Bagian 39 - Kalah

1636 Words
“Kau tahu saat-saat paling membahagiakan dalam hidupku?” Soo Jin menatap sendu Yo Han yang duduk di depannya. “Saat kau dan aku menjadi kita.” Yo Han memandang Soo Jin. Wanita itu kembali meneguk segelas wine di depannya. “Bukankah sekarang kau juga bahagia? Mimpimu menjadi model papan atas akhirnya terwujud, kau dapat popularitas, ketenaran dan kemewahan. Bukankah itu cukup membuatmu bahagia?” “Kau benar, harusnya aku merasa bahagia dengan semua itu, tapi ternyata semua itu tak terlalu membahagiakan. Kau tahu kenapa?” “Kenapa?” “Karena kau tidak ada di sisiku.” Soo Jin menarik napas, memberi jeda pada kalimatnya. “Setiap malam kembali menyapa, aku selalu kembali kesepian. Lalu bayangan masa lalu kita berputar di kepalaku, bukankah dulu kita sangat bahagia?” Bayangan kenangan hubungan mereka 7 tahun lalu seolah melintas di depan mata Yo Han. Mereka dulu terlihat sangat bahagia. 7 tahun lalu mereka hanya dua anak muda yang saling mencintai. Mereka hanya peduli satu sama lain. Karier, masa depan, impian, mereka tidak peduli. Dunia begitu indah di mata mereka. Yo Han ingat dulu ia selalu menggenggam tangan Soo Jin sambil menyusuri koridor kampus. Semua mata menatap iri ke arah mereka. Dia dan Soo Jin terkenal sebagai pasangan serasi di kampus. Semua orag memuji mereka, tapi semua kisah cinta romantis itu harus berakhir saat keduanya mulai menjadi serekah tentang karier dan masa depan mereka. Yo Han ingin fokus mengurus perusahaan bersama Yoo Rin dan Soo Jin ingin pergi ke Paris, mengejar mimpinya menjadi model di sana. Berpisah adalah keputusan mereka berdua saat itu. Mereka sepakat untuk mengakhiri segalanya di antara mereka dan tak pernah bertemu lagi. Mereka ingin fokus pada karier dan impian mereka. Sejak berpisah dengan Soo Jin tak pernah sekalipun Yo Han melupakan wanita itu. Meski sepakat untuk berpisah dan tidak saling menghubungi, Yo Han masih mencintai wanita itu. Baginya Soo Jin adalah satu-satunya wanita dalam hidupnya. Yo Han sangat mencintai Soo Jin, dia merelakan hubungannya agar mereka bisa meraih karier yang mereka impikan. Dulu Yo Han pernah berjanji pada dirinya jika sudah sukses dia akan kembali mencari Soo Jin dan memperjuangkan cintanya. Tapi semuanya berubah saat dirinya bertemu mendiang ayah Bitna. Sejak saat itu Soo Jin bukanlah prioritas dalam hidupnya. Semua digantikan oleh Bitna, putri mendiang sahabat ayahnya. “Aku selalu berharap bisa bertemu dengamu lagi, tapi pertemuan yang aku harapkan malah berakhir menyakitkan. Ternyata kau sudah menikah.” Soo Jin tertawa, tawa yang terdengar menyedihkan membuat Yo Han yang mendengarnya merasa bersalah karena membuat wanita itu patah hati. “Kau ingat kisah legenda dari Sebria yang aku ceritakan saat kita melintas di atas jembatan di Sungai Seine? Bukankah kisah itu mirip dengan yang terjadi padaku, kekasihku pergi dan akhirnya menikah dengan wanita lain. Bagaimana jika akhirnya aku berakhir seperti Nada? Mati karena hatinya hancur?” “Maaf,” lirih Yo Han. “Untuk?” “Karena telah membuatmu patah hati.” Soo Jin tergelak. Dirinya pasti terlihat sangat menyedihkan di depan Yo Han. “Apa aku tampak menyedihkkan?” “Tidak.” “Lalu kenapa kau meminta maaf? Hubungan kita sudah berakhir 7 tahun lalu seperti katamu, semuanya sudah berakhir saat itu. Jika sekarang kau menikah dengan wanita lain, bukankah itu hakmu? Membuatku patah hati? 7 tahun lalu yang namanya cinta di antara kita bukankah sudah menghilang? Hanya aku yang masih menyimpan rasa sedangkan kau tidak.” “Kau salah.” Yo Han menari napas sebelum melanjutkan perkataannya. “Perasaan itu sebenarnya masih ada dalam hatiku, tapi karena keadaan yang sudah berubah perasaan itu harus aku relakan.” “Apa kau mencintai Bitna?” Yo Han terdiam lalu memalingkan wajah menatap pemandangan dari atas rooftop. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Soo Jin itu. Dia tidak mencintai Bitna begitu pula sebaliknya. Mereka menikah karena kesepakatan. “Kau tak mencintainya?” Soo Jin tertegun menatap Yo Han. Jika pria itu tak mencintai Bitna, kenapa menikahinya? “Kalian dijodohkan?” Soo Jin tahu Yo Han berasal dari keluarga kaya. Perusahaan kosmetik yang pria itu kelola bersama kakaknya adalah salah satu yang terbesar di Korea Selatan. Kalian tahu para konglomerat hobi menjodohkan anak-anak mereka, mungkin saja itu yang terjadi pada Yo Han. “Jika tak mencintai Bitna, kenapa kau menikahinya?” “Alasan aku menikahi Bitna tak perlu aku memberitahumu.” Soo Jin mengangguk mengerti. Alasan kenapa Yo Han menikahi Bitna itu tak penting, yang terpenting dia tahu jika pria itu masih mencintainya. “Pembicaraan kita harus berhenti di sini.” “Kau takut Bitna akan curiga karena kau pergi terlalu lama?” Yo Han diam tak menjawab. Pria itu bangkit dari kursi, lalu menatap Soo Jin. “Seperti katamu tadi, aku menganggap ini adalah perpisahan kita. Semua yang aku katakan tadi dan yang kau katakan tak akan mengubah apa pun.” Soo Jin menarik sebelah sudut bibirnya. “Kau tak cinta, tapi kau sangat menjaga perasaan gadis itu. Aku jadi merasa iri.” “Baiklah ayo pulang.” Soo Jin terhuyung saat mencoba berdiri. Sepertinya wanita mabuk. Beruntung Yo Han segera memegang lengannya sebelum Soo Jin jatuh. “Kau tak apa-apa? Kau minum berapa banyak sebelum aku datang?” “Mungkin 3 gelas?” Soo Jin menghitung dengan jarinya. Dia sendiri tidak ingat berapa banyak wine yang dia minum. Yo Han menghela napas. Soo Jin tak pernah berubah. Setiap kali suasana hatinya tak bagus atau dia merasa sedih wanita itu pasti akan melampiaskannya dengan minum alkohol. Soo Jin bilang minuman itu bisa membantunya menghilangkan rasa sedihnya. Dulu dia sering mengomeli wanita itu karena kebiasaannya ini. Akhirnya Yo Han memegang lengan Soo Jin membatunya berjalan menuruni tangga. Sampai di depan bar, Yo Han berniat mencarikan taksi untuk Soo Jin. Tapi jalanan malam itu terlihat sepi, tidak seperti biasanya. Tak banyak kendaraan yang berlalu-lalang di depan mereka. “Kenapa sulit sekali mencari taksi,” gumam Yo Han karena tak menemukan taksi yang melintas di depan mereka. “Nam Yo Han,” panggil Soo Jin. “Ya?” Yo Han menoleh menatap Soo Jin. Mereka saling berpandangan selama beberapa detik. Yo Han merasa tubuhnya berdesir. Setiap kali ia menatap manik mata Soo Jin, wanita itu selalu bisa membuat jantungnya berdegup kencang. Pandangan mata Yo Han beralih pada bibir merah Soo Jin. Lipstik merah yang wanita itu kenakan membuat Yo Han ingin mencicipi bibir mungil itu. Yo Han menelan ludah perlahan. Lalu memejamkan mata, agar pikiran-pikiran tentang Soo Jin menghilang dari kepalanya. Pria itu kembali membuka matanya. Cup Soo Jin mengecupnya. Yo Han terperanjat karena Soo Jin menciumnya. Jantungnya kembali maraton. Kali ini berdegup lebih kencang dari pada tadi. Setelah mengecup bibirnya singkat, kali ini Soo Jin mulai melumat bibirnya perlahan. “Lee Soo Jin!!!” Yo Han mendorong tubuh wanita itu menjauh. Yang dilakukan Soo Jin adalah kesalahan. Mereka tak seharusnya melakukan hal itu. Soo Jin menatap nanar kedua mata Yo Han. “Kenapa? Aku hanya menciummu? Kau takut tak bisa mengendalikan diri? Aku tahu kau berdebar-debar, jadi berhenti menyangkal perasaanmu! Kau juga masih mencintaiku!” “Aku sudah menikah!” Suara Yo Han meninggi. “Aku harap kau bisa mengerti, kau juga bisa mencari laki-laki lain dan hidup bahagia, tapi tidak denganku.” “Tidak, jika bukan bersamamu aku tidak akan bahagia.” Soo Jin meraih tangan Yo Han lalu menggenggamnya. “Kau masih mencintaiku, kan? Aku tahu itu. Aku tidak peduli kau sudah menikah atau apa pun itu, saling mencintai bersamamu itu saja sudah cukup.” Yo Han mengusap wajahnya. Bertemu Soo Jin malam ini adalah kesalahan. Harusnya tadi ia abaikan saja pesan wanita itu. Melihat Soo Jin seperti membuat hatinya bimbang. Dia memang masih mencintai Soo Jin, tapi dia sudah bersama Bitna. Meskipun pernikahan mereka hanya sebuah kontrak di atas kertas, tapi banyak hal yang sudah Yo Han lakukan agar gadis itu mau menikah dengannya. Termasuk mengatakan bahwa dirinya adalah seorang gay. “Yo Han-ah, coba lihat aku.” Yo Han menarik napas lalu menatap Soo Jin, sekali lagi tatapan mata wanita itu selalu bisa menggetarkan hatinya. Tidak bisa Yo Han ungkiri bahwa Soo Jin masih ada di hatinya sampai sekarang. “Dengan bersamamu saja sudah cukup bagiku,” lirih Soo Jin. Suara wanita itu terdengar putus asa. Soo Jin memang sangat mencintai Yo Han. Selama 7 tahun terakhir ia tak pernah berkencan dengan pria lain, walau banyak model, artis dan pengusaha yang mendekatinya. Soo Jin tetap menjaga hatinya untuk Yo Han, karena dia percaya Yo Han akan kembali ke sisinya. “Tapi di sisiku sudah ada Bitna.” “Aku tak peduli, bersamamu sudah cukup.” Yo Han memandang Soo Jin, mereka bertatapan cukup lama. Saling mencari jawaban dari sorot mata masing-masing. Yo Han lalu mendekatkan wajahnya. Bisa Yo Han rasakan embusan napas Soo Jin menerpa kulit wajahnya. Ia juga bisa mencium aroma parfum dari tubuh wanita itu. Aroma mawar Grasse dan Damascus, aroma yang manis dan segar. Membuat siapa saja yang menghirupnya akan tergila-gila, seperti dirinya. Semakin mendekat pada wanita itu, membuat Yo Han kehilangan akal sehatnya. Dia sudah tak peduli lagi bahwa dia telah menikah dengan Bitna. Di kepalanya saat ini hanya berputar kata-kata bahwa dirinya masih mencintai Soo Jin. Yo Han akhirnya mencium Soo Jin, seperti yang wanita itu lakukan beberapa saat lalu. Bibir merah merona milik Soo Jin sukses membuat Yo Han kehilangan akal. Ia mulai melumat bibir mungil milik Soo Jin, wanita itu juga membalas ciumannya. Mereka berdua berciuman dengan intens di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. Melepaskan semua rasa rindu yang selama bertahun-tahun terpendam. Yo Han akhirnya kalah. Rasa cintanya pada Soo Jin jauh lebih besar dari akal sehatnya. Ternyata cinta memang bisa membuat seseorang kehilangan akal seperti Yo Han. Dia sudah menikah, tapi dia juga mencintai wanita lain. Meski sudah berusaha, Yo Han akhirnya tak bisa kehilangan wanita itu. Soo Jin wanita yang sangat dia cintai. Kim Bitna maafkan aku. Maaf atas semua kebohongan yang aku lakukan, semoga kau tak pernah tahu yang sebenarnya sampai kita berpisah nantinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD