Bab 13: Gejolak yang Tersembunyi

1344 Words
Liburan di pulau pribadi telah berakhir, dan kini hiruk-pikuk metropolitan kembali menyapa. Rayhan kembali ke kantornya dengan aura yang lebih tegas dan dingin. Namun, di balik sikap profesionalnya, ada satu hal yang tidak pernah berubah: posesifitasnya. Di dalam saku jas mahalnya, ia tak pernah lepas menggenggam ponsel yang tersambung langsung ke kamera pengawas di kamar utama mereka. Ia butuh memastikan setiap detik bahwa Alya aman dan tetap berada dalam jangkauan pandangannya. Hari ini, Rayhan harus menghadiri jamuan makan siang eksklusif dengan seorang investor besar dari luar negeri. Pertemuan itu diadakan di sebuah restoran mewah yang ditutup total untuk umum demi menjaga privasi. Investor tersebut membawa asisten pribadinya, seorang wanita bernama Clarissa yang dikenal sangat ambisius dan memiliki reputasi sering menggunakan kecantikannya untuk memikat mitra bisnis. Di dalam ruangan VIP yang temaram, Rayhan duduk dengan wajah kaku. Di sampingnya, Clarissa terus-menerus mencoba mendekat. Wanita itu mengenakan gaun yang sangat terbuka di bagian d**a, dan aromanya yang menyengat sengaja diarahkan ke indra penciuman Rayhan setiap kali ia bergerak. "Tuan Rayhan, saya dengar Anda baru saja kembali dari pulau pribadi. Pasti sangat sepi di sana," bisik Clarissa sambil dengan sengaja menyentuhkan jemarinya ke lengan jas Rayhan di bawah meja. "Bukankah pria sesukses Anda butuh variasi... hiburan yang lebih menantang daripada sekadar kesunyian?" Clarissa mulai menggerakkan kakinya yang terbalut stoking tipis di bawah meja, mencoba menyentuh kaki Rayhan. Sebagai laki-laki normal, Rayhan merasakan aliran darahnya berdesir hebat. Insting lelakinya terusik oleh rayuan terang-terangan itu. Ada gairah yang sempat terpancing secara alami, namun di dalam benaknya, bukan wajah Clarissa yang muncul. Bayangan Alya yang sedang mengenakan apron transparan di dapur villa tiba-tiba melintas dengan sangat kuat. Aroma vanila Alya yang lembut seolah mengusir bau parfum Clarissa yang menusuk. Gairah yang muncul karena rayuan itu justru membuat Rayhan merasa sangat merindukan istrinya. Ia merasa sangat "lapar", tapi ia tahu hanya Alya yang berhak memuaskannya. Rayhan langsung menarik tangannya dengan kasar dan berdiri tegak, membuat kursi di belakangnya berderit keras. "Maaf, saya ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda," ujar Rayhan dingin tanpa menatap Clarissa sedikit pun. Ia melangkah keluar dari restoran dengan terburu-buru. Begitu sampai di dalam mobil, napasnya memburu. Hasrat yang terpancing tadi membuatnya merasa sesak. Ia segera merogoh ponselnya dan melakukan panggilan video ke Alya. Di layar, muncul wajah Alya yang sedang bersantai di sofa kamar mengenakan daster sutra tipis tanpa lengan. "Mas? Ada apa? Bukankah Mas sedang rapat?" Melihat wajah polos istrinya, Rayhan merasakan gejolak di bawah sana semakin tidak terkendali. "Alya... kau sedang apa?" suara Rayhan terdengar sangat serak dan berat. "Aku sedang menunggumu, Mas. Kenapa suaramu seperti itu?" tanya Alya cemas. "Jangan ke mana-mana. Tetaplah di ranjang itu. Pakai pakaian yang paling transparan yang aku belikan kemarin. Aku akan sampai dalam sepuluh menit," perintah Rayhan dengan nada posesif yang mutlak. "Dan Alya... jangan matikan telepon ini. Aku ingin terus melihatmu sampai aku masuk ke dalam kamar." Rayhan memerintahkan sopirnya untuk melaju secepat mungkin. Sepanjang perjalanan, matanya tak lepas dari layar ponsel, memandangi Alya yang mulai bergerak mengganti pakaiannya sesuai perintahnya. Rayhan merasa terbakar. Rayuan Clarissa tadi justru menjadi bahan bakar bagi api gairahnya yang hanya diperuntukkan bagi Alya. Begitu sampai di rumah, Rayhan berlari menaiki tangga tanpa memedulikan sapaan pelayan. Ia membuka pintu kamar dan langsung menguncinya dengan tangan yang masih gemetar. Ia berdiri mematung di depan pintu, menatap Alya yang sudah menunggunya dengan balutan lingerie sutra putih yang sangat transparan. Kontras antara niat busuk Clarissa di restoran tadi dengan kesucian Alya di depannya membuat Rayhan merasa sangat emosional. "Mas... ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mas begitu terburu-buru?" Alya mendekat, menyentuh lengan jas Rayhan yang masih terasa dingin. Rayhan menarik Alya ke dalam pelukan yang nyaris menyesakkan. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alya, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu berhasil menenangkan badai di kepalanya. Ia memutuskan untuk tidak memberitahu Alya tentang rayuan Clarissa karena takut istrinya akan sedih atau merasa tidak cukup menarik. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya saja... dunia di luar sana sangat berisik, dan aku hanya ingin pulang kepadamu," bohong Rayhan demi menjaga perasaan istrinya. "Aku merasa seperti pria paling berdosa jika sedikit saja pikiranku tidak terfokus padamu." Rayhan mengangkat Alya dan membawanya ke ranjang dengan gerakan yang sangat dominan namun penuh cinta. Malam itu, Rayhan seolah ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa tidak ada satu inci pun dari tubuhnya yang menjadi milik orang lain. Ia memanjakan Alya dengan cara yang sangat transparan, menumpahkan seluruh hasrat yang tadi sempat terpancing oleh godaan luar hanya kepada istrinya. Sifat manjanya muncul saat ia terus meminta Alya untuk memeluknya lebih erat. "Hanya kau pelabuhanku, Alya. Hanya kau yang boleh menyentuhku seperti ini," gumam Rayhan di tengah keintiman mereka. Pagi harinya, ia bahkan masih tidak ingin beranjak, mendekap erat tubuh Alya seolah ingin melindunginya dari segala kekotoran dunia luar. Setelah gejolak hasrat yang meluap itu mereda, suasana kamar kembali sunyi, hanya menyisakan suara napas mereka yang saling bersahutan. Rayhan tidak membiarkan Alya beranjak dari dekapannya bahkan untuk sedetik pun. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka yang masih bersentuhan, lalu menyandarkan kepalanya di d**a Alya—posisi yang selalu membuatnya merasa paling tenang dan aman dari kebisingan dunia luar. "Kenapa Mas malam ini begitu berbeda? Rasanya Mas sangat... takut kehilanganku," bisik Alya sambil mengusap lembut rambut hitam Rayhan yang sedikit berantakan. Rayhan memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan istrinya yang terasa seperti oase di tengah padang pasir. Ia teringat kembali bagaimana tangan Clarissa mencoba menyentuhnya tadi siang, dan rasa mual itu kembali muncul. Namun, ia tetap teguh pada keputusannya untuk merahasiakan hal itu. Ia tidak ingin mata bening Alya berkaca-kaca hanya karena wanita tidak penting seperti Clarissa. "Dunia luar sangat kejam, Alya. Banyak orang yang hanya melihatku sebagai tumpukan uang atau tangga untuk kesuksesan mereka," gumam Rayhan dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti rintihan manja seorang anak kecil. "Hanya di kamar ini, bersamamu, aku merasa menjadi Rayhan yang sebenarnya. Aku takut jika aku lengah sedikit saja, kesucian hubungan kita akan tercemar oleh niat buruk orang lain." Rayhan menarik tangan Alya, lalu menciumi telapak tangannya satu per satu dengan penuh khidmat. "Berjanjilah padaku, Alya. Apa pun yang terjadi, jangan pernah ragukan kesetiaanku. Meskipun aku tidak selalu mengatakannya, setiap tetes keringat dan setiap napas yang kuhirup adalah untukmu." Alya tersenyum, meski ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan suaminya, ia memilih untuk percaya sepenuhnya. Kelembutan Rayhan malam ini adalah bukti yang lebih dari cukup. Ia mengecup puncak kepala Rayhan, memberikan rasa nyaman yang suaminya cari. "Aku janji, Mas. Aku akan selalu menjadi tempatmu pulang," jawab Alya tulus. Mendengar janji itu, sisi posesif Rayhan kembali muncul secara halus. Ia menggenggam pergelangan tangan Alya yang mengenakan gelang GPS pemberiannya tempo hari. Ia memastikan gelang itu masih melingkar sempurna. "Besok, aku akan meminta tim IT untuk menambah lapisan keamanan di ponselmu. Aku ingin kau bisa menghubungiku hanya dengan satu tombol jika terjadi sesuatu yang membuatmu tidak nyaman saat aku tidak di rumah." "Mas... apa itu tidak berlebihan?" "Tidak ada kata berlebihan untukmu, Sayang," tegas Rayhan. Ia kemudian merapatkan tubuhnya, memeluk pinggang Alya dengan kaki yang mengunci kaki istrinya, benar-benar tidak memberikan ruang bagi udara untuk lewat di antara mereka. Malam semakin larut, namun Rayhan masih terjaga. Ia menatap wajah Alya yang mulai terlelap dengan tatapan yang sangat dalam. Di dalam hatinya, ia sudah menyusun rencana untuk menjauhkan Clarissa dari semua proyek perusahaannya. Ia tidak akan membiarkan wanita itu mendekat lagi, bukan karena ia takut tergoda, tapi karena ia tidak sudi waktu yang seharusnya untuk Alya terbuang hanya untuk menghadapi gangguan murahan. Pagi harinya, saat fajar mulai menyingsing, Rayhan terbangun lebih dulu. Bukannya bersiap ke kantor, ia justru menarik Alya kembali ke dalam pelukannya. Ia menciumi pundak istrinya yang terbuka, memulai pagi dengan kemanjaan yang menuntut perhatian penuh. "Mas... bukankah hari ini ada rapat pagi?" tanya Alya dengan suara khas orang baru bangun tidur. "Batalkan semuanya. Aku ingin sarapan di sini, bersamamu. Aku ingin kau yang menyuapiku," perintah Rayhan manja namun tak terbantah. Alya hanya bisa pasrah dan bahagia. Ia menyadari bahwa suaminya adalah perpaduan antara pria perkasa yang mendominasi dunia bisnis dan seorang bayi besar yang hanya bisa ditenangkan olehnya. Dan baginya, itu adalah bentuk romansa yang paling sempurna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD