ada toko sepatu di sekitar sini?” tanya Yo Han menatap Soo Jin. Membuat gadis itu mengerjap dan buru-buru mengubah ekspresinya seolah dirinya baik-baik saja.
“Ada, kau ingin membeli sepatu?”
“Ya.”
Soo Jin lalu mengajak mereka berdua masuk ke dalam sebuah toko bergaya klasik. Sampai di dalam Yo Han tampak sibuk memilih sepatu dan sesekali bertanya pada pegawai toko. Sementara Soo Jin dan Bitna menunggu pria itu sambil melihat koleksi sepatu yang di pajang di toko tersebut.
“Berapa lama kau mengenal Yo Han sebelum akhirnya kalian menikah?” tanya Soo Jin membuka percakapan.
“Kalau di hitung sampai hari ini mungkin sekitar 10 bulan,” jawab Bitna. Dia pertama kali bertemu Yo Han di musim gugur tahun lalu. Gadis itu lantas menyunggingkan senyum. Ternyata sudah 10 bulan berlalu sejak ia pertama kali bertemu Yo Han. Waktu ternyata berlalu dengan cepat.
“Kalian menikah kapan?”
“Bulan Januari kemarin.”
“Oh.”
Soo Jin menatap koleksi sepatu yang dipajang di depannya sambil kembali memikirkan ucapan Bitna. Itu artinya Yo Han dan Bitna menikah setelah menjalani hubungan yang singkat. Diam-diam Soo Jin menarik sudut bibirnya dan tersenyum. Jika mereka hanya menjalin hubungan singkat sebelum akhirnya menikah, kemungkinan Bitna tak tahu banyak hal tentang Yo Han, mungkin juga perasaan mereka juga tidak terlalu dalam. Berbeda dengannya, yang tahu segala hal tentang pria itu. Untuk alasan ini Soo Jin merasa lebih unggul dari Bitna.
“Soo Jin-ah.”
Soo Jin menoleh ke arah Yo Han yang memanggilnya.
Bitna ikut menoleh ke arah pria itu. Gadis itu mengerutkan dahi melihat Yo Han membawa sepasang sepatu sneakers berwarna putih ke hadapan Soo Jin. Untuk apa?
“Ganti sepatumu dengan ini.” Yo Han menyodorkan sepasang sepatu sneakers yang ia pegang pada Soo Jin.
Soo Jin mengerutkan dahi menataap Yo Han. “Untuk apa? Sepatuku baik-baik saja.”
“Aku tahu, tapi jalanan di sekitar sini berbatu, sempit dan ada banyak anak tangga. Bahaya jika kau berkeliaran dengan mengenakan high heels.”
Soo Jin menatap ke bawah kakinya. Ia mengenakan high heels berwarna senada dengan dress yang ia kenakan. Walaupun Yo Han bilang berbahaya, tapi Soo Jin sama sekali tak merasa seperti itu. Meskipun demikian Soo Jin merasa tersentuh dengan perhatian Yo Han. Pria itu ternyata leduli
padannya
“Tidak perlu, aku baik-baik saja dengan sepatu ini,” tolak Soo Jin sambil melirik Bitna. Istri Yo Han itu tampak kaget dengan perbuatan suaminya.
“Jangan keras kepala, cepat ganti!”
Karena Yo Han memaksa, Soo Jin akhirnya terpaksa mengganti high heelsnya dengan sneakers pemberian Yo Han. Ternyata memang benar, mengenakan sneakers rasanya jauh lebih nyaman.
“Lebih nyaman bukan?”
“Iya, terima kasih,” ujar Soo Jin lalu tersenyum memarkan deretan giginya yang rapi.
Bitna memalingkan wajahnya sambil mendengus pelan. Dirinya merasa kesal melihat perhatian Yo Han pada Soo Jin. Padahal baru saja tadi dia memuji Yo Han karena memperlakukannya dengan baik, tapi lihat yang dilakukan pria itu. Memang Yo Han pantas diberi gelar sebagai pria menyebalkan.
***
Soo Jin, Bitna dan Yo Han menaiki lift funicular menuju Sacre-Coeur, gereja yang terdapat di puncak bukit Montmatre.
Bitna melirik Yo Han yang berdiri di sampingnya. Sejak meninggalkan toko sepatu tadi, pria itu tak lagi menggandengnya. Dan itu membuat Bitna kesal. Namun, rasa kesal Bitna menguap begitu saja saat lift yang mereka naiki sampai di puncak. Begitu pintu lift terbuka mata Bitna di sambut oleh pemandangan menakjubkan dari puncak bukit. Dari puncak Bukut Montmatre Bitna bisa melihat dengan jelas pemandangan kota Paris.
Bitna lalu beralih menatap bangunan gereja Sacre-Coeur yang begitu megah. Di bagian depan gereja Sacre-Coeur terdapat patung-patung untuk mengenang Saint Joan of Arc dan Raja Saint Louis. Melihat megah dan indahnya bangunan gereja Sacre-Coeur serta pemandangan yang begitu menakjubkan dari puncak Montmatre, Bitna tak bisa menahan hasratnya untuk mengabadikan segala hal yang lihat di sana ke dalam sebuah foto.
Gadis berusia 25 tahun segera mengeluarkan kameranya dan membidik ke arah bagian dari tempat itu yang ia anggap menarik lalu memotretnya. Untung hari ini memutuskan untuk membawa kamera. Ternyata tidak sia-sia mereka berjalan melewati jalan berbatu, sempit, berkelok serta anak tangga yang begitu banyak tadi. Sampai di puncak Montmatre mereka di sambut pemandangan yang sangat menakjubkan dan dapat mengusir rasa lelah mereka.
“Kau mau ke mana?” tanya Yo Han saat melihat Bitna mulai berjalan menjauh darinya. Gadis itu tanpa rasa takut mulai melangkah, seolah dia tahu tempat-tempat di sekitar sana.
“Mengambil foto,” sahut Bitna tanpa menoleh. Gadis itu sibuk mengambil gambar bangunan gereja dan pemandangan dari puncak bukit.
“Tunggu—” Yo Han hendak menyusul istrinya. Mengingat kejadian Bitna tersesat di Paris, Yo Han tidak mau kejadian itu terulang lagi. Tapi baru saja hendak melangkah, Soo Jin meraih tangannya dan mencegahnya.
Soo Jin menatap Yo Han penuh arti. Dia tidak mau pria itu pergi menyusul Bitna.
“Yo Han, bisa kita bicara?”
***
Yo Han dan Bitna duduk berdampingan di pelataran Taman Champs de Mars. Dari taman ini megahnya menara Eiffel dapat terlihat dengan jelas. Menara Eiffel memang terlihat jauh lebih indah saat malam hari. Dengan lampu-lampu yang menghiasi menara ini, keindahan Menara Eiffel mengundang decak kagum siapa pun yang melihatnya.
Bitna melirik Yo Han yang duduk di sampingnya. Dia sungguh tidak menyangka pria itu mengajaknya menikmati pemandangan Menara Eiffel di malam hari. Dia pikir setelah mereka seharian ini mengelilingi Montmatre Yo Han akan memilih istirahat di kamar, tapi ternyata tidak. Suaminya itu justru mengajaknya keluar dan melihat menara Eiffel. Bukankah Yo Han terdengar romantis? Jika saja pria itu bukan gay, dan juga bukan penolongnya, pasti sekarang Bitna tak perlu bersusah payah menyembunyikan perasaannya.
“Kau yakin tak mau naik ke Menara Eiffel? Di tingkat satu dan dua ada berbagai restoran, kau tak mau makan di sana?” tanya Yo Han menoleh pada Bitna.
Gadis itu menggeleng. “Di sini saja sudah cukup, kalau ingin naik pasti harus mengantre dan itu melelahkan.”
Untuk naik ke Menara Eiffel pengunjung memang harus mengantre dan membeli tiket. Mengingat Menara Eiffel adalah ikon wisata kota Paris, tempat ini tentunya tak akan pernah sepi dari pengujung.
Untuk Bitna duduk bersama Yo Han sambil menikmati gemerlap lampu yang menghiasi Menata Eiffel dari taman Champ de Mars sudahlah cukup. Terkadang menikmati sesuatu yang indah itu memang cukup dari kejauhan, jika kau terlalu dekat kau akan sadar bahwa kau tak mungkin bisa memiliki keindahan itu atau mungkin kau akan merasa kecewa karena ternyata keindahan itu tak sama seperti ekspetasimu.
Sama seperti cara Bitna mencintai Yo Han. Gadis itu hanya bisa memendam perasaannya dan mencintai Yo Han dalam diam. Jika Bitna terlalu kentara dengan perasaannya,
Yo Han mungkin akan tahu dan hubungan mereka menjadi canggung. Bitna tak itu terjadi, menjadi dekat seperti ini saja dengan Yo Han sudah cukup bagainya.
Bitna menatap Yo Han yang saat ini juga menatapnya. Di bawah cahaya lampu yang menerangi kota Paris di malam hari, Bitna merasa Yo Han terlihat semakin tampan dan seksi. Garis rahang yang begitu tegas, matanya yang tajam, hidung mancung dan bibir pria itu yang terlihat menggoda. Oh Tuhan, sepertinya Bitna sudah gila karena dia barus saja membayangkan berciuman dengan Yo Han di bawah cahaya bulan yang temaram.
“Bitna.” Suara berat milik Yo Han itu akhirnya menarik paksa akal sehat Bitna untuk kembali.
Bitna mengerjapkan matanya beberapa kali lalu kembali menatap Yo Han. “Ya?”
“Besok kita beli oleh-oleh untuk ayah, ibu, Yoo Rin, Seung Min dan juga teman-teman kuliahmu.”
Mereka memang belum sempat membelikan oleh-oleh untuk orang tua Yo Han, Yoo Rin, Seung Min—sekretaris sekaligus asisten kesayangan Yo Han dan juga untuk teman-teman Bitna. Selama beberapa hari ini mereka sibuk mengeksplorasi setiap sudut kota Paris dan berbagai keindahan kota ini.
“Lalu lusa kita kembali ke Seoul.”
Bitna mengerutkan dahi menatap Yo Han. Lusa? Jika sesuai jadwal mereka akan kembali ke Seoul 4 hari lagi. “Kenapa lusa? Apa terjadi sesuatu?”
“Ada masalah yang terjadi di perusahaan,” jawab Yo Han. Pria itu lalu menatap menara Eiffel yang jauh di depannya.
“Masalah? Apa sangat serius?”
Yo Han menggeleng. “Tidak tahu, tapi Seung Min sudah berusaha mengatasinya dulu.”
Bitna ikut menatap menara Eiffel yang berada jauh di depan sana. Raut wajahnya terlihat kecewa. Barus beberapa hari ini dia bisa menikmati liburan sesungguhnya bersama Yo Han—walaupun sedikit tak nyaman karena keberadaan Soo Jin, tapi sekarang ia akan segera pulang ke Seoul, meninggalkan kota romantis ini.
“Apa Soo Jin sudah tahu kita akan pulang besok lusa?”
Jujur Bitna enggan sekali menyebut nama itu, tapi mengingat kebaikan Soo Jin yang rela jadi tour guide mereka Bitna merasa mereka harus berpamitan pada wanita itu sebelum benar-benar kembali ke Seoul.
“Sudah,” jawab Yo Han singkat.
“Apa kita perlu makan malam bersama Soo Jin sekalian berpamitan?”
“Tidak perlu, dia bilang dirinya akan sibuk dengan pekerjaannya selama beberapa hari ke depan,” jelas Yo Han.
Bitna mengangguk mengerti. Ia kemudian tak bertanya lebih lanjut lagi soal Soo Jin. Dia sendiri tak merasa penasaran dengan apa yang dilakukan wanita itu. Bitna justru merasa bersyukur mereka tak perlu makan malam bersama wanita itu. Karena dia tak perlu merasa kesal melihat kedekatan Soo Jin dan Yo Han.
Yo Han melirik Bitna. Gadis itu tampak sedang mengagumi kemegahan dan keindahan Menara Eiffel jauh di depan mereka.
Maaf aku kembali berbohong padamu, batin Yo Han.