Pagi itu, suasana di meja makan terasa sangat sunyi. Rayhan duduk di kursi utamanya, namun matanya tidak lepas dari Alya yang sedang menyuapi sereal dengan gerakan pelan. Sejak kejadian di supermarket kemarin, Rayhan hampir tidak membiarkan ada jarak lebih dari satu meter di antara mereka. Bahkan saat Rayhan mandi, Alya harus duduk di dalam kamar mandi menemaninya bicara.
Ketegangan itu kembali memuncak ketika seorang pelayan masuk dengan ragu-ragu membawa sebuah amplop surat resmi yang dikirimkan melalui jasa kurir khusus.
"Tuan, ada surat untuk Nyonya Alya," lapor pelayan itu dengan suara rendah.
Rayhan segera menyambar amplop itu sebelum tangan Alya sempat menyentuhnya. Ia merobeknya dengan kasar. Ternyata itu adalah surat dari Adrian yang ditulis dengan sangat sopan di atas kertas surat firma arsitekturnya.
“Alya, aku minta maaf jika kehadiranku kemarin membuatmu tidak nyaman di depan suamimu. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja dan memberikan kontak asistenku jika suatu saat kau butuh bantuan profesional tanpa harus melibatkanku secara langsung. Aku menghargai pernikahanmu dan tidak berniat merusaknya. — Adrian.”
Rayhan meremas kertas itu hingga berbentuk bola dan melemparkannya ke lantai. Tawanya terdengar dingin dan meremehkan. "Lihat ini, Alya. Pria ini sangat licik. Dia berlagak sopan dengan membawa-bawa asisten dan nama profesional, tapi tujuannya tetap sama: ingin tetap terhubung dengamu!"
Alya menghela napas, ia merasa lelah dengan konflik ini. "Mas, dia hanya meminta maaf. Dia pria yang baik dan menghargai batas—"
"Berhenti membelanya!" bentak Rayhan, namun detik berikutnya ia segera berlutut di samping kursi Alya, menggenggam kedua tangan istrinya dengan wajah yang tampak sangat terganggu. "Kau lihat? Dia mencoba terlihat seperti pahlawan yang bijaksana, sementara aku terlihat seperti monster yang cemburu. Itu rencananya, Alya! Dia ingin kau merasa bahwa aku adalah penjara bagimu!"
Rayhan menarik Alya ke dalam pelukannya, menyandarkan kepalanya di bahu istrinya dengan sangat manja. Suaranya bergetar karena rasa takut yang sangat dalam. "Aku tidak bisa membiarkan ini, Alya. Kota ini sudah tidak aman bagiku. Bayangannya ada di mana-mana. Kita harus pergi. Hari ini juga."
Tanpa menunggu persetujuan Alya, Rayhan segera menghubungi asisten pribadinya. "Siapkan jet pribadi. Kita berangkat ke Swiss sore ini. Batalkan semua rapatku untuk dua minggu ke depan. Aku tidak peduli berapa kerugian perusahaannya, siapkan semuanya sekarang!"
Alya tertegun. "Swiss, Mas? Tapi aku belum berkemas, aku belum—"
"Jangan bawa apa pun, Sayang. Aku sudah memesan semua kebutuhanmu di sana. Pakaian, perhiasan, semuanya sudah menunggumu di villa kita di pegunungan Alpen. Aku hanya ingin membawamu pergi ke tempat di mana hanya ada salju dan kita berdua. Di sana, tidak akan ada Adrian, tidak akan ada surat, dan tidak ada mata yang menatapmu kecuali mataku," ujar Rayhan dengan binar obsesi yang kembali menyala di matanya.
Sisa hari itu dihabiskan dengan persiapan yang sangat terburu-buru. Rayhan benar-benar menjaga Alya tetap di dalam kamar utama sementara para pelayan sibuk di luar. Ia memanjakan Alya dengan cara yang sangat intens, seolah sedang menandai tubuh istrinya sebelum mereka pergi jauh. Sifat manjanya muncul setiap kali Alya mencoba bangun dari tempat tidur untuk sekadar melihat ke jendela.
"Jangan lihat ke luar, Alya. Lihat aku saja. Aku adalah duniamu sekarang," bisik Rayhan sambil menarik Alya kembali ke dalam pelukannya di atas ranjang.
Malam itu, di dalam kabin jet pribadi yang mewah dan sangat privat, Rayhan memesan agar lampu diredupkan. Di ketinggian ribuan kaki di atas permukaan laut, Rayhan merasa benar-benar memiliki Alya. Tidak ada yang bisa mengganggu mereka di sini.
Rayhan meminta Alya untuk mengenakan gaun tidur transparan yang sengaja ia siapkan di dalam jet. Di bawah cahaya lampu kabin yang temaram, Rayhan menunjukkan hasratnya dengan cara yang sangat puitis dan mendalam. Ia merasa menang karena telah berhasil menjauhkan Alya dari "ancaman" Adrian.
"Di sini, hanya ada kita dan langit, Alya. Kau adalah bintangku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mencuri cahayamu," gumam Rayhan di tengah keintiman mereka yang sangat panas di dalam jet pribadi tersebut.
Kemesraan mereka di atas awan itu berlangsung dengan sangat transparan. Rayhan tidak ragu menunjukkan betapa ia sangat memuja setiap lekuk tubuh Alya. Ia bermanja-manja, meminta Alya untuk terus membisikkan kata-kata cinta di telinganya setiap kali ia bergerak. Bagi Rayhan, pelarian ini adalah cara terbaik untuk mengunci hati Alya agar tetap menjadi miliknya seorang.
Alya menatap keluar jendela jet, melihat lampu-lampu kota yang semakin mengecil dan menghilang di balik awan. Ia merasa hidupnya kini benar-benar telah berpindah ke tangan Rayhan sepenuhnya. Meskipun ia merasa tindakan suaminya sangat impulsif, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa sangat dilindungi. Rayhan bersedia meninggalkan kerajaan bisnisnya yang bernilai triliunan hanya untuk membawanya pergi dari seorang pria yang bahkan belum tentu akan mendekatinya lagi.
"Apa kau senang, Sayang?" tanya Rayhan sambil menyelimuti tubuh Alya yang mulai kedinginan karena AC pesawat. Ia memeluk Alya dari samping, tidak membiarkan ada celah sedikit pun.
"Aku senang selama aku bersamamu, Mas. Tapi Mas tidak harus sampai sejauh ini hanya karena Adrian," jawab Alya jujur.
Rayhan mencium kening Alya dengan lembut. "Aku harus, Alya. Aku lebih baik kehilangan seluruh hartaku daripada kehilangan satu detik pun perhatianmu. Di Swiss nanti, aku akan menunjukkan padamu apa artinya memiliki suamimu ini sepenuhnya tanpa gangguan siapa pun."
Keesokan paginya, mereka tiba di sebuah villa kayu yang sangat mewah di pinggiran danau yang dikelilingi pegunungan Alpen yang bersalju. Tempat itu sangat terpencil, sangat tenang, dan sangat indah. Rayhan langsung mematikan semua akses komunikasi untuk mereka berdua, kecuali satu jalur darurat untuk urusan perusahaan yang hanya dipegang oleh asisten kepercayaannya.
Rayhan menggendong Alya masuk ke dalam villa yang sudah dihangatkan oleh perapian. Ia membaringkan Alya di atas karpet bulu yang sangat lembut di depan perapian. "Selamat datang di dunia kita yang baru, Alya. Di sini, waktu berhenti hanya untuk kita."
Momen di depan perapian itu menjadi sangat romantis dan intim. Rayhan kembali menunjukkan sisi manjanya yang sangat transparan, meminta Alya untuk menghangatkannya dengan pelukan. Mereka menghabiskan hari pertama di Swiss dengan saling memuja satu sama lain, jauh dari kebisingan masa lalu. Tanpa disadari, Rayhan telah berhasil membangun "penjara emas" yang paling indah di dunia untuk istrinya.
Rayhan memperhatikan Alya yang sempat termenung menatap ke arah jendela pesawat. Ada rasa sakit yang menyayat hati Rayhan setiap kali ia melihat istrinya tampak memikirkan sesuatu yang bukan dirinya. Ia segera menarik tirai jendela jet tersebut, menutup akses pandangan Alya ke dunia luar. Ia ingin satu-satunya pemandangan yang dilihat Alya malam itu hanyalah dirinya.
"Jangan menatap ke sana, Sayang. Di sana hanya ada kegelapan. Di sini, bersamaku, ada semua yang kau butuhkan," bisik Rayhan dengan nada yang sangat posesif namun terdengar memohon.
Rayhan kemudian menuangkan segelas champagne non-alkohol untuk Alya, menyuapkannya dengan sangat perlahan seolah sedang melakukan sebuah ritual pemujaan. Ia memandangi bibir Alya yang basah dengan tatapan lapar. Bagi Rayhan, pelarian ke Swiss ini bukan hanya soal menjauh dari Adrian, tapi soal egonya yang ingin membuktikan bahwa ia sanggup memberikan surga dunia yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh pria mana pun. Ia ingin Alya merasa ketergantungan padanya, merasa bahwa tanpa Rayhan, dunia adalah tempat yang asing dan tidak nyaman.
(Tambahan Detail - Bagian Tiba di Villa Alpen)
Sesampainya di villa, Rayhan menunjukkan sisi manjanya yang semakin menjadi-jadi. Ia tidak membiarkan pelayan villa menyentuh barang-barang pribadi Alya. Rayhan sendiri yang membukakan sepatu bot Alya, memijat kaki istrinya yang kelelahan karena perjalanan jauh, dan memastikan suhu di dalam villa benar-benar sempurna untuk kulit sensitif Alya.
"Mas, kau tidak perlu melakukan semua ini sendiri. Ada pelayan yang bisa membantu," ujar Alya merasa haru melihat suaminya yang perkasa rela berlutut di depannya.
Rayhan mendongak, matanya yang tajam kini tampak berkaca-kaca karena rasa sayang yang meluap. "Aku tidak mau tangan orang lain menyentuhmu, Alya. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang melayanimu, yang menjagamu, dan yang membuatmu merasa aman. Di pegunungan salju ini, aku adalah pelindungmu, pelayanmu, dan pemilik hatimu."
Rayhan kemudian memeluk pinggang Alya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di balik jubah tidur tebal yang dikenakan Alya. Ia menghirup aroma tubuh istrinya yang kini bercampur dengan wangi pegunungan yang segar. Keintiman yang mereka bangun di malam pertama di Swiss ini terasa jauh lebih jujur. Rayhan menanggalkan semua topeng kekuasaannya, membiarkan Alya melihat betapa ia hanyalah seorang pria yang sangat takut kehilangan wanita yang dicintainya. Di bawah selimut bulu yang tebal, dengan suara kayu yang terbakar di perapian sebagai latar belakang, Rayhan kembali membawa Alya ke dalam dunia gairah yang transparan, mengunci janji setia mereka di tengah dinginnya malam Alpen.