Bagian 11 - Jangan Mendekat!!!

1369 Words
Bitna menatap buku di hadapannya dengan gelisah. Bahkan sesekali gadis itu tampak menggigit buku-buku jarinya. Sejak satu jam lalu Bitna berusaha belajar untuk persiapan tes masuk universitas, tapi tak ada satu materi pun yang berhasil masuk ke dalam kepalanya. Ini semua karena dia masih teringat kata-kata Seung Ah beberapa hari lalu. Soal wanita paruh baya itu yang menantikan seorang cucu dari Yo Han dan dirinya. Sungguh hal itu sangat mengganggu pikiran Bitna sekarang. Gara-gara terus memikirkan ucapan Seung Ah dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi belajar. Dia sendiri penasaran apakah Yo Han punya niat tersembunyi padanya, misalnya Yo Han menikah bukan hanya untuk menutupi kekurangan pria itu, tapi juga untuk mendapatkan keturunan. Oh tidak, itu pasti mimpi buruk bagi Bitna jika benar-benar terjadi. Tok tok tok Bitna menoleh kaget ke arah pintu kamarnya. Itu pasti Yo Han. Bitna menatap ragu pintu kamarnya. Dia enggan sekali membuka pintu itu. Entah kenapa setelah mendengar perkataan ibu Yo Han, Bitna jadi takut untuk bertemu pria itu. Padahal mereka tinggal di tempat yang sama. “Bitna, Kim Bitna,” panggil Yo Han sambil kembali mengetuk pintu kamar Bitna. Akhirnya mau tidak mau Bitna melangkah menuju pintu kamarnya. Walaupun sebenarnya dia merasa tidak berani untuk bertemu Yo Han. “Ya?” ucap Bitna setelah membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Yo Han berdiri di balik pintu itu dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana. Yo Han mengerutkan dahinya saat melihat Bitna hanya menampakkan sedikit wajahnya dari balik pintu kamar. Apa yang sedang dilakukan gadis itu? “Kau sudah makan? Ayo makan malam bersama. Aku akan memanaskan beberapa makanan kiriman ibuku,” ajak Yo Han kemudian. “Aku belum lapar, kau saja yang makan,” tolak Bitna cepat. Rasanya pasti sangat tidak nyaman makan berdua dengan Yo Han sementara pikirannya masih dipenuhi tentang ucapan Seung Ah beberapa hari yang lalu. “Kau yakin? Ini bahkan sudah melewati jam makan malam.” Bitna mengangguk pasti. Tapi— Kruk... Kruk... Kruk Sungguh saat ini Bitna berharap dirinya pingsan saja. Sangat amat memalukan rasanya mendengar perutnya tiba-tiba berbunyi di depan Yo Han. “Keluar dan makan,” perintah Yo Han. Mendengar perut Bitna bersuara sekeras tadi dia yakin gadis itu pasti sedang lapar. Hanya saja entah apa yang salah dengan Bitna hingga gadis itu terlihat mencoba menghindarinya. “Nde,” sahut Bitna pasrah kemudian keluar dari kamarnya mengikuti Yo Han menuju meja makan. Rasanya ingin pingsan saja, sungguh memalukan, gerutu Bitna dalam hati. “Kau mencoba menghindariku?” tanya Yo Han begitu mereka berdua duduk di balik meja makan. Bitna menggeleng cepat. “Tidak, untuk apa aku melakukannya?” “Kau yakin?” “Ten...tu.” Bitna kemudian dengan cepat melahap makanan di depannya. Lebih baik dia segera menghabiskan makanannya agar tidak berlama-lama bersama Yo Han. “Sepertinya kau jadi aneh sejak bertemu ibuku beberapa hari lalu. Apa dia mengatakan sesuatu padamu?” tanya Yo Han menyelidik. Bitna memang bersikap agak aneh sejak pergi bersama ibunya. Uhuk... Uhuk... Melihat Bitna yang terbatuk-batuk setelah mendengar pertanyaannya, Yo Han yakin pasti sikap aneh Bitna beberapa hari terakhir berkaitan dengan ibunya. “Jadi apa yang ibu katakan?” “Itu....” Bitna ragu untuk melanjutkan kalimatnya. “Itu apa?” tanya Yo Han semakin penasaran. Dia ingin sekali tahu apa yang dikatakan ibunya hingga membuat Bitna mencoba menghindarinya beberapa hari ini. “Ibumu sudah tahu jika kita tinggal bersama dan dia tidak marah sama sekali.” “Benar dia memang tidak marah, lalu kenapa?” Bitna mengusap ujung hidungnya karena merasa sedikit takut dengan apa yang akan dia katakan. “Begini... Ibumu bilang jika kita tinggal bersama sebelum menikah itu adalah yang baik. Karena kemungkinan... Dia akan mendapatkan cucu lebih cepat.” Yo Han hampir saja menyembur Bitna dengan air yang baru saja dia minum setelah mendengar perkataan gadis itu. Dia tidak percaya jika ibunya mengatakan hal seperti itu pada Bitna. “Cucu?” tanya Yo Ha memastikan dia tidak salah dengar apa yang dikatakan Bitna. “Ya.” Yo Han mengusap batang hidungnya lalu tertawa pelan. Pantas saja akhir-akhir ini Bitna bersikap aneh. Gadis itu pasti sangat memikirkan ucapan ibunya. “Apa kau pikir aku menikah denganmu selain untuk menutupi fakta bahwa aku seorang gay, tapi juga untuk mendapatkan keturunan?” “Iya— tidak-tidak. Aku sendiri tidak terlalu yakin,” kata Bitna gugup. Melihat Bitna yang tergagap menjawab pertanyaannya membuat Yo Han ingin sedikit menjahili gadis itu. “Menurutmu kenapa orang-orang menikah?” tanya Yo Han. “Karena mereka saling mencintai?” jawab Bitna. Karena apa lagi mereka menikah jika bukan karena saling mencintai. “Ada satu lagi.” Bitna menyipitkan mata menatap Yo Han. Satu lagi? Apa itu? “Untuk berkembang biak.” Tak... Bitna menjatuhkan sumpit yang dipegangnya ke atas meja. Benar, selain karena saling mencintai orang-orang menikah untuk mendapatkan keturunan. Melihat reaksi Bitna, Yo Han jadi semakin bersemangat untuk menggoda gadis itu. Hitung-hitung sebagai hiburan setalah bekerja seharian ini. “Kenapa kau sangat terkejut?” Yo Han berdiri dari kursinya lalu mencondongkan badan mendekat pada Bitna yang duduk berhadapan dengannya. Melihat Yo Han tiba-tiba mendekat membuat Bitna terkejut hingga hampir jatuh ke belakang. Beruntung Yo Han dengan cepat menarik tangannya hingga tak jadi jatuh. Mata Bitna berkedip beberapa kali menatap wajah Yo Han yang saat ini sangat dekat dengannya. Pria itu menyeringai membuat Bitna bergidik ngeri. “Jadi, bagaimana kalau kita wujudkan keinginan ibuku sekarang.” Mendengar ucapan Yo Han barusan membuat Bitna semakin ketakutan. Apa lagi saat ini pria itu malah semakin mendekatkan wajahnya pada Bitna. Pletak.... Sebelum sesuatu yang tidak inginkan terjadi Bitna dengan cepat meraih sendok yang ada di depannya lalu memukul kepala Yo Han dengan benda itu. Setelah dipukul Bitna dengan sendok Yo Han refleks menjauh dari gadis itu sambil mengusap-usap kepalanya yang berdenyut. “Kau gila!!!” bentak Yo Han sambil menahan rasa sakit di kepalanya. Ingat dipukul dengan sedok berbahan logam itu sakit, sangat sakit. “Kau sendiri kenapa mendekat seperti tadi?” “Aku hanya bercanda! Kau pikir aku benar-benar akan melakukannya?” Bitna mengepalkan tangannya menahan rasa kesal. Sungguh apa yang dilakukan Yo Han tadi sama sekali tidak lucu baginya. “Itu sama sekali tidak lucu, kau tahu aku tadi hampir mati karena ketakutan,” omel Bitna. “Jangan berlebihan, aku tidak mungkin berbuat macam-macam. Kau lupa, aku ini gay?” Bitna mendengus kesal. Hanya karena Yo Han adalah seorang gay, bukan berarti dia tidak bisa melakukan ‘itu’ dengan perempuan kan? “Dasar menyebalkan,” ucap Bitna yang kemudian pergi ke kamarnya meninggalkan Yo Han yang masih sibuk mengusap-usap kepalanya. “Yak, kau mau ke mana? Kau harus bertanggung jawab karena sudah memukul kepalaku!” teriak Yo Han yang sama sekali tak digubris oleh Bitna. *** Pagi itu Bitna sudah berpenampilan rapi dan bersiap-siap untuk pergi. Bitna hanya melirik sekilas pada Yo Han yang duduk di ruang makan sambil menyantap sepotong sandwich. Bitna bahkan tak menyapa Yo Han dan langsung berlalu menuju pintu depan. Melihat Bitna yang hanya berlalu tanpa menyapanya membuat Yo Han mengerutkan dahinya. Dia masih marah? Batin Yo Han. Pria itu kemudian segera menyusul Bitna sebelum gadis itu keluar dari apartemennya. “Bitna, kau masih marah karena kejadian semalam?” tanya Yo Han saat sampai di depan pintu apartemennya. Bitna yang hendak membuka pintu itu kemudian berbalik sambil menatap Yo Han kesal. “Menurutmu?” “Aku hanya bercanda.” “Tapi caramu bercanda itu tidak lucu, sudahlah jangan mengacaukan mood-ku hari ini," kata Bitna. Setiap kali ia ingat kelakuan Yo Han semalam rasanya dia ingin sekali meninju wajah pria itu. “Baiklah aku akui kalau aku salah, tapi apa kau benar-benar berpikir aku akan berbuat sesuatu padamu?” tanya Yo Han sambil mendekat ke arah Bitna. Gadis itu kemudian refleks melangkah mundur karena Yo Han tiba-tiba mendekat. “Ya, ya! Berhenti atau aku akan menendang masa depanmu!” kata Bitna memperingati Yo Han. Jika Yo Han benar-benar mendekat Bitna pastikan akan menendang 'masa depan' pria itu. Yo Han kemudian menghentikan perbuatannya lalu tertawa. “Jangan khawatir, aku tak akan melakukan apa pun.” Bitna mendengus. Lalu keluar dari apartemen Yo Han dengan kesal. Sementara pria yang baru saja mengusilinya itu tertawa puas di balik pintu. Dalam hati Bitna bersumpah jika dia gagal dalam tes masuk hari ini, dia akan membuat perhitungan dengan Yo Han. *** Bitna menghela napas berat setelah keluar dari sebuah ruangan. Dia baru saja mengikuti tes masuk universitas. Meskipun bisa menjawab soal-soal yang diberikan dengan baik, tapi dia tak bisa melewati tes tadi dengan tenang. Dan itu semua karena Yo Han, si pria menyebalkan. “Maaf,” panggil seorang pemuda sambil menepuk pundak Bitna. “Ya?” Bitna berbalik menatap pemuda itu. “Kau menjatuhkan ini.” Pemuda itu menyodorkan sebuah dompet berwarna cokelat pada Bitna. “Oh, itu milikku,” ucap Bitna segera meraih dompetnya yang di temukan pemuda tadi. “Terima kasih.” “Ya, apa kau baru saja mengikuti tes masuk?” Bitna mengangguk. “Aku juga.” “Oh...” “Namaku—” “Eonni!!!” Bitna segera menoleh ke sumber suara, dilihatnya Minah berdiri di dekat tangga sambil melambaikan tangan. “Maaf, temanku sudah memanggilku. Sekali lagi terima kasih,” pamit Bitna sambil sedikit menganggukkan kepalanya. “Ya.” Pemuda itu balas menganggukkan kepalanya. Tapi setelahnya wajahnya terlihat kecewa karena belum sempat berkenalan dengan Bitna. Bitna segera menghampiri Minah yang datang menjemputnya. Mereka janji akan makan bersama setelah Bitna selesai mengikuti tes masuk. Setelah Bitna berhenti bekerja dia dan Minah memang jarang bertemu. “Bagaimana tesnya tadi?” tanya Minah saat Bitna sampai di depannya. “Lumayan, tapi aku merasa tidak yakin bisa masuk,” jawab Bitna skeptis. “Wae?” “Kau tahu? Karena sudah lama aku tidak menggunakan otakku untuk belajar.” Minah tertawa mendengar ucapan Bitna. Memang sudah lama sekali pasti sejak Bitna putus kuliah dulu. “Tenanglah, aku yakin eonni pasti diterima,” ucap Minah memberi semangat. “Gomawo,” kata Bitna tersenyum sambil mengusap kepala Minah. “Mau makan sekarang? Di dekat universitas ada restoran yang makanannya enak-enak.” “Ayo.” Minah dan Bitna berjalan keluar universitas sambil mengobrol. Minah juga memberitahu Bitna sedikit tentang tempat-tempat yang ada di universitas itu. Saat Minah tahu Bitna akan kembali kuliah dia sangat senang. Bahkan Minah dengan semangat merekomendasikan universitas tempatnya belajar pada Bitna. Dan berakhirlah Bitna mendaftar ke universitas ini. “Eonni kalau sampai diterima di sini aku akan menjagamu dengan baik,” ucap Minah. Bitna terkekeh pelan mendengar perkataan Minah. “Tapi kita mengambil jurusan yang berbeda.” “Tidak masalah aku akan menemui setiap hari.” “Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di Cafe?” “Ah... Benar. Aku melupakan soal pekerjaan,” ucap Mina dengan nada kecewa. Bitna kembali terkekeh mendengar ucapan Minah. Gadis itu lantas tersenyum lembut sambil mengusap kepala Minah. Bitna menghentikan langkahnya saat melihat seseorang berdiri di dekat gerbang masuk universitas. “Eonni, kenapa berhenti?” tanya Minah yang juga ikut menghentikan langkahnya. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD