Yo Han keluar dari kamarnya. Pria itu sudah berganti pakaian menggunakan setelan jas berwarna hitam yang terlihat pas di tubuhnya yang tegap.
“Kau mau ke mana?”
Yo Han menatap Bitna yang juga baru keluar dari kamar. Gadis itu sudah berdandan, dan berganti pakaian. Bitna mengenakan A line dress warna marigold dengan bagian lengan agak mengembang.. Yo Han menyipitkan matanya menatap Bitna.
“Kau mau pergi kencan?” Yo Han kembali bertanya.
“Kencan? Kau gila ya,” sahut Bitna sewot. “Aku akan bertemu Seung Woo.”
“Si anak anjing?”
“Iya, aku mau memberikan oleh-oleh. Sekalian nanti juga ketemu Minah.” Bitna mengangkat dua paper bag yang ia bawa.
“Oh.”
Yo Han kembali melirik Bitna dari atas hingga bawah. Entah kenapa ia merasa penampilan Bitna terlalu berlebihan—hanya untuk sekedar bertemu Seung Woo, Bitna berdandan secantik itu. Bahkan tadi Yo Han sempat terpana selama beberapa detik saat Bitna keluar dari kamarnya.
“Kau yakin pergi dengan kaki seperti itu?”
Bitna mengangguk. Ini sudah seminggu jadi kakinya sudah jauh lebih baik. Lagi pula terus berada di rumah membuatnya bosan. Sebelum musim panas berakhir setidaknya Bitna ingin jalan-jalan keluar dan menikmati langit cerah musim panas.
Yo Han melirik kaki Bitna, perban di kaki istrinya itu memang sudah di lepas kemarin. Walau katanya sudah sembuh, tapi Bitna masih agak kesulitan saat berjalan, terkadang juga terlihat pincang.
“Ganti sepatumu. Jangan menggunakan sepatu hak tinggi.”
“Tapi ini hanya 3cm,” protes Bitna. Sepatu yang ia terlihat sangat cocok dengan pakaiannya. Jika dia menggantinya pasti akan terlihat aneh.
“Kau mau menyusahkan orang lagi? Jalanmu saja masih pincang begitu!”
Bitna menatap sebal ke arah Yo Han, lalu sambil merengut gadis itu masuk kembali ke dalam kamar untuk mengganti sepatunya. Selang beberapa menit Bitna akhirnya keluar lagi. Kali ini Bitna menggunakan flat shoes berwarna putih, senada dengan tas yang ia kenakan.
“Nah, itu terlihat jauh lebih bagus.”
Yo Han mengulurkan tangannya lalu mengusap kepala Bitna. “Anak pintar, kau mau berangkat bersama?”
Mata Bitna tak berkedip saat Yo Han mengusap kepalanya. Rasanya sesuatu berdesir dalam dirinya saat tangan Yo Han menyentuhnya tadi. Jantungnya berdetak sangat cepat sekarang. Antara gugup dan merasa senang karena perlakuan Yo Han tadi.
“Hei!”
Yo Han menjentikkan jarinya di depan mata Bitna membuat gadis itu akhirnya berkedip.
“Ya?”
“Kau mau berangkat bersama tidak? Kau janji bertemu si anak anjing di mana?”
“Oh, Paris Baguette, stasiun Gangnam.”
“Kalau begitu ayo berangkat.”
Bitna menatap punggung Yo Han yang berjalan menuju pintu keluar. Gadis itu lalu menyentuh dadanya. Bisa Bitna rasakan jantungnya masih berdetak dengan cepat. Padahal Yo Han hanya mengusap kepalanya, tapi tindakan kecil itu mampu membuatnya berdebar-debar seperti ini. Jika terus begini Bitna tidak yakin apakah usahanya untuk menahan perasaannya bisa berhasil. Karena rasanya semakin hari Bitna semakin menyukai Yo Han.
“Kau tak ikut?” tanya Yo Han menoleh pada Bitna yang masih diam di tempatnya.
“Oh, iya.”
***
Mobil Yo Han berhenti tepat di depan Cafe Paris Baguette. Setelah mengucapkan terima kasih, Bitna bergegas keluar dari mobil Yo Han.
“Bitna,” panggil Yo Han saat gadis itu hendak membuak pintu Cafe. “Ingat jam malammu!”
Bitna menatap sebal ke arah Yo Han. Dia pikir pria itu akan mengatakan sesuatu yang penting saat memanggilnya. Ternyata Yo Han hanya mengingatkan soal jam malam. Tak perlu Yo Han ingatkan Bitna juga ingat bahwa dia tidak boleh pulang melewati jam malam yang ditentukan Yo Han.
Bitna melangkahkan kaki masuk ke dalam cafe lalu mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Seung Woo. Bitna langsung tersenyum saat menemukan Seung Woo sudah duduk manis di meja dekat jendela.
Seung Woo balas tersenyum saat Bitna berjalan menghampirinya. Melihat penampilan Bitna hari itu membuatnya terpana. Tak bertemu selama liburan musim panas, Seung Woo merasa wanita yang lebih tua 2 tahun darinya terlihat semakin cantik.
Kedua alis Seung Woo berkerut saat melihat bagaimana cara Bitna berjalan. Gadis itu terlihat pincang.
“Noona, kakimu kenapa?” tanya Seung Woo ketika Bitna sudah sampai di depannya.
“Hanya terkilir,” jawab Bitna lalu menjatuhkan pantatnya ke kursi di depan Seung Woo.
“Terkilir? Bagaimana bisa?”
“Aku tidak sengaja terjatuh saat ikut dalam festival olahraga tahunan yang diadakan KL Cosmetics.”
“Lalu sekarang apa sudah baik-baik saja?”
Bitna mengangguk. “Sudah seminggu, hanya saja masih sedikit kaku saat aku berjalan. Kau memesankan minuman untukku?”
“Iya, caramel frappuccino. Favorit noona, kan?” ujar Seung Woo sambil tersenyum.
“Benar, terima kasih ya.”
Bitna balas tersenyum lalu menyesap caramel frappuccino yang dibelikan Yo Han.
“Bagaimana bulan madunya di Paris? Apa menyenangkan?” tanya Seung Woo. Sebenarnya agak menyakitkan saat pemuda itu menanyakan tentang bulan madu Bitna. Rasanya seperti patah hati lagi, karena dia seolah disadarkan bahwa Bitna ternyata telah menikah.
“Lumayan,” jawab Bitna membuat alis Seung Woo kembali mengernyit.
“Lumayan?”
“Kami sempat bertengkar di sana.”
“Oh, tapi kalian sudah berbaikan?”
“Ya, kami sudah berbaikan pada malam harinya.”
“Kakakku juga sering bertengkar dengan suaminya, tapi selalu kembali berbaikan,” ujar Seung Woo sembari berpura-pura tertawa. Dia agak kecewa saat Bitna bilang bahwa gadis itu dan suaminya sudah berbaikan. Dalam hati kecilnya Seung Woo berharap jika Bitna mungkin saja bertengkar dengan suaminya. Dengan begitu itu mungkin bisa mendapatkan celah untuk mendekati Bitna.
Memang terdengar jahat dan licik, tapi apa salahnya jatuh cinta. Jatuh cinta pada seseorang yang telah menjadi milik orang lain bukanlah kesalahan. Itu akan menjadi kesalah saat kau tak bisa mengendalikan perasaanmu dan berusaha mengacaukan hubungan mereka. Namun, karena Seung Woo masih punya akal sehat dan hati nurani, pemuda itu membuang jauh-jauh pikiran untuk merebut Bitna dari suaminya. Menyukai gadis itu diam-diam seperti ini sudah cukup. Seung Woo akan membiarkan rasa sukanya hingga akhirnya rasa itu perlahan menguap dan menghilang.
“Oh ya, aku ada sesuatu untukmu.”
Bitna mengambil salah satu dari dua paper bag yang ia bawa dan memberikannya pada Seung Woo.
“Apa ini?” tanya Seung Woo. Pemuda itu lantas mengintip ke dalam paper bag yang diberikan Bitna.
“Itu parfum, aku pikir baunya sangat cocok untukmu.”
Seung Woo lantas mengeluarkan kotak berisi parfum dalam paper bag itu. Matanya berbinar saar membuka kota berisi parfum Bitna.
“Baunya harum,” ujar Seung Woo saat mencoba menyemprotkan sedikit parfum ke pergelangan tangannya.
“Benar, kan? Wanginya segar dan tidak terlalu menyengat, kau suka?”
Seung Woo mengangguk semangat. Bitna memberinya parfum dengan aroma grape fruit yang berpadu dengan citrus. Aroma yang unik menurut Seung Woo. Bitna memang gadis yang unik. Bahkan selera gadis itu juga sama uniknya dengan Bitna.
“Sebagai ganti parfum bagaimana kalau aku ajak jalan-jalan?
“Jalan-jalan?”
“Bagaimana kalau ke Hangang Summer Festival?”
Mendengar kata festival membuat mata Bitna berbinar. Pasti rasanya menyenangkan mengelilingi area sekitar sungai Han sambil menikmati festival musim panas di sana.
“Jadi bagaimana?”
Bitna mengangguk setuju. Ini adalah kali pertama dia menikmati festival musim panas dalam 5 tahun terakhir. Sebelumnya karena sibuk bekerja, Bitna merasa melihat festival yang di adakan setiap musim rasanya tidak penting, lebih penting baginya untuk tetap bekerja agar bisa bertahan hidup dalam belenggu hutang ayahnya.
Namun, karena keadaan sudah berubah Bitna bisa hidup bebas. Jadi dia bisa melakukan hal-hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Seperti menikmati festival musim panas. Hanya membayangkannya saja sudah membuat Bitna senang.
“Noona, nanti kita naik taksi saja ya?”
“Kenapa? Aku tak masalah kalau nanti kita naik bus untuk ke sungai Han.”
“Kakimu sedang sakit, aku takut kalau nanti bertambah parah.”
Bitna menggeleng. Biaya untuk naik taksi di Korea cukup mahal. Ia tidak mau merepotkan Seung Woo. Walaupun sepertinya dari penampilannya pemuda itu seperti berasal dari keluarga yang berada.
“Kau yakin?”
“Iya, tidak apa-apa kalau kita naik bus.”
“Kalau begitu terserah noona saja.”
***
Bitna dan Seung Woo berjalan memasuki area sungai Han. Bitna menatap takjub ke sekitar area sungai yang saat ini dipenuhi oleh pengunjung. Bitna tidak menyangka bahwa Hanggang Summer Festival akan menarik pengunjung sebanyak ini. Apa lagi dengan banyaknya acara yang di adakan di sungai Han ini membaut Bitna semakin terpukau.
Seung Woo melirik Bitna yang berjalan di sampingnya. Pemuda itu tak berhenti tersenyum saat melihat Bitna yang begitu antusias menikmati festival musim panas ini. Melihat mereka berjalan seperti, membuat Seung Woo merasa seperti sedang berkencan dengan Bitna.
Berjalan beriringan di sekitar sungai Han sambil menikmati pemandangan sungai ini. Bukah, kah mereka terlihat seperti pasangan kekasih? Mungkin tak salah jika Seung Woo menganggap ini sebagai kencan. Dia sudah cukup merasa senang hanya dengan berjalan di samping Bitna seperti ini.
“Noona, paper bag yang kau bawa itu untuk siapa?” tanya Seung Woo menunjuk paper bag yang dibawa Bitna.
“Oh, ini untuk Minah,” jawab Bitna. “Dia teman di tempatku bekerja dulu.”
“Ah...” Seung Woo mengangguk mengerti. “Mau duduk di sana?”
Seung Woo menunjuk bangku kosong di bawah pohon. Mereka sudah berjalan cukup lama, ia agak khawatir jika kaki Bitna tiba-tiba kembali sakit.
“Boleh.”
Seung Woo dan Bitna berjalan menuju bangku kosong yang di maksud Seung Woo. Sampai di sana keduanya langsung duduk di atas bangku itu. Karena berada di bawah pohon yang cukup rindang, duduk di sana rasanya cukup nyaman karena tak terlalu panas.
“Kakimu baik-baik saja?”
“Iya, sekarang sudah jauh lebih baik. Seminggu di rumah dan tidak bisa melakukan aktivitas yang berat kakiku terasa kaku, tapi sekarang sudah tidak lagi. Terima kasih sudah mengajakku kemari,” kata Bitna sembari tersenyum.
Seung Woo menatap Bitna yang sedang tersenyum padanya. Jujur bagi Seung Woo, senyuman Bitna adalah yang paling cantik. Gadis itu terlihat sangat cantik saat tersenyum. Andai saja Bitna belum menikah, mungkin masih ada kesempatan baginya untuk mendapatkan Bitna.