Bagian 12 - Calon Suami?!

1839 Words
Bitna melebarkan matanya menatap pria yang saat ini berdiri di depan gerbang universitas. Pria itu adalah Yo Han, tapi untuk apa dia datang ke sana? Yo Han berjalan mendekat menghampiri Bitna dan Minah. “Tesnya sudah selesai?” tanya Yo Han saat sampai di hadapan Bitna. Bukannya menjawab pertanyaan Yo Han, Bitna malah menanyakan kenapa pria itu bisa ada di sana. “Apa yang kau lakukan di sini?” “Apa lagi? Tentu untuk menjemputmu.” Bitna mengerutkan dahinya. “Menjemputku?” “Iya sekalian mengajakmu makan siang, ada hal yang ingin aku bicarakan,” jelas Yo Han. “Eonni, dia siapa?” bisik Minah pada Bitna. Mendengar bisikan Minah, Yo Han kemudian mengulurkan tangannya pada gadis itu untuk berkenalan. “Namaku Kang Minah.” “Kenalkan, aku Nam Yo Han calon suami Bitna.” Setelah menjabat tangan Yo Han, Minah buru-buru menarik tangannya untuk menutup mulutnya karena terkejut. Bukan hanya Minah yang terkejut mendengar ucapan Yo Han, tapi Bitna juga. Bahkan karena terlalu terkejut ia sampai melongo menatap Yo Han. “Eonni, kau akan menikah?” tanya Minah tak percaya. “Iya, akhir bulan ini,” jawab Bitna sambil tersenyum canggung. Ia merasa tak enak karena tak memberitahu Minah lebih awal tentang pernikahannya. Rencananya Bitna akan memberitahu Minah sekalian saat memberikan undangan pernikahan, tapi karena Yo Han rencananya jadi berantakan. “Kau belum memberitahunya kalau kita akan menikah?” tanya Yo Han yang langsung direspons dengan tatapan tajam oleh Bitna. “Maaf aku tidak memberitahumu lebih awal, ada banyak hal terjadi akhir-akhir ini,” ucap Bitna. Minah menggeleng cepat. Dia tak masalah meskipun Bitna tidak memberitahunya, hanya saja dia merasa terkejut Bitna ternyata akan segera menikah. Padahal setahu Minah, Bitna tidak terlihat dekat dengan siapa pun sebelumnya. “Minah-ssi apa kau mau ikut makan siang bersama kami?” ajak Yo Han. “Aku tidak bisa ikut denganmu, aku sudah lebih dulu janji makan siang dengan Minah,” sela Bitna. Dia sudah berjanji akan makan bersama Minah setelah ini. “Kalian makan saja berdua, sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan,” kata Minah menolak ajakan Yo Han. “Lalu kau bagaimana? Aku sudah berjanji akan makan siang denganmu,” ucap Bitna merasa tak enak pada Minah. Dia sudah janji makan bersama gadis itu, tapi gara-gara Yo Han semuanya gagal. “Tidak apa-apa, kita bisa makan bersama lain kali. Eonni, kalau begitu aku pergi dulu ya.” Bitna menatap Minah yang berjalan menjauh dari tempatnya dan Yo Han berdiri. Setelahnya Bitna mendelik ke arah Yo Han. Dia heran kenapa pria itu bisa tahu jika dirinya ada di universitas hari ini. Bahkan Bitna tak memberitahu Yo Han jika dirinya ada tes masuk hari ini. “Ayo pergi!” ajak Yo Han yang kemudian berjalan mendahului Bitna. Bitna menghela napas kesal lalu dengan pasrah berjalan mengikuti Yo Han menuju mobil. *** “Bagaimana tesmu? Apa berjalan lancar?” tanya Yo Han mencoba memecah keheningan di antara mereka. Sejak meninggalkan universitas tadi dan sampai di restoran Bitna memilih diam. Sepertinya gadis itu memang masih kesal karena tingkah usil Yo Han tadi pagi. “Entah, mungkin tidak terlalu baik,” jawab Bitna malas. Dia sendiri tidak yakin dengan hasil tesnya nanti. “Jika kau memang ingin masuk ke sana, aku bisa membantumu. Aku kenal rektor dari universitas itu.” “Tidak perlu,” tolak Bitna cepat. Dia tahu maksud Yo Han sebenarnya baik, karena ingin membantunya masuk ke universitas. Namun, entah kenapa mendengar ucapan pria itu malah membuatnya kesal. Memang ya mereka yang memiliki banyak uang bisa dengan mudah mendapatkan apa pun keinginan mereka. “Kau yakin?” “Iya,” tegas Bitna. Yo Han meletakkan sendoknya ke atas piring lalu menatap Bitna. Wajah gadis itu terlihat masih sangat kesal. “Kau masih marah padaku?” tanya Yo Han. “Sepertinya iya,” ucap Yo Han saat Bitna tak menjawab pertanyaannya. “Baiklah, aku minta maaf. Aku sudah keterlaluan.” Bitna menatap Yo Han sekilas lalu kembali memakan makanannya. Mudah sekali pria itu minta maaf setelah membuatnya ketakutan karena perbuatan usilnya. “Tapi aku melakukannya agar kita semakin akrab, kau tahu sebenarnya hubungan kita masih terlihat sangat canggung. Orang-orang yang melihatnya pasti tidak percaya pada hubungan kita.” “Tapi yang kau lakukan itu bukanlah cara untuk menjadi akrab,” sanggah Bitna. “Sekali lagi aku minta maaf, mulai sekarang mari anggap kita ini sebagai teman. Dengan begitu kita bisa melakukan sandiwara ini dengan baik.” Bitna menghela napas. Ucapan Yo Han memang benar, mereka harus terlihat seperti pasangan sesungguhnya di depan orang lain. Dan untuk itu mereka harus mengakrabkan diri, tapi mengingat perbuatan Yo Han semalam dan tadi pagi masih membuatnya kesal. Apa pria itu tidak tahu betapa tertekannya Bitna karena ucapan ibunya? “Soal ucapan ibuku tak usah kau pedulikan,” kata Yo Han. Bitna mengerutkan dahinya menatap Yo Han. Bagaimana bisa dia tidak peduli dengan ucapan ibu Yo Han. Setelah mereka menikah orang tua Yo Han tentu menantikan kehadiran seorang cucu. “Kita bisa bilang kalau kita menunda program hamil karena kau harus kembali kuliah, lagi pula usiamu juga masih muda, 25 tahun,” lanjut Yo Han. Bitna menatap Yo Han terkesima. Pria itu benar-benar cerdas mencari alasan untuk berbohong pada orang tuanya. “Aku tahu aku ini cerdas,” seloroh Yo Han seolah-olah bisa menebak isi pikiran Bitna. Bitna memutar bola matanya malas. Yo Han memang cerdas tapi jangan lupakan juga bahwa pria itu sangat menyebalkan. “Kau yakin mereka akan percaya?” tanya Bitna. “Tentu,” jawab Yo Han yakin. “Jadi kau sudah tak marah? Tenanglah aku tak akan menyentuhmu, aku ini memang gay, tapi untuk memilih perempuan aku juga punya standar yang tinggi.” Bitna mendelik menatap Yo Han. Standar tinggi? Apa pria itu baru saja mengatainya? “Meskipun kau normal, kau bukan tipeku,” balas Bitna kesal. Yo Han terkekeh pelan mendengar ucapan Bitna. “Lalu seperti apa tipe idealmu?” “Yang jelas bukan pria cerewet dan menyebalkan.” Yo Han kembali terkekeh karena perkataan Bitna. Sepertinya hubungan mereka sudah mengalami kemajuan. Buktinya Bitna sudah berani mengatainya. “Ini peringatan terakhir, tidak peduli kau gay atau apalah itu jika mengulangi perbuatanmu semalam aku akan membuatmu menyesal.” “Baiklah tak akan aku ulangi, lagi pula tak ada yang bisa dilihat dari tubuhmu.” “Dasar menyebalkan.” *** Hari ini adalah sehari sebelum pernikahan Yo Han dan Bitna diselenggarakan. Mereka bersama ibu Yo Han akan pergi ke hotel tempat mereka akan melangsungkan pernikahan besok. Rencananya hari ini mereka mengecek persiapan untuk besok dan melihat progresnya. Bitna, Yo Han dan Seung Ah memasuki sebuah ballroom hotel bintang lima di daerah Gangnam. Begitu mereka melewati pintu, mereka bisa melihat para pekerja yang sibuk berlalu-lalang mempersiapkan semuanya. Mulai dari menata meja untuk para tamu undangan hingga mendekor ruangan itu dengan bunga-bunga. Tema pernikahan Yo Han dan Bitna didominasi oleh warna putih dan merah muda. Itu adalah pilihan Seung Ah. Wanita paruh baya itu sangat antusias dalam mempersiapkan pernikahan putranya. Bahkan mulai dari gedung, dekor hingga gaun yang dikenakan Bitna semua adalah pilihan Seung Ah. Dia ingin acara pernikahan Yo Han dan Bitna nantinya akan berjalan lancar dan sempurna. Melihat Seung Ah yang begitu bersemangat mempersiapkan segalanya tentang pernikahan mereka membuat Bitna merasa bersalah. Andai saja Seung Ah tahu bahwa hubungannya dengan Yo Han hanya sandiwara. Wanita itu pasti akan sangat kecewa nantinya. “Yo Han setelah ini kau dan Bitna pergilah ke rumah abu,” ucap Seung Ah. “Untuk apa?” tanya Yo Han menatap ibunya bingung. “Bukankah kau harus meminta izin pada ayah Bitna sebelum menikah besok? Dan Bitna pasti kau juga belum menemui ayahmu kan?” Bitna dan Yo Han saling bertatapan. Bagi mereka pernikahan ini hanya sandiwara. Apa perlu sampai meminta izin dari ayah Bitna yang sudah meninggal? “Baiklah, setelah ini kami akan ke sana,” kata Yo Han. “Baguslah kalau begitu, ibu juga akan ikut nanti.” Bitna menatap Yo Han dan ibunya bergantian setelah itu tatapannya beralih pada lantai granit di bawah kakinya. Matanya terlihat kosong. Akhirnya dia akan mengunjungi ayahnya. Sejak pemakaman sang ayah, Bitna tak pernah mengunjungi rumah abu tempat abu ayahnya disimpan. Bitna, Yo Han dan Seung Ah memasuki rumah abu tempat abu ayah Bitna disimpan. Setelah sampai di depan tempat penyimpanan abu ayah Bitna, Yo Han meletakkan bunga yang tadi mereka beli dalam perjalanan. Setelahnya pria itu membungkukkan badan 90 derajat untuk memberi penghormatan pada mendiang, yang kemudian diikuti oleh Seung Ah dan Bitna. Bitna menatap foto ayahnya yang berada di samping guci tempat menyimpan abu. Sudah empat bulan sejak kematian ayahnya berlalu. Sorot mata gadis itu terlihat sayu saat menatap foto mendiang ayahnya. Bukan hanya sorot mata Bitna yang terlihat sayu, tapi Yo Han dan ibunya juga. Bitna tidak tahu apakah sorot mata yang pria itu tunjukan hanya sandiwara atau tidak. Namun Yo Han terlihat begitu sedih saat menatap foto mendiang ayahnya. “Ahjussi, lama tidak bertemu. Maaf aku baru bisa menemuimu hari ini. Aku ingin meminta izin untuk menikahi Bitna.” Yo Han menjeda kalimatnya lalu menarik napas panjang. “Kau tak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga putrimu dengan baik. Bitna pasti akan hidup bahagia nantinya. Jadi, aku harap kau akan merestui kami berdua.” Bitna menatap Yo Han. Bitna tahu pernikahan mereka hanya sandiwara, tapi ucapan Yo Han barusan terdengar sangat tulus. Bitna tidak tahu apakah Yo Han sangat pandai berakting atau memang benar-benar tulus dengan ucapannya tadi. Mendengar ucapan putranya, Seung Ah menyeka sudut matanya tiba-tiba berair. Ia lalu meraih tangan Bitna dan menggenggamnya. “Chul Sik oppa, maaf karena terlambat menemukan Bitna. Tapi kau tak perlu khawatir aku pasti akan memperlakukannya dengan sangat baik. Aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi Yoo Rin.” Mendengar ucapan Seung Ah, Bitna merasakan sesuatu tiba-tiba mengalir membasahi pipinya. Dia menangis untuk suatu hal yang dia sendiri tidak tahu kenapa. Bahkan saat ayahnya meninggal dia sama sekali tidak menangis, tapi mendengar ucapan Seung Ah tadi membuat matanya berkaca-kaca. Ucapan Seung Ah terdengar sangat tulus di telinganya dan menyentuh hatinya. Wanita itu mungkin benar-benar menyayanginya. Tidak seperti yang Bitna pikirkan selama ini, bahwa Seung Ah bersikap baik padanya hanya karena dia anak dari sahabat suaminya. Melihat Bitna yang tiba-tiba meneteskan air mata, Seung Ah menarik gadis itu dan memeluknya. Tak lupa dia juga menepuk punggung Bitna untuk menenangkannya. Meski Bitna tak mengatakan apa pun, Seung Ah tahu gadis itu pasti masih merasa sangat sedih dan terpukul karena kehilangan ayahnya. “Tidak apa-apa, sekarang kau tidak sendirian. Sekarang kau punya Yo Han yang akan selalu menjagamu. Lalu juga ada ibu, ayah dan Yoo Rin,” ucap Seung Ah lembut. Yo Han menatap ibunya yang memeluk Bitna. Pria itu kemudian menarik napas dalam dan membuang muka menatap ke arah lain. Yo Han merasa lega, ibunya bisa menerima Bitna dengan baik dan terlihat sangat menyayangi gadis itu. Awalnya Yo Han memang yakin ibunya akan merestui hubungan mereka, tapi dia tidak tahu jika ibunya akan jadi sangat menyayangi Bitna seperti ini. Begini memang lebih baik, karena itu artinya akan semakin mudah bagi Yo Han menutupi kebohongan hubungannya dengan Bitna dari ibunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD