Sepanjang perjalanan baik Rizal maupun Miura tidak ada yang bicara. Keduanya sama-sama bungkam dengan pikiran mereka masing-masing. Benak mereka sibuk dengan segala hal yang jika ditanyakan mereka sendiri pasti tidak tahu apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam kepala mereka, atau… tahu? Tapi mereka tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Rizal fokus dengan kemudi dan jalanan yang dilewatinya, sementara Miura melempar pandangannya keluar jendela mobil. Perjalanan itu terasa lama, canggung juga menyesakan. Tidak ada satupun di antara keduanya yang berupaya untuk membuka topik. Meski kecangungan itu membunuh mereka, nyatanya mereka merasa hal itu lebih baik dibanding harus memaksakan diri untuk berkata sesuatu. Hingga… mobil yang Rizal kendarai tiba di jalanan masuk menuju kosan Miura

