Sinar matahari pagi yang cerah menembus gorden kamar utama, namun suasana di dalamnya masih sangat tenang dan hangat. Rayhan benar-benar menepati janjinya. Pagi ini, tidak ada suara mobil mewah yang dipanaskan di halaman, tidak ada aroma kopi buru-buru, dan tidak ada langkah sepatu formal yang tergesa-gesa. Rayhan masih di sana, berbaring di samping Alya, meskipun matanya sudah terbuka dan menatap wajah istrinya yang masih terlelap dengan penuh pemujaan.
Alya melenguh pelan, merasakan sesuatu yang berat menindih perutnya. Saat ia membuka mata, ia disambut oleh senyuman tipis Rayhan. Rayhan tidak memakai kacamata, membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda dan santai, namun binar obsesi di matanya tetap tidak bisa disembunyikan.
"Selamat pagi, Nyonya Rayhan," bisik Rayhan, suaranya parau khas orang bangun tidur.
"Mas... tidak ke kantor?" tanya Alya sambil mengucek matanya.
Rayhan menggeleng pasti. Ia menarik Alya lebih dekat hingga tidak ada celah di antara mereka. "Sudah kukatakan kemarin, kantorku pindah ke sini. Mulai hari ini, asistenku akan mengirimkan semua berkas ke rumah, dan aku hanya akan keluar jika benar-benar darurat. Itu pun jika aku bisa membawamu ikut bersamaku."
Alya tersenyum, merasa sangat dimanjakan. "Tapi Mas, apa tidak terganggu kalau aku ada di sekitar Mas saat bekerja?"
Rayhan terkekeh, sebuah suara yang sangat jarang terdengar. Ia mengecup hidung Alya dengan gemas. "Justru aku akan terganggu kalau kau tidak ada. Kehadiranmu adalah bahan bakarku, Alya. Kau adalah penyemangatku untuk mencari uang lebih banyak lagi agar bisa membangun benteng yang lebih kuat untukmu."
Setelah sarapan yang disiapkan oleh Bi Minah—yang hari ini terlihat sangat pucat karena ketakutan akan dipecat—Rayhan mulai menyiapkan ruang kerjanya. Alih-alih menggunakan ruang kerja khusus di lantai bawah, Rayhan memerintahkan asistennya untuk memindahkan meja kerja, laptop, dan kursi ergonomisnya ke dalam kamar utama.
"Kenapa harus di dalam kamar, Mas?" tanya Alya heran saat melihat dua orang pria (yang sudah diperiksa ketat oleh Rayhan) memindahkan barang-barang tersebut.
"Karena di kamar ini aku bisa melihatmu setiap detik. Aku bisa bekerja sambil memastikan kau aman di atas ranjang atau sedang membaca buku di sofa itu," jawab Rayhan santai sambil mengatur posisi laptopnya agar membelakangi jendela, namun menghadap langsung ke arah tempat tidur.
Sekitar jam sepuluh pagi, rapat besar dengan para pemegang saham dimulai. Rayhan mengenakan kemeja rapi di bagian atas, namun tetap memakai celana pendek santai di bawah meja. Alya duduk di sofa kamar, mencoba untuk tidak bersuara agar tidak mengganggu jalannya rapat.
Namun, Rayhan sepertinya punya rencana lain. Di tengah-tengah penjelasan manajer keuangan mengenai grafik keuntungan perusahaan, Rayhan tiba-tiba memberikan kode tangan agar Alya mendekat.
Alya menggelengkan kepala, menunjuk ke arah kamera laptop Rayhan. Ia takut terlihat oleh orang-orang kantor.
"Kemarilah," bisik Rayhan tanpa suara, namun tatapannya sangat memerintah.
Alya akhirnya berdiri dan berjalan mendekat dengan sangat pelan. Rayhan menarik tangan Alya dan menyuruhnya duduk di lantai, tepat di bawah meja kerjanya, di antara kedua kakinya. Alya terkejut, namun ia tidak punya pilihan selain patuh.
Rayhan terus berbicara di depan kamera dengan nada yang sangat berwibawa dan dingin, seolah-olah ia sedang berada di ruang rapat formal. Padahal, tangannya yang satu lagi berada di bawah meja, mengelus rambut Alya dan sesekali membelai pipi istrinya dengan sangat posesif.
Alya merasa jantungnya berdegup kencang. Ia berada sangat dekat dengan suaminya yang sedang menunjukkan sisi kepemimpinannya. Ia menatap wajah Rayhan dari bawah—rahang yang tegas, bibir yang bergerak lincah menjelaskan strategi bisnis, dan mata yang sesekali melirik ke bawah untuk memastikan Alya masih di sana.
Rayhan benar-benar seperti bayi yang tidak bisa lepas dari sentuhan ibunya. Meski sedang memimpin perusahaan bernilai miliaran rupiah, ia butuh kontak fisik dengan Alya untuk tetap tenang. Ia sesekali menunduk sedikit, hanya untuk menghirup aroma parfum Alya yang menguar, lalu kembali menatap kamera dengan wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ya, lanjutkan presentasinya. Saya mendengarkan," ujar Rayhan pada lawan bicaranya di Zoom. Padahal, saat itu jari-jarinya sedang asyik memainkan jemari Alya di bawah meja.
Alya merasa ini adalah situasi yang sangat gila namun romantis. Ia melihat bagaimana Rayhan begitu mendewakannya. Bagi Rayhan, rapat itu hanyalah kewajiban, sedangkan Alya adalah kebutuhan.
Setelah rapat selesai dua jam kemudian, Rayhan langsung menutup laptopnya dengan kasar. Ia menarik Alya dari bawah meja dan mendudukkannya di pangkuannya. Rayhan memeluk Alya dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu Alya.
"Terima kasih sudah menemaniku," gumam Rayhan. "Rapat tadi terasa sangat membosankan, tapi karena ada kau di bawah sini, aku jadi punya alasan untuk tetap bertahan."
"Mas ini aneh-aneh saja. Kalau mereka tahu bos mereka sedang memangku istrinya, apa kata mereka nanti?" canda Alya.
Rayhan mendongak, menatap Alya dengan tatapan yang kembali menggelap oleh hasrat. "Biarkan saja. Mereka tidak perlu tahu. Bagiku, yang paling penting adalah kau selalu berada dalam jangkauanku. Aku ingin setiap hari seperti ini. Aku bekerja, dan kau ada di pelukanku."
Rayhan kemudian bangkit, menggendong Alya menuju ranjang. "Pekerjaanku sudah selesai untuk pagi ini. Sekarang, aku ingin fokus pada 'pekerjaan' utamaku sebagai suamimu."
Alya tertawa kecil saat Rayhan mulai menghujaninya dengan ciuman yang sangat intens. Namun di sela-sela kemesraan itu, Rayhan tiba-tiba berhenti. Ia menatap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.
"Aku sudah memasang kunci pintu baru yang hanya bisa dibuka dengan sidik jariku dan sidik jarimu. Mulai sekarang, Bi Minah hanya boleh mengantar makanan sampai depan pintu. Tidak ada orang asing yang boleh masuk ke kamar ini tanpa seizinku," ujar Rayhan serius.
Posesifitas Rayhan sudah mencapai level baru. Kejadian Doni benar-benar mengubah cara pikirnya. Jika sebelumnya ia hanya ingin mengawasi, kini ia ingin mengisolasi. Ia ingin menciptakan sebuah dunia kecil di dalam kamar ini, di mana hanya ada dia dan Alya.
Alya bisa merasakan betapa besarnya ketakutan Rayhan akan kehilangan dirinya. Ia pun membalas pelukan suaminya dengan tak kalah erat. "Aku tidak akan ke mana-mana, Mas. Aku milikmu."
Kalimat itu seperti bensin bagi api hasrat Rayhan. Ia kembali menunjukkan sisi "manja" sekaligus dominannya di bawah selimut yang hangat. Bagi Rayhan, tidak ada lagi dunia luar. Kantornya adalah kamarnya, dan kehidupannya adalah Alya. Ia akan memastikan bahwa setiap detik yang ia lewatkan adalah untuk memuja dan menjaga harta halalnya itu.
Sore harinya, saat Rayhan sedang membaca laporan di samping Alya yang tertidur, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari pengacaranya masuk.
“Tuan Rayhan, Doni sudah tertangkap di perbatasan. Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?”
Rayhan menatap Alya yang sedang tertidur pulas dengan sisa air mata yang sudah mengering. Sebuah senyum dingin muncul di wajahnya. Ia mengetik balasan dengan cepat.
“Jangan biarkan dia keluar. Gunakan semua koneksi kita. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya dikurung di tempat yang paling gelap, sebagai balasan karena berani menyentuh milikku.”
Rayhan mematikan ponselnya, lalu kembali memeluk Alya. Ia tidak akan membiarkan berita buruk ini mengganggu ketenangan istrinya. Baginya, kebahagiaan Alya adalah prioritas nomor satu, dan siapa pun yang mengusiknya harus membayar harga yang sangat mahal.