Part 6 - Dira dan Naurin

1417 Words
“Aku? Kamu tanya aku mau ngapain?” senyum Putra sangat menakutkan. Membuat Friska hendak menangis. “Aku mau kamu hanya memikirkan aku, bukan Hiro!” kemudian sedikit diberi kecupan di kening Friska. Lalu Putra beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan Friska. Sedangkan yang ditinggalkan pergi masih membeku ditempatnya. Semakin terkejut dia setelah menerima kecupan di keningnya. Kedua matanya seolah tidak mau menutup. Terbuka lebar dan entah menatap ke arah mana.   ***   “Tadi itu bukan mimpi kan?” Friska bergumam seorang diri. Dia masih berada di perpustakaan, masih dalam keterpakuannya setelah dikecup oleh Putra. Dicubit pipi kirinya, “Aduuhh.. ternyata bukan mimpi ya?” Friska mengaduh, cubitan di pipinya menyadarkannya dari keterpakuan. “Putra senpai ternyata bisa nyeremin juga. Kirain dia orang yang baik hati, nyantai dan murah senyum” Friska bermonolog. Padahal memang Putra orang yang baik hati, tapi entah kenapa dia bisa bersikap nekat seperti itu pada Friska. “Woy Fris!” sapaan dari Dira yang tiba-tiba membuat Friska hampir melompat dari kursinya. Friska benar-benar terkejut. “Ya ampun Ra! Jangan ngagetin kayak gitu sih!” setengah emosi Friska mengatakan hal tersebut pada Dira. Tangan kanannya mengelus dadanya karena jantungnya berdetak sangat cepat setelah dikejutkan oleh Dira. “Apaan sih Fris, aku kan negornya biasa aja masa sampai segitunya sih kamu kaget?” tanya Dira. Kemudian Dira duduk di kursi kosong tepat di samping Friska. Dira merasakan kursi yang didudukinya itu masih terasa sedikit hangat. “Fris?” panggil Dira. Ditatapnya Friska sambil mengerutkan dahinya. “Hmm?” Friska menyahut dengan menaikkan alisnya. “Sebelumnya di sebelah kamu ada orang?” tanya Dira. Friska kembali terkejut karena Dira bisa tahu jika sebelumnya ada yang menempati kursi tersebut. Jangan-jangan Dira punya indera keenam? “Kok kamu tahu Ra?” tanya Friska penasaran. “Soalnya ini pas aku dudukin kursinya masih terasa hangat. Pasti ada orang lain yang duduk di sini kan?” penjelasan Dira membuat Friska menghela nafas. Ternyata bukan karena mempunyai indera keenam, tetapi karena kursinya masih terasa hangat jadi Dira bisa menebaknya. “Iya emang tadi ada yang duduk disitu. Ini kan perpustakaan Ra, bukan kamar tidur. Jadi semua orang bebas mau keluar masuk atau duduk dimana aja kan?” “Iya juga sih Fris..” Dira mengangguk-anggukan kepalanya mengiyakan pernyataan Friska barusan. Kemudian Dira meletakkan tas selempangnya di atas meja. Lalu dia berdiri dan berjalan menuju ke rak buku yang berada sekitar 3 meter dari tempatnya tadi. Dirabanya buku-buku yang berbaris rapih dalam rak yang dituju. Diperhatikan judul-judul buku yang ada disana. Dira mencari sebuah buku yang bercerita tentang sejarah klan Taira yang berseteru dengan klan Minamoto pada zaman Heian. Buku bacaan yang cukup berat untuk Dira, karena sebenarnya Dira lebih menyukai cerita fiktif dengan gambar animasi di bukunya. Hanya saja dosennya meminta Dira membaca cerita tentang klan Taira dan klan Minamoto, dan membuat rangkuman dari cerita sejarah tersebut. “Rin pilihin cerita sejarah yang bagus untuk aku dong!” terdengar suara lelaki yang sudah tidak asing lagi bagi Dira. Dengan segera Dira mencari dimana sumber suara tersebut. “Yang ini aja kali ya Rin? Eh apa yang itu ya?” Dira semakin dibuat penasaran dengan siapa lelaki itu berbicara. Langkahnya perlahan-lahan berjalan semakin mendekat ke tempat sumber suara itu berasal. “Naahh yang ini aja deh, bukunya gak terlalu tebal. Kan kamu tahu Rin kalau sebenarnya aku gak suka baca” suaranya sudah terdengar sangat jelas. Dira menolehkan kepalanya ke kanan. Dilihatnya Hiro sedang berdiri dan memegang sebuah buku. Hiro senpainya masih sangat tampan seperti biasanya. Lalu di sebelahnya, berdiri seorang perempuan dengan paras yang cukup cantik dengan rambut panjang yang ditaruh di salah satu pundaknya. Perempuan itu cantik, tapi entah mengapa pandangan matanya tidak bercahaya. Tiba-tiba mata Dira saling bertemu dengan mata milik perempuan yang ada disamping Hiro. Dengan perasaan canggung Dira menyapa keduanya. “Eh anu.. itu.. maaf aku lagi cari buku tentang sejarah Jepang di rak yang ini” Dira terlihat sangat gugup hingga menjadi salah tingkah. Sampai-sampai rak yang ditunjuk adalah tempat buku-buku tentang seni merangkai bunga, bukan tentang sejarah Jepang. “Eh kamu, temannya Friska kan?” sapa Hiro. “Iya senpai, eh.. kak Hiro.. Maaf ya kalau ganggu. Yasudah kalian berdua lanjut lagi aja ngobrolnya aku cari di tempat lain aja” Dira membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan Hiro. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena Hiro menahannya, menarik tangannya agar tidak pergi. “Tadi kamu bilang apa? Berdua?” tanya Hiro dengan raut wajah yang tidak biasa. Raut wajah yang sangat serius. Tatapan matanya sulit diartikan, tajam namun berbinar. Sedangkan perempuan yang bersamanya tersenyum dengan sangat manisnya. Senyumannya membuat hati Dira terasa sejuk. “Kan memang kak Hiro lagi berdua. Eh apa sama teman yang lain juga? Temannya pada kemana?” jawab Dira dengan polosnya. “Kamu lihat aku sama.. Naurin?” Hiro berusaha memastikan jika Dira memang benar bisa melihat dirinya sedang bersama dengan Naurin. “Lihat? Maksud kak Hiro?” Dira menjadi bingung dengan pertanyaan Hiro. Kan memang Hiro sedang berdua dengan perempuan yang dipanggil Naurin itu. “Maksud aku, kamu lihat aku.. Naurin..” jari telunjuk Hiro menunjuk bergantian padanya dan juga Naurin. Hiro sendiri juga kebingungan dengan Dira yang bisa melihat Naurin. “Kak Hiro? Naurin? Jangan-jangan Kak Hiro sama Naurin mau … Enggak kok enggak aku gak lihat kak Hiro ngapa-ngapain sama dia” Dira menggelangkan kepalanya. Dira mengira jika Hiro dan Naurin hendak melakukan sesuatu seperti berciuman atau yang lainnya. “Bukan itu maksud aku! Sini deh ikut aku sebentar” Hiro menarik tangan Dira dan menggiringnya agar mengikuti dirinya mendekat kepada Naurin. Dira terus menatap Naurin dengan tatapan kagum. Wajah Naurin cantik, rambutnya juga indah, kulitnya putih namun pucat. Yang membuat Dira semakin kagum dengan Naurin adalah senyum Naurin yang sangat menyejukkan hati. Dira yang sama-sama perempuan saja merasa jatuh hati pada Naurin saat melihatnya tersenyum. Namun ada satu hal yang kurang disukai oleh Dira. Tatapan mata Naurin tidak bercahaya. Matanya indah, tapi entah mengapa sepertinya dingin dan tidak bercahaya. Hanya matanya saja yang kurang disukai oleh Dira. “Sekarang kamu diri disini” titah Hiro. Dira pun mengikuti permintaannya tersebut untuk berdiri di hadapan Naurin. “Apa yang kamu lihat dari Naurin?” tanya Hiro. Dia ingin benar-benar memastikan jika Dira bisa melihat Naurin. “Cantik” jawab Dira singkat. “Lalu apalagi? Misalnya matanya, senyumnya, rambutnya?” tambah Hiro. “Hmm kulitnya putih pucat, matanya indah tapi … ehmm rambutnya cantik, dikesampingin gitu jadi semakin cantik” Dira sedang mendeskripsikan apa yang dilihatnya. Tapi ternyata hal itu membuat Dira merasa sedikit berkecil hati. Dia melihat Naurin hampir sempurna, sedangkan dirinya hanya perempuan biasa dan tidak secantik Naurin. Naurin cukup tinggi untuk ukuran seorang perempuan, sedangkan dia tidak lebih tinggi dari Naurin tentunya. Tinggi Dira hanya 154 cm saja. Bahkan jika berhadapan dengan Hiro, tingginya hanya sampai dadanya Hiro saja. Disaat Dira sedang tenggelam dengan rasa berkecil hatinya, Hiro kini tenggelam dengan keterkejutannya. Selama ini tidak ada orang lain yang bisa melihat Naurin selain dirinya. Sehingga orang-orang mengira jika Hiro itu mempunyai gangguan jiwa dan harus berkonsultasi dengan psikiater. Hiro menggenggam tangan Dira lagi. “Kamu benar bisa lihat Naurin?” raut wajah Hiro berubah sumringah. Dira semakin kebingungan tidak mengerti apa yang dimaksud Hiro. “Diraa.. Diraa.. Ehh kamu disini ternyata? Ra, yuk kita ke kelas!” Friska muncul dihadapan mereka setelah mencari-cari Dira. Diberikan tas selempang milik Dira lalu Friska menarik tangan Dira agar mengikutinya. Sebelum pergi menjauh Dira sempat membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan. Lalu dilihatnya Naurin melambaikan tangannya pada Dira. Setelah itu sosok Hiro dan Naurin tidak terlihat lagi karena Friska sudah menariknya untuk pergi. “Fris jangan narik-narik dong! Sakit tahu!” keluh Dira. “Lagian kamu ngapain sih ngilang-ngilang? Perasaan tadi lagi liat-liat buku di rak yang gak jauh dari tempat duduk kita, ehh tiba-tiba ngilang gitu aja. Gak tahunya lagi nyamperin Hiro!” kata Friska sedikit kesal pada sahabatnya itu. “Oohh.. iya tadi kayak denger suaranya kak Hiro jadi yaa aku nyamperin hehehe” Dira menyengir pada Friska dan disambut dengan cubitan di pipi kiri Dira. “Duuhh Fris sakit iihh!” dipukulnya pelan tangan Friska yang sudah mencubit pipi Dira. Kemudian dibelainya pipi yang kemerahan karena cubitan tersebut. “Eh Fris, kamu lihat cewek yang disampingnya kak Hiro tadi gak?” tanya Dira. Friska menggelengkan kepalanya karena tidak melihat orang yang dimaksud oleh Dira. “Cewek yang mana? Aku gak merhatiin, aku cuma nyariin kamu eehh gak taunya lagi sama si Hiro senpai”masih terlihat kekesalan di raut wajah Friska. “Iya deh iyaa maaf.. jangan ngambek lagi sih!” “Gak janji ya Ra!” “Dih kamu kok gitu sih Fris? Awas ya kamu” Dira menatap Friska dengan mengerutkan dahinya. Langkah kakinya dipercepat agar mendahului Friska.   ***   “Rin..” dia bisa lihat kamu?” Hiro masih belum bisa mempercayai jika ada orang lain yang bisa melihat Naurin. “Iya dia bisa lihat aku” jawab Naurin. “Itu artinya aku gak punya gangguan jiwa, kamu memang masih ada kan Rin? Kamu masih nemenin aku” wajah Hiro tampak gembira. Pertanyaan Hiro barusan hanya dijawab dengan senyuman dari Naurin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD