Bagian 38

1849 Words
Flash back Beberapa jam yang lalu... “Yo Han, bisa kita bicara?” Yo Han menoleh menatap Soo Jin, wanita itu memegang lengannya sambil menatapnya penuh arti. “Tapi, Bitna?” Yo Han tak mungkin membiarkan istrinya berkeliaran sendiri. Mengingat kemampuan bahasa Inggris gadis itu yang sangat payah, Yo Han tak mau Bitna tersesat seperti tempo hari. “Dia tak akan tersesat, Bitna hanya akan berkeliling di sekitar gereja.” Meskipun ragu, akhirnya Yo Han setuju untuk membiarkan Bitna berkeliaran sendirian. Yo Han kemudian menatap Soo Jin. Wanita itu masih memegang lengannya. Yo Han menyingkirkan tangan Soo Jin yang memegang lengannya. “Lepaskan, Bitna akan salah paham jika melihatnya.” Bukannya Yo Han takut Bitna akan cemburu pada Soo Jin, tapi pria itu takut Bitna akan curiga pada mereka dan akhirnya tahu hubungannya dengan Soo Jin 7 tahun lalu bukan sekedar teman kuliah. Hubungan mereka lebih dari itu. 7 tahun lalu, mereka saling mencintai. Dan mungkin rasa cinta itu masih ada sekarang. “Kau mencintai Bitna?” tanya Soo Jin. Dia ingin tahu apakah Yo Han benar-benar mencintai istrinya. Setiap kali menatap Yo Han dan Bitna, Soo Jin merasa ada yang janggal dengan keduanya. Meskipun Yo Han terlihat sangat perhatian pada Bitna, Soo Jin merasa perhatian itu bukanlah cinta. “Jika tak mencintainya, untuk apa aku menikah dengannya?” “Lalu, bagaimana denganku? Apa kau masih mencintaiku?” Yo Han menatap Soo Jin selama beberapa detik. Wanita terlihat menantikan apa jawaban yang akan di berikan. Yo Han kemudian mengalihkan pandanganya, menatap orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka. “Lee Soo Jin, hubungan kita sudah berakhir 7 tahun lalu. Dan aku sudah menikah dengan wanita lain sekarang.” “Aku tahu.” Soo Jin menarik nafas, ia menatap Yo Han serius. “Aku hanya ingin tahu apakah kau masih mencintaiku atau tidak.” “Spertinya kita tidak perlu bicara lagi-“ “Aku masih mencintaimu.” Yo Han terdiam menata Soo Jin. Mendengar wanita itu masih mencintainya membuatnya terkejut hingga tak bisa berkata apa-apa. Yo Han pikir Soo Jin telah melupakannya selama ini. “Aku tahu hubungan kita sudah berakhir 7 tahun lalu, tapi aku sama sekali tak bisa melupakanmu. Aku masih mencintaimu.” Yo Han menataap iris mata milik Soo Jin, wanita itu juga sedang menatapnya. Yo Han tak mengerti arti dari tatapan mata Soo Jin, tapi dari mata wanita itu tersirat jika dia memang masih mencintainya. Yo Han menarik napas dalam. Jauh di dalam hatinya ada rasa bahagia mengetahui Soo Jin masih mencintainya, tapi keadaan telah berubah. Mungkin jauh di lubuk hatinya, Yo an juga masih mencintai wanita itu, tapi segalanya telah berbeda sekarang. Yo Han bukan lagi menjadi pria yang dicintai Soo Jin 7 tahun lalu, dia adalah pria gay yang telah menikah dengan Bitna. “Soo Jin-ah apa pun yang terjadi di antara kita itu adalah masa lalu. Aku sudah menikah.” Soo Jin meraih tangan Yo Han lalu menggenggamnya. “Aku tahu! Aku juga sudah berusaha menerima kenyataan bahwa kau telah menikah dengan wanita lain, tapi melihatmu beberapa hari terakhir ini membuatku sadar bahwa tidak ada yang berubah. Aku masih mencintaimu.” Yo Han menghela napas kasar. Ternyata datang ke Paris adalah sebuah kesalahan. Jika saja dia tak menuruti permintaan Bitna untuk berbulan madu ke Paris, dirinya pasti tak akan pernah bertemu Soo Jin lagi. Dan situasi rumit ini tak akan pernah terjadi. “Soo Jin sadarlah, semuanya sudah berubah, aku dan perasaanku sudah tidak seperti dulu.” “Tidak, aku tahu kau sedang menutupi sesuatu. Ingat kau bisa membohongi siapa pun tapi kau tak pernah bisa membohongiku. Kau sama sekali tak mencintai gadis itu bukan?” “Cukup!” Yo Han menepis tangan Soo Jin. “Aku akan menganggap tak pernah mendengar apa yang kau katakan hari ini.” Soo Jin mengepalkan tangannya. Cara Yo Han menepis tangannya sungguh mebuat hati wanita itu terluka. “Bersikaplah seolah tak terjadi apa-apa di depan Bitna.” Soo Jin menatap nanar punggung Yo Han yang mulai menjauh. Dia hanya ingin tahu apakah pria itu masih mencintainya atau tidak, tapi Yo Han memperlakukannya seolah dia ingin merusak rumah tangganya. Soo Jin menatap sepasan sneakers yang ia kenakan. Melihat sepasang sepatu pemberian Yo Han itu membuatnya yakin jika sebenarnya pria itu masih memiliki perasaan padanya. *** “Sudah kau masukkan semua barang-barangmu?” tanya Yo Han. Malam ini Yo Han dan Bitna sedang berkemas, memasukkan semua pakaian dan oleh-oleh yang mereka beli tadi ke dalam koper. Rencananya besok pagi mereka akan pulang ke Seoul. Walaupun agak kecewa, tapi Bitna cukup merasa senang dengan liburan ini. Semalam ia benar-benar menikmati suasana yang teramat romantis bersama Yo Han. Walaupun mereka hanya duduk di pelataran Taman Champ de Mars sambil menikmati pemandangan menara Eiffel dari kejauhan. Duduk berdua di bawah cahaya bulan dan tanpa banyak bicara, menikmati keindahan menara Eiffel di malam hari. Senyum Bitna kembali merekah setiap ia mengingat kejadian semalam. Yo Han sangat berbeda semalam. Jika pria itu biasnya sangat menyebalkan dan cerewet, kemarin Yo Han menjadi pria yang sangat perhatian padanya. Yo Han menatap ponselnya yang berdering di atas meja. Pria itu lantas mengambil benda pipih berbentuk persegi panjang itu. Matanya menyipit saat membaca nama yang tertera di layar ponsel. Soo Jin is calling... Yo Han segera menggeser ikon berwarna merah. Sejak kejadian di bukit Montmatre, Yo Han memutuskan untuk tak lagi berhubungan dengan Soo Jin. Kehadiran wanita itu hanya akan mengacaukan rencana dan hubungannya dengan Bitna. “Kenapa tidak di angkat?” tanya Bitna menatap suaminya. “Tidak,” jawab Yo Han singkat. Yo Han kembali menatap layar ponselnya. Kali ini Soo Jin mengirim pesan. Soo Jin : Bisa kita bertemu. Yo Han mengabaikan pesan itu dan tak membukanya. Dia sudah memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Soo Jin. Namun, beberapa detik kemudian ponsel Yo Han kembali bergetar. Soo Jin kembali mengirim pesan. Soo Jin : Aku hanya ingin bicara. Soo Jin : Jika kau tidak datang, aku yang akan datang ke hotel. Yo Han menutup wajahnya dengan tangan. Dia tidak mau bertemu lagi dengan Soo Jin, tapi jika dia tidak menemui wanita itu, Soo Jin pasti akan benar-benar datang ke hotel. Yo Han tahu betul karakter Soo Jin, wanita itu pasti akan benar-benar datang ke hotel jika dia tidak menemuinya. Setelah bergelut dengan pikirannya, Yo Han akhirnya memutuskan untuk membalas pesan Soo Jin. Yo han : Kau mau bertemu di mana? Soo Jin : Bar 228, tempatnya tidak jauh dari Le Meurice. Yo Han : Aku tahu. Soo Jin : Aku akan menunggumu di sana. Yo Han memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia lalu menyambar jas berwarna navy yang tergantung di dekat lemari. “Aku pergi dulu, kau langsung tidur saja setelah selesai berkemas.” “Kau mau ke mana?” Yo Han menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Bitna. Gadis itu sedang menatapnya bingung. “Ada urusan sebentar, kau cepat tidur besok kita berangkat pagi.” Setelah mengatakan hal itu Yo Han melangkah keluar dari kamar mereka. Bitna menatap pintu yang tertutup rapat setelah Yo Han keluar. Entah kenapa Bitna merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya setelah Yo Han pergi. Bitna takut Yo Han pergi menemui Soo Jin. Dia tahu mereka hanya teman, dan Yo Han tak mungkin berbuat macam-macam karena dia seorang gay. Namun, melihat Yo Han dan Soo Jin mengobrol serius di Montmatre dua hari yang lalu membuat perasaan Bitna tak enak. Dia penasaran apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Ia juga melihat Soo Jin menggenggam tangan suaminya waktu itu. “Apa mereka punya hubungan spesial dulu?” gumam Bitna. Gadis itu lalu segera menggelengkan kepala setelah ingat bahwa Yo Han adalah gay. Tapi bagaimana jika sebelumnya Yo Han adalah pria normal, lalu setelah putus dari Soo Jin pria itu berubah menjadi gay? Oh Tuhan, apa yang sedang Bitna pikirkan. Pikirannya pasti sedang kacau sekarang. Yo Han bilang dirinya dan Soo Jin adalah teman, pria itu tak mungkin membohonginya. “Kim Bitna jangan berpikir yang aneh-aneh.” *** Yo Han masuk ke dalam bar yang di sebut Soo Jin dalam pesannya. Begitu masuk ke dalam Yo Han segera mengedarkan pandangannya mencari di mana Soo Jin berada, tapi ia tak bisa menemukan keberadaan wanita itu di sana. “Apa dia belum datang?” gumam Yo Han. Pria itu lantas mengambil ponselnya yang baru saja bergetar. Soo Jin mengirim pesan. Soo Jin : Aku di rooftop. Setelah membaca pesan Soo Jin, Yo Han segera bertanya pada salah satu pekerja di bar itu di mana tangga menuju rooftop. Setelah pekerja itu memberitahunya Yo Han segera menuju rooftop. Sampai di sana ia melihat Soo Jin sedang duduk di salah satu meja sambil menatap kosong pemandangan dari atas sana. Yo Han terdiam beberapa detik sebelum menghampiri wanita itu. Matanya mengerjap beberapa kali melihat penampilan Soo Jin yang cantik malam itu. Soo Jin mengenakan mini dress berwarna merah, dengan model off shoulder. Make up bold yang Soo Jin kenakan membuat gadis itu semakin terlihat seksi. Soo Jin menoleh ke arah Yo Han lalu melambaikan tangannya. Yo Han menarik napas sebelum menghampiri wanita itu. “Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Yo Han begitu ia menjatuhkan pantatnya ke atas kursi tinggi di depan Soo Jin. “Kau tak pesan minuman dulu?” Yo Han menggeleng. Dia ingat peraturan yang Bitna buat. Mereka dilarang pulang dalam keadaan mabuk. “Kau takut Bitna curiga kau pulang dengan bau alkohol.” Yo Han diam tak menjawab pertanyaan Soo Jin. Mata pria itu fokus mengagumi penampilan Soo Jin malam itu. Meski memutuskan tak akan berhubungan lagi dengan wanita itu, tak bisa Yo Han ungkiri jika penampilan Soo Jin malam itu begitu memesona. Wanita itu sama sekali tak berubah, kesan cantik dan seksi memang melekat dalam diri Soo Jin sejak dulu. Yo Han menelan ludah perlahan saat pandangannya sampai pada tulang selangka Soo Jin. Wanita itu mengenakan mini dress dengan model off shoulder, membuat bahu mulus Soo Jin terekspos dengan jelas. Yo Han memalingkan wajahnya, ia tak boleh tergoda penampilan Soo Jin malam itu. “Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” Yo Han kembali bertanya. “Tidak ada.” Yo Han mengerutkan dahi menatap Soo Jin. “Aku hanya ingin mengobrol sambil mengenang masa lalu.” Yo Han menarik napas. “Bukankah aku sudah bilang, hubungan kita sudah berakhir 7 tahun lalu. Kita yang sepakat untuk mengakhirinya dengan baik-baik. Untuk apa mengenang masa lalu?” “Apa salahnya dengan mengenang masa lalu? Aku tidak berharap lebih, seperti kau yang harus meninggalkan Bitna dan kembali padaku. Aku hanya ingin mengenang masa lalu sebelum kau kembali ke Seoul. Setelah kau kembali, tak ada jaminan bahwa aku bisa bertemu denganmu lagi.” “Anggap saja ini sebagai perpisahan untuk kita.” Yo Han mengusap mukanya dengan sebelah tangan. Memang mengenang masa lalu bukanlah hal yang salah, tapi terus-terusan mengenang masa lalu juga bukan hal yang baik Yo Han menatap Soo Jin yang saat ini sedang menyesap segelas wine. Setelah menyesap wine itu, Soo Jin kembali meletakkan gelasnya ke atas meja, lalu ia menatap Yo Han. Tatapannya berbeda kali ini. Soo Jin tak menatap Yo Han sendu seperti saat di bukit Montmatre. “Kai tahu saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupku?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD