Bagian 13 - Wedding Day

1704 Words
Hari ini Bitna dan Yo Han akan melangsungkan pernikahan mereka. Kedua orang tua Yo Han berharap pernikahan mereka akan membawa kehangatan di pertengahan musim dingin ini. Mereka begitu bahagia menyambut Bitna yang hari ini akan resmi menjadi anggota keluarga baru mereka. Bitna duduk di dalam sebuah ruang tunggu ditemani oleh Seung Ah. Gadis itu tampak sangat anggun dengan gaun pernikahan pilihan Seung Ah. Riasan wajah yang simpel dan tidak berlebihan membuat gadis itu terlihat semakin cantik. Sambil memegang buket bunga mawar putih, jari-jari ramping Bitna terus bergerak karena gugup. Dalam waktu kurang dari satu jam ke depan dia akan resmi menjadi istri Yo Han. Bitna tahu hari ini pasti akan datang setelah dia setuju menikah dengan Yo Han. Tapi Bitna tidak tahu jika dia akan jadi segugup ini saat hari ini tiba. Pernikahannya dan Yo Han hanya sandiwara, harusnya dia tak perlu setegang ini. Bahkan karena terlalu gugup Bitna ingin sekali menggigit buku-buku jarinya sejak tadi, tapi Seung Ah melarangnya. Karena itu akan merusak riasan dan nail art di jari Bitna. “Ibu tahu kau gugup, dulu saat menikah dengan ayah Yo Han, ibu juga segugup ini sama sepertimu. Tapi setelah acara pemberkatan semua rasa gugupmu akan hilang, percayalah,” ucap Seung Ah berusaha menenangkan Bitna. Bitna tersenyum menatap mertuanya. Ada hal lain yang membuat Bitna lebih gugup dari pada mendapati orang-orang memandangnya saat berjalan menuju altar atau melewati acara pemberkatan nanti. Tapi satu adegan yang pasti semua pasangan pengantin lalukan setelah acara pemberkatan. Yaitu ciuman. Apakah dia dan Yo Han akan benar-benar berciuman hari ini? Membayangkannya saja sudah membuat Bitna bergidik ngeri. Bitna tak masalah berciuman dengan seorang pria asal dia memiliki perasaan untuk pria itu. Tapi ini Yo Han, pria yang bahkan tak Bitna cintai. Mereka menikah karena kesepakatan, dan pernikahan ini hanya sandiwara untuk menutupi kekurangan Yo Han. Tapi jika mereka tidak berciuman nanti orang-orang pasti akan menganggap mereka aneh. Sial, tak ada satu cara pun yang terlintas di pikiran Bitna untuk menghindari adegan ciuman nanti. Kriet.... Bitna dan Seung Ah menoleh bersamaan ke arah pintu. Senyum Bitna langsung mengembang saat melihat Minah masuk ke ruang tunggu. Gadis itu mengenakan dress berwarna pink berbahan ciffon. Minah tampil cantik untuk menghadiri pernikahan Bitna. “Eonni, kau cantik sekali,” puji Minah saat melihat Bitna. “Kau juga cantik sekali hari ini,” ucap Bitna balas memuji Minah. Minah kemudian menganggukkan kepalanya untuk memberi salam pada Seung Ah. Setelah itu ia kembali tersenyum menatap Bitna. “Apa kau gugup?” tanya Minah sambil menyentuh tangan Bitna. Tangan gadis itu terasa sangat dingin seperti es. Bitna mengangguk. Rasanya seperti akan maju ke barisan terdepan dalam sebuah medan perang. “Tak perlu khawatir, hari ini eonni adalah wanita tercantik. Calon suamimu pasti akan sangat terpukau melihat betapa cantiknya calon istrinya ini,” kata Minah berusaha menenangkan Bitna. Bitna tersenyum mendengar ucapan Minah. Semua orang memang memujinya cantik hari ini, tapi Bitna tidak yakin dengan Yo Han. Ingat dia itu seorang gay, mana mungkin Yo Han akan terpukau melihat penampilan seorang wanita. Tok... Tok... Tok... Bitna, Minah dan Seung Ah menoleh bersamaan ke arah pintu. Seorang staf wanita datang untuk memanggil Bitna. “Acaranya akan segera di mulai, pengantin wanita diminta untuk segera menuju aula pernikahan.” Bitna dibantu Seung Ah dan Minah bersama staf wanita tadi, berjalan menuju ballroom tempat pernikahannya akan dilaksanakan beberapa menit ke depan. Setelah ini aku hanya perlu hidup sebagai istri dari direktur KL Cosmetics dan tak akan ada penderitaan lagi yang aku alami Setelah ini aku hanya perlu hidup bahagia. *** Yo Han dan Bitna berdiri berhadapan di depan altar. Mereka baru saja mengikat janji suci pernikahan di depan para tamu undangan. Yo Han menatap Bitna yang saat ini telah menjadi istrinya. Gadis itu terlihat cantik, sangat cantik. Meskipun mengatakan dirinya adalah gay, tidak dipungkiri Yo Han bahwa dia juga bisa terpukau saat melihat seorang wanita berparas cantik, seperti Bitna. “Cium!” “Cium!” “Cium!” Bitna bisa mendengar dengan jelas teriakan para tamu undangan itu. Bahkan saat ini kepalanya dipenuhi dengan suara mereka yang memintanya dan Yo Han bercium. Bitna tahu mereka akan melakukan hal ini saat pernikahan, tapi dia tidak tahu jika rasanya akan menakutkan seperti ini. Yo Han menatap Bitna yang terlihat gugup. Di matanya gadis itu terlihat seperti anak anjing yang sedang ketakutan. Sungguh lucu melihat ekspresi Bitna saat ini, apa gadis itu tak pernah berciuman sebelumnya? Padahal itu hanya menempelkan bibir kan, hanya itu tidak lebih. Melihat Bitna yang masih diam dengan jari-jemari bergerak gugup, Yo Han berinisiatif menarik gadis itu mendekat padanya. Dan.... Cup... Yo Han mendaratkan bibirnya di atas bibir Bitna membuat gadis itu terkejut dengan apa yang dilakukan Yo Han. Tanpa memberinya aba-aba atau apa Yo Han justru langsung menciumnya. Membuat jantungnya sekarang serasa ingin melompat keluar dari tempatnya. Melihat pasangan pengantin itu berciuman, para tamu undangan kemudian bertepuk tangan riuh. Terlebih lagi Yong Bae dan Seung Ah yang terlihat sangat bahagia. Bahkan mereka sampai meneteskan air mata karena terlalu bahagia melihat Yo Han, putra mereka akhirnya menikah. Andai saja mereka tahu apa yang sebenarnya, apakah Yong Bae dan Seung Ah akan tetap sebahagia ini? *** Bitna menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Acara pernikahan tadi membuat kakinya serasa mau patah. Bayangkan Bitna harus berdiri selama 3 jam lebih, dan lagi dia harus berkeliling untuk menyapa para tamu. Dan selama itu dia menggunakan sepatu hak tinggi. Kau tahu, rasanya kaki Bitna seperti ditusuk-tusuk oleh puluhan jarum. “Aku akan mandi duluan,” ucap Yo Han setelah melepas jasnya dan melemparnya ke atas ranjang. Pria itu kemudian berlalu menuju kamar mandi. Bitna menelan ludahnya setelah Yo Han masuk ke dalam kamar mandi. Ia menatap ke sekitar kamar itu. Dia dan Yo Han akan tidur bersama di sini? Di dalam kamar itu hanya ada satu ranjang king size. Memang ranjang itu cukup luas untuk mereka tidur berdua. Tapi tidak mungkin mereka akan menggunakannya bersama. Ingat walaupun mereka telah resmi menikah, pernikahan ini hanya sandiwara. Semua ini terjadi hanya untuk menutupi kekurangan Yo Han dan membantu Bitna terbebas dari hutangnya. Bitna menyentuh bibirnya. Ia teringat bagaimana Yo Han dengan berani menciumnya tanpa aba-aba tadi. Jika pria itu bisa berani menciumnya seperti tadi, tidak menutup kemungkinan Yo Han bisa melakukan hal lain. Membayangkan ‘hal lain’ itu membuat Bitna takut. Gadis itu menatap ke arah pintu kamar. Terbesit pikiran untuk kabur di kepala Bitna. Tapi bagaimana jika orang tua Yo Han menangkapnya saat Bitna mencoba kabur. Kedua orang tua Yo Han juga ikut menginap di hotel itu. Kepala Bitna serasa berasap memikirkan kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya. Jika mereka adalah pasangan normal pada umumnya apa yang akan terjadi setelah ini adalah ‘malam yang panas’. Tapi mereka bukan pasangan normal yang menikah karena cinta. Yo Han adalah seorang gay, dan Bitna tak memiliki perasaan apa pun pada pria itu. Bitna melirik ke arah pintu kamar mandi. Samar-samar terdengar suara gemercik air dari dalam sana. Untuk suatu alasan yang konyol Bitna merasa jantung tiba-tiba berdebar-debar. Tunggu, ini bukan perasaan berdebar karena seseorang yang kau sukai. Tapi Bitna berdebar karena takut. Bitna bangkit berdiri dari sofa, dia sudah memutuskan untuk kabur. Lebih baik menyelamatkan diri sebelum hal yang tak diinginkan terjadi. Bitna bergegas menuju lemari pakaian di dalam kamar itu. Mertuanya bilang sudah menyiapkan pakaian ganti untuknya. Hal pertama yang Bitna akan lakukan adalah berganti pakaian. Tidak mungkin dia kabur dengan memakai gaun ini. Orang-orang pasti akan menganggapnya gila. Bitna membuka mulutnya lebar setelah melihat pakaian ganti yang telah disiapkan Seung Ah. Bitna mengambil pakaian itu dan menatapnya tak percaya. Itu adalah sebuah lingerie berbahan satin yang sangat tipis dan mini. Bitna segera melempar lingerie itu entah ke mana karena merasa jijik. Bitna kembali melihat ke dalam lemari. Di dalam sana tidak ada pakaian lagi selain lingerie tadi. Bitna memegang kepalanya, dia bisa gila jika terus seperti ini. Gadis itu kemudian menoleh ke arah kamar mandi setelah tak terdengar lagi suara gemercik air dari dalam sana. Itu artinya Yo Han sudah selesai mandi. Bitna menjadi semakin panik. Gadis itu kemudian bergegas berlari menuju pintu kamar, dia tidak peduli lagi jika memang harus kabur dengan masih memakai gaun itu. Yang terpenting adalah menyelamatkan diri. “Kau mau ke mana?” tanya Yo Han tepat saat Bitna hendak membuka pintu kamar mereka. Bitna perlahan berbalik menatap Yo Han. Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk kimono. Bitna menelan ludah saat melihat tubuh Yo Han hanya berbalut handuk kimono serta rambutnya yang basah. Oke, karena Bitna gadis normal wajar jika dia merasa penampilan Yo Han saat ini membuat pria itu terlihat seksi. “Kau mau kabur?” Pertanyaan Yo Han membawa kembali kesadaran Bitna. Tidak peduli betapa seksinya Yo Han saat ini, tapi pria itu tetaplah seorang gay. Apa yang aku pikirkan, rutuk Bitna dalam hatinya. Dia merutuki dirinya yang memiliki pikiran aneh hanya karena melihat penampilan Yo Han setelah mandi. Oh... Mungkin Bitna sudah gila. “Kau mau kabur?” tanya Yo Han sekali lagi. Kali ini pria itu berjalan mendekat ke arah Bitna membuat gadis itu menelan ludah karena takut. Yo Han melirik pintu lemari yang terbuka, ia juga melihat lingerie yang tergeletak di atas lantai. Yo Han tahu ibunya yang menyiapkan pakaian itu untuk Bitna. Pria itu kemudian kembali menatap Bitna yang saat ini terlihat ketakutan. Melihat Bitna yang ketakutan, tidak membuat Yo Han berhenti. Pria itu justru semakin mendekat ke arah Bitna sambil menyeringai. “Jangan mendekat,” kata Bitna memberi peringatan. Yo Han tidak peduli dengan peringatan yang Bitna berikan. Sebuah ide terlintas begitu saja saat melihat Bitna yang seperti anak anjing menempel di dekat pintu. “Bagaimana bisa kau mencoba kabur di malam pertama kita?” Kali ini Yo Han berada tepat di depan Bitna. Sebelah tangannya kemudian terulur menempel pada pintu di belakang Bitna. Membuat Bitna terpojok dan tidak bisa kabur. Melihat Yo Han yang saat ini begitu dekat dengannya membuat jantung gadis itu berdebar hebat. Bahkan seolah-olah akan melompat keluar. Bitna bisa mencium aroma sabun dari tubuh Yo Han. Aroma maskulin yang bisa membuat wanita gila karena menghirupnya. Tapi tidak untuk Bitna. Setidaknya Bitna masih memiliki kesadaran sepenuhnya dan berusaha kabur dari Yo Han. “Bisa kau menyingkir,” ucap Bitna dengan susah payah karena napasnya tiba-tiba terasa tersengal-sengal. “Bagaimana kalau kita ‘melakukannya’?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD