Bitna segera berlalu menuju kamarnya begitu dia dan Yo Han sampai di apartemen mereka. Rasanya Bitna sudah sangat merindukan tempat itu padahal mereka hanya meninggalkannya sehari kemarin.
Kenapa Bitna sangat merindukan apartemen Yo Han? Karena hanya di sinilah mereka tidak perlu berpura-pura bersikap selayaknya pasangan. Tidak ada orang lain selain mereka berdua di sini, jadi dia bisa bersikap bebas.
Yo Han menggelengkan kepalanya melihat Bitna berlari kecil menuju kamarnya. Bitna tampak seperti anak kecil yang tidak pulang ke rumah selama berminggu-minggu. Tak lagi peduli dengan Bitna, Yo Han memilih pergi ke dapur lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas dan membawanya ke ruang TV.
Yo Han menyandarkan punggungnya ke sofa lalu meneguk air mineral yang dia bawa tadi. Setelahnya pria itu tampak sibuk dengan ponselnya. Karena acara pernikahannya kemarin, Yo Han tidak sempat mengecek ponselnya sama sekali.
Ada banyak notifikasi masuk di sana. Kebanyakan adalah pesan dari Seung Min yang memberitahukan jadwal pekerjaannya serta mengirim beberapa file tentang pekerjaan. Yo Han menghela napas. Dia baru saja menikah kemarin, tapi sudah dihadapkan oleh pekerjaan yang menumpuk hari ini.
Atensi Yo Han berubah dari menatap ponselnya lalu menatap Bitna yang tiba-tiba keluar dari kamar sambil membawa selembar kertas dan juga pulpen. Apa yang gadis itu akan lalukan?
“Ayo kita buat peraturan!” ucap Bitna setelah duduk di sofa berhadapan dengan Yo Han.
Yo Han mengerutkan dahinya. “Peraturan?”
Bitna mengangguk. Mereka butuh peraturan di rumah itu. Tinggal bersama dengan orang lain tentu mereka membutuhkan peraturan untuk menjaga kenyamanan bersama—meskipun sekarang status mereka adalah suami istri.
“Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan menjaga semua tetap aman dan nyaman.”
Yo Han menyandarkan kepalanya lalu tertawa. “Kau masih takut aku akan melakukan sesuatu padamu?”
“Tentu! Di dunia ini tidak ada mulut laki-laki yang bisa dipercaya!”
“Wah.... Konyol sekali! Memangnya ada berapa banyak laki-laki yang kau kenal sampai mengatakan tidak ada mulut laki-laki yang bisa dipercaya? Aku tahu selama ini kau tak punya kenalan atau teman laki-laki.”
Bitna mendecih. Dia memang tak punya kenalan laki-laki—sekarang dia punya yaitu Yo Han dan Seung Min. Tapi bukankah ucapannya tadi benar? Di dunia ini ucapan laki-laki itu tidak bisa dipercaya.
“Pokoknya kita harus buat peraturan!” tegas Bitna. Demi keamanan dan kenyamanan bersama mereka membutuhkan aturan.
“Baiklah, jadi aturan apa yang ingin kau buat?”
Mendengar Yo Han setuju tentang membuat aturan, Bitna menyengir kegirangan. Selanjutnya gadis itu tampak sibuk menuliskan sesuatu ke atas kertas yang dia bawa tadi.
Yo Han menatap lekat-lekat Bitna yang sedang menulis. Gadis itu tampak sangat serius, ekspresinya mirip seseorang yang sedang mengerjakan sebuah ujian tertulis.
“Oke, selesai,” ucap Bitna setelah selesai menulis. Gadis itu kemudian menyerahkan selembar kertas tadi pada Yo Han.
Yo Han meraih kertas itu dan membacanya.
Peraturan Hidup Bersama Kim Bitna dan Nam Yo Han.
1. Hanya melakukan skinship (dalam batas yang ditentukan) di depan orang tua, kerabat.
2. Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing.
3. Dilarang masuk ke kamar orang lain tanpa izin.
4. Dilarang minum alkohol di rumah dan dilarang pulang dalam keadaan mabuk.
5. Usahakan berpakaian tertutup saat di dalam rumah.
Tawa Yo Han hampir saja pecah saat membaca peraturan-peraturan yang dibuat Bitna. Skinship, alkohol, lalu pakaian tertutup, menurutnya peraturan yang dibuat Bitna sangat konyol.
“Skinship? Kau takut aku berbuat sesuatu padamu? Bukankah kemarin aku sudah berjanji tidak akan mengulangi keusilanku lagi,” kata Yo Han.
Bitna mengangguk, Yo Han memang sudah berjanji padanya untuk tidak mengusilinya lagi seperti kemarin. Tapi kembali ke pernyataan Bitna sebelumnya, bahwa ucapan laki-laki itu tidak bisa di percaya.
“Lalu alkohol, kau melarang aku minum alkohol di rumahku sendiri?”
Yo Han menghela napas tak percaya. Bagaimana bisa dia dilarang minum alkohol di rumahnya sendiri, tempat di mana dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan.
“Ini rumahku, jadi aku bebas melakukan apa pun yang aku mau di sini. Minum alkohol? Jika aku mau, sekarang aku bisa membeli satu truk penuh berisi alkohol dan membawanya—”
“Tidak peduli ini rumahmu atau bukan, kita harus mengantisipasi agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan,” sela Bitna. Dalam keadaan mabuk seseorang bisa saja kehilangan kesadarannya dan itu bisa membuat orang tersebut melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Bitna ingin mencegah hal itu terjadi padanya dan Yo Han.
Yo Han memijit sebelah dahinya. Dia masih tidak bisa menerima peraturan yang dibuat Bitna. Oke untuk larangan skinship, dia menyetujui itu dan untuk berpakaian sopan di rumah dia masih bisa menerimanya. Tapi alkohol, rasanya sangat tidak masuk akal dia dilarang minum di rumahnya sendiri.
“Coba pikirkan, saat mabuk kau bisa saja kehilangan kesadaran dan tidak bisa mengontrol tindakanmu. Lalu bagaimana jika kau mabuk dan kau melakukan hal-hal yang tidak boleh kau lakukan?”
“Contohnya?”
“Kau tahu jelas apa yang aku maksud,” ucap Bitna. Tidak mungkin Yo Han tidak tahu apa maksud perkataannya. Yo Han bukanlah pria bodoh.
Yo Han mendengus. Melihat betapa gigihnya Bitna, gadis itu pasti tidak akan mau mengubah peraturan yang ditulisnya.
“Oke, aku setuju dengan peraturan yang kau buat, tapi biarkan aku menambahkan peraturan baru ke dalamnya,” kata Yo Han.
Bitna mengangguk setuju. Selama peraturan yang dibuat Yo Han masuk akal, dia tidak masalah.
Yo Han kemudian menuliskan peraturan tambahan di bawah tulisan Bitna. Setelah selesai Yo Han menyerahkan selembar kertas itu pada Bitna agar gadis itu membacanya.
6. Jam malam untuk Kim Bitna adalah pukul 10 malam.
7. Wajib mengenakan cincin pernikahan kapan pun dan di mana pun (Termasuk saat kuliah)
8. Dilarang menjalin kedekatan dengan mahasiswa laki-laki.
Bitna membaca peraturan tambahan yang di tulis Yo Han. Tiga peraturan tambahan itu sama sekali tak menyulitkannya.
“Bagaimana kau setuju?” tanya Yo Han.
“Ya ini tidak masalah,” jawab Bitna yakin.
“Kau yakin?”
“Ya.”
“Oke, kalau begitu peraturan ini kita mulai hari ini.”
***
Bitna dan Yo Han duduk berhadapan di ruang makan. Mereka sedang sarapan bersama. Setelah seminggu menjalani kehidupan sebagai pasangan ‘suami istri’ sejauh ini mereka masih baik-baik saja. Tentu itu karena benar-benar menaati peraturan yang mereka buat beberapa hari lalu.
Setidaknya sampai hari ini mereka masih terlihat akur.
“Kapan kau mulai masuk kuliah?” tanya Yo Han memulai percakapan.
“Bulan depan,” jawab Bitna lalu menggigit sepotong roti yang baru saja dia olesi dengan selai cokelat.
“Kau ingat peraturan kita untuk tetap memakai cincin pernikahan saat kau kuliah.”
Bitna menganggukkan kepalanya. Tentu dia ingat, dia masih muda dan memiliki ingatan yang bagus.
“Dan satu lagi, jangan berusaha menjalin hubungan dengan mahasiswa laki-laki.”
Bitna mendongak menatap Yo Han. Apa pria itu berpikir bahwa dirinya akan menggoda para mahasiswa laki-laki di sana?
“Ingat, kau sudah bersuami walaupun kenyataannya ini hanya status saja, tapi tetap kau harus menjaga sikapmu!”
Bitna meletakkan sepotong roti yang baru saja di gigitnya ke atas meja lalu menatap Yo Han.
“Kau pikir aku akan tebar pesona dan menggoda laki-laki saat kuliah?” tanya Bitna tidak percaya.
“Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, mungkin saja kau juga akan jatuh cinta ada laki-laki lain nantinya.”
“Wah....” Bitna memutar bola mata. Dia tak percaya Yo Han punya pemikiran seperti itu.
Meskipun Bitna menikah dengan Yo Han tanpa cinta, tapi dia tahu jika statusnya sekarang adalah sebagai seorang istri. Dia tidak mungkin bersikap seperti apa yang Yo Han katakan.
“Apa kau setakut itu aku akan menyukai pria lain?” tanya Bitna.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Pikirkan tentang pandangan orang-orang dan bagaimana jika orang tuaku tahu saat kau dekat dengan pria lain.”
“Aku tidak akan pernah melakukannya, tebar pesona? Mendekati mahasiswa laki-laki? Itu tidak akan terjadi. Jadi, jangan khawatir,” tegas Bitna.
“Baguslah kalau kau mengerti.”
Bitna mendecih. Baru seminggu mereka menikah, tapi Yo Han sudah terlihat sangat menyebalkan.
“Oh ya, jangan lupa letakkan beberapa barangmu di kamarku.”
Bitna mengangguk malas.
Sejak kemarin Yo Han terus menyuruhnya untuk menaruh barang-barangnya di kamar pria itu. Alasannya agar sewaktu-waktu saat Seung Ah berkunjung, wanita itu tidak tahu jika mereka berdua tidur di kamar terpisah. Jika Seung Ah tahu mereka masih tidur di kamar yang berbeda, wanita paruh baya itu pasti akan merasa curiga. Lalu mungkin saja kebohongan mereka akan terbongkar. Yo Han tidak mau hal itu terjadi. Jadi dia akan membuat dirinya dan Bitna seolah-olah memang tidur di kamar yang sama.
***
Karena bosan terus berada di rumah sendirian, Bitna berencana menemui Minah hari ini. Terakhir kali mereka bertemu yaitu saat pernikahan Bitna, dan itu hampir sebulan yang lalu.
Setelah melewati pintu masuk, Bitna langsung melambaikan tangannya saat melihat Minah berdiri di balik meja counter.
Melihat Bitna, Minah balas melambaikan tangan sambil tersenyum.
“Eonni, apa kabar?” tanya Minah saat Bitna sudah berdiri di depan meja counter.
“Kabarku baik, lalu kau? Apa semua baik-baik saja di sini?”
“Yah.... Beberapa hal masih baik-baik saja, tapi—” Minah melirik beberapa pegawai yang tampak berbisik sejak Bitna masuk ke dalam Cafe.
Bitna mengikuti arah pandangan Minah, dia mengerti apa maksud gadis itu.
“Jangan pedulikan mereka,” ucap Bitna. Dia tahu betul mereka pasti bergunjing tentang dirinya yang tiba-tiba saja menikah dengan orang kaya.
Dia sudah biasa jadi bahan gunjingan pegawai di sana, jadi dia sudah tidak terlalu peduli. Lagi pula meladeni mereka hanya akan membuang tenaganya sia-sia.
“Eonni, kau akan mulai masuk kuliah bulan depan kan? Senangnya bisa melihatmu di kampus,” kata Minah sambil tersenyum riang membuat Bitna menatap gemas ke arah gadis itu.
Bitna sendiri tidak tahu kenapa Minah sangat menyukainya. Padahal dulu saat pertama kali bertemu Bitna selalu bersikap dingin pada Minah. Tapi Minah terus mendekat seperti anak anjing yang ingin dipelihara.
“Eonni, kau mau pesan apa? Kali ini aku yang akan mentraktirmu.”
“Benarkah?”
Minah mengangguk semangat. “Hitung-hitung sebagai ucapan selamat karena akhirnya kau di terima di universitas.”
“Baiklah kalau begitu aku pesan....” Bitna membaca daftar menu yang tergantung di dinding. Jika diingat-ingat, meski dia pernah bekerja di Cafe itu Bitna belum pernah mencoba semua menu minuman di sana. Biasanya minuman yang paling sering di pesan Bitna adalah americano.
“Caramel macchiatto,” kata Bitna setelah memutuskan apa minuman yang ingin pesannya.
“Eonni kau duduk saja, aku akan mengantarkan minumanmu nanti.”
Bitna kemudian berjalan menuju tempat duduk yang kosong. Pilihannya jatuh pada meja di sudut ruangan. Tempat di mana Yo Han selalu duduk setiap kali datang ke Cafe itu.
Setelah menjatuhkan pantatnya ke kursi Bitna akhirnya tahu alasan kenapa pria itu selalu duduk di sana. Dari sana Bitna bisa melihat dengan jelas Minah yang sibuk meracik minuman. Mungkin saja Yo Han duduk di sana sambil mengamatinya juga.
Tiba-tiba saja Bitna merasa penasaran. Kira-kira apa yang di pikirkan Yo Han saat duduk di sana sambil mengamatinya. Mungkin pria itu sedang memikirkan cara untuk meyakinkan dirinya agar mau menikah dengannya.
Sesaat kemudian Bitna menggelengkan kepalanya. Dia pasti sudah gila karena tiba-tiba merasa penasaran pada Yo Han.