“Dira, maafin aku ya.” Kalimat tersebut keluar dari mulut Friska dan membuat Dira semakin kebingungan.
“Maaf untuk apa, Fris?” tanya Dira.
“Dira, aku itu ….” Kalimat Friska menggantung. Hatinya kini diselimuti dengan keraguan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Dia ingin jujur pada sahabatnya itu jika dia sebenarnya juga mempunyai perasaan pada Hiro. Tetapi dia juga tidak berani menyakiti perasaan sahabatnya tersebut.
“Kenapa sih, Fris? Kok ngomong ragu-ragu gitu?” Dira sudah tidak sabar menunggu Friska untuk mengatakan hal yang membuatnya penasaran.
Dira terus menerus menatap Friska. Menunggu sahabatnya untuk melanjutkan kalimatnya.
“Jadi gini, Ra, aku itu sebenarnya ….”
Trriiinngg ... Trriiinngg ....
Ponsel Dira berdering kencang dan membuat Friska harus menahan kembali kalimat yang hendak dia ucapkan.
“Fris, sebentar ya. Ini kakak aku telepon.” Dira menunjukkan layar ponselnya pada Friska. “Iyaa haloo..” Dira pun dengan sigap menerima panggilan telepon yang masuk itu. Friska menghela nafas perlahan agar tidak terdengar oleh Dira.
Beberapa menit kemudian Dira mengakhiri panggilan teleponnya. Kemudian kembali Dira menghadapkan pandangannya pada Friska. “Lanjut, Fris. Maaf ya tadi kakakku telepon mau ngabarin kalau dia nggak pulang malam ini,” kata Dira memberitahu Friska.
Kini Dira menunggu Friska melanjutkan kalimatnya yang tertunda karena telepon dari kakaknya Dira yang menginterupsi. Namun, wajah lugu Dira membuat Friska mengurungkan niatannya untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
“Huuff ....” Friska menghela nafas sejenak. “Aku udah jadian sama Putra, Ra. Tadi pagi,” lanjut Friska sembari mengembangkan senyum palsu di wajahnya.
Sebaiknya Friska mencari waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya. Dan kini Friska hanya akan mengakui jika dia berpacaran dengan Putra, tanpa memberitahu Dira perasaan yang sebenarnya.
“Jadi yang dibilang sama Putra senpai tadi benar, Fris? Eh, tapi tunggu dulu, emang kamu juga suka sama dia?” tanya Dira tampak sedikit tak percaya dan penasaran.
Friska sempat terdiam sejenak sambil menatap ke kedua bola mata Dira yang memandang lurus padanya. “Enggak tahu sih, Ra. Ya … aku coba jalanin aja dulu,” jawab Friska.
“Kamu kalau memang nggak suka sama Putra senpai ya jangan dipaksain pacaran sama dia, Fris. Kamu tuh harus jujur sama perasaan kamu sendiri. Daripada kamu jalanin tapi kamu malah nggak nyaman, iya kan?” Mendengar ucapan Dira barusan membuat Friska tak bisa berkata-kata.
Ini kenapa si Dira polos amat sih ngomongnya? Jujur sama perasaan sendiri tuh maksudnya aku harus bilang gitu kalau aku jatuh cintanya sama Hiro senpainya dia?
“Ya sudah. Ra. Mending kita nggak usah nahas hal itu lagi. Kita liat saja nanti kelanjutan hubungan aku sama Putra senpai kayak gimana.” Friska sudah tidak mau membicarakan hubungannya dengan Putra.
Kemudian Friska bangkit dari kursinya dan mengajak Dira untuk segera meninggalkan kantin. Mereka berdua masih ada jam kuliah yang harus dihadiri. Friska tidak mungkin bolos lagi atau nanti dia akan mendapat surat teguran karena keseringan tidak hadir di kelas.
***
“Si Putra tuh rese banget sih! pake jodoh-jodohin aku segala sama cewek tadi! Aku kan jadi kesel, Rin! Aku tuh cuma mau sama kamu, Rin. Nggak mau yang lain!” Sambil berjalan lurus Hiro mulai menggerutu seorang diri karena kesal dengan sahabatnya.
“Kalau kamu ada di sini pasti langsung aku gandeng kamu dengan penuh kebanggaan, Rin. Biar semua cewek di kampus tuh tahu kalau hati aku sudah ada yang punya, dan yang punya itu ya kamu, Rin.” Dibukanya pintu salah satu kelas yang berada dekat dengannya dengan kasar. Tidak ada seorang pun di dalam sana. Hiro langsung melangkahkan kakinya menuju ke salah satu kursi yang berada di barisan paling belakang.
“Rin ... kamu kemana sih? Aku kan butuh kamu sekarang, Rin,” lirih Hiro.
Pemuda itu benar-benar membutuhkan sosok Naurin untuk berada di sampingnya saat ini. Dia menginginkan Naurin untuk bisa meredakan emosinya.
Di dalam kelas yang kosong itu hanya ada Hiro seorang diri. Hiro duduk di kursi dengan tangan kanan menopang dagunya di atas meja. Raut wajah pemuda itu seketika menjadi murung. Namun, tiba-tiba dia merasakan ada orang lain yang hadir dan berdiri di belakangnya. Dipeluknya leher Hiro dari belakang dan dirasakan kehangatan muncul dalam diri Hiro.
“Kamu jangan marah-marah, ada aku di sini,” bisik Naurin. Suaranya terdengar sangat lembut di telinga Hiro.
Hiro pun akhirnya bisa menenangkan hatinya dalam pelukan Naurin. Tangan yang tadinya digunakan untuk menopang dagunya kini mencoba menyentuh lengan Naurin yang memeluknya. Biasanya Hiro tidak bisa menyentuh lengan dengan kulit yang berwarna putih pucat tersebut, tetapi kali ini Hiro bisa menyentuhnya, merasakan kehadiran Naurin di sisinya.
Perlahan Hiro melepaskan kedua tangan Naurin yang melingkar di lehernya. Kemudian dia berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Naurin. “Naurin, kamu jangan pergi ninggalin aku lagi dong. Aku kan kesepian, Rin,” pinta Hiro dengan lirih.
Digenggam kedua tangan Naurin dengan erat seolah Hiro tak mau kehilangan gadis itu lagi Tetapi Hiro tidak bisa merasakan suhu tubuh Naurin. Tidak dingin dan juga tidak hangat.
“Kamu nggak sendirian, Hiro.” Kedua bola mata indah tapi tak bercahaya itu menatap lurus dan dalam ke mata Hiro.
“Aku sendirian, Rin. Kamu udah ninggalin aku, kamu selalu biarin aku sendirian,” balas Hiro dengan tatapan sendu.
Naurin membelai wajah Hiro dengan lembut. Dilihatnya raut wajah yang kesepian itu. “Aku janji mulai saat ini akan selalu nemenin kamu,” ucap Naurin berjanji pada Hiro.
Raut wajah Hiro berubah menjadi berseri berkat ucapan Naurin barusan. Hiro menarik tubuh Naurin ke dalam pelukannya. Bahkan tubuhnya sangat ringat seperti angin yang melayang di udara.
***
Keesokan harinya, Friska datang ke kampus lebih awal. Dia ingin memanfaatkan waktu yang ada sebelum kelas dimulai untuk menemui Putra. Friska ingin menjelaskan tentang perasaan yang sebenarnya. Masa bodoh bagaimana selanjutnya, Friska ingin berkata jujur pada Putra jika dia jatuh hati pada Hiro, bukan padanya.
Friska mencari-cari keberadaan Putra. Dia bertanya pada senior-senior lain yang ada di kampusnya. Pada akhirnya Friska mendapatkan info jika Putra sedang berada di perpustakaan untuk menemukan buku yang sedang dia cari.
Sebelum memasuki pintu perpustakaan, Putra sudah terlebih dahulu keluar dari pintu tersebut. Putra melihat Friska berada di depannya.
“Kamu, Fris? Mau masuk?” tanya Putra.
“Ehmm ... nggak, Senpai. Gini, sebenarnya aku nyari Putra senpai,” jawab Friska dengan sedikit gugup.
“Nyari aku? Ada perlu apa?” Putra mulai penasaran.
“Kita bisa bicara empat mata? Ada hal penting yang mau aku bicarain,” pinta Friska.
“Empat mata? Ada sesuatu yang penting?”
“Iya, ini penting banget. Kita masuk ke perpus yuk, kita ngobrol di dalam,” ajak Friska yang kemudian menarik tangan Putra.
Di dalam perpustakaan, Friska sengaja mencari kursi yang sepi dan jauh dari pengunjung perpustakaan lainnya. Tempat yang sedikit di pojok dan sedikit tertutup oleh rak-rak buku yang berjejer di sana. Kini mereka sudah duduk bersebelahan di kursi yang tersedia di sana. Friska duduk di tengah-tengah, diantara Putra yang berada di sebelah kanan dan dinding di sisi lainnya.
Friska menarik nafas panjang sebelum akhirnya menyampaikan apa yang seharusnya dikatakan olehnya dari awal. “Putra senpai, ehmm ... gini ... sebenarnya aku itu ....”
“Suka sama Hiro kan?” celetuk Putra menyela kalimat yang ingin diucapkan Friska dan membuatnya terkejut. “Aku udah tahu dari awal kok,” lanjut Putra.
“Kok Putra senpai bisa tahu?” tanya Friska tampak tak percaya.
Putra langsung meletakkan salah satu tangannya ke dinding dan membuat Friska terpojok. Ditatapnya wajah Friska dengan intens. Friska membeku, tak bisa bergerak sama sekali. Mata Putra sangat tajam menatap ke mata Friska.
“Aku tahu semua tentang kamu, juga tentang apa yang kamu suka. Kamu sudah suka sama Hiro sejak awal masuk kuliah. Tapi sangat disayangkan, kamu sudah dengar sendiri kemarin jika Hiro sudah memiliki tambatan hatinya,” ungkap Putra dengan dingin.
Bibir Friska tampak gemetar. “Putra senpai ...,” lirihnya.
“Sedangkan aku? Aku sudah menaruh hati padamu. Kenapa kamu tidak melihatku? Lihat aku! Aku Putra, bukan Hiro!” tegas Putra pada gadis di hadapannya.
Tubuh Putra semakin maju dan semakin membuat Friska lebih terpojok lagi. Punggung Friska sudah menempel di dinding. Ditambah lagi Putra semakin memajukan tubuhnya dan membuat Friska semakin terapit
“Kamu mau ngapain?” tanya Friska dengan suara bergetar. Friska takut jika Putra melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
Putra menyunggingkan senyuman miring di wajahnya. “Aku? Kamu tanya aku mau ngapain?” Putra mendekatkan wajahnya dan membuat Friska hendak menangis. “Aku mau kamu hanya memikirkan aku, bukan Hiro,” desisnya kemudian.
Putra mendaratkan kecupan di kening Friska. Kedua mata Friska terbuka lebar, tubuhnya membeku kaku tak bisa bergerak. Setelah itu Putra beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan Friska.
Sedangkan kini yang ditinggalkan masih membeku ditempatnya. Semakin terkejut dia setelah menerima kecupan di keningnya. Kedua matanya seolah tidak mau menutup. Berkedip pun tidak bisa. Masih terus terbuka lebar dan entah menatap ke arah mana.