Soo Jin melempar ponselnya ke atas tempat itu lalu ikut berbaring di atasnya. Wanita itu melirik deretan koper di depan lemari. Soo Jin menarik napas menatap langit-langit kamarnya. Padahal tadi niatnya menelepon Yo Han untuk mengatakan bahwa dirinya akan segera pindah ke Seoul, tapi setelah mendengar Yo Han merasa kesal karena Bitna dekat dengan laki-laki lain membuat Soo Jin mengurungkan niatnya.
Ternyata ketakutannya perlahan menjadi kenyataan. Soo Jin takut Yo Han akan mulai tertarik pada istrinya itu. Walaupun Soo Jin tahu pernikahan mereka hanya sebuah kontrak, tapi tak menutup kemungkinan jika keduanya berakhir saling menyukai, kan? Apa lagi melihat tingkah Bitna selama di Paris membuat Soo Jin yakin jika gadis itu mungkin saja sudah menaruh hati pada Yo Han. Hanya saja pria itu yang tidak peka.
Soo Jin menarik napas. Keputusannya untuk kembali ke Seoul adalah tepat. Dia harus mengamankan posisinya di hati Yo Han. 5 tahun hidup bersama adalah waktu yang cukup untuk membuat Bitna bisa merebut hati Yo Han. Dan Soo Jin tak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika Yo Han memang seorang gay, tentu pria itu tak akan tertarik pada Bitna, tapi Yo Han adalah pria normal. Tentu dia bisa saja tertarik pada gadis itu. Meskipun penampilan Bitna terkesan sederhana, gadis itu memiliki paras yang cantik. Gadis cantik dan polos, semua orang yang melihat Bitna pasti akan berpikir begitu. Dan gadis seperti Bitna adalah tipe yang disukai para pria.
Dengan kembalinya Soo Jin ke Seoul, wanita itu akan memastikan bahwa Bitna tak bisa menemukan celah untuk merebut Yo Han darinya.
***
Korea sudah memasuki di penghujung musim panas, itu artinya hujan akan lebih sering turun dan Korea akan segera menyambut musim gugur.
Bitna memandang ke luar jendela kaca di ruang tengah. Hujan sedang turun cukup deras di luar sana. Jalanan di depan apartemennya biasanya ramai dengan lalu lalang kendaraan, tapi kali ini terlihat sepi karena hujan yang turun.
Bitna menarik napas. Liburan musim panasnya akan segera berakhir, dan dia akan kembali masuk kuliah. Rasanya malas sekali kembali kuliah setelah menikmati liburan musim panas. Apa lagi jika dia masuk saat musim hujan masih menyapa Korea, Bitna enggan menerobos hujan hanya untuk berangkat kuliah. Lebih baik tetap berada di rumah dalam keadaan kering.
“Kai lihat apa?”
Bitna terjungkit kaget saat Yo Han tiba-tiba bertanya. Apa pria itu tidak bisa bersuara ketika melangkah? Kenapa selalu tiba-tiba muncul seperti hantu?
“Hujan,” jawab Bitna tanpa menoleh ke arah Yo Han yang kini berdiri di sampingnya.
“Hujan? Apanya yang menarik dari melihat kumpulan air yang jatuh ke tanah?”
Bitna melirik Yo Han dengan sebal. Pria itu merusak suasana saja. Melihat hujan dari balik jendela kaca sambil merenung, suasana syahdu itu rusak begitu saja saat kalimat tadi keluar dari mulut Yo Han.
“Memang ya kau itu tidak tahu apa-apa,” ujar Bitna sambil menggelengkan kepalanya. Gadis itu lalu kembali menatap keluar jendela.
“Memangnya aku harus tahu apa?”
“Pikir sendiri!”
Yo Han menatap sebal ke arah Bitna. Pria itu sama sekali tak mengerti maksud istrinya. Memang apa yang menarik dari melihat sekumpulan air yang jatuh bersama ke atas tanah?
“Bagaimana perasaanmu saat hujan turun?” tanya Bitna.
“Biasa saja,” jawab Yo Han. Ia memang tak merasakan apa-apa saat hujan turun—kecuali kesal. Karena hujan mengganggu aktivitasnya. Harusnya hari ini dirinya bertemu klien penting, tapi karena hujan Yo Han terpaksa menundanya.
“Melihat tetesan air hujan yang jatuh ke bumi, bau tanah yang terkena air hujan, dedaunan yang tampak berkilau karena basah terkena percikan air, lalu suasana yang sebelumnya ramai tiba-tiba saja menjadi hening dan yang terdengar hanya suara percikan air. Bukankah hal-hal itu bisa memunculkan berbagai macam perasaan?”
“Rasa kesal, marah, sedih, sukacita, bahagia. Semua perasaan itu bisa muncul tergantung bagaimana seseorang memaknainya. Dulu jauh sebelum bertemu denganmu, aku selalu benci saat hujan turun.”
Yo Han menoleh memandang Bitna. Mendengar perkataan Bitna tentang hujan tiba-tiba menarik perhatiannya. Gadis itu masih menatap keluar jendela dengan jari jemari yang menyentuh jendela kaca itu, seolah-olah Bitna ingin menyentuh tetesan air hujan menempel di luar jendela.
“Aku benci berangkat bekerja sambil menerobos derasnya hujan yang turun, pakaianku jadi basah dan itu menyebalkan. Aku juga benci jika menunggu hujan reda di halte bus. Aku juga benci melihat orang lain bisa berjalan tanpa rasa khawatir akan basah di bawah rintik hujan karena mereka memiliki payung.”
Bitna menjeda kalimatnya lalu menarik napas. Ia terdiam cukup lama, membuat Yo Han penasaran apa yang sedang gadis itu pikirkan.
“Tapi....” Bitna menoleh ke arah Yo Han yang berdiri di sampingnya. “Setelah bertemu denganmu, kau melunasi semua hutang ayahku dan memberikan semua hal yang aku dapatkan sekarang, aku tak lagi membenci hujan.”
“Mungkin aku sangat terlambat mengatakan hal ini, tapi sejak kau melunasi hutang ayahku aku sama sekali belum berterima kasih padamu. Jadi saat hal yang ingin aku katakan adalah terima kasih. Berkat dirimu aku bisa bebas dari kejaran rentenir, berkat dirimu aku bisa kembali menemukan hal yang ingin aku lakukan, berkat dirimu hidup seperti yang aku impikan.”
Bitna tersenyum memandang Yo Han, membuat pria itu terkesiap kagum. Mata Bitna kembali menarik perhatiannya. Manik mata gadis itu tampak berkilau saat Bitna tersenyum. Bitna punya mata yang jauh lebih indah dari milik Soo Jin. Senyumannya juga jauh lebih cantik dari pada Soo Jin.
Yo Han kemudian memalingkan wajahnya sembari berdeham melihat Bitna tersenyum seperti itu membuatnya kehilangan fokus.
“Untuk apa kau berterima kasih? Kau memang pantas mendapatkan semua itu,” ujar Yo Han.
“Aku hanya ingin mengatakannya saja.”
Bitna kembali menatap keluar jendela. Hujan turun semakin deras, ia tak tahu kapan hujan ini akan berhenti.
Kruk... Kruk... Kruk...
Bitna tiba-tiba mematung setelah perutnya bersuara di tengah rintik hujan. Sungguh sangat memalukan. Bitna menutup matanya rapat-rapat, dia sangat malu hingga tak berani menatap Yo Han.
“Kau lapar?” tanya Yo Han melirik Bitna, gadis itu diam tak menjawab pertanyaannya.
“Di kulkas ada makanan apa?”
Bitna kembali diam tak menjawab. Rasanya sungguh malu setelah perutnya bersuara sekeras tadi. Memang saat hujan turun membuat orang menjadi lapar, tapi Bitna tak menyangka perutnya akan bersuara sekeras tadi.
Yo Han menuju dapur lalu memeriksa isi kulkas dan lemari penyimpanan. Pria itu kemudian berkacak pinggang saat menatap isi kulkas. Di dalam sana tak ada bahan makanan, makanan kiriman ibunya juga sudah habis. Makanan instan di dalam lemari juga tidak ada. Yo Han melirik ke arah Bitna yang masih berdiri menatap jendela. Dia yakin gadis itu pasti diam-diam melanggar peraturan bahwa hanya boleh makan ramyeon 2 kali dalam seminggu.
“Kita kehabisan bahan makanan?”
“Sepertinya begitu,” sahut Bitna.
“Kita ke supermarket sekarang?”
“Tapi di luar masih hujan.”
“Kita naik mobil.”
“Oh iya-iya.”
Bitna menatap Yo Han canggung. Rasanya dia baru saja menjadi orang bodoh di depan pria itu.
“Cepat siap-siap, kita pergi setelah ini.”
“Iya.”
Bitna bergegas masuk ke dalam kamarnya. Pertama karena Yo Han menyuruhnya untuk segera bersiap-siap. Kedua karena dia sangat malu sekarang.
***
Yo Han dan Bitna berjalan beriringan menyusuri lorong-lorong dengan rak-rak tinggi di dalam supermarket. Sejak meninggalkan apartemen hingga sampai di supermarket keduanya tak banyak bicara. Bitna masih malu setelah tragedi suara perutnya tadi.
Sambil mendorong troli, Yo Han berjalan mengekor di belakang Bitna. Ia hanya memperhatikan Bitna yang sibuk memilih bahan makanan lalu memasukkannya ke dalam troli. Menemani Bitna belanja kebutuhan mereka seperti ini membuat Yo Han merasa benar-benar menjadi suami Bitna—mereka memang pasangan suami istri di mata negara dan agama.
Yo Han mengamati Bitna dari belakang. Di mata orang lain mereka seperti pasangan suami istri yang bahagia. Jika saja dia tak membohongi Bitna dengan mengaku sebagai gay, apa mungkin Bitna mau menikah dengannya karena pesan dari mendiang ayahnya? Apa mereka juga akan terlihat seperti pasangan suami istri yang bahagia? Apakah mereka juga akan berakhir saling jatuh cinta?
Yo Han menggelengkan kepalanya. Pertanyaan yang baru terlintas di kepalanya sangat tidak masuk akal. Dia sudah punya Soo Jin, dan dia juga mencintai wanita itu. Jadi untuk apa dia jatuh cinta pada Bitna. Sepertinya terlalu dekat dengan Bitna bukan hal baik, Yo Han merasa gadis itu sedikit demi sedikit mulai mengambil tempat dalam hidupnya.
“Mau sosis ayam atau sapi?” tanya Bitna memecah keheningan antara dirinya dan Yo Han sekaligus menyadarkan pria itu dari lamunannya.
“Ambil saja dua-duanya.”
Bitna kemudian memasukkan 2 pack sosis ayam dan sapi ke dalam troli. Gadis itu kembali berjalan. Yo Han mendorong troli mengekor di belakang Bitna.
Yo Han kembali dengan pikirannya. Awalnya dia pikir menjadi dekat dengan Bitna adalah yang bagus. Karena mereka bisa membuat sandiwara pernikahan ini terlihat sempurna, tapi nyatanya semakin dekat dengan gadis itu membuat Yo Han terusik. Bitna selalu bisa menarik perhatiannya, entah apa pun yang dilakukan gadis itu. Yo Han belum tahu apa ia mulai tertarik pada Bitna atau ini hanya efek karena mereka tinggal bersama dan sering bertemu jadi dia selalu memikirkan Bitna.
***
Yo Han membantu Bitna memasukkan semua belanjaan mereka ke dalam bagasi. Setelah semuanya masuk Yo Han kemudian menutup bagasi. Ia lalu masuk ke dalam mobil, Bitna sudah masuk terlebih dulu. Sambil menyalakan mobil, Yo Han melirik Bitna yang duduk di sampingnya. Gadis itu sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang dilihat Bitna tapi gadis itu terlihat sangat fokus dan serius, membuat Yo Han merasa penasaran.
“Kita makan siang di luar saja ya?” ajak Yo Han. Bitna sudah lapar sejak tadi, jika menunggu pulang dan memasak makanan Bitna akan semakin kelaparan.
“Terserah,” sahut Bitna tanpa menoleh. Sesuatu di ponselnya lebih menarik perhatiannya.
“Mau makan apa?”
“Yang berkuah dan pedas.”
“Budae Jjigae?”
“Boleh.”
Mobil Yo Han akhirnya melaju meninggalkan area supermarket menuju restoran budae jjigae terdekat. Sembari fokus menyetir Yo Han sesekali melirik ke arah Bitna gadis itu masih sibuk dengan ponselnya. Jari-jemari lentik milik Bitna tampak bergerak lincah saat mengetik sesuatu di ponselnya. Membuat Yo Han tahu jika Bitna sedang berkirim pesan. Sejujurnya ia ingin tahun dengan siapa Bitna berkirim pesan. Gadis itu tampak serius dan mengabaikan hal sekitar. Seperti saat ia mengajaknya Bitna makan di luar. Gadis tampak biasa saja, padahal sebelumnya untuk urusan makanan Bitna selalu antusias. Meskipun merasa penasaran Yo Han enggan bertanya, harga dirinya terlalu sangat tinggi. Dia tidak mau Bitna menganggapnya selalu ingin tahu apa yang dilakukan gadis itu. Dan lagi dalam kontrak tertulis mereka dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing.