Langkah Miura melambat begitu mendengar suara yang memanggilnya. Gadis itu tidak lantas menoleh, namun mempercepat langkahnya begitu menyadari suara siapa yang memanggilnya itu. Tidak. Miura tidak ingin bertemu dengan Rizal sekarang, tidak lagi, bahkan kalau bisa mereka tidak perlu bertukar sapa lagi, tidak perlu saling kenal lagi dan mengabaikan satu sama lain. Bagi Miura, setelah apa yang terjadi kemarin pilihan itu jelas terasa lebih baik. “Mi—Miura! Saya manggil kamu!” Ucap Rizal tiba-tiba sudah ada di hadapannya saja. Pria itu berdiri menghalangi langkah Miura, menatap gadis itu dengan raut cemas, napasnya satu-dua karena mengejar Miura tadi nampaknya—yang menurut Miura jelas tidak perlu Rizal lakukan hanya karenanya. “Kamu sengaja mau menghindari saya?” Miura memutus aksi saling

