“Maaf.” Ucap Aya setelah jeda yang memisahkan mereka. Aya terlihat menghindari tatapan Rizal meski sesekali masih berusaha menatap suaminya itu. “Aku nggak maksud nolak kamu, Mas. Kamu inget kalau aku masih datang bulan, kan? Aku nggak bisa—” “Nggak apa, kita nggak perlu sampai sana, tapi kamu bisa bantu aku, kan?” Tatapan mata Rizal masih gelap, masih berkabut seolah pria itu memang sedang dalam masa “ingin”-nya. Yang mengherankan, tentu saja membuat Aya merasa bertanya-tanya adalah karena Rizal tidak pernah seperti ini sebelumnya. Selama setahun lebih penikahan, Rizal selalu menghargai Aya jika istrinya itu memang sedang tidak bisa melakukannya, atau sedang tidak bisa memenuhi keinginannya—Rizal selalu memberi ruang pada Aya dan sebisa mungkin untuk tidak memaksa wanita itu untuk menur

