Bab 19: Kehangatan di Tengah Badai Salju

1303 Words
Pagi di pegunungan Alpen menyapa dengan pemandangan yang luar biasa indah. Dari jendela besar di kamar utama villa kayu mereka, hamparan salju putih yang bersih menutupi segala permukaan, menciptakan kesunyian yang bagi Rayhan adalah sebuah kemewahan. Tidak ada suara klakson mobil, tidak ada gangguan rekan bisnis, dan yang terpenting bagi Rayhan: tidak ada jejak pria bernama Adrian. Rayhan terbangun lebih dulu, namun ia tidak beranjak sedikit pun dari tempat tidur. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memperhatikan wajah tidur Alya yang tampak begitu tenang di bawah selimut bulu angsa yang tebal. Ia mengulurkan tangannya, mengelus pipi Alya dengan punggung jarinya secara perlahan, seolah sedang menyentuh porselen yang paling rapuh di dunia. "Enghh... Mas?" Alya terbangun karena merasakan sentuhan lembut itu. Ia mengerjapkan matanya dan mendapati Rayhan sedang menatapnya dengan binar obsesi yang sangat dalam. "Selamat pagi, duniaku," bisik Rayhan dengan suara serak khas bangun tidur. Ia segera merapatkan tubuhnya, memeluk Alya dengan sangat erat hingga tidak ada celah di antara mereka. Ia menyembunyikan wajahnya di leher Alya, menghirup aroma tubuh istrinya yang hangat dan menenangkan. "Mas, ini sudah jam berapa? Apa kita tidak sarapan?" tanya Alya sambil mencoba mengusap rambut berantakan suaminya. "Jam tidak berlaku di sini, Alya. Kita tidak akan pergi ke mana pun. Aku sudah meminta pelayan untuk meletakkan bahan makanan di dapur luar dan mereka tidak boleh masuk ke dalam villa utama tanpa izin dariku. Hanya ada aku dan kau di dalam sini," ujar Rayhan dengan nada posesif yang sangat kental. Sifat manja Rayhan benar-benar keluar sepenuhnya di tempat terpencil ini. Ia meminta Alya untuk memandikannya di dalam bathtub kayu besar yang menghadap langsung ke arah pegunungan salju. Di bawah uap air hangat yang mengepul, Rayhan bersandar di d**a Alya, membiarkan istrinya mengusap bahu bidangnya dengan sabun aroma cendana. "Katakan padaku, Alya... apa kau merindukan rumah kita di kota?" tanya Rayhan tiba-tiba. "Sedikit, Mas. Tapi di sini sangat tenang," jawab Alya jujur. Rayhan berbalik, menatap mata Alya dengan tajam. "Jangan merindukan apa pun di sana. Di sana banyak gangguan. Di sini, aku bisa memilikimu sepenuhnya tanpa takut ada surat atau hadiah yang datang untuk mengusikmu. Aku ingin kita tinggal di sini selamanya jika bisa." Alya tersenyum tipis, ia tahu suaminya sedang berada dalam fase "mengamankan" miliknya. Setelah mandi, Rayhan tidak membiarkan Alya mengenakan pakaian lengkap. Ia meminta Alya hanya mengenakan kemeja putih miliknya yang kebesaran dan tanpa pakaian dalam. Kain kemeja yang tipis itu menjadi sangat transparan di bawah cahaya matahari pagi, memperlihatkan lekuk tubuh Alya yang membuat gairah Rayhan selalu berada di puncaknya. Rayhan memasak sarapan sederhana untuk mereka—omelet dan cokelat panas. Mereka makan di depan perapian yang menyala terang. Rayhan duduk di lantai beralaskan karpet bulu, dan ia memaksa Alya untuk duduk di pangkuannya. Ia menyuapi Alya dengan penuh kesabaran, sesekali mencium sudut bibir istrinya yang terkena sisa makanan. "Mas, aku bisa makan sendiri," protes Alya sambil tertawa kecil. "Tidak. Di sini, kau adalah ratuku, dan aku adalah pelayan pribadimu. Aku ingin melakukan segalanya untukmu, Alya. Aku ingin kau terbiasa hanya bergantung padaku untuk setiap hal kecil dalam hidupmu," tegas Rayhan. Keintiman mereka di depan perapian itu menjadi sangat panas dan transparan. Rayhan tidak tahan melihat bagaimana kemeja putihnya membungkus tubuh Alya dengan begitu menggoda. Ia mulai menunjukkan hasratnya dengan cara yang sangat mendalam. Ia merebahkan Alya di atas karpet bulu yang lembut, di bawah kehangatan api perapian dan dinginnya salju di luar jendela. "Hanya aku, Alya... ingat itu. Hanya sentuhanku yang boleh kau rasakan," gumam Rayhan di tengah kemesraan mereka yang membara. Malam itu, Rayhan benar-benar mengeksplorasi sisi manjanya yang paling transparan. Ia meminta Alya untuk terus membelai rambutnya sampai ia tertidur, dan ia akan terbangun setiap beberapa jam hanya untuk memastikan Alya masih memeluknya. Ia seolah-olah sedang berusaha menghapus semua ingatan buruk tentang "persaingan" dengan Adrian melalui intensitas kasih sayangnya. Bagi Rayhan, villa di Swiss ini adalah tempat penyucian. Ia ingin mencuci bersih pikiran Alya dari segala hal tentang pria lain. Ia menunjukkan cintanya bukan dengan kemarahan, melainkan dengan perhatian yang sangat ekstrem dan hasrat yang tak kunjung padam. Sepanjang sore, badai salju mulai turun dengan lebat di luar. Angin kencang menerpa dinding kayu villa, namun di dalam, suasananya justru semakin intim. Rayhan menyalakan piringan hitam yang memainkan lagu-lagu klasik yang sangat romantis. Ia mengajak Alya berdansa pelan di tengah ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya api perapian. "Lihat ke luar sana, Alya," bisik Rayhan sambil memeluk pinggang Alya dari belakang saat mereka berdiri di depan jendela besar. "Dunia di luar sana sedang kacau dan dingin. Tapi di sini, kau aman bersamaku. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu, tidak akan ada yang bisa mengganggumu." Rayhan menciumi bahu Alya yang terbuka, tangannya merayap posesif di atas kain kemeja tipis yang dikenakan istrinya. Ia merasa sangat berkuasa di sini. Di tempat terpencil ini, ia tidak perlu menjadi CEO yang kejam. Ia hanya perlu menjadi pria yang memuja istrinya dengan cara yang paling jujur. "Apa kau takut padaku, Alya? Karena aku membawamu sejauh ini?" tanya Rayhan dengan nada yang tiba-tiba melunak, memperlihatkan sisi rapuhnya lagi. Alya berbalik, mengalungkan tangannya di leher Rayhan. "Aku tidak takut, Mas. Aku tahu kau melakukan ini karena kau sangat mencintaiku. Walaupun caramu terkadang membuatku sesak, aku tahu tidak ada pria yang akan menjagaku seperti kau menjagaku." Mendengar itu, Rayhan merasa sangat lega. Ia menggendong Alya kembali ke ranjang yang besar. Malam itu, di tengah badai salju yang mengamuk di pegunungan Alpen, Rayhan dan Alya tenggelam dalam badai gairah mereka sendiri. Rayhan benar-benar memanjakan Alya dengan cara yang sangat transparan, menunjukkan betapa setiap inci dari dirinya adalah milik Alya, dan ia menuntut hal yang sama dari istrinya. Ia memastikan bahwa ketika fajar menyingsing esok hari, hal pertama yang diingat Alya bukanlah hadiah dari Adrian atau kata-kata sopan pria itu, melainkan kehangatan dan kekuatan cinta Rayhan yang tidak tertandingi. Rayhan memperhatikan bagaimana pantulan cahaya api perapian menari-nari di atas kulit Alya yang halus. Baginya, pemandangan ini jauh lebih berharga daripada koleksi lukisan mahal mana pun di galeri seni. Ia sengaja mematikan semua lampu elektrik di villa tersebut, hanya membiarkan cahaya alami dari api yang memberikan nuansa oranye yang hangat dan remang-remang. Dalam keremangan itu, Rayhan merasa dunianya menjadi sangat kecil—hanya sebatas ruangan ini, dan hanya sebatas tubuh Alya yang ada dalam dekapannya. "Mas... kenapa tatapanmu seperti itu?" tanya Alya pelan, merasa sedikit malu karena Rayhan memperhatikannya tanpa berkedip sedikit pun. Rayhan mengulurkan tangannya, menelusuri garis rahang Alya dengan sangat perlahan. "Aku sedang mencoba merekam setiap detail wajahmu di dalam ingatanku, Alya. Agar saat aku sedang bekerja atau saat aku tidak bisa melihatmu, aku punya gambaran yang sempurna tentang milikku. Aku ingin memastikan bahwa tidak ada ruang sedikit pun di kepalaku untuk hal lain selain kau." Rayhan kemudian menarik Alya untuk berbaring di atas karpet bulu tebal yang berada tepat di depan perapian. Ia menyelimuti tubuh mereka dengan satu selimut besar, menciptakan ruang privat yang sangat panas di tengah dinginnya suhu pegunungan yang menusuk di luar sana. Sifat manjanya yang posesif kembali mendominasi; ia meminta Alya untuk terus membisikkan bahwa Alya tidak akan pernah membandingkannya dengan pria mana pun dari masa lalunya. "Katakan lagi, Alya... Katakan bahwa sentuhanku adalah satu-satunya yang kau inginkan," tuntut Rayhan dengan suara yang serak dan penuh gairah. Alya, yang merasakan ketulusan sekaligus kerapuhan suaminya, mencium kening Rayhan dengan penuh pengabdian. "Sentuhanmu adalah satu-satunya yang aku butuhkan, Mas. Tidak ada yang lain. Selamanya." Mendengar pengakuan itu, Rayhan seolah mendapatkan suntikan kekuatan baru. Ia melampiaskan seluruh rasa cintanya yang obsesif melalui kemesraan yang sangat transparan. Ia memperlakukan Alya dengan sangat hati-hati namun penuh tuntutan, memastikan bahwa setiap desah napas yang keluar dari bibir istrinya adalah karena dirinya. Posesifitasnya di Swiss ini menjadi sebuah bentuk seni—seni memiliki seseorang secara utuh tanpa ada gangguan dari dunia luar. Ia benar-benar telah menjadikan villa ini sebagai tempat suci di mana hanya cinta dan gairah mereka yang diizinkan untuk bernapas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD