Bab 16: Hadiah yang Menyalakan Api

1062 Words
Pagi hari di kediaman Rayhan dimulai dengan suasana yang sedikit tegang. Meskipun semalam Rayhan sudah mendapatkan kepastian cinta dari Alya di atas ranjang, kegelisahan di hatinya belum sepenuhnya padam. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kerjanya, bukan untuk memeriksa laporan keuangan, melainkan untuk memandangi layar monitor yang menampilkan aktivitas Alya di taman belakang melalui kamera pengawas. Ketegangan itu memuncak ketika sebuah kurir datang ke gerbang depan membawa sebuah kotak kayu yang elegan dan sebuah buket bunga lili putih—bunga favorit Alya. Budi, kepala keamanan, segera membawa kiriman itu ke hadapan Rayhan sebelum sampai ke tangan Alya. Rayhan membuka kartu ucapan yang terselip di antara bunga-bunga itu. “Untuk Alya, teman lamaku. Aku melihatmu sangat mengagumi lukisan 'Kerinduan' kemarin. Ini adalah katalog eksklusif dari pelukisnya yang aku janjikan dulu. Semoga ini bisa menghibur harimu di rumah. — Adrian.” Rahang Rayhan mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Matanya berkilat penuh amarah yang dingin. Ia meremas kartu ucapan itu hingga hancur dalam kepalannya. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar buket bunga itu dan membuangnya ke tempat sampah besar di sudut ruangan, lalu ia membawa kotak kayu tersebut menuju kamar utama dengan langkah lebar yang mengintimidasi. Alya yang sedang merapikan daster satin tipisnya di depan cermin tersentak saat pintu kamar dibuka dengan kasar. Ia melihat Rayhan berdiri di sana dengan wajah yang sangat gelap, memegang sebuah kotak kayu. "Mas... ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Alya cemas. Rayhan tidak menjawab. Ia meletakkan kotak itu di atas meja rias Alya dengan dentuman keras. "Pria itu benar-benar tidak tahu diri, Alya. Dia mengirimkan ini ke rumahku. Berani sekali dia mencoba menyentuh hidupmu bahkan setelah aku menunjukkan ketidaksukaanku!" Alya melihat isi kotak itu—sebuah buku katalog seni yang sangat langka. "Mas, Adrian hanya berniat baik. Dia tahu aku suka seni—" "Aku tidak butuh kebaikan darinya!" bentak Rayhan, namun suaranya segera melunak menjadi rintihan yang penuh kepedihan. Ia menarik Alya ke dalam pelukannya, mencengkeram bahu istrinya dengan posesif. "Apa aku tidak cukup bagimu? Apa perpustakaan yang kubangun untukmu kurang lengkap sehingga kau harus menerima pemberian dari pria lain?" Rayhan menatap mata Alya dengan intensitas yang menakutkan. "Aku bisa memberikanmu galeri seni jika kau mau, Alya. Aku bisa membeli seluruh museum di dunia ini untukmu. Jangan pernah terima apa pun darinya. Aku tidak suka ada jejak pria lain di dalam rumah ini." Rayhan kemudian melakukan sesuatu yang sangat emosional. Ia mengambil buku katalog itu dan melemparkannya ke luar balkon, tidak peduli betapa langkanya barang tersebut. Ia kemudian mengunci pintu balkon dan menarik tirai hingga kamar mereka menjadi temaram. "Hanya aku, Alya. Hanya aku yang boleh memberimu kebahagiaan," bisik Rayhan. Ia mulai menciumi leher Alya dengan sangat lapar, seolah-olah ingin menghapus bayangan Adrian dari kulit istrinya. Sifat manja Rayhan yang meledak-ledak muncul kembali. Ia membawa Alya ke ranjang dan memaksanya untuk menatap matanya selama mereka berhubungan. Malam itu, kemesraan mereka terasa sangat mendalam dan penuh tekanan emosional. Rayhan ingin memastikan secara fisik dan batin bahwa Alya adalah miliknya secara mutlak. Ia menunjukkan hasratnya dengan cara yang sangat berani dan transparan, menuntut Alya untuk terus memberikan konfirmasi cintanya. "Katakan padaku, Alya... siapa pemilikmu?" desah Rayhan di tengah keintiman mereka yang membara. "Hanya kau, Mas Rayhan... hanya kau," jawab Alya dengan napas tersengal, merasa terhanyut dalam gairah suaminya yang luar biasa. Rayhan memperlakukan Alya seperti seorang ratu yang sedang disembah, namun di sisi lain, ia adalah seorang raja yang tidak mau berbagi sedikit pun wilayah kekuasaannya. Ia menciumi setiap jengkal tubuh Alya, memastikan bahwa istrinya hanya merasakan sentuhannya. Keintiman mereka kali ini berlangsung sangat lama, seolah Rayhan ingin menguras seluruh energi Alya agar istrinya tidak punya kekuatan lagi untuk memikirkan hal lain selain suaminya. Setelah badai gairah itu mereda, Rayhan kembali ke posisi favoritnya—menyandarkan kepalanya di d**a Alya. Ia memeluk pinggang Alya dengan sangat erat, kakinya mengunci kaki istrinya. Ia tampak sangat rapuh setelah ledakan cemburunya tadi. "Jangan pernah tinggalkan aku, Alya. Jika pria itu muncul lagi, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan padanya... atau pada diriku sendiri karena terlalu takut kehilanganmu," gumam Rayhan dengan suara yang sangat manja. Alya mengusap punggung suaminya, menyadari bahwa ketakutan Rayhan berasal dari rasa cinta yang terlalu besar dan obsesif. "Mas, aku tidak akan ke mana-mana. Adrian hanya masa lalu, kau adalah masa depanku." Pagi harinya, Rayhan tidak membiarkan Alya keluar kamar. Ia memesan sarapan mewah untuk dibawa ke kamar dan menghabiskan sepanjang hari dengan memanjakan Alya di atas ranjang. Ia ingin menciptakan kenangan baru yang begitu kuat sehingga pemberian Adrian kemarin akan terlupakan sepenuhnya. Rayhan bahkan membelikan Alya sebuah lukisan asli dari pelukis yang sama dengan yang dikirimkan Adrian, namun dengan ukuran yang sepuluh kali lebih besar, dan memajangnya tepat di depan tempat tidur mereka. "Sekarang, setiap kali kau melihat lukisan ini, kau hanya akan mengingat bahwa suamimulah yang memberikannya padamu. Bukan pria lain," ujar Rayhan bangga sambil mengecup bahu Alya yang masih mengenakan lingerie transparan. Alya hanya bisa tersenyum pasrah. Ia tahu bahwa hidup dengan Rayhan berarti hidup dalam pengawasan dan cinta yang sangat intens. Namun, melihat betapa tulusnya Rayhan menjaganya dari pengaruh luar, Alya merasa semakin mencintai pria yang penuh dengan kontradiksi ini. Tanpa tembak-tembakan, tanpa kekerasan fisik, Rayhan telah memenangkan peperangan memperebutkan hati Alya dengan cara yang paling romantis dan menggoda. Sepanjang hari itu, Rayhan benar-benar tidak melepaskan Alya. Ia bahkan mengikuti Alya hingga ke kamar mandi, hanya untuk memastikan istrinya tidak merasa kesepian—atau lebih tepatnya, agar ia selalu bisa melihat Alya. Sifat posesifnya ini terkadang terasa sangat menyesakkan bagi orang biasa, namun bagi Alya yang sudah memahami luka batin Rayhan, ini adalah bentuk pemujaan yang tertinggi. Rayhan juga mengganti semua wangi-wangian di kamar mereka dengan aroma yang baru, aroma kayu cendana yang sangat maskulin dan kuat, seolah ingin menegaskan bahwa kamar ini adalah wilayah kedaulatannya. Ia menghancurkan kartu nama Adrian yang tersisa di sakunya dengan mesin penghancur kertas, memastikan tidak ada sedikit pun data tentang pria itu yang tersisa di rumahnya. "Aku akan mengatur agar kita melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri bulan depan," ujar Rayhan tiba-tiba saat mereka sedang bersantai sore hari. "Hanya kita berdua. Aku ingin kau jauh dari kota ini, jauh dari orang-orang yang mengenali masa lalumu." Alya mengangguk setuju. Ia tahu ini adalah cara Rayhan untuk merasa aman. Dan selama ia berada di sisi suaminya, Alya merasa bahwa dunia luar tidak lagi penting baginya. Keintiman mereka yang transparan dan jujur setiap malam adalah satu-satunya kenyataan yang ia butuhkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD