Part 7 - Pelangi Naurin

1730 Words
Langit sore hari ini sedikit mendung. Awan tebal di langit membuat suasana menjadi sedikit lebih gelap. Dira melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Baru jam setengah 4 sore tetapi langitnya sudah seperti jam 6 sore. Dira menunggu ojek online yang dipesannya di depan gerbang kampus. Dia bersandar di gerbang yang sudah setengah tertutup. Kemudian pikirannya melayang kembali saat bertemu Hiro di perpustakaan pagi tadi. “Hmm.. Yang tadi itu ceweknya kak Hiro ya? Cantik banget! Pantas saja kak Hiro nolak semua cewek yang nembak dia, kan ceweknya dia juga udah cantik” gumam Dira. Dira mengingat kembali sosok Naurin yang tadi berdiri di samping Hiro. Wajah Naurin yang cantik, senyumnya yang menyejukkan, tapi sepertinya dia bukan mahasiswi di kampus ini. Dira baru tersadar akan hal itu. Dia memang masih junior di kampus, baru masuk semester 3, tetapi setidaknya jika memang Naurin adalah mahasiswi di kampus tersebut lalu mengapa Dira belum pernah melihatnya sama sekali. “Eh kamu!” suara yang tak asing baginya terdengar menyapanya dari belakang. Dira pun menolehkan kepalanya dan melihat siapa yang memanggilnya itu. “Kak Hiro? Belum pulang kak?” tanya Dira yang melihat Hiro berdiri di belakangnya. Dira tahu jika Hiro sedang menyelesaikan skripsinya dan tak harus sampai sore berada di kampus. “Belum, tadi habis nunggu dosen pembimbing dulu. Kamu ngapain diri sendirian disini? Teman kamu mana?” Hiro melihat ke kiri dan kanan mencari keberadaan Friska, karena biasanya mereka selalu berdua. “Dia udah pulang duluan, tadi aku mau balikin buku dulu ke perpus makanya aku minta dia pulang duluan aja” jawab Dira dengan melengoskan pandangannya. Sepertinya Dira tidak suka jika Hiro menanyakan Friska. Dira tetap mengira jika Hiro menyukai Friska karena pernyataannya waktu itu. Pernyataan tentang ada lelaki yang suka pada Friska. “Kamu pulang kemana? Mau aku antar?” mendengar tawaran tersebut membuat hati Dira bersorak sorai karena gembira. Dira langsung membalikkan badannya ke hadapan Hiro lalu menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Yasudah yuk ikut ke parkiran motor, kebetulan ada helm si Putra jadi kamu bisa pakai helm dia” Hiro melangkahkan kakinya menuju ke parkiran diikuti oleh Dira. Kegembiraan dalam hati Dira tak bisa ditutupi. Senyum di wajahnya sangat mengembang, bahkan cara berjalannya saja sudah melompat-lompat seperti anak kecil. Dira memang masih kekanakkan. Setelah sampai di parkiran, Hiro merapatkan resleting jaketnya sebelum menaiki motornya. Setelah itu Hiro memakai helm full face miliknya. Semua itu terlihat keren dalam penglihatan Dira. “Duuhh ini senior kok gak ada gak kerennya sih! Make helm mukanya ketutup semua aja masih keliatan gantengnya. Duhh maaf yaa pacarnya kak Hiro.. Aku pinjam dulu yaa sebentaran” gumam Dira dalam hatinya. Dia sungguh sangat jatuh cinta pada lelaki yang ada di hadapannya itu. “Eh kamu, ehm siapa namanya? Sorry aku lupa” tanya Hiro. Raut wajah Dira seketika menjadi tak bersemangat. Sudah beberapa kali mereka bertemu tetapi Hiro lupa dengan namanya. “Dira kak..” jawab Dira dengan lesu. Kegembiraannya bisa runtuh seketika seperti itu hanya karena Hiro lupa dengan namanya. “Oh Dira! yasudah cepetan naik! Nih pake helm dulu” Hiro memberikan helm untuk dipakai oleh Dira. Dira pun menuruti Hiro untuk memakai helm yang sudah diberikan lalu menaiki motor Hiro. Duduk tepat di belakang Hiro. Bahkan di penglihatan Dira, punggung Hiro saja sudah menunjukkan ketampanannya. “Ya Tuhan.. kenapa sih dia udah ada yang punya” ucap Dira dengan suara berbisik. “Hah? Kenapa? Punya siapa Ra?” ternyata Hiro masih bisa mendengarnya walaupun Dira sudah berbisik sangat pelan. “Ehh enggak kok enggak.. Duuhh jadi malu kan tuh” Dira menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tak disangka, walaupun mengenakan helm full face tetapi pendengaran Hiro masih sangat tajam. Hiro pun menarik gas yang ada di tangan kanannya. Dilajukan motornya dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi. Tiba-tiba rintik hujan pun berjatuhan membasahi bumi. “Dira, ujan nih! Mau lanjut terus apa neduh dulu?” tanya Hiro pada Dira yang ada di belakangnya. “Terserah kak Hiro aja” jawab Dira. Kemudian Hiro melajukan motornya ke tepi jalan dan berhenti tepat di depan sebuah halte bus. “Ra, kita neduh sebentaran di sini ya!” pinta Hiro. Dira pun menyetujui permintaannya itu dan menuruni motor Hiro. Mereka berteduh sejenak sambil menunggu hujan reda di halte bus yang sepi. Sudah hampir 15 menit menunggu tetapi hujan tidak juga reda, malah semakin deras. Dira duduk di kursi panjang yang ada di sana. Sedangkan Hiro berdiri tak jauh dari Dira. “Kak Hiro.. Gak capek diri terus?” tanya Dira. “Capek sih, cuma kalau duduk gak enak dilihat orang nanti” entah apa yang dimaksud Hiro, tetapi Dira merasa Hiro adalah seorang lelaki yang sangat bisa menjaga perasaan kekasihnya. Hiro tidak mau duduk di samping Dira mungkin karena Hiro sudah punya kekasih dan tak ingin membuat kekasihnya salah paham. Ehh tapi Hiro menawari tumpangan pada Dira kan? “Kak, aku boleh nanya gak?” dengan sedikit keraguan Dira ingin melontarkan beberapa pertanyaan pada Hiro. “Boleh, nanya apa?” Hiro membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan Dira. “Kak, yang tadi di perpustakaan itu pacar kak Hiro?” dengan keluguan dari seorang Indira, pertanyaan seperti itu terlontar dengan tatapan polosnya. Dira ingin mendengarnya sendiri dari Hiro. Hiro sempat terdiam beberapa saat sebelum menjawab Dira. Hiro memperhatikan raut wajah Dira yang sangat polos. Mata Dira menatap lurus padanya menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya. “Yang tadi itu.. iya dia kekasih aku” terucap sudah kalimat yang ditunggu oleh Dira. Kalimat tersebut membuat hati Dira sakit, tetapi entah kenapa Dira malah menantikan kalimat itu keluar dari mulut Hiro. Padahal Dira bisa saja berpura-pura tak peduli. “Lain kali, kamu mau aku kenalin sama Naurin?” lanjut Hiro bertanya pada Dira. Hiro memang tidak mengetahui jika Dira menaruh rasa suka pada dirinya, jadi dia tidak tahu jika tawarannya tadi untuk mengenalkan Dira pada Naurin malah membuat hati Dira terluka. Dira menggelengkan kepalanya, memberitahu Hiro jika dia tidak mau dikenalkan oleh kekasih si senior favoritnya itu. Kemudian Dira ingin menanyakan perasaan Hiro pada Friska. “Kak, mau nanya lagi boleh ya..” Dira meminta persetujuan Hiro terlebih dahulu. “Nanya apa lagi? Gak apa-apa bebas kok mau nanya apa aja” Hiro menyunggingkan senyuman di wajahnya. Senyuman yang membuat wajah Hiro terlihat semakin tampan. “Kak Hiro suka sama sahabat aku ya? Bukannya teman kak Hiro udah jadian sama sahabat aku itu?” tanya Dira juga dengan tatapan polosnya. Semakin lama tatapan Dira mengingatkan Hiro pada Naurin, yang selalu manatap lurus ke kedua bola mata Hiro. “Sahabat kamu yang sekarang pacaran sama Putra? Kata siapa aku suka sama dia?” Hiro bertanya balik pada Dira. Hiro tidak pernah sekalipun menaruh rasa suka pada sahabatnya itu seperti yang dia katakan tadi. “Lohh waktu itu kak Hiro nyuruh aku bilang sama sahabatku kalau ada cowok yang suka sama dia. Bukan kak Hiro emangnya?” raut wajah Dira menjadi kebingungan. Kepalanya sedikit dimiringkan ke kanan dengan jari telunjuk menunjuk ke arah Hiro. “Oohh yang waktu itu? Ya cowok yang suka sama dia itu Putra, yang udah jadian sama dia sekarang! Hahaha kamu kira itu aku ya?” Hiro tertawa mengetahui jika Dira sudah salah paham padanya. “Jadi cowok yang suka sama Friska itu Putra senpai? Jadi aku salah paham dong? Duuhh jadi malu lagi deh aku” kembali Dira menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hiro masih tertawa karena kesalahpahaman Dira. Tetapi hati kecil Dira kembali bersorak senang karena dia tidak harus bersaing dengan sahabat baiknya untuk mendapatkan hati Hiro. “Ya gak mungkinlah aku suka sama cewek lain. Di sini, di hati aku ini cuma ada nama satu orang. N – A – U - R – I – N” Hiro menunjuk ke d**a kirinya sambil mengeja nama Naurin. Baru juga Dira merasa senang kini sudah musnah lagi kesenangan itu. Seperti dia baru saja diterbangkan ke langit lalu dijatuhkan dengan sangat kencangnya ke bumi. Dira menundukan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang mendadak lesu. Sepertinya memang tidak ada kesempatan baginya untuk mendapatkan hati Hiro. Sudah tidak ada tempat lagi di hati Hiro. Dia sudah punya kekasih. Dira tidak ingin dianggap sebagai perusak hubungan orang. Walaupun kekanakan tetapi Dira masih tahu diri untuk tidak merusak hubungan orang. “Dira, kamu pakai jaket aku saja ya! hujannya masih lama berhentinya kalau deras gini. Kamu pakai ya biar gak sakit. Kamu gak ada jaket kan?” Hiro memberikan jaket miliknya yang entah kapan dilepaskan. Dira pun menerima jaket yang diberikan Hiro dan mengenakannya. Harum parfum Hiro masih sangat menempel di jaket tersebut. Dira memeluk tubuhnya sendiri, memeluk jaket Hiro yang sudah dikenakan lebih tepatnya. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menembus derasnya hujan. Dira memegang baju Hiro pada bagian pinggangnya, karena tak mungkin dia memeluk Hiro dari belakang. Hiro sudah ada yang punya. “Dira, kamu tahu gak?” tanya Hiro yang berada di depannya. “Tahu apa kak?” balik Dira bertanya penasaran. “Sehabis hujan biasanya akan ada pelangi. Ini udah sore, semoga pelanginya tetap muncul ya” ucap Hiro penuh harap. “Memangnya kenapa kak Hiro? Kakak suka pelangi?” tanya Dira lagi. “Iya, karena Naurin juga suka banget sama pelangi” jawab Hiro dengan menyertakan nama Naurin lagi. Hati Dira sudah menjadi semakin panas, perih dan terluka. Hiro tidak dengan sengaja menyakiti hatinya karena memang Hiro tidak tahu jika Dira menyukainya. Dira menyakiti hatinya sendiri karena menaruh hati pada seorang lelaki yang sudah memiliki kekasih. Air mata Dira akhirnya menetes. Dira membuka kaca helmnya agar air hujan membasuh wajahnya dan menyembunyikan air matanya. Dira kini menyadari jika jatuh cinta itu ternyata menyakitkan. Karena Dira jatuh cinta pada lelaki yang sudah memiliki kekasih. Dira tidak mengetahui jika sebenarnya Naurin sudah tiada. Yang dia lihat tadi pagi bersama Hiro hanyalah arwahnya saja. Gentayangan? Mungkin saja, karena arwah Naurin masih setia menemani Hiro hingga 5 tahun ini. Dira telah sampai di rumahnya. Hujan pun sudah berhenti. Dira memberikan helm yang tadi dipakainya pada Hiro. “Kak, ini helmnya. Kalau jaket biar aku cuci dulu ya kak” disodorkan helm tersebut pada Hiro. Namun Hiro tidak menoleh padanya. Hiro sedikit mendungakan kepalanya menatap ke langit. Melihat Hiro yang mendungakan kepalanya membuat Dira juga ikut melakukan hal yang sama. Di langit sore setelah hujan itu terlukis pelangi. Pelangi yang tampak lebih indah dari biasanya berkat langit sore yang berwarna jingga. “Pelanginya muncul ya kak” ucap Dira. “Benar kan apa yang aku bilang tadi. Setelah hujan biasanya akan muncul pelangi” senyum kecil terbit dari bibir Hiro. Dira mengubah arah pandangnya kepada Hiro. Langit sore dengan goresan pelangi itu memang indah. Tetapi senyum di wajah senior favoritnya itu lebih dari sekedar indah. “Dira, kamu tahu gak?” tanya Hiro. “Tahu apa kak?” “Pelangi itu, pelanginya Naurin” senyum Hiro semakin mengembang setelah mengatakan hal barusan. Lagi-lagi Naurin, hati Dira kembali terluka mendengar nama itu. Jika Naurin adalah segala-galanya untuk Hiro. Maka Dira akan mengubur perasaan yang tidak akan terbalas itu untuk selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD