“Terima kasih,” ucap Yo Han pada pelayan yang mengantarkan pesanan mereka, 2 porsi budae jjigae.
Yo Han beralih menatap Bitna, gadis itu masih sibuk dengan ponselnya. Membuat Yo Han mulai kesal karena merasa diabaikan. Apa Bitna mulai kecanduan gadget? Padahal tadi gadis itu terlihat kelaparan, tapi setelah makanan sampai di depannya Bitna sama sekali tak melirik makanannya.
“Apa kau akan kenyang dengan terus menatap ponselmu,” kata Yo Han setengah mencibir. Ia sudah tidak tahan melihat Bitna yang sejak tadi hanya fokus pada ponselnya.
Bitna mendongak menatap Yo Han. “Ha? Oh makanannya sudah datang? Aku tidak sadar.”
“Bagaimana kau bisa sadar kalau matamu terus tertuju pada ponsel,” cibir Yo Han.
Bitna meletakkan ponselnya ke atas meja. “Ah... Ada pengumuman di grup chat jurusan soal jadwal kuliah, minggu depan aku sudah mulai masuk kuliah lagi.”
“Oh,” sahut Yo Han dengan nada malas. Jika hanya soal pengumuman jadwal kuliah kenapa Bitna sampai seperti tadi, terlalu fokus dengan ponselnya.
Yo Han kembali melirik Bitna, dia sekarang sedang menyantap budae jjigae di depannya. Gadis itu makan dengan sangat lahap, mirip seseorang yang belum makan selama berminggu-minggu.
“Apa kau tak pernah makan?” cibir Yo Han lagi.
Bitna mendengus lalu melirik Yo Han sebal. Tak peduli cibiran Yo Han, Bitna kembali menyantap makanannya. Dia sangat lapar jadi tak punya tenaga untuk meladeni Yo Han. Yang terpenting adalah mengisi perutnya sekarang.
Di detik berikutnya Yo Han dan Bitna sama-sama makan dengan tenang. Tak ada obrolan atau perdebatan. Masing-masing sibuk mencerna makanan mereka.
“Setelah ini mau jalan-jalan dulu?” tanya Yo Han yang akhirnya memecah keheningan setela ia selesai makan.
Bitna berhenti mengunyah makanannya lalu menatap Yo Han. Sungguh mengejutkan Yo Han tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan. Ini tak seperti Yo Han biasanya.
“Seluruh jadwalku hari ini dibatalkan, jika langsung pulang rasanya pasti membosankan,” ucap Yo Han memberi alasan.
Bitna diam dan berpikir. Jalan-jalan memang terdengar menyenangkan, dia dan Yo Han terakhir jalan-jalan bersama ketika mereka di Paris. Itu pun bersama Soo Jin. Tapi bukankah Yo Han tetap harus pergi ke kantor?
“Bukankah kau harus tetap pergi ke kantor?”
Yo Han menggeleng. “Aku sedang malas.”
“Wah... Hidupmu sepertinya sangat menyenangkan ya? Kau datang ke kantor saat kau ingin, dan jika malas kau tak perlu bekerja,” kata Bitna setengah mencibir.
Bitna merasa iri pada Yo Han yang tidak perlu pergi bekerja setiap hari. Tidak seperti dirinya dulu. Walaupun malas dan lelah Bitna tetap harus pergi bekerja, karena bertahan hidup itu jauh lebih penting. Orang-orang kaya memang berada di level yang berbeda. Mereka seperti tak punya kekhawatiran tentang bertahan hidup, karena mereka punya segalanya.
“Jadi bagaimana, mau jalan-jalan tidak?”
“Ide yang bagus.”
“Mau ke mana?”
“Sungai Han?”
“Oke.”
Bitna kembali menatap Yo Han. Memang dia senang karena Yo Han mengajaknya jalan-jalan, tapi ini tak seperti biasa. Dia tahu pria itu super sibuk. Bahkan saat di rumah Yo Han juga masih berkutat dengan pekerjaannya, tapi ini? Pria itu mengajaknya jalan-jalan, sungguh di luar dugaan. Mungkin kah Yo Han sakit? Mabuk? Atau kepalanya terbentur sesuatu hingga dengan sangat acak tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan.
***
Mobil SUV putih milik Yo Han berhenti di tempat parkir Taman Yeouido. Keduanya keluar dari dalam mobil. Karena hujan yang turun taman ini terlihat sepi, pada hari biasa Taman Yeouido ramai dikunjungi baik oleh warga Seoul atau wisatawan. Taman Yeouido adalah taman yang terletak di sepanjang sungai Han. Taman ini menawarkan berbagai macam fasilitas mulai dari lapangan olahraga, penyewaan sepeda, serta bermacam festival juga digelar sepanjang musim.
“Sepertinya karena hujan festival musim panas ditiadakan hari ini.”
Yo Han melirik Bitna yang berjalan di sampingnya. Raut wajah gadis itu terlihat kecewa mendapati bahwa hari festival tidak yang digelar.
“Lagi pula siapa yang mau mengunjungi festival saat hujan.”
“Kau benar, tapi tempat ini jadi sepi. Bukankah terlihat lebih baik?”
Bitna menoleh ke arah Yo Han sembari tersenyum. Wajah Bitna semakin cantik ketika gadis itu tersenyum, membuat Yo Han yang memandangnya terkesima akan kecantikan gadis itu. Bitna memang tak secantik Suzy atau Jun Ji Hyun, tapi siapa pun pasti tak akan bosan melihat wajahnya yang ayu.
“Bukankah rasanya sangat tenang di sini?”
Yo Han segera menyadarkan dirinya saat Bitna kembali bertanya. Yo Han memandang ke sekeliling taman. Tempat itu memang menjadi lebih sepi dari biasanya jadi terasa lebih tenang.
“Kau benar, tapi—”
Yo Han menatap kakinya. Jalanan di bawah mereka basah karena hujan dan itu agak mengganggu.
“Kenapa?”
“Kau tak lihat jalanannya basah dan licin, harusnya tadi jalan-jalan ke mal saja.”
“Ambil nilai positifnya, di sini sepi, tenang, udaranya segar, anggap saja kau bisa menangkan pikiran di sini. Tempat ini jauh lebih baik dari mal, tempat di mana kau mungkin akan menghabiskan uang. Di sini kau bisa menikmati pemandangan indah dengan latar belakang sungai Han, Gunung Bukhan, gedung-gedung tinggi di pusat kota lalu Namsan Tower dengan gratis. Hal-hal yang tak mungkin kau temui di mal.”
Yo Han memandang Bitna. Bagaimana cara gadis itu bicara membuatnya kembali terkesima. Benar kata Bitna, datang ke taman ini dan menikmati keindahan di sekitar taman tak memerlukan biaya. Tempat mungkin memang jauh lebih baik dari mal.
“Lalu sekarang kita mau apa? Hanya jalan-jalan?”
“Bagaimana kalau naik sepeda? Di sini ada tempat penyewaan sepeda. Aku sudah lama sekali tidak naik sepeda,” kata Bitna dengan antusias.
“Sepeda?”
Bitna mengangguk antusias, lalu menarik tangan Yo Han untuk segera pergi ke tempat penyewaan sepeda.
Yo Han terpana saat Bitna menggenggam tangannya. Merasakan kulit mulus tangan Bitna menyentuh tangannya, Yo Han merasakan sesuatu berdesir dalam dirinya.
Setelah mereka akhirnya mereka sampai di tempat penyewaan sepeda barulah Yo Han sadar dan segera menarik tangannya. Ia melihat Bitna yang sedang memilih sepeda. Gadis itu lalu menatapnya.
“Kau mau pakai yang mana?”
Tubuh Yo Han membatu sambil memandang deretan sepeda di depannya. Ide untuk bersepeda menurutnya sama sekali bukan ide yang bagus.
“Hei!”
Bitna menepuk pelan bahu Yo Han karena pria itu terlihat melamun.
“Kau mau pakai sepeda yang mana?”
“Begini, sebenarnya—”
***
“Sial, jika tahu begini lebih baik aku memilih jalan kaki saja untuk berkeliling taman,” ucap Bitna dengan napas tersengal-sengal. Kakinya yang ramping sedang bersusah payah mengayuh pedal sepeda.
“Bagaimana bisa seorang pria tidak bisa naik sepeda?”
Yo Han hanya bisa menunduk malu saat Bitna mengatakan hal itu. Dia sekarang dibonceng Bitna. Kedua tangan pria itu memegang ujung pakaian Bitna karena takut terjatuh.
“Aku tidak kuat lagi.”
Bitna menghentikan sepeda yang dikayuhnya. Ia lalu menatap Yo Han yang sudah turun dari sepeda.
“Kau sebut dirimu laki-laki? Bagaimana mungkin kau tak bisa naik sepeda?”
“Tidak bisa naik sepeda bukan sebuah dosa, kan?” kata Yo Han yang lebih mirip seperti bergumam.
“Memang bukan dosa, tapi kenapa sampai pria gagah sepertimu tidak bisa naik sepeda?”
“Itu....”
Yo Han terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Sangat memalukan dirinya harus memberitahu Bitna alasan kenapa ia tak bisa baik sepeda.
“Sudahlah, kau saja yang bawa. Aku lelah!”
Bitna mendorong sepedanya ke arah Yo Han. Gadis itu kemudian berjalan menuju sebuah bangku di dekat sana.
Yo Han dengan pasrah mendorong sepeda itu, lalu menyusul Bitna. Dengan ragu-ragu Yo Han ikut duduk di samping gadis itu.
“Kau tahu? Seporsi budae jjigae yang aku makan tadi sudah menghilang entah ke mana karena memboncengmu,” gerutu Bitna.
Mendengar Bitna menggerutu Yo Han hanya bisa diam sambil menundukkan kepala seperti anak kucing yang ketakutan.
Harus Bitna akui dia memang menyukai Yo Han, tapi sebesar apa pun rasa sukanya pada pria itu bukan berarti Bitna rela membonceng Yo Han. Pria itu punya tubuh yang jauh lebih besar darinya. Bitna bisa pingsan jika mengayuh sepeda mengelilingi taman ini sambil membonceng Yo Han di belakangnya.
“Kau haus? Mau aku belikan minum?” tanya Yo Han mencoba merayu Bitna agar gadis itu berhenti marah padanya. Ternyata saat marah Bitna jauh lebih menyeramkan dari yang dia pikirkan.
Bitna memandang Yo Han. Pria itu terlihat seperti sedang memohon agar ia berhenti marah dan mengomel karena dirinya tak bisa naik sepeda.
Bitna menarik napas. “Aku mau es krim,” kata Bitna kemudian.
“Es krim? Rasa apa?”
Yo Han tadi melihat ada truk penjual es krim di sekitar taman.
“Choco mint.”
“Oke, kau tunggu di sini. Aku akan segera kembali.”
Bitna menatap punggung Yo Han yang berjalan menjauh. Setelah Yo Han menghilang dari pandangannya, Bitna menyandarkan punggungnya pada bangku lalu menatap langit yang semula mendung kini perlahan-lahan berubah cerah.
Bitna kembali menarik napas. Andai saja hubungannya dan Yo Han berubah seperti langit itu, dia pasti akan sangat bahagia. Andai saja Yo Han bisa menyukai wanita, andai saja Yo Han juga menaruh hati padanya.
Sepertinya Bitna terlalu banyak berandai-andai. Dan dari semua yang ia andaikan tak ada satu pun yang mungkin terjadi. Bitna tersenyum kecut. Ternyata Tuhan kejam padanya. Dia hidup bebas dari hutang mendiang ayahnya, tapi Tuhan memberikan penderitaan baru. Yaitu jatuh cinta pada pria yang tak mungkin bisa Bitna miliki.
***
Sampai di depan truk penjual es krim Yo Han segera memesan dua es krim. Pria itu agak heran kenapa di cuaca yang cukup dingin setelah turun hujan, Bitna malah ingin makan es krim. Perempuan memang makhluk rumit dan sulit di tebak.
“Tolong satu es krim choco mint dan cokelat,” ucap Yo Han pada penjual es krim itu.
Ponsel Yo Han berdering ketika pria itu menunggu es krim pesanannya. Yo Han mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Nama Soo Jin terpampang di layar ponsel.