Bab 12: Hasrat di Balik Aroma Dapur

1070 Words
Udara pagi di pulau pribadi itu terasa sangat menyegarkan, membawa aroma garam laut yang bercampur dengan harum bunga-bunga tropis yang tumbuh di sekitar villa. Di dalam dapur bergaya minimalis dengan meja marmer hitam yang mewah, Alya sedang mencoba menyibukkan diri. Namun, sulit baginya untuk fokus karena sejak ia bangun, Rayhan sama sekali tidak mau melepaskannya. Pagi ini, Rayhan meminta Alya untuk tidak mengenakan apa pun selain sebuah celemek (apron) satin berwarna putih yang tipis dan transparan. Kain itu hanya menutupi bagian depan tubuhnya, sementara bagian belakang dan sampingnya terbuka lebar, memperlihatkan kulit mulusnya yang masih menyisakan bekas-bekas kemerahan dari kemesraan mereka semalam. "Mas... bagaimana aku bisa memasak kalau Mas terus memelukku dari belakang seperti ini?" tanya Alya sambil tertawa kecil, mencoba memotong buah-buahan di atas talenan. Rayhan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di antara pundak dan leher Alya. Tangannya yang besar melingkar posesif di pinggang ramping Alya, sesekali jemarinya bermain di atas kain apron yang tipis itu. Rayhan benar-benar seperti bayi yang haus akan kehangatan ibunya, namun dengan tatapan mata yang penuh dengan keinginan seorang pria dewasa. "Jangan masak yang rumit-rumit, Sayang. Aku hanya ingin memakanmu pagi ini," bisik Rayhan, suaranya serak dan sangat menggoda di telinga Alya. Rayhan memutar tubuh Alya agar menghadapnya. Ia mengangkat Alya dan mendudukkannya di atas meja marmer yang dingin. Kontras antara kulit hangat Alya dan permukaan marmer yang dingin membuat Alya sedikit tersentak, namun Rayhan segera merapatkan tubuhnya, memberikan kehangatan mutlak. Dalam posisi ini, transparansi hubungan mereka benar-benar nyata. Di bawah cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela dapur yang besar, Rayhan memuja setiap inci wajah Alya. Ia mengambil sepotong buah stroberi yang baru saja dipotong Alya, lalu menyuapkannya ke mulut istrinya dengan sangat perlahan. "Manis?" tanya Rayhan. "Manis, Mas," jawab Alya lirih. Rayhan kemudian menggigit setengah sisa stroberi itu dari bibir Alya, sebuah ciuman yang terasa sangat manis dan penuh gairah. Sifat manja Rayhan muncul saat ia mulai merengek pelan, meminta Alya untuk terus memperhatikannya dan tidak mempedulikan sarapan mereka. "Alya... katakan kalau kau hanya milikku. Katakan kalau kau tidak akan pernah membiarkan laki-laki lain melihatmu seperti ini," pinta Rayhan dengan nada yang sangat posesif. "Aku hanya milikmu, Mas Rayhan. Selamanya," jawab Alya sambil mengusap rahang tegas suaminya. Rayhan tersenyum puas. Ia mulai menunjukkan hasrat halalnya di atas meja dapur itu. Di tengah peralatan masak yang modern dan mewah, mereka menciptakan momen yang sangat intim. Rayhan sangat dominan, memastikan bahwa setiap sentuhannya membekas di hati dan tubuh Alya. Ia tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Alya untuk berpikir tentang dunia luar. Bagi Rayhan, dapur ini bukan lagi tempat untuk menyiapkan makanan, melainkan tempat untuk memuja istrinya. Ia memperlakukan Alya dengan sangat hormat namun dengan gairah yang membakar. Transparansi di antara mereka bukan hanya soal pakaian, tapi soal kejujuran perasaan yang meledak-ledak. Setelah cukup lama menghabiskan waktu di dapur, Rayhan akhirnya benar-benar memasak untuk Alya. Ia membuatkan omelet sederhana namun disajikan dengan sangat cantik. Mereka makan bersama di meja marmer itu, dengan Alya yang masih duduk di pangkuan Rayhan. Rayhan tidak mau ada jarak, bahkan saat makan sekalipun. "Kenapa Mas begitu manja hari ini?" tanya Alya sambil menyuapkan omelet ke mulut Rayhan. "Karena di sini tidak ada yang melihat. Di kantor, aku harus menjadi tembok yang kokoh. Di depan orang lain, aku harus menjadi singa. Tapi di depanmu, aku hanya ingin menjadi suamimu yang butuh cintamu setiap detik," ungkap Rayhan jujur. Alya merasa sangat tersentuh. Ia menyadari bahwa di balik kekayaan dan kekuasaan suaminya, ada jiwa yang sangat merindukan kasih sayang yang tulus. Dan ia sangat bersyukur menjadi orang yang dipilih Rayhan untuk melihat sisi rapuh tersebut. Sore harinya, mereka menghabiskan waktu dengan berenang di kolam infinity lagi. Kali ini, Rayhan meminta Alya memakai bikini yang sangat berani, yang hampir tidak menutupi apa-apa. Rayhan sendiri tidak pernah melepaskan pandangannya dari Alya. Setiap kali Alya mencoba berenang sedikit menjauh, Rayhan akan segera mengejarnya dan menariknya kembali ke dalam pelukannya. "Kau mau ke mana, Sayang? Jangan jauh-jauh dariku," ujar Rayhan posesif. "Aku hanya ingin berenang ke ujung kolam, Mas," jawab Alya sambil tertawa. "Ujung kolam itu terlalu jauh. Batas wilayahmu adalah lenganku," tegas Rayhan sambil mencium kening Alya. Malam kembali datang, dan suasana di villa itu semakin romantis. Rayhan telah menyiapkan pemutar piringan hitam di dalam kamar yang memainkan lagu-lagu klasik romantis. Mereka berdansa pelan di bawah cahaya temaram, hanya dengan balutan handuk sutra yang melilit pinggang mereka. Rayhan kembali ke kebiasaannya—ia bersandar di d**a Alya sambil mendengarkan detak jantung istrinya. "Detak jantungmu adalah musik favoritku, Alya. Tetaplah seperti ini, jangan pernah berubah." Alya memeluk kepala Rayhan, memberikan kenyamanan yang suaminya butuhkan. Ia merasa bahwa perjalanan 60 bab mereka ini akan dipenuhi dengan momen-momen seperti ini—di mana cinta tidak butuh kata-kata yang rumit, hanya butuh kehadiran dan sentuhan yang tulus. Hasrat yang mereka rasakan malam itu di atas ranjang kembali memuncak dengan lebih berani. Rayhan benar-benar mengeksplorasi kebahagiaan mereka dengan cara yang sangat transparan. Ia ingin memastikan bahwa Alya merasa sangat diinginkan. Setiap bisikan Rayhan adalah mantra yang membuat Alya semakin tenggelam dalam pesona suaminya. Tidak ada peperangan, tidak ada senjata. Yang ada hanyalah penaklukan hati yang dilakukan Rayhan setiap hari melalui perhatian dan kemanjaannya. Di pulau ini, Rayhan telah membuktikan bahwa dia adalah pemilik sah atas seluruh hidup Alya, dan Alya dengan senang hati menyerahkan kunci hatinya kepada pria tersebut. Alya memperhatikan bagaimana Rayhan sangat memperhatikan detail kenyamanannya. Bahkan saat mereka sedang bersantai di sofa, Rayhan akan memastikan posisi duduk Alya sudah sempurna, menyelimuti kakinya jika terasa dingin, dan selalu menggenggam tangannya. Perhatian yang sangat intens ini terkadang membuat Alya merasa seperti seorang ratu di sebuah kerajaan kecil yang hanya dihuni oleh mereka berdua. Sifat posesif Rayhan juga terlihat saat ia mematikan semua notifikasi di ponselnya. "Aku tidak mau ada urusan bisnis yang mengganggu waktuku bersamamu. Perusahaan bisa berjalan sendiri, tapi hatiku tidak bisa bernapas tanpa perhatianmu," kata Rayhan saat Alya bertanya kenapa dia tidak memeriksa email pagi itu. Alya merasa sangat dicintai. Ia tahu bahwa bagi pria seperti Rayhan, waktu adalah hal yang paling berharga, dan Rayhan memberikan seluruh waktunya hanya untuknya. Inilah bentuk romansa murni yang ia impikan selama ini. Pernikahan yang awalnya ia takutkan karena perjodohan, kini menjadi tempat paling membahagiakan yang pernah ia miliki. Mereka pun kembali terlelap dalam pelukan yang erat, menunggu matahari esok yang akan membawa lebih banyak lagi momen romantis dan transparan di surga tersembunyi mereka. Rayhan tidak akan pernah melepaskan Alya, dan Alya pun tidak akan pernah ingin dilepaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD