“Aku suka kamu, Friska!” Friska langsung mengangkat tubuhnya dan menatap Hiro. Dia menyatakan perasaannya padaku?
“Senpai, aku juga suka senpai.” Wajah Friska sangat berseri menjawab pernyataan suka dari lelaki yang berada di depannya. Senyumnya mengembang sangat lebar. Matanya berbinar. Friska benar-benar sudah jatuh cinta pada Hiro.
“Seriusan, Fris? Jadi sekarang kita pacaran ya!” Dengan penuh semangat Putra meresmikan hubungannya dengan Friska.
“Eeh??? Kok???” Friska tampak kebingungan melihat lelaki di samping Hiro yang merasa senang. Sementara Hiro hanya berdiri dan memasang wajah tak perduli.
“Sebentar? Kok Putra senpai yang senang?” tanya Friska pada Putra.
“Ya iyalah dia senang, dia kan barusan nyatain perasaannya ke kamu dan kamu juga bilang hal yang sama. Gimana dia gak senang coba? Ya udah ya, Put, gue duluan ke kelas. Bye ....” Hiro berjalan melewati Friska begitu saja. Tubuh Friska membeku, wajahnya memerah karena malu.
Mata Friska menatap ke arah Putra yang tersenyum sangat senang. Dia tidak tega mengatakan jika sebenarnya dia telah salah paham. Namun, tidak mungkin juga Friska berkata jika yang disukainya adalah Hiro teman baiknya itu. Friska menarik nafas perlahan dan tersenyum terpaksa.
“Kamu Friska kan? Kita belum kenalan, aku Putra.” Putra mengulurkan tangannya pada Friska.
Dengan sedikit keraguan Friska menyambut uluran tangan itu untuk dijabat. “Friska,” balas Friska memperkenalkan dirinya dengan singkat.
“Mana handphone kamu?” Putra meminta Friska untuk mengeluarkan ponsel miliknya.
“Eh? Handphone? Hmm … ini. Kenapa?” Friska merogoh tasnya dan memberikan ponsel miliknya pada Putra.
Kemudian Putra mengetikkan sesuatu di ponsel Friska, mungkin nomor yang bisa dihubungi karena mereka sekarang sudah berpacaran. Ya, berpacaran atas dasar kesalah pahaman.
“Itu nomor aku, sudah aku save di kontak kamu. Nomor kamu juga sudah aku save. Nanti sepulang kuliah aku hubungin kamu ya.” Putra memberikan kembali ponsel milik Friska. Setelah itu dia melambaikan tangannya dan melangkahkan kakinya pergi menjauh.
Friska kembali menarik nafas panjang dan kini menghembuskannya dengan lesu. Dia sudah salah paham. Terlalu terburu-buru menjawab pernyataan suka yang didengarnya. Padahal dia sendiri belum tahu siapa yang berbicara. Karena terlalu senang dan grogi, sesaat indera pendengarannya tidak berfungsi dengan baik, tidak bisa membedakan suara kedua lelaki barusan.
Dengan lesu Friska melangkahkan kakinya menuju ke kantin belakang kampus. Dia membatalkan niatannya untuk masuk ke kelas. Lagipula jika dilihat dari jam yang melingkar di tangannya dia pun sudah sangat terlambat.
Pagi ini diawalinya dengan ketidak beruntungan. Mungkin ini adalah hukuman untuknya karena dia telah berbohong pada sahabatnya sendiri tentang perasaannya. Dia juga sudah berjanji untuk tidak menikung Dira. Tetapi hati manusia siapa yang tahu, Friska pun sebenarnya menaruh hati pada seniornya itu, hanya saja dia juga sangat menyayangi Dira sahabatnya dari kecil sehingga Friska memilih untuk menutup mulutnya dan tidak memberitahukan Dira.
Jam kuliah pagi pun telah usai. Friska mengirim pesan pada Dira jika dia menunggunya di kanting belakang kampus. Friska ingin menghindari Putra dan juga Hiro. Dia tidak ingin berpapasan dengan kedua seniornya itu. Masih ada rasa malu yang menyergapnya karena kejadian tadi.
Menerima pesan Friska, Dira pun langsung menyusul ke tempat temannya berada. Dira sedikit berlari sambil melompat-lompat layaknya anak kecil. Usianya memang sudah tidak bisa dibilang anak kecil lagi, tetapi terkadang sikap dan kelakuan Dira bisa disejajarkan dengan anak kecil.
Sesampainya di kantin belakang kampus, Dira melemparkan pandangannya berkeliling mencari sosok sahabatnya. Kemudian matanya berhenti pada sosok seorang perempuan yang sedang memegang keningnya seperti orang kepusingan.
“Friskaaa!” panggil Dira diiringi dengan lambaian tangan ke arah sahabatnya itu.
Kemudian Dira langsung menghampiri Friska. Kebetulan saja di kantin yang sedang ramai itu kursi yang berada tepat di sebelah Friska kosong, jadi Dira dengan santainya duduk di sana dan bersandar di bahu Friska.
“Iih Dira apaan sih! Kayak anak kecil aja deh kamu.” Friska berusaha mendorong kepala Dira yang baru saja asyik bersandar di bahunya. Dia merasa risih di tempat yang ramai seperti sekarang ini.
“Bentar aja deh, Fris. Aku pusing nih tadi di kelas nggak ada kamu jadi aku nggak bisa nyontek deh,” keluh Dira yang kemudian menaruh kembali kepalanya ke bahu Friska.
Akhirnya Friska pun membiarkannya. Paling nanti akan ada gosip yang menyebar jika dirinya dan Dira adalah pasangan sesama jenis. Friska tidak akan mengambil pusing hal tersebut.
“Fris, Fris. Kok tadi kamu nggak masuk kelas? Katanya tadi kamu masih sempat masuk kelas walau terlambat sedikit.” Kini lengan Friska digoyang-goyangkan perlahan. Sikap Dira benar-benar manja seperti anak kecil.
“Ada incident kecil, Ra. Udah deh nggak usah ditanyain lagi ya,” jawab Friska yang enggan memberitahu Dira.
“Eh? Incident apa? Kepo nih aku,” cecar Dira.
“Udah deh nanti aja aku ceritainnya ya. Kalau sekarang aku nggak mood.” Friska menolak memberitahu Dira. Lagipula Friska juga tidak bisa bilang pada Dira jika tadi dia telah salah mengira kalau Hiro menyatakan cintanya, padahal sebenarnya itu adalah Putra, sahabatnya Hiro.
Dira hanya mengangguk saja. Kemudian Dira mengangkat kepalanya yang bersandar di bahu Friska, lalu dia berdiri dan menuju ke salah satu penjual makanan yang berada di kantin itu. Friska bisa menarik nafas lega untuk saat ini.
“Hai, Fris!”
Seseorang menepuk bahu Friska dari belakang. Friska pun menoleh ingin mengetahui siapa yang menepuk bahu dan juga menyapanya. Matanya langsung melotot melihat Putra yang sudah berdiri tegak di belakangnya.
“Loh kok? Senpai? Kenapa bisa di sini?” tanya Friska dengan keterkejutannya melihat Putra berada di sana.
“Kenapa memang? Aku sama temanku selalu nongkrong disini sambil nunggu dosen pembimbing,” jawab Putra dengan santai.
Padahal Friska sengaja memilih kantin belakang kampus untuk menghindari Putra dan juga Hiro, tetapi sepertinya keputusannya salah karena Friska malah datang ke tempat Putra dan Hiro biasa menunggu dosennya.
“Oh … gitu,” balas Friska dengan lesu.
Raut wajah Friska langsung berubah menjadi bingung. Matanya berkeliling mencari Dira. Dia ingin mengajak Dira segera pergi dari tempat itu.
“Put! Kok lu ninggalin gue sih!” Kini terdengar suara Hiro yang menggerutu pada Putra. Hiro pun langsung duduk di kursi kosong yang berada di hadapan Friska.
Sebelumnya di kursi itu masih ada orang lain, kenapa sekarang tiba-tiba kursinya jadi kosong?
“Ya lu lagian lama sih, Ro,” sahut Putra yang kemudian duduk tepat di samping Friska, kursi yang sebelumnya diduduki oleh Dira.
“Kan gue bilang tunggu sebentar, gue mau cari referensi dulu di perpus,” gerutu Hiro.
“Ya tetap aja lama, Ro. Udah lapar ini perut gue.” Putra tetap tidak mau disalahkan.
“Ya udah traktir gue ya kalau gitu, hahaha …,” Hiro menggoda sahabatnya itu.
Friska kini terjebak diantara kedua senior itu. Dia sudah tidak bisa kemana-mana lagi. Dira pun tak kunjung kembali. Entah apa saja yang Dira beli sehingga dia tak juga kembali. Friska butuh Dira untuk menjadi penyelamatnya. Menyelamatkan dirinya dari kedua senior itu, terutama dari Putra, pacar tak disengajanya.
“Loh? Kok ada Hiro senpai?” Kaki Dira terpaku di samping meja melihat Hiro dan Putra duduk bersama dengan Friska.
Hiro menoleh ke arah Dira, kemudian diambil ransel miliknya yang sempat diletakkan di kursi sebelahnya.
“Mau duduk ya? Tuh duduk sini aja.” Hiro mempersilahkan Dira untuk duduk disebelahnya.
Wajah Dira langsung bersemu kemerahan. Namun, raut wajah Friska langsung berubah seperti kecewa.
“Ini beneran nggak apa-apa duduk disini?” tanya Dira memastikan.
Hiro menjawab, “Terus maunya dimana? Lagi ramai juga kan disini, cuma kursi ini aja yang kosong”
“Makasih ya senpai.” Dengan malu-malu Dira duduk di kursi sebelah Hiro. Wajahnya masih bersemu kemerahan, jantungnya pun berdegup kencang, dia sangat senang tetapi juga sangat grogi.
“Kamu temannya Friska ya? kenalin aku Putra, mulai hari ini sudah jadi pacarnya Friska.” Putra mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya.
“HAAHH?? Apa tadi? Pacar? Kok bisa?” Dira terkejut dengan pengakuan Putra. Bahkan uluran tangan Putra pun tidak dihiraukannya.
“Duh jangan kencang-kencang kenapa sih suaranya! Berisik tahu!” protes Hiro yang merasa telinganya pengang karena suara Dira.
“Senpai, kok kamu bilang gitu ke Dira?” Kini Friska yang mengajukan protesnya pada Putra.
“Kan emang benar, Fris. Tadi pagi aku nembak kamu dan kamu juga bilang tentang perasaan kamu. Yaa kita pacaran kan jadinya,” terang Putra.
Senyum lembut Putra tercetak di wajahnya. Tatapannya lurus tertuju pada Friska, membuat Dira yang melihatnya menjadi iri.
“Tapi kan senpai tadi pagi itu aku ….” Friska menghentikan kalimatnya menggantung. 6 pasang mata kini sedang melihatnya menunggu lanjutan dari kalimatnya barusan.
“Tadi pagi kenapa, Fris?” tanya Putra.
Tidak mungkin Friska mengatakan di depan sahabatnya jika dia telah salah mengira Hiro lah yang menyatakan cintanya. Dira pasti akan menangis karena sakit hati, dan juga persahabatannya sejak kecil yang akan menjadi taruhannya.
Mereka masih menunggu kelanjutan kalimat Friska. Diliriknya wajah Hiro dan Dira bergantian.
“A-anu ... itu maksud aku ... tadi pagi aku kan malu karena ditembak Putra senpai,” jawab Friska. Ya, kalimat itu adalah kalimat teraman untuk saat ini.
Dalam hatinya, Friska meminta maaf pada Putra karena sebenarnya dia tidak mempunyai perasaan apapun, dan juga pada Dira karena dia sebenanrnya menaruh hati pada Hiro. Dira masih menatap wajah Friska intens. Dira pasti menyadari jika sebenarnya ada yang disembunyikan oleh Friska.
Kemudian Putra melirik kea rah Dira. “Kamu Dira temannya Friska kan? Kamu sudah punya pacar?” tanya Putra.
Dira menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Putra. Kemudian Putra melirik ke arah Hiro yang seakan tidak peduli.
“Ro, tuh Dira masih jomblo. Kalian saling PDKT deh.” Celetukan Putra mendapat respon terkejut dari Dira dan Friska. Mata mereka berdua langsung melotot seperti mau keluar. Dira terkejut karena tidak menyangka akan dicomblangi oleh sahabatnya Hiro. Sedangkan Friska terkejut karena kesempatan Dira untuk lebih dekat Hiro akan lebih terbuka lebar.
“Put? Bisa udahan nggak nyomblangin gue sama cewek-cewek? Berkali-kali gue bilang kalau hati gue cuma buat Naurin. Titik!” geram Hiro.
Dengan raut wajah yang kesal Hiro beranjak dari kursinya meninggalkan Putra bersama dua gadis tersebut di kantin.
“Fris, aku nyusul Hiro ya. Bye, Fris. Bye juga Dira.” Putra juga beranjak dari kursinya untuk menyusul Hiro.
Kini tinggal kedua sahabat itu saling berhadapan dan saling menatap. Dibenak mereka kini memikirkan siapa perempuan yang disebut namanya tadi oleh Hiro. Apakah dia pacarnya Hiro?
Tetapi barusan Putra berusaha menjodohkan Hiro dengan Dira. Atau jangan-jangan Naurin itu mantan kekasih Hiro? Mereka berdua terus memikirkan hal tersebut.
Friska menarik nafas perlahan dan mencoba membuka pembicaraan dengan Dira. “Ra, ada yang mau aku omongin.”
Dira mengangkat kedua alisnya. Raut wajah Dira terlihat sangat penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Friska.
“Dira, maafin aku yaa.” Kalimat tersebut keluar dari mulut Friska dan membuat Dira semakin kebingungan.
“Maaf untuk apa, Fris?” tanya Dira.
Friska menatap kembali wajah Dira. Wajah yang sangat lugu itu membuatnya merasa bersalah. Kini Friska merasa jika dirinya bukanlah sahabat yang baik bagi Dira.
“Dira, aku itu ….”
____________________
Apakah Friska akan mengatakan yang sejujurnya pada Dira? Lalu bagaimana dengan Hiro? Apa Hiro pada akhirnya menerima ide Putra untuk dicomblangkan dengan Dira?