“Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?” bisik Yo Han di telinga Bitna, membuat tubuh gadis itu berdesir hebat.
Bitna menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya. Ia juga memejamkan matanya. Bitna melakukan segala hal yang bisa dia lakukan untuk mencegah apa pun terjadi di antara dia dan Yo Han malam ini.
Tapi setelah beberapa saat Bitna merasa ada yang aneh. Jika sebelumnya dia bisa merasakan dengan jelas embusan napas Yo Han menerpa kulitnya, sekarang dia tidak merasakan apa pun. Bitna malah mendengar seseorang sedang tertawa di depannya.
Perlahan Bitna membuka matanya, dan benar Yo Han sendang tertawa terbahak-bahak sekarang. Rupanya pria itu kembali mengerjainya.
“Kau pikir aku benar-benar akan ‘melakukannya’ denganmu?” tanya Yo Ha di sela tawanya.
Bitna mengepalkan kedua tangannya karena kesal. Sungguh amarahnya sekarang sudah berasa di ubun-ubun dan siap untuk meledak. Tapi yang terjadi selanjutnya adalah Bitna jatuh terduduk di lantai dan mulai terisak.
Yo Han yang melihatnya menjadi panik.
“Hei, ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menangis?” tanya Yo Han panik.
Bukannya menjawab pertanyaan Yo Han, Bitna justru semakin terisak. Dia merasa kesal dan marah karena ulah Yo Han. Perbuatan Yo Han tadi sama sekali tidak lucu bagi Bitna. Apa sebegitu menyenangkan melihatnya ketakutan seperti tadi?
“Hei, Kim Bitna? Ada apa denganmu? Katakan sesuatu?” Yo Han kembali bertanya sambil menyentuh lengan gadis itu namun dengan cepat tangannya di tepis oleh Bitna.
Bitna benar-benar marah padanya kali ini.
“Apa menurutmu lucu?” tanya Bitna di sela tangisannya. “Apa melihatku ketakutan seperti tadi itu lucu bagimu???”
Yo Han terdiam tak bisa membalas perkataan Bitna. Sepertinya kali ini dia benar-benar keterlaluan.
“Kau tahu betapa takutnya aku tadi saat kau mendekat? Tidak peduli kau seorang gay atau kita sudah menikah bukankah kau harusnya tetap menghormatiku sebagai seorang wanita?”
Melihat Bitna semarah ini membuat Yo Han semakin merasa bersalah. Dia sadar apa yang dia lakukan tadi sangat keterlaluan. Harusnya dia sadar, bahwa dia juga harus menghormati Bitna sebagai seorang wanita meskipun mereka telah resmi menikah. Walaupun Yo Han memang tidak berniat ‘melakukannya’ dengan Bitna, seharusnya dia tidak menggoda gadis itu seperti tadi. Jika dia berada di posisi Bitna, dia pasti juga akan sangat ketakutan.
“Aku sungguh-sungguh minta maaf, aku sudah sangat keterlaluan tadi,” ucap Yo Han dengan tulus menyesali perbuatannya.
Bitna tak menghiraukan permintaan maaf Yo Han. Gadis itu masih terisak dengan posisi yang sama seperti tadi.
“Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, sungguh kali ini aku benar-benar serius dengan ucapanku,” kata Yo Han berusaha meyakinkan Bitna.
Setelah beberapa detik berlalu akhirnya Bitna berhenti menangis.
“Jika kau melakukannya lagi, aku akan membunuhmu,” ucap gadis itu.
“Baik, jika aku melakukannya lagi kau bisa membunuhku. Sekarang berdirilah, apa kau tak mau mandi?”
Bitna mendelik menatap Yo Han. Bukankah pria itu baru saja berjanji tak akan menggodanya lagi.
“Maksudku, apa kau tak mau membersihkan diri dan berganti pakaian? Pasti rasanya tidak nyaman mengenakan gaun itu selama berjam-jam,” jelas Yo Han sebelum Bitna salah paham padanya.
“Tidak ada pakaian di lemari.”
Yo Han kembali melirik lingerie yang tergeletak di atas lantai lalu menghela napas. Sang ibu sepertinya benar-benar berharap terjadi ‘malam yang panas’ malam ini.
“Aku akan meminta Seung Min mengantarkan pakaian untukmu.”
Yo Han duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Pria itu sudah berpakaian lengkap dengan mengenakan piama berwarna navy. Sementara Bitna sedang mandi.
Mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi membuat Yo Han tiba-tiba saja merasa gelisah. Sial, pasti ini yang dirasakan Bitna tadi. Pria itu kemudian menangkupkan wajahnya ke kedua telapak tangannya lalu menghela napas kasar. Dia jadi semakin menyesal setelah menggoda Bitna tadi setelah tahu apa yang mungkin dirasakan oleh gadis itu saat dirinya mandi tadi.
Yo Han melirik pintu kamar mandi dan menelan ludah perlahan. Dia tidak bisa terus berada di ruangan ini. Jika tidak mungkin Yo Han akan kehilangan akal.
Pria itu lantas berdiri lalu meraih mantel berwarna hitam yang tergantung di dekat lemari. Setelah itu Yo Han pergi keluar kamar. Dia butuh udara segar untuk menyadarkan dirinya.
Bitna keluar dari kamar mandi dengan piama yang dibawakan Seung Min. Gadis itu tampak lucu mengenakan piama berlengan panjang dengan motif beruang.
Mendapati kamar itu tiba-tiba kosong membuat Bitna mengerutkan dahinya. Di mana Yo Han?
Meski sempat bingung tapi itu tak berlangsung lama, selanjutnya Bitna tak peduli ke mana suaminya pergi. Mungkin saja Yo Han saat ini sedang menyesali perbuatannya tadi.
Gadis itu kemudian berjalan menuju nakas di samping tempat tidur dan mengambil ponselnya yang tergeletak di sana. Saat Bitna menyalakan ponselnya terlihat ada satu notifikasi pesan masuk di layar ponsel dan itu adalah pesan dari Yo Han.
Yo Han : Aku pergi ke luar untuk mencari udara segar.
Setelah membaca pesan Yo Han itu Bitna melempar ponselnya ke atas ranjang. Dia tidak peduli Yo Han pergi ke mana.
Mencari udara segar? Di musim dingin seperti ini? Apa pria itu ingin membeku di luar sana? Itu adalah hal yang terlintas di kepala Bitna sekarang.
***
Yo Han duduk berdua bersama Seung Min di bar yang terdapat dalam hotel itu. Yo Han menatap kosong gelas minuman di depannya sambil menghela napas entah untuk yang ke berapa kali. Bahkan Seung Min yang duduk di samping merasa dadanya seakan dilubangi karena mendengar Yo Han terus menghela napas sejak tadi.
“Sajangnim, apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Seung Min. Lebih baik dia mendengarkan cerita Yo Han daripada harus terus mendengar pria itu menghela napas seperti sekarang ini.
Yo Han kembali menghela napas, membuat Seung Min juga ikut menghela napas.
“Kau pikir semuanya akan baik-baik saja setelah ini?” tanya Yo Han.
“Maksud Anda tentang Kim Bitna?”
Yo Han mengangguk mengiyakan pertanyaan Seung Min.
“Dari yang terlihat sepertinya Bitna tidak akan sadar, dia itu benar-benar gadis yang polos.”
Yo Han mengangguk setuju dengan ucapan Seung Min. Bitna memang gadis yang polos.
“Kau tahu, aku tadi hampir saja kehilangan akal,” ucap Yo Han.
“Nde?” Seung Min menatap atasanya bingung. Dia tidak mengerti maksud Yo Han yang hampir kehilangan akal.
“Apa kau tetap bisa berpikir jernih saat hanya berdua bersama seorang wanita di dalam kamar hotel?”
Seung Min mengedipkan matanya beberapa kali. Karena dia laki-laki normal tentu mungkin dia akan kehilangan akalnya saat hanya berdua bersama wanita di dalam kamar hotel. Tapi untuk Yo Han? Bukankah pria itu seorang gay?
“Tapi sajangnim, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Hem.”
“Apa Anda benar-benar gay?”
Mendengar pertanyaan sekretarisnya, Yo Han segera mendelik menatap Seung Min. Sekretarisnya bertanya dengan suara yang cukup keras. Yo Han takut pengunjung bar yang lain akan mendengarnya.
“Apa kau mau mereka semua tahu kalau aku ini gay?” ucap Yo Han dengan berbisik.
Seung Min buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat dan minta maaf. Dia lupa kalau mereka sedang berada di tempat umum.
“Kalau kau tidak percaya, mau menginap bersamaku malam ini? Aku akan memesankan kamar untuk kita,” ucap Yo Han sambil mengedipkan sebelah matanya pada Seung Min hingga membuat pria itu hampir terjatuh dari kursi.
Bagaimana Seung Min tidak kaget setelah mendengar ucapan atasannya itu. Seung Min adalah pria normal, sangat normal. Dia masih menyukai wanita. Dan lagi melihat Yo Han yang baru saja berkedip padanya adalah hal yang sangat mengerikan. Di mata Seung Min, Yo Han adalah pria gagah dan sangat berwibawa tapi setelah melihat bagaimana Yo Han mengedip padanya tadi, Seung Min mulai mengubah pikirannya tentang Yo Han.
“Aku hanya bercanda,” ucap Yo Han yang kemudian meneguk minuman di depannya. “Aku harus kembali sebelum orang tuaku melihat aku ada di luar.”
Seung Min menatap punggung atasannya yang berjalan menjauh. Meskipun Yo Han bilang hanya bercanda, tapi tadi sungguh membuatnya terkejut. Dia bahkan takut Yo Han menyeretnya paksa ke dalam kamar.
***
Yo Han membuka perlahan pintu kamarnya. Dilihatnya Bitna sedang berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Melihat gadis itu mengenakan piama berwarna biru dengan motif beruang membuatnya ingin tertawa. Selera pakaian Seung Min ternyata sangat kekanak-kanakan.
“Sudah kembali?” tanya Bitna yang menyadari kedatangan Yo Han. Gadis itu lantas mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas tempat tidur.
“Hem,” sahut Yo Han. “Kau belum tidur?”
Bitna menggeleng. “Apa kita akan tidur berdua di sini?”
Bitna menunjuk tempat tidur, tempat dia duduk sekarang.
“Kau lihat ada tempat tidur lain di sini?”
Bitna menggeleng. Di dalam sana hanya ada satu tempat tidur. Apa mereka benar-benar akan tidur bersama di atas ranjang itu?
“Berhenti,” ucap Bitna saat Yo Han berjalan menuju tempat tidur.
“Ada apa lagi? Aku sangat mengantuk sekarang.”
“Tunggu, kita tidak boleh tidur di atas ranjang yang sama.”
Yo Han menghela napas. Sungguh dia sangat lelah dan mengantuk sekarang. Dia ingin cepat-cepat berbaring dan istirahat.
“Jika tidak di atas ranjang, kau mau aku tidur di mana?” tanya Yo Han menahan rasa kesalnya.
“Di sana.” Bitna menunjuk sofa berwarna krem di dalam kamar mereka.
Yo Han menatap sofa itu kemudian tertawa. “Kau menyuruhku tidur di sofa?”
Bitna mengangguk. Yo Han adalah seorang pria, bukankah dia harus mengalah pada wanita?
“Yang benar saja, aku tidak mau!” tolak Yo Han.
Seumur hidupnya dia tidak pernah tidur di sofa.
“Lalu jika bukan kau, siapa lagi?”
“Tentu saja dirimu! Seumur hidup aku belum pernah tidur di atas sofa.”
“Wah....” Bitna menatap Yo Han tak percaya. Bisa-bisanya pria itu menyuruhnya tidur di sofa. Apa dia tidak punya sopan santun pada seorang wanita?
“Jika kau mau mengatakan tentang menghormati wanita, aku tidak peduli,” kata Yo Han seolah bisa menebak isi pikiran Bitna. “Di saat seperti ini kenyamanan diri sendiri yang terpenting.”
Bitna menghela napas. Yo Han sangat keras kepala dan menyebalkan.
“Oke, kalau begitu mari kita berbuat adil.”
Yo Han mengerutkan dahinya menatap Bitna. “Adil?”
“Ayo bermain gunting batu kertas, yang kalah harus tidur di sofa, bagaimana?” usul Bitna. Jika tidak ada yang mau mengalah maka satu-satunya cara adalah lewat permainan gunting batu kertas.
“Oke, ayo!” seru Yo Han setuju dengan usulan Bitna.
Keduanya lalu bersiap untuk bermain gunting batu kertas.
“Gunting...”
“Batu...”
“Kertas...”
“Yessss!!!” ucap Bitna kegirangan. Dia berhasil mengalahkan Yo Han. Pria itu mengeluarkan kertas sedangkan dirinya mengeluarkan gunting.
Yo Han menatap tangannya, tidak mungkin dia kalah semudah ini.
“Tidak-tidak, kita harus bermain sebanyak tiga kali. Yang menang dua kali, dia yang berhak tidur di atas ranjang,” protes Yo Han. Dia tidak bisa menerima kekalahannya.
Bitna mendecih. Yo Han sangat kekanak-kanakan. “Oke kalau begitu hanya perlu bertanding dua kali lagi.”
“Oke!”
“Gunting...”
“Batu...”
“Kertas...”
“Wooo....!!!” Bitna kembali berteriak kegirangan. Sekali lagi dia berhasil mengalahkan Yo Han. Bitna mengeluarkan kertas, sementara Yo Han mengeluarkan batu.
Yo Han menatap tangannya yang mengepal. Dia baru saja kalah telak dari Bitna. Sungguh memalukan. Seumur hidupnya Yo Han tidak pernah kalah, apa lagi dikalahkan oleh wanita— kecuali Yoo Rin dan ibunya.
“Nam Yo Han-ssi selamat menikmati tidur di sofa, dan aku akan menikmati ranjang yang nyaman itu sendirian,” goda Bitna.
Yo Han menatap kesal Bitna yang sudah berbaring di atas ranjang.
“Nyamannya,” ucap Bitna kembali menggoda Yo Han.
“Sial,” kesal Yo Han.
Mau tidak mau dirinya harus tidur di sofa malam ini.