“Noona, terima kasih untuk parfumnya.”
“Aku juga berterima kasih kau sudah mengajakku kemari.”
Seung Woo menatap Bitna. Mungkin banyak gadis yang akan jatuh pada Seung Woo jika ditatap seperti itu. Namun, sayangnya itu tidak berlaku bagi Bitna. Di mata gadis itu Seung Woo tidaklah lebih dari seorang teman yang baik. Wajah tampan yang di miliki Seung Woo sama sekali tak menarik hati Bitna.
“Harusnya aku mengajakmu ke sini saat malam hari.”
“Kenapa?” Bitna menoleh menatap Seung Woo.
“Saat malam hari ada pemutaran film di bawah jembatan sungai Han, ada penampilan sirkus juga, pertunjukkan musik selain itu tempat ini juga akan dipenuhi oleh cahaya warna-warni dari lampu yang menyala,” jelas Seung Woo membuat Bitna yang mendengarnya menjadi antusias.
“Kalau begitu aku harus mengunjungi sungai Han saat malam hari,” ucap Bitna sembari tersenyum.
Gadis itu lalu membayangkan mengunjungi sungai ini di malam hari bersama Yo Han. Bitna merasa akan sangat romantis jika dia dan Yo Han mengunjungi tempat ini di malam hari. Menontoh film di bawah jembatan sungai Han, menikmati pertunjukkan musik. Membayangkannya saja membuat semburat merah di pipi gadis itu, tapi mengingat bagaimana watak suaminya itu Bitna yakin tak akan menuruti permintaannya.
Seung Woo terhanyut memandangi Bitna yang sedang sibuk dengan pikirannya. Menatap wajah Bitna seperti ini membuat Seung Woo semakin tepesona pada kecantikan gadis itu, tapi sayang sekali ia tak punya kesempatan untuk mendekati Bitna. Gadis itu telah menikah, jika hanya berpacaran mungkin masih ada kesempatan untukya mendapatkan hati gadis itu.
“Noona mau makan siang bersama?”
Bitna menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam menunjukkan waktu 12.30, sudah masuk jam makan siang dia juga sudah merasa lapar. Pagi tadi ia hanya makan roti panggang dan telur mata sapi buatan Yo Han.
“Mau makan apa biar aku yang traktir,” ajak Bitna. Sebagai rasa terima kasih karena Seung Woo sudah mengajaknya ke Hangang Summer Festival Bitna ingin mentraktir pemuda itu makan siang.
“Jangan, kau sudah memberiku parfum. Biar aku saja yang traktir,” tolak Seung Woo. Sebagai seorang pria Seung Woo merasa tak nyaman jika ditraktir oleh wanita.
“Tidak apa-apa, kau sudah mengajakku kemari.”
“Ini bukan apa-apa dibanding dengan parfum yang kau berikan.”
“Baiklah-baiklah kalau kau bersikeras, tapi lain kali biarkan aku mentraktrirmu. Oke?”
Seung Woo mengangguk. “Noona bisa mentraktirku di cafetaria kampus saat kuliah sudah di mulai lagi.”
“Baiklah.”
***
“Terima kasih untuk traktirannya,” kata Bitna setelah ia dan Seung Woo keluar dari sebuah restoran.
“Iya, noona yakin tak mau aku antar?”
“Tidaak usah, aku tidak mau merepotkanmu,” tolak Bitna.
“Sama sekali tidak merepotkan, aku malah khawatir membiarkanmu pergi sendiri dengan kaki seperti itu.”
Seung Woo menatap Bitna khawatir. Gadis itu masih sedikit pincang saat berjalan. Seung Woo tak tega membiarkan Bitna pergi sendiri dengan kaki seperti itu.
“Kakiku sudah tidak apa-apa, lagi pula aku akan naik taksi. Kau tak perlu khawatir,” ucap Bitna meyakinkan Seung Woo.
“Kau yakin?”
“Iya.”
“Kalau begitu biar aku menemanimu sampai taksinya datang.”
“Iya-iya.”
Selang beberapa menit sebuah taksi berhenti di dekat mereka. Seung Woo kemudian membukakan pintu belakang taksi untuk Bitna.
“Setelah sampai noona harus kirim pesan ya?” kata Seung Woo setelah Bitna masuk ke dalam taksi. Ia harus memastikan bahwa gadis itu sampai dengan selamat.
“Iya-iya, aku akan kirim pesan kalau sudah sampai di tempat Minah.”
“Hati-hati di jalan.”
“Kau juga.”
Seung Woo menatap taksi yang melaju menjauh dari sana. Pemuda itu merasa agak kecewa karena harus berpisah dengan Bitna secepat ini. Seung Woo ingin lebih lama menghabiskan waktu bersama Bitna, tapi mengingat gadis itu yang sudah bersuami tentu hal dia harapkan tak mungkin terjadi. Seung Woo tidak mau dianggap perusak hubungan rumah tangga orang lain.
Seung Woo menarik napas. Dia baru tahu ternyata rasanya seperti ini menyukai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain. Rasanya sangat menyesakkan, karena tidak bisa menunjukkan perasaannya pada Bitna. Ia juga diselimuti rasa bersalah, rasanya tak benar jika dia menyukai wanita yang bersuami. Tapi Seung Woo tak bisa berbuat apa-apa, dia tak bisa memilih jatuh cinta pada siapa. Yang dia bisa dia lakukan sekarang adalah menyembunyikan perasaannya. Jika Bitna sampai tahu, gadis itu akan menjauhinya dan hubungan mereka akan menjadi canggung. Seung Woo tak mau hal itu terjadi. Dia pasti akan sangat tersiksa jika tak bisa melihat Bitna.
***
Bitna menatap ponselnya sambil berbaring di sofa ruang tamu. Dia sedang melihat hasil foto yang ia ambil di Hangang Summer Festival tadi. Gadis itu lantas tersenyum saat mendapati bahwa foto-foto yang ambil hasilnya bagus. Bitna menatap foto selfie-nya bersama Seung Woo. Ia menatap foto Seung Woo cukup lama. Tiba-tiba saja Bitna merasa penasaran. Seung Woo punya wajah yang tampan, tapi kenapa sampai sekarang pemuda itu belum memiliki pacar. Padahal Bitna yakin dengan wajah seperti itu Seung Woo pasti bisa dengan mudah mendapatkan pacar.
“Kau lihat apa?”
Bitna terlonjak kaget saat tiba-tiba Yo Han muncul dan bertanya padanya.
Suaminya itu lantas mengambil ponsel Bitna dan melihat foto gadis itu bersama Seung Woo.
“Kau berfoto dengan si anak anjing? Kalian terlihat serasi,” ujar Yo Han sambil memandang foto Bitna bersama Seug Woo.
“Dasar tidak sopan.”
Bitna merebut kembali ponselnya sambil merengut. Ia agak kesal saat Yo Han bilang dia dan Seung Woo terlihat serasi.
“Kami tidak ada hubungan apa-apa,” kata Bitna sewot.
“Kalian pergi ke sungai Han?”
“Iya, ada festival musim panas di sana.”
“Kau senang?”
“Tentu saja, banyak hal yang bisa dilihat di sana.”
Yo Han tiba-tiba saja merasa kesal ketika Bitna bilang dia merasa senang pergi ke sungai Han bersama Seung Woo.
“Sepertinya kalian jadi semakin dekat?” tanya Yo Han.
“Aku memang paling dekat dengan Seung Woo di kampus. Kami punya banyak kesamaan, dia juga sering membantuku.”
Mendengar jawaban Bitna membuat hati Yo Han semakin dongkol. Entah kenapa dia tak suka jika Bitna terlalu dekat dengan Seung Woo. Yo Han tahu pemuda itu menyukai istrinya, hanya saja Bitna yang tidak peka hingga gadis itu tidak tahu jika Seung Woo menaruh hati padanya.
“Kau pasti sangat senang berteman dengan pemuda tampan seperti si anak anjing itu,” ujar Yo Han dengan nada bicara yang menyebalkan.
Bitna menatap sebal. Gadis itu merasa seolah-olah Yo Han curiga jika dia punya hubungan khusus dengan Seung Woo. Padahal mereka hanya teman tidak lebih.
“Kenap kau menatapku seperti itu? Bukankah benar yang aku katakan? Semua wanita pasti akan senang jika berteman dengan pria tampan, apa aku salah?”
Bitna menarik napas. Ia tidak tahu harus membalas apa kata-kata Yo Han. Dia sudah kehilangan kalimat untuk menjelaskan bahwa dirinya dan Seung Woo hanya berteman.
Yo Han menatap ponselnya yang berdering. Ia lalu melirik Bitna sekilas, setelah itu bergegas masuk ke dalam kamar.
Bitna menatap Yo Han yang bergegas masuk dalam kamar setelah ponselnya berdering. Bitna penasaran siapa yang menelepon pria itu hingga Yo Han harus bersembunyi saat menjawabnya.
“Mungkinkah?” gumam Bitna saat sesuatu terlintas dalam pikirannya.
Bitna tiba-tiba berpikir apakah suaminya itu sedang menjalin hubungan dengan orang lain—dengan kata lain berselingkuh. Gelagat dan tingkah laku Yo Han akhir-akhir ini memang mencurigakan. Pria itu tak pernah lagi menjawab telepon di depannya. Yo Han juga sering senyum-senyum sendiri saat memainkan ponselnya. Bukankah tingkah Yo Han ini mirip dengan seseorang yang sedang berselingkuh?
Bitna kemudian menghela napas. Hubungannya dengan Yo Han memang hanya sebuah kesepakatan saja, tapi hatinya tetap terasa sakit jika Yo Han ternyata memang menjalin hubungan dengan orang lain.
“Karena dia gay, itu artinya Yo Han berkencan dengan laki-laki?”
Bitna segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Membayangkan Yo Han yang seorang gay sedang bermesraan dengan pacarnya membuat Bitna bergidik ngeri.
Ia merasa sakit hati. Bukan karena Yo Han selingkuh, tapi karena dia harus bersaing dengan seorang pria untuk mendapatkan Yo Han. Dari banyaknya jumlah wanita di dunia, Bitna tidak tahu kenapa Yo Han berakhir menjadi gay.
***
"Halo?" ucap Yo Han setelah mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Aku merindukanmu."
"Aku juga," ucap Yo Han sembari tersenyum. Soo Jin meneleponnya.
"Rasanya aku ingin berangkat ke Seoul lalu menemuimu."
Yo Han terkekeh pelan mendengat ucapan Soo Jin. "Lalu apa yang kau lakukan setelah bertemu denganku?"
"Aku akan memeluk dan menciummu."
Yo Han kembali terkekeh. Sepertinya Soo Jin memang sangat merindukannya. Memang benar kata orang menjalin hubungan jarak jauh itu sangat menyiksa. Dia dan Soo Jin baru menjalaninya selama sebulan ini, tapi rasanya mereka seperti berpisah selama bertahun-tahun—kenyataannya sebelumnya mereka memang berpisah selama 7 tahun lamanya.
"Aku juga ingin memelukmu," kata Yo Han kemudian. Dirinya juga merindukan Soo Jin. Rasanya ingin sekali Yo Han merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya dan meciumnya sepuas hati Yo Han. Sayang sekali mereka harus terpisah jarah antara Korea Selatan dan Paris.
Terdengar suara Soo Jin yang tertawa di seberang telepon. Mendengar tawa Soo Jin yang terdengar renyah membuat Yo Han semakin merindukan wanita yang berprofesi sebagai model itu. Bisa Yo Han bayangkan wajah Soo Jin yang semakin cantik ketika wanita itu tertawa.
"Apa ada sesuatu yang terjadi hari ini?" tanya Soo Jin. Meskipun terpisah jaraj yang jauh Soo Jin selalu menyakan tentang kejadian yang di alami Yo Han setiap harinya.
"Tidak ada yang menarik, seperti biasa aku bekerja. Oh ya kaki Bitna sudah sembuh," jawab Yo Han.
"Benarkah? Syukurlah jika begitu."
"Hanya saja jalannya masih sedikit pincang."
"Tentu saja, kaki masih terasa kaku."
"Hari ini dia pergi jalan-jalan dengan teman laki-lakinya."
"Teman laki-laki? Aku tidak tahu kai Bitna punya teman laki-laki. Bukankah kau bilang Bitna itu gadis pendiam."
"Benar, ini teman kuliahnya dan mereka cukup dekat."
"Apa temannya Bitna itu tampan?" tanya Soo Jin penasaran.
"Ya," jawab Yo Han. Harus Yo Han akui jika si anak anjing itu punya wajah yang tampan.
"Kau cemburu karena Bitna dengan pria tampan?"
"Cemburu? Tentu saja tidak," sangakl Yo Han. Dia tak memiliki perasaan apa pun untuk Bitna, jadi tidak mungkin dia merasa cemburu pada Seung Woo.
"Aku hanya merasa kesal, itu saja," sambung Yo Han.
Soo Jin terkekeh pelan mendengar kata-kata Yo Han.
"Baiklah aku mengerti, kau baru pulang kerja, kan?"
"Ya, aku baru masuk ke dalam apartemen sekitar 30 menit yang lalu," jawabh Yo Han sambil memijit pelipisnya. Tiba-tiba saja tubuhnya merasa lelah.
"Kalai begitu aku akan menutup teleponnya, kau cepat mandi, makan lalu istirahat. Mengerti?"
"Iya, setelah ini aku akan mandi."
"Anak pintar, kalau begitu sudah ya. Aku mencintaimu."
"Aku juga."