Siang itu, Alya merasa sedikit jenuh berada di dalam rumah. Setelah beberapa hari "dikurung" oleh Rayhan dalam kemesraan yang intens, ia meminta izin untuk pergi ke supermarket eksklusif di pusat kota guna membeli beberapa keperluan pribadinya. Rayhan, yang sebenarnya enggan memberikan izin, akhirnya setuju dengan syarat Alya harus dikawal oleh dua pengawal pribadi dan satu sopir, serta harus tetap melakukan panggilan suara yang menyala di telinga Alya melalui earpiece.
"Hanya tiga puluh menit, Alya. Jangan bicara pada siapa pun, dan jangan lepaskan pengawasan pengawalmu," pesan Rayhan dengan nada tegas namun penuh kecemasan sebelum Alya berangkat.
Alya sedang memilih beberapa keperluan di lorong perlengkapan mandi ketika sebuah suara yang sangat ia kenali memanggil namanya.
"Alya? Kita bertemu lagi secara tidak sengaja?"
Alya menoleh dan mendapati Adrian berdiri di sana dengan keranjang belanja di tangannya. Adrian tampak santai dengan kemeja kasual, namun senyum tulusnya tetap sama. Para pengawal Rayhan segera mendekat, berdiri tegak di antara Alya dan Adrian dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.
"Oh, hai Adrian. Iya, aku hanya sedang membeli beberapa barang," jawab Alya sedikit canggung, sadar bahwa Rayhan mungkin sedang mendengarkan melalui sambungan telepon yang tersembunyi.
"Aku minta maaf soal buku katalog kemarin, Alya. Aku baru tahu dari kurir kalau kirimanku ditolak. Aku harap aku tidak membuatmu dalam masalah dengan suamimu," ujar Adrian dengan nada penuh penyesalan dan ketulusan. Dia sama sekali tidak tahu bahwa buku itu sebenarnya sudah dihancurkan oleh Rayhan.
"Tidak apa-apa, Adrian. Terima kasih atas niat baikmu, tapi kurasa suamiku lebih suka jika aku tidak menerima hadiah dari pria lain," jelas Alya lembut, mencoba menjaga jarak.
Tanpa sepengetahuan Alya, di kantornya, Rayhan sedang mencengkeram pinggiran meja kerjanya hingga memutih. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan Adrian melalui alat penyadap di earpiece Alya. Darahnya mendidih melihat melalui kamera pengawas supermarket—yang telah ia retas aksesnya—bagaimana Adrian menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh kekaguman.
"Pulang sekarang, Alya!" suara Rayhan menggelegar di telinga Alya melalui earpiece, sangat dingin dan penuh amarah. "Berhenti bicara dengan pria itu atau aku akan menyuruh pengawalku menyeretmu keluar!"
Alya tersentak. Wajahnya memucat. "Maaf, Adrian. Aku harus pergi sekarang. Suamiku sudah menungguku."
Alya bergegas pergi, meninggalkan Adrian yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. Begitu sampai di parkiran, sebuah mobil SUV hitam mewah sudah menunggu dengan pintu terbuka. Rayhan ada di dalam sana. Ia tidak bisa menunggu Alya pulang, ia langsung menjemputnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Rayhan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Suasana di dalam mobil sangat mencekam. Rayhan hanya menggenggam tangan Alya dengan sangat erat, nyaris menyakitkan, seolah takut Alya akan menghilang jika ia melonggarkannya sedikit saja.
Begitu sampai di rumah, Rayhan langsung menarik Alya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dengan kasar. Ia melepas jasnya dan melemparnya ke lantai, lalu menatap Alya dengan mata yang merah karena cemburu dan hasrat yang bercampur aduk.
"Sudah kubilang jangan bicara pada siapa pun, Alya! Kenapa kau masih melayaninya bicara?" bentak Rayhan sambil memojokkan Alya ke dinding kamar.
"Mas, dia yang menyapaku. Aku hanya mencoba bersikap sopan. Hanya sebentar, Mas," bela Alya dengan suara gemetar.
Rayhan mencengkeram kedua sisi wajah Alya, memaksanya menatap matanya yang penuh obsesi. "Kesopananmu itu adalah undangan bagi pria seperti dia, Alya! Dia melihat celah untuk mendekatimu karena kau terlalu baik. Aku tidak suka! Aku benci membayangkan dia menatap wajahmu bahkan untuk sedetik saja!"
Rayhan kemudian mulai "menghukum" Alya dengan caranya sendiri. Ia mencium Alya dengan sangat kasar dan menuntut, sebuah ciuman yang penuh dengan rasa kepemilikan. Ia ingin menghapus sisa-sisa suara Adrian dari ingatan Alya melalui sentuhannya. Sifat manja Rayhan muncul di tengah kemarahannya; ia mulai merengek kecil, meminta Alya untuk memohon ampun padanya.
"Katakan kau hanya milikku, Alya. Katakan kau menyesal telah membiarkan dia menatapmu," bisik Rayhan di leher Alya dengan napas yang memburu.
"Aku menyesal, Mas... Aku hanya milikmu. Tolong jangan marah lagi," isak Alya pelan, merasa terhimpit oleh cinta Rayhan yang begitu besar dan menyesakkan.
Rayhan kemudian membawa Alya ke atas ranjang dalam suasana yang sangat transparan dan intim. Malam itu, Rayhan benar-benar tidak memberikan ampun. Ia menunjukkan hasrat halalnya dengan cara yang lebih dominan dari biasanya. Ia ingin Alya merasakan bahwa tidak ada pria lain di dunia ini yang bisa memberikan rasa aman dan gairah sedalam yang ia berikan.
Dalam keintiman yang panas itu, Rayhan berkali-kali membisikkan kata-kata posesif. Ia menanggalkan semua pakaian Alya hingga istrinya merasa sangat terekspos di bawah cahaya lampu temaram, sementara ia sendiri terus memuja setiap inci tubuh Alya seolah-olah ia sedang menjaga harta karun yang paling berharga.
"Kau sangat indah saat kau hanya milikku seperti ini, Alya. Jangan pernah biarkan pria lain melihat sisi dirimu yang ini," gumam Rayhan di sela-sela kegiatannya.
Setelah puncak gairah mereka tercapai, Rayhan tidak membiarkan Alya menjauh. Ia justru menangis kecil di d**a Alya—sebuah kejutan yang membuat Alya tertegun. Sisi rapuh Rayhan muncul sepenuhnya.
"Aku sangat takut, Alya... Aku takut jika kau melihat pria yang lebih baik dariku, kau akan menyadari betapa buruknya aku karena mengurungmu seperti ini," rintih Rayhan sambil memeluk pinggang Alya dengan sangat erat, seperti seorang anak kecil yang takut kehilangan ibunya.
Alya yang hatinya sangat lembut seketika luluh. Ia membelai rambut Rayhan, menciumi puncak kepala suaminya dengan penuh kasih. "Mas, tidak ada pria yang lebih baik darimu di mataku. Posesifitasmu adalah bukti betapa kau mencintaiku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Malam itu berakhir dengan Rayhan yang tertidur dalam dekapan Alya, kakinya masih mengunci kaki istrinya dengan kuat. Rayhan telah mendapatkan kepastiannya kembali, namun Alya tahu bahwa kehadiran Adrian akan tetap menjadi hantu yang memicu sifat obsesif suaminya di bab-bab selanjutnya.
Tanpa senjata, tanpa kekerasan fisik, Rayhan telah membuktikan bahwa hukuman darinya hanyalah bentuk lain dari rasa cinta yang terlalu dalam—sebuah cinta transparan yang hanya dipahami oleh mereka berdua di balik pintu kamar yang terkunci rapat.
Alya memperhatikan bagaimana Rayhan, bahkan dalam tidurnya, masih menggenggam jemari tangannya dengan sangat kuat. Ia melihat raut wajah suaminya yang tampak lelah karena terlalu banyak berpikir negatif. Ia menyadari bahwa kekayaan dan kekuasaan tidak membuat Rayhan kebal terhadap rasa tidak percaya diri dalam hal cinta. Bagi Rayhan, Alya adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia beli dengan uang, sehingga ia menjaganya dengan cara yang ekstrem.
Keesokan paginya, Rayhan memberikan pengumuman kepada seluruh staf rumah tangga bahwa mulai hari ini, Alya tidak diizinkan keluar rumah tanpa dirinya yang mendampingi secara langsung. "Jika dia ingin sesuatu, biarkan pengawal yang membelikannya. Jika dia bosan, aku yang akan membawanya jalan-jalan di akhir pekan," tegas Rayhan di depan para pelayan.
Ia kemudian kembali ke kamar, membawakan setangkai mawar merah dan sarapan untuk Alya. Ia kembali menjadi sosok suami yang sangat manja, menyuapi Alya dengan penuh kesabaran dan terus meminta maaf atas kekasarannya kemarin, namun tetap teguh pada keputusannya untuk tidak membiarkan Alya keluar sendirian lagi.
"Hanya aku yang boleh menjagamu, Sayang. Dunia di luar sana terlalu berbahaya untuk kecantikanmu," ujar Rayhan sambil mengecup ujung hidung Alya, memulai hari baru yang kembali terkurung dalam kemewahan dan cinta yang obsesif.