Bab 10: Perjamuan Gairah di Bawah Rembulan

1122 Words
Malam ini, suasana di lantai dua rumah mewah itu terasa sangat berbeda. Rayhan telah menginstruksikan Bu Ratna dan tim keamanan untuk tidak mendekat ke area sayap kanan rumah, tempat kamar utama berada, setelah jam tujuh malam. Ia ingin menciptakan privasi mutlak. Di balkon kamar yang luas, sebuah meja kecil telah ditata dengan sangat cantik. Lilin-lilin aromaterapi beraroma mawar dan cendana tersebar di setiap sudut, memberikan cahaya temaram yang sangat romantis, bercampur dengan sinar rembulan yang sedang bulat sempurna. Alya berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk. Rayhan telah memintanya memakai pakaian yang baru saja dibelikan sore tadi. Itu adalah sebuah slip dress berbahan sutra tipis yang hampir transparan berwarna hitam gelap. Potongannya sangat rendah di bagian punggung, memperlihatkan kulit putih Alya yang mulus. Tanpa pakaian dalam, kain itu jatuh mengikuti setiap lekuk tubuhnya dengan sangat jujur. "Kau sangat menakjubkan, Alya," suara berat Rayhan terdengar dari arah pintu balkon. Alya menoleh dan melihat suaminya sudah menunggu di sana. Rayhan hanya mengenakan jubah mandi sutra yang dibiarkan terbuka di bagian d**a, menunjukkan otot-ototnya yang bidang. Ia tidak lagi memakai kacamata, dan sorot matanya malam ini benar-benar hanya penuh dengan pemujaan dan hasrat yang tak lagi disembunyikan. Rayhan berjalan mendekat, lalu menuntun Alya menuju meja di balkon. Ia menarik kursi untuk istrinya dengan sangat sopan, namun tangannya sempat mengusap bahu telanjang Alya dengan sentuhan yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Mas... ini terlalu indah. Apa ada acara khusus malam ini?" tanya Alya sambil menatap hidangan steak mewah dan botol sari buah anggur non-alkohol yang sudah tersedia. Rayhan duduk di hadapannya, menggenggam tangan Alya dan mencium punggung tangannya cukup lama. "Setiap malam bersamamu adalah acara khusus bagiku, Alya. Tapi malam ini, aku ingin merayakan kedamaian kita. Tidak ada lagi gangguan, tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada kau, aku, dan malam yang panjang." Mereka makan dalam suasana yang sangat tenang. Hanya terdengar suara denting sendok dan desiran angin malam yang lembut. Sesekali, kaki Rayhan di bawah meja bersentuhan dengan kaki telanjang Alya, sebuah godaan kecil yang membuat suasana semakin panas. Rayhan tidak banyak bicara, ia lebih banyak menatap Alya—memperhatikan bagaimana kain tipis itu bergerak setiap kali Alya bernapas. Setelah makan malam selesai, Rayhan tidak membiarkan Alya berdiri. Ia bangkit dari kursinya, berjalan memutar, dan berlutut di samping kursi Alya. Ia menyandarkan kepalanya di pangkuan Alya, persis seperti posisi favoritnya. "Manjakan aku, Alya..." bisik Rayhan manja. Alya tersenyum lembut, ia mengusap rambut suaminya yang hitam pekat. "Tuan Suami ingin dimanja seperti apa lagi? Bukankah sepanjang hari aku sudah menemanimu?" Rayhan mendongak, matanya berkilat di bawah cahaya lilin. "Aku ingin kau menjadi milikku sepenuhnya malam ini. Tanpa ada sehelai benang pun yang menghalangi detak jantung kita. Aku ingin merasakan setiap inci dari dirimu, Alya." Rayhan mengangkat Alya dari kursi, namun ia tidak membawanya masuk ke dalam kamar. Ia justru mendudukkan Alya di atas pagar balkon yang lebar dan kokoh, dengan latar belakang pemandangan kota yang kerlap-kerlip di kejauhan. Posisi ini membuat Alya merasa sangat terekspos namun juga merasa sangat terlindungi karena lengan kuat Rayhan melingkar di pinggangnya. "Mas... di sini? Bagaimana kalau ada yang lihat?" bisik Alya panik, meskipun ia tahu tembok rumah mereka sangat tinggi. "Tidak akan ada yang berani melihat, Sayang. Aku sudah mematikan semua CCTV di area ini khusus untuk malam ini. Hanya rembulan yang menjadi saksi betapa aku memujamu," ujar Rayhan. Rayhan mulai mencium leher Alya dengan sangat intens. Tangannya bergerak dengan posesif di balik kain sutra tipis yang dikenakan Alya. Kelembutan Rayhan malam ini bercampur dengan d******i yang sangat kuat. Ia memperlakukan Alya seperti sebuah persembahan suci yang harus ia nikmati dengan perlahan. Alya mendesah pelan, ia merasakan gairah yang meluap-luap. Sifat manja Rayhan berubah menjadi keberanian yang luar biasa. Pria kaku itu kini telah hilang, digantikan oleh seorang suami yang sangat haus akan kasih sayang istrinya. Hubungan mereka malam ini terasa sangat transparan, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi keraguan. Rayhan kemudian membawa Alya masuk ke dalam kamar, merebahkannya di atas ranjang yang sudah ditaburi kelopak mawar putih. Di bawah temaram lampu, Rayhan menunjukkan hasrat halalnya dengan cara yang paling romantis yang pernah dibayangkan Alya. Ia tidak terburu-buru, ia menikmati setiap momen, memastikan Alya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. "Kau tahu, Alya?" bisik Rayhan di tengah keintiman mereka. "Dulu aku berpikir bahwa kekayaan dan kekuasaan adalah segalanya. Tapi sejak memilikimu, aku sadar bahwa memiliki hatimu dan tubuhmu di bawah dekapanku seperti ini... adalah pencapaian tertinggiku." Alya memeluk leher Rayhan erat, membiarkan suaminya mencari kenyamanan di dadanya. Ia merasakan Rayhan kembali ke sifat manjanya setelah puncak gairah mereka terlewati. Rayhan tertidur dengan kepala bersandar di d**a Alya, memeluk pinggang istrinya seolah takut Alya akan menguap bersama udara pagi. Alya menatap langit-langit kamar dengan perasaan damai. Tidak ada tembak-tembakan, tidak ada peperangan. Yang ada hanyalah peperangan batin Rayhan yang selalu ingin memiliki Alya lebih dan lebih lagi. Inilah hidupnya sekarang—dalam sangkar emas yang penuh dengan cinta dan hasrat yang tak pernah habis. Menjelang fajar, Alya merasakan Rayhan bergerak sedikit. Suaminya itu mencium keningnya dalam tidurnya, sebuah gerakan refleks yang menunjukkan betapa dalamnya perasaan pria itu. Alya menyadari bahwa meskipun suaminya memiliki sisi gelap yang posesif dan terobsesi, sisi itu lahir dari luka masa lalu yang kini sembuh karena kehadirannya. Ia memutuskan untuk selalu menjadi pelabuhan bagi Rayhan. Menjadi ibu bagi sifat manjanya, dan menjadi ratu bagi hasratnya. Malam perjamuan itu hanyalah satu dari ribuan malam romantis yang akan mereka lalui dalam 60 bab perjalanan cinta mereka. Alya memperhatikan bagaimana cahaya fajar mulai menyapu warna hitam di langit, menggantinya dengan semburat ungu dan jingga. Di sampingnya, Rayhan masih bernapas dengan teratur. Alya membelai rahang tegas suaminya, merasa heran bagaimana pria setegas ini bisa menjadi begitu rapuh di pelukannya. Ia teringat bagaimana Rayhan tadi malam sangat memuja setiap bagian tubuhnya, seolah-olah Alya adalah keajaiban dunia yang baru ia temukan. Tidak ada lagi rasa takut akan Doni atau gangguan dari Sari. Rayhan telah membersihkan dunia mereka. Sekarang, satu-satunya tantangan adalah bagaimana menjaga api gairah ini tetap menyala tanpa membakar diri mereka sendiri. Alya tahu, setelah ini Rayhan mungkin akan semakin sulit melepaskannya keluar rumah, tapi selama Rayhan memberikan cinta yang seintens ini, Alya merasa bahwa kebebasan di luar sana tidak ada artinya dibandingkan kenyamanan di dalam dekapan suaminya. Rayhan tiba-tiba membuka matanya, menatap Alya dengan senyum tipis yang sangat manis. "Kau tidak tidur, Sayang?" "Aku hanya ingin melihatmu lebih lama, Mas," jawab Alya jujur. Rayhan menarik selimut lebih tinggi, membungkus mereka berdua dalam kehangatan yang intim. "Kalau begitu, jangan lihat ke mana-mana lagi. Lihatlah aku saja, selamanya." Pagi itu dimulai bukan dengan kesibukan kantor, melainkan dengan kecupan-kecupan kecil yang kembali membangkitkan hasrat. Di dalam rumah itu, waktu seolah berhenti, hanya menyisakan ruang bagi cinta yang halal dan transparan di antara sepasang suami istri yang saling terobsesi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD