Pagi itu, suasana di halaman belakang rumah mewah Rayhan tampak sibuk. Sebuah mobil bak terbuka terparkir di dekat pintu paviliun. Alya berdiri di balkon lantai dua, memperhatikan dari balik jeruji pagar balkon yang estetik. Ia melihat Bi Minah sedang mengemasi barang-barangnya ke dalam kardus dengan wajah sembab, sementara Sari berdiri di sampingnya dengan raut muka yang penuh kebencian sekaligus kekalahan.
Rayhan berdiri di bawah sana, mengenakan kacamata hitamnya, tangan bersedekap di d**a. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun auranya begitu menekan. Ia seperti seorang raja yang sedang mengusir penghianat dari istananya. Begitu semua barang masuk ke mobil, Rayhan memberikan sebuah amplop cokelat tebal kepada Bi Minah.
"Ini gaji terakhir dan bonus untuk pengabdianmu, Bi. Gunakan ini untuk membuka usaha di kampung. Tapi ingat, jangan pernah biarkan anakmu menginjakkan kaki di kota ini lagi jika masih sayang pada nyawanya," ujar Rayhan dengan nada dingin yang menusuk tulang.
Sari sempat mendongak, matanya bertemu dengan mata Alya di balkon. Ia memberikan tatapan tajam seolah berkata, 'Ini belum berakhir', namun Rayhan segera menyadari arah pandang Sari. Rayhan melangkah maju, menghalangi pandangan Sari dengan tubuh tegapnya.
"Pergi sekarang," perintah Rayhan singkat.
Setelah mobil itu pergi, Rayhan kembali ke atas. Ia menemukan Alya masih berdiri di balkon. Wajah istrinya terlihat sedikit muram. Bagaimanapun, Alya merasa kasihan pada Bi Minah yang sebenarnya orang baik.
"Kenapa wajahmu begitu, Sayang?" tanya Rayhan sambil melingkarkan lengannya di pinggang Alya dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di pundak Alya, menghirup aroma leher istrinya yang selalu menjadi candu baginya.
"Aku hanya merasa tidak enak pada Bi Minah, Mas. Dia sudah lama ikut dengan keluarga Mas, kan?"
Rayhan membalikkan tubuh Alya sehingga mereka berhadapan. "Alya, dengar. Di duniaku, tidak ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun jika itu menyangkut keselamatanmu. Bi Minah memang baik, tapi dia gagal mendidik anaknya. Membiarkan mereka tetap di sini sama saja dengan memelihara duri dalam daging. Aku ingin rumah ini steril. Benar-benar bersih dari siapa pun yang punya potensi menyakitimu."
Rayhan kemudian menuntun Alya masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang, sudah ada beberapa kotak perhiasan bermerek ternama dan beberapa tas mewah yang harganya mungkin bisa membeli satu rumah sederhana.
"Apa ini, Mas? Banyak sekali?" Alya ternganga melihat kemewahan di depannya.
"Hadiah karena kau sudah menjadi istri yang sangat patuh kemarin," jawab Rayhan. Ia mengambil sebuah gelang emas putih dengan berlian kecil yang melingkar indah. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, ada bagian kecil di kaitan gelang itu yang tampak sedikit lebih tebal.
Rayhan memakaikan gelang itu di pergelangan tangan kiri Alya. "Jangan pernah dilepas, ya? Gelang ini sangat istimewa. Selain cantik, dia adalah pengikat janji kita."
Alya tidak tahu bahwa di dalam gelang itu tertanam chip GPS tercanggih yang terhubung langsung ke ponsel Rayhan. Rayhan tersenyum puas melihat perhiasan itu melingkar di tangan Alya. Sekarang, bahkan jika Alya berada di sudut rumah yang tidak terjangkau CCTV sekalipun, Rayhan akan tetap tahu di mana istrinya berada.
Tak lama kemudian, bel rumah berbunyi. Rayhan mengajak Alya turun untuk menyambut staf baru. Di ruang tamu, sudah berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian safari hitam, dan seorang wanita paruh baya dengan seragam perawat yang sangat rapi.
"Kenalkan, Alya. Ini Budi dan joko. Mereka adalah tim keamanan pribadimu. Mereka akan berjaga 24 jam di gerbang dan di pos belakang. Dan ini Bu Ratna, dia adalah pengurus rumah tangga yang baru. Dia mantan kepala pelayan di hotel bintang lima, jadi dia sangat profesional," jelas Rayhan.
Alya merasa terintimidasi. Rumahnya kini bukan lagi rumah, tapi lebih mirip markas perlindungan saksi kunci. "Mas... apa ini tidak berlebihan? Ada penjaga di depan rumah kita?"
Rayhan mendekatkan wajahnya ke telinga Alya, berbisik dengan nada yang sangat posesif. "Tidak ada yang berlebihan untuk menjaga harta paling berhargaku. Doni sudah tertangkap, tapi aku tidak mau kecolongan lagi. Mulai sekarang, siapa pun yang ingin masuk ke rumah ini harus melalui pemeriksaan sidik jari dan metal detector. Termasuk orang tuamu jika mereka berkunjung nanti."
Alya hanya bisa terdiam. Ia menyadari bahwa Rayhan sedang membangun tembok yang sangat tinggi di sekelilingnya. Namun, di saat yang sama, ia melihat betapa besarnya usaha Rayhan untuk melindunginya. Rayhan tidak ingin kejadian traumatis itu terulang kembali.
Sore harinya, Rayhan kembali menunjukkan sisi manjanya. Saat Bu Ratna sedang menyiapkan makan malam di bawah, Rayhan menarik Alya ke ruang santai di lantai atas. Ia meminta Alya duduk di sofa, sementara ia sendiri berbaring dengan kepala di pangkuan Alya.
"Alya, pijat kepalaku," pinta Rayhan manja.
Alya menurut, ia mulai memijat pelan pelipis suaminya. Rayhan memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan lembut istrinya. "Kau tahu, aku merasa sangat tenang sekarang. Di rumah ini hanya ada orang-orang pilihanku. Tidak akan ada lagi pengkhianatan."
"Mas, tapi aku jadi merasa kesepian kalau Mas terus bekerja di dalam kamar," keluh Alya jujur.
Rayhan membuka matanya, menatap Alya dari posisi bawah. "Kalau begitu, aku akan membuatkanmu kesibukan. Kau suka melukis, kan? Aku sudah memesan semua perlengkapan lukis terbaik dari Prancis. Besok akan sampai. Aku akan membuatkan studio kecil di pojok kamar ini. Jadi saat aku bekerja, kau bisa melukis di sampingku."
Alya tersenyum. Rayhan benar-benar tahu cara membungkam keluhannya dengan fasilitas mewah. "Terima kasih, Mas."
Rayhan tiba-tiba bangkit dan duduk mendekat. Ia menarik Alya ke dalam dekapannya, menyandarkan wajahnya di d**a Alya—posisi favoritnya yang selalu membuatnya merasa seperti bayi yang pulang ke pelukan ibunya. Ia menghirup napas dalam-dalam, merasakan detak jantung Alya yang tenang.
"Aku mencintaimu, Alya. Sangat mencintaimu sampai rasanya aku ingin menelanmu agar kau selalu ada di dalam diriku. Maaf jika caraku melindungimu terasa sedikit mencekik. Aku hanya... aku tidak sanggup membayangkan dunia ini tanpamu," bisik Rayhan dengan suara yang bergetar karena emosi.
Alya mengusap rambut Rayhan yang lembut. Ia mulai mengerti bahwa ketakutan Rayhan bersumber dari rasa cinta yang terlalu besar. "Aku juga mencintaimu, Mas. Aku tidak akan ke mana-mana."
Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan sangat intim. Rayhan tidak membiarkan Alya lepas dari pandangannya sedikit pun. Bahkan saat Alya mandi, Rayhan berdiri di depan pintu kamar mandi, seolah-olah Alya bisa menghilang jika tidak diawasi. Hasrat halal yang mereka rasakan malam itu terasa lebih dalam, karena ada rasa aman yang baru saja dibangun di atas reruntuhan konflik kemarin.
Namun, di tengah kemesraan itu, Alya sempat melihat layar ponsel Rayhan yang tergeletak di nakas. Ada notifikasi dari sistem keamanan rumah. Sebuah foto tertangkap kamera gerbang depan. Seseorang yang mengenakan jaket hoodie hitam tampak sedang berdiri diam menatap ke arah rumah mereka sebelum akhirnya pergi.
Alya tidak memberitahu Rayhan karena ia tidak ingin merusak suasana romantis mereka. Ia pikir itu mungkin hanya orang lewat. Namun, firasatnya mengatakan bahwa Sari atau kaki tangan Doni mungkin belum benar-benar menyerah.
Rayhan menarik Alya kembali ke dalam pelukannya, mencium pundaknya yang terbuka. "Jangan melamun, Sayang. Fokuslah hanya padaku," perintah Rayhan dengan nada manja namun tegas.
Alya kembali terhanyut dalam permainan gairah suaminya, mencoba melupakan bayangan hitam di gerbang tadi. Di dalam sangkar emas ini, ia merasa sangat aman, namun di luar sana, bayangan masa lalu dan dendam masih terus mengintai, menunggu celah sekecil apa pun untuk merusak kebahagiaan mereka.
Rayhan terus memuja tubuh istrinya, memastikan bahwa setiap jengkal kulit Alya hanya mengenal sentuhannya. Baginya, sterilisasi rumah ini sudah berhasil, namun sterilisasi hati Alya dari rasa takut adalah tugas yang akan ia lakukan seumur hidupnya melalui hasrat dan perlindungan yang tanpa batas.