Bab 6: Kepulangan Sang Pelindung

1178 Words
Suara deru baling-baling helikopter memecah keheningan malam di sekitar kompleks perumahan elit itu. Rayhan tidak peduli jika ia harus membayar denda karena mendarat di area yang tidak seharusnya, yang ia pedulikan hanyalah wanita yang sedang menangis di ujung telepon. Begitu helikopter mendarat di lapangan dekat rumahnya, Rayhan berlari secepat kilat, bahkan tidak memedulikan asistennya yang tertatih membawa koper di belakang. Di ruang tamu, Alya masih meringkuk di sofa, dibalut selimut tebal oleh Bi Minah. Tubuhnya masih gemetar, dan matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Begitu mendengar suara pintu depan dibuka dengan kasar, Alya mendongak. "Alya!" Rayhan muncul dengan napas tersengal. Setelan jasnya berantakan, keringat membasahi keningnya, dan wajahnya menunjukkan kemarahan yang bisa menghanguskan siapa pun. Namun, begitu matanya menangkap sosok Alya yang rapuh, kemarahan itu berubah menjadi kepedihan yang mendalam. Rayhan langsung berlutut di depan sofa, menarik Alya ke dalam pelukannya dengan sangat erat. "Maafkan aku... maafkan aku sudah meninggalkanmu, Sayang. Aku bersalah... aku sangat bersalah." Alya menangis lagi, kali ini dalam dekapan suaminya. Ia membenamkan wajahnya di d**a Rayhan, menghirup aroma parfum yang kini tercampur dengan aroma keringat, namun tetap terasa sebagai tempat paling aman di dunia. "Mas... dia masuk lewat jendela... dia mau..." "Aku tahu, aku melihat semuanya, Sayang. Aku bersumpah, Doni tidak akan pernah menyentuhmu lagi. Dia akan membusuk di penjara, aku sudah menyuruh orang-orangku untuk memburunya malam ini juga," bisik Rayhan sambil menciumi puncak kepala Alya berkali-kali. Rayhan kemudian menggendong Alya ala bridal style menuju kamar utama di lantai atas. Ia tidak membiarkan kaki Alya menyentuh lantai sedikit pun. Sesampainya di kamar, ia membaringkan Alya dengan sangat hati-hati, seolah istrinya itu terbuat dari kaca yang sangat mudah pecah. Rayhan pergi ke kamar mandi sebentar, mengambil handuk hangat, lalu kembali untuk menyeka wajah dan tangan Alya. Ia melakukannya dengan penuh ketelatenan, persis seperti seorang ayah yang sedang merawat anaknya, atau bayi yang sedang mengabdi pada ibunya. "Jangan tinggalkan aku lagi, Mas," pinta Alya dengan suara parau. Rayhan menghentikan gerakannya. Ia menatap Alya dengan mata yang berkaca-kaca. "Tidak akan. Mulai besok, aku akan bekerja dari rumah. Kantor bisa berjalan tanpa kehadiranku, tapi duniaku akan hancur tanpa kehadiranku di sampingmu." Rayhan melepaskan jas dan kemejanya, menyisakan kaus dalam putih, lalu ikut berbaring di samping Alya. Ia menarik Alya ke dalam dekapannya, memposisikan kepala Alya di atas lengan kokohnya. Dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur, sisi posesif Rayhan kembali muncul, namun kali ini bercampur dengan rasa takut yang nyata. "Kau tahu, Alya? Saat aku melihat pria itu menyentuh pipimu melalui layar monitor, rasanya aku ingin meledakkan tempat itu. Aku merasa gagal menjagamu," ujar Rayhan, tangannya mengelus pipi Alya yang sedikit memerah bekas tamparan Doni. Rayhan kemudian menarik selimut hingga menutupi mereka berdua. Ia mulai merapatkan tubuhnya, mencari kehangatan pada tubuh Alya. Perlahan, Rayhan kembali ke kebiasaannya—ia menyandarkan kepalanya di d**a Alya, mencari ketenangan di sana. Ia menghirup napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang karena panik. "Hanya di sini aku merasa tenang," gumam Rayhan manja. Ia memeluk pinggang Alya dengan kaki yang mengunci kaki istrinya, benar-benar tidak memberikan ruang bagi Alya untuk menjauh meski hanya satu senti. "Mas... apa Mas tidak lelah?" tanya Alya sambil mengusap rambut Rayhan. "Lelahku hanya bisa hilang jika aku memilikimu sepenuhnya seperti ini. Malam ini, aku ingin kita hanya berdua. Jangan pikirkan Doni, jangan pikirkan Sari. Hanya ada aku dan kau," Rayhan mendongak, menatap Alya dengan tatapan yang sangat dalam. Di bawah kain selimut, Rayhan mulai menunjukkan hasrat halalnya yang meluap. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan yang sangat posesif. Ia menciumi setiap inci wajah Alya, memberikan perhatian yang begitu intens hingga Alya melupakan trauma yang baru saja dialaminya. Bagi Rayhan, kejadian malam ini adalah peringatan keras. Ia menyadari bahwa sistem keamanan tercanggih sekalipun tidak bisa menggantikan kehadirannya secara fisik. Maka dari itu, ia sudah merencanakan langkah selanjutnya. Ia akan merombak seluruh staf rumah tangga, dan ia akan memastikan Alya selalu berada dalam jangkauan pandangannya—secara nyata, bukan sekadar lewat layar CCTV. "Mulai besok, Sari dan ibunya akan pindah. Aku sudah menyiapkan rumah untuk mereka di luar kota. Aku tidak ingin ada orang di rumah ini yang punya niat buruk padamu," kata Rayhan di sela-sela kecupannya. Alya terkejut. "Tapi Bi Minah orang baik, Mas." "Kebaikan ibunya tidak bisa menutupi kebusukan anaknya. Aku tidak mau mengambil risiko lagi. Aku akan mencari pelayan baru yang sudah melewati seleksi ketat dariku sendiri," tegas Rayhan. Malam itu, kemanjaan Rayhan mencapai puncaknya. Ia terus menempel pada Alya seperti bayi yang tidak mau dilepaskan dari pelukan ibunya. Ia ingin memastikan bahwa Alya adalah miliknya, dan ia adalah pelindung mutlak bagi Alya. Hasrat yang muncul malam itu bukan sekadar nafsu, melainkan bentuk penebusan dosa atas ketidakhadirannya saat istrinya terancam. Alya pun merasakan hal yang sama. Ia memeluk suaminya erat, membiarkan Rayhan melakukan apa pun yang pria itu inginkan. Ia merasa dihargai, dilindungi, dan dicintai dengan cara yang begitu intens. Meskipun ia tahu hidupnya akan semakin "terkurung" setelah ini, ia tidak keberatan. Selama suaminya adalah Rayhan, sangkar emas ini adalah surga baginya. Di kejauhan, sirine mobil polisi terdengar menjauh, membawa kabar bahwa pengejaran terhadap Doni sedang berlangsung. Namun di dalam kamar itu, hanya ada keheningan yang intim, detak jantung yang saling bersahutan, dan janji-janji setia yang diucapkan dalam bisikan lembut. Rayhan tertidur dengan kepala masih bersandar di d**a Alya, tangannya menggenggam erat tangan istrinya. Ia bermimpi tentang masa depan di mana tidak ada satu orang pun yang bisa melihat kecantikan Alya selain dirinya. Sebuah obsesi yang akan terus tumbuh seiring dengan bertambahnya usia pernikahan mereka. Rayhan mengatur napasnya yang mulai teratur, namun dekapannya tidak melonggar sedikit pun. Ia sesekali terbangun hanya untuk memastikan bahwa Alya masih ada di pelukannya, menciumi aroma vanila dari leher istrinya seolah itu adalah oksigen yang ia butuhkan untuk tetap hidup. Dalam remang cahaya lampu tidur, Rayhan menatap jemari Alya yang melingkar di lengannya. Ia bersumpah dalam hati bahwa esok hari, ia akan memesan sebuah cincin baru dengan sensor GPS tersembunyi yang sangat halus, sehingga ke mana pun Alya melangkah, ia akan selalu tahu koordinat tepat permatanya itu berada. "Tidurlah, Sayang. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuh pintu rumah ini tanpa seizinku," bisik Rayhan lagi, kali ini suaranya nyaris hilang ditelan kantuk yang amat sangat. Alya merasakan air matanya menetes pelan, bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa. Ia mengusap punggung suaminya yang bidang, merasakan otot-otot Rayhan yang perlahan mulai rileks. Ia tahu, mulai besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Aturan-aturan baru akan muncul, pengawasan akan semakin ketat, dan mungkin ia tidak akan pernah bisa keluar gerbang sendirian lagi. Namun, melihat bagaimana Rayhan mempertaruhkan segalanya hanya untuk pulang dalam hitungan jam, Alya menyadari bahwa pengabdian suaminya adalah jenis cinta yang paling tulus, meski dibungkus dalam obsesi yang menyesakkan. Di luar, angin malam bertiup kencang menggoyahkan pepohonan di taman, namun di dalam kamar itu, hangatnya hasrat dan janji perlindungan telah mengunci segalanya. Rayhan telah kembali, dan bersamanya, kedamaian—sekaligus penguasaan mutlak—telah kembali bertahta di singgasananya. Mereka tertidur dalam simpul tubuh yang tak terpisahkan, menunggu fajar menyingsing untuk memulai babak baru kehidupan mereka yang lebih tertutup, lebih intim, dan jauh lebih posesif dari sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD