Part 3 - Aku Suka Kamu, Friska!

1708 Words
Sesampainya di rumah, Hiro langsung menuju ke kamarnya dan mencari sumber kebahagiaannya, bingkai foto Naurin. “Rin ... aku udah pulang nih!” seru pemuda itu. Hiro membaringkan tubuhnya di ranjang, dipeluknya bingkai foto Naurin sambil dia bermonolog, “Rin, aku lupa bilang sama kamu kalau Putra minjemin aku komik yang baru terbit. Kamu mau baca bareng nggak? Eh, tapi aku duluan deh yang baca baru nanti aku ceritain sama kamu.” Kemudian Hiro menggulingkan tubuhnya ke sebelah kiri. Bingkai yang dipeluknya kini disandarkan ke bantal agar Hiro bisa dengan mudah melihat wajah Naurin. “Rin, mungkin kalau kamu masih disini, di dekat aku, aku pasti langsung meluk kamu. Hmm … tapi jangan mikir kalau aku m***m ya, Rin. Hehehe …. Aku cuma kangen aja sama kamu, Rin.” Jari telunjuk Hiro membelai wajah Naurin di foto tersebut. Angin berhembus dengan lembut menyusup masuk ke dalam kamar Hiro melalui jendela yang terbuka setengah. Hembusan anginnya sampai mengenai wajah Hiro seperti membelai wajahnya dengan lembut. Hiro memejamkan matanya merasakan belaian dari hembusan angin itu. Lembut, dingin, tapi menenangkan hatinya. Lama-lama terdengar suara wanita yang memanggil namanya. “Hiro ... Hiro ....” Awalnya suara itu terdengar samar-samar, tetapi semakin lama suaranya terdengar semakin jelas sehingga membuat Hiro membuka kedua matanya. “Naurin???” Hiro segera bangkit dari posisi tidurnya. Matanya dilempar berkeliling mencari sosok Naurin. “Hiro ....” Hiro membalikkan tubuhnya dengan cepat mencari sumber suara yang memanggilnya. Hiro menghela nafas lega melihat sosok wanita yang sudah dia nantikan. “Kamu kemana aja sih, Rin? Aku sudah nungguin kamu loh,” ucap Hiro seraya menatap Naurin dengan raut wajah sedih. Dia sangat merindukan wanita tersebut. Naurin mengembangkan senyuman pada Hiro. Lalu kedua bola mata indah Naurin menatap lurus ke jendela yang berada di belakang Hiro. “Aku juga nungguin kamu di sini.” Suara indah Naurin terdengar di telinga Hiro, tetapi tatapan matanya terus mengarah ke arah jendela. Karena penasaran dengan apa yang Naurin lihat, maka Hiro mendekatkan dirinya ke jendela. Dia ingin melihat ada apa di luar jendela sana. Hiro menatap keluar jendela namun tidak ada siapapun di luar sana. Hanya ada langit senja berwarna jingga dengan goresan warna pelangi yang menghiasinya. “Kamu mau aku lihat pelangi itu ya, Rin?” tanya Hiro. Naurin tidak menjawab pertanyaan Hiro, dia hanya mengubah arah pandangnya. Dia kini menatap Hiro dengan tatapan yang hangat, senyum di wajahnya juga semakin mengembang lebar. Wajah dan senyuman itu membuat Hiro ingin segera memeluknya. Hiro melangkahkan kakinya mendekati Naurin. Namun, sosok Naurin perlahan semakin memudar, dan hilang. “Kamu ninggalin aku lagi, Rin,” bisik Hiro lirih.   ***   Dira sedang duduk melamun di dalam kamarnya. Dia masih memikirkan apakah Hiro, senior favoritnya, benar-benar menaruh hati pada sahabatnya, Friska. Jika Hiro benar-benar menyukai Friska, maka Dira berpikir apa dia harus mundur secara terhormat atau tetap menyimpan perasaannya ini dalam diam. Kemudian Dira berpikir lagi, Friska sahabatnya sudah sangat mengetahui jika Dira tertarik pada si senior Hiro itu. Jadi masih ada kemungkinan jika Friska akan mengalah pada Dira karena tidak ingin menyakiti perasaan Dira. Tetapi jika begitu maka Dira lah yang akan terlihat menyakiti Friska. Lagipula apa sebenarnya Friska juga menaruh hati pada Hiro? Dira merasa jika sebaiknya dia memastikan hal itu terlebih dahulu. Friska juga menyukai Hiro atau tidak. Dira langsung menyambar ponsel yang tergeletak di atas ranjangnya. Dia menggeser layar ponselnya untuk mencari nomor Friska sahabatnya itu. Saat ingin menekan lambang telepon di kontak tersebut, Dira berpikir kembali apakah Friska akan marah padanya jika bertanya tentang perasaannya terhadap Hiro. Friska memang cantik, tetapi dia juga terkenal jutek, galak. Dira sedikit takut menghadapi kemarahan Friska. “Hmm … telepon nggak yaa???” Raut wajah Dira terlihat kebingungan. Satu sisi dia ingin tahu perasaan Friska terhadap Hiro, tetapi di sisi lain dia juga takut jika Friska marah padanya. Kini Dira berjalan modar-mandir di dalam kamarnya. “Telepon ... nggak ... telepon ... nggak ... telepon … nggak .... Duuhh bingung iihh!” Setelah merasa frustasi akhirnya Dira membanting tubuhnya ke atas ranjangnya yang empuk. Dia menggulingkan badannya ke kiri dan kanan. Berharap mendapat pencerahan untuk kegalauannya itu. Tiba-tiba ponselnya berdering kencang. Friska menghubunginya melalui panggilan telepon. Tepat waktu sekali Friska meneleponnya sekarang, atau mungkin waktunya tidak tepat ya karena Dira masih dengan kegalauannya. “Ha-halo, Fris?” Dira menerima panggilan telepon dari Friska. “Dira kamu dimana? Aku udah mau sampai rumah kamu nih naik ojek online.” Suara Friska terdengar sangat jelas walaupun suara angin yang kencang juga melatarbelakangi suara Friska. “Eehh??” Sontak kedua bola mata Dira membulat. “Jangan cuma eehh doang Indira Maheswari, tapi dijawab pertanyaan aku, kamu dimana?” “Hah? Ehh, iya aku di rumah. Tapi Fris ….” “Okay 5 menit lagi sampai. Daahh!” Friska mengakhiri panggilan teleponnya saat Dira belum sempat melanjutkan kalimatnya. Tepat 5 menit Friska pun tiba di rumah Dira. Dira tinggal hanya bersama dengan kakak lelakinya karena kedua orang tuanya sudah tiada. Saat siang hari seperti ini kakaknya sedang berada di tempat kerjanya, dan baru akan kembali ke rumah malam hari. “Diraaa …. Aku di depan niihh. Bukain pintuu!!” Bukannya mengucapkan kalimat salam Friska malah berteriak di depan pintu rumah Dira agar dibukakan pintu. Dira yang mendengar suara Friska dari dalam kamarnya langsung bergegas membukakan pintu. Namun langkahnya langsung terhenti tepat 1 meter dari pintu. Dia menarik nafas panjang dan membuangnya cepat. Kini semangatnya sudah terkumpul, dia akan menanyakan tentang perasaan Friska pada Hiro. “Friska …,” sapa Dira dengan wajah ceria saat membukakan pintu. Friska mengerutkan dahinya menanggapi sahabatnya. “Kenapa kamu, Ra? Lagi bahagia ya?” tanya Friska seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Dira. Friska sendiri sudah sangat sering bertamu ke rumah sahabatnya ini. Oleh karena itu tanpa ada keraguan ataupun rasa sungkan Friska pun langsung menuju ke kamar Dira dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang Dira. “Ra, ambilin minum dong, yang dingin ya,” titah Friska yang langsung dilaksanakan dengan sigap oleh Dira. Tidak hanya segelas air dingin, tetapi Dira juga menyiapkan beberapa kantung cemilan untuk dinikmati berdua. “Nahh gitu dong. Temen yang baik ini namanya hehehe …,” kata Friska dengan wajah sumringah. Setelah menenggak segelas air dingin, kini Friska membuka sekantung keripik kentang. Friska merasa ada sesuatu yang aneh. Dia merasa seperti ada sepasang mata yang menatapnya sangat intens, sehingga membuatnya merasa tidak nyaman. Friska pun menoleh ke sumber yang membuatnya merasa tidak nyaman. Ternyata Dira yang sedang menatapnya dengan sangat intens. “Dira, kamu ngapain sih ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Friska. Dira sedikit memajukan wajahnya. “Fris, aku mau nanya tapi kamu harus jawab yang jujur ya,” pintanya. “Nanya apa sih, Ra? Kok sampai ngeliatin aku sebegitunya.” Friska mulai penasaran. “Jawab yang jujur, kamu punya perasaan nggak sama Hiro senpai?” “Uhuukk!!” Keripik kentang yang sedang dikunyah oleh Friska mendadak berhamburan ke luar dari mulutnya. Friska tidak menyangka jika Dira menanyakan hal yang mustahil seperti itu. “Dira, yang benar saja sih! Nggak mungkin aku punya perasaan sama senior aneh kayak dia. Hobi aja menyendiri, gimana aku bisa suka coba?” bantah Friska kemudian. “Yakin?” Dira berusaha mendapatkan jawaban seyakin-yakinnya tentang perasaan Friska. Dia tidak mau jika sekarang Friska harus berbohong terhadap perasaannya. “Ra? Belum lama aku yang bilang sama kamu mungkin Hiro senpai sudah punya pacar, karena banyak cewek yang nembak dia tapi ditolak mentah-mentah. Kenapa sekarang kamu malah nanyain perasaan aku ke dia sih?” Dira memincingkan matanya pada Friska. “Jadi? Artinya?” “Ya … aku nggak ada perasaan apa-apalah sama si Hiro senpai kamu itu. Lagian nggak mungkin juga kali aku nikung kamu.” Friska langsung mendorong pelan kening Dira memastikan jika dia tidak mungkin menikung sahabatnya sendiri. “Beneran ya??? Yeeaayy … akhirnya aku nggak harus saingan sama kamu.” Dira berteriak kegirangan karena sudah mendapat kepastian dari sahabatnya itu. Dira menyambar kantung keripik kentang yang ada di tangan Friska. Dia ikut menikmati keripik kentang itu dengan kebahagiaan yang terlihat jelas dari raut wajahnya tersebut. “Ra, kok tiba-tiba kamu nanya kayak gitu sih? Kamu nggak percaya sama aku?” tanya Friska penasaran. Dira tidak pernah tidak mempercayai Friska. Namun, tadi sepertinya ada sedikit keraguan di hati Dira tentang perasaan Friska pada senior tampannya itu. “Maaf yaa, Fris, tentang yang tadi. Aku percaya kok sama kamu, cuma kemarin waktu ketemu sama Hiro senpai tuh dia malah nanyain nama kamu bukan nanyain nama aku. Terus dia bilang gini sama aku, bilangin teman kamu kalau ada cowok yang naksir sama dia. Gitu, Fris.” Dira memberikan penjelasan pada Friska dengan mulut yang terus melahap keripik kentang ke dalam mulutnya. Alis Friska langsung naik mendengar penjelasan Dira. Kini Friska yang menerka-nerka siapa lelaki yang jatuh hati padanya. Apakah itu, Hiro senpai? Wajahnya langsung tersipu memikirkan jika Hiro senpai menyukainya. Kemudian Friska melirikkan matanya pada Dira yang masih tersenyum sumringah sambil mengunyah keripik kentang tadi. Hatinya pun berbisik, “Kalau aku juga menaruh hati sama Hiro senpai, apa kamu nggak masalah, Ra?” Keesokkan paginya, Friska berlari dengan sedikit tergesa menuju ke kelasnya. Dia sudah telat. Ini semua dikarenakan tukang ojek online yang sempat tersasar saat menjemputnya di rumah. Secara tidak sengaja Friska menabrak lengan seorang mahasiswa yang juga sama terburu-buru seperti dirinya. Bruukkk!! “Aduh, maaf ya aku lagi terburu-buru,” ucap Friska sambil meringis kesakitan memegang bahu kirinya. Sepertinya karena saling bertabrakan tadi membuat lengan kirinya merasa sedikit sakit. “Nggak kamu nggak teman kamu hobi banget bikin orang jatuh sih!” Hiro yang juga terjatuh kini mengomeli Friska. Putra yang berada diantara mereka membantu Hiro terlebih dahulu untuk berdiri. Kemudian setelahnya Hiro langsung membantu Friska untuk berdiri. Kedua pipi Friska bersemu kemerahan karena Hiro membantunya untuk berdiri. “Maaf, Senpai.” Friska sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Hiro. Pandangannya juga tertunduk menatap lantai yang diinjaknya. “Kamu Friska kan?” “Iya, Senpai,” jawab Friska dengan tetap membungkuk dan menunduk tanpa melihat lawan bicaranya. “Aku suka kamu, Friska!” Friska langsung mengangkat tubuhnya dan menatap Hiro. Dia menyatakan perasaannya padaku? “Senpai, aku juga suka senpai.” Wajah Friska sangat berseri menjawab pernyataan suka dari lelaki yang berada di depannya. Senyumnya mengembang sangat lebar. Matanya berbinar. Friska benar-benar sudah jatuh cinta pada Hiro.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD