Part 8 - Merebut Hiro

2169 Words
“Dira, kamu tahu gak?” tanya Hiro. “Tahu apa kak?” “Pelangi itu, pelanginya Naurin” senyum Hiro semakin mengembang setelah mengatakan hal barusan. Lagi-lagi Naurin, hati Dira kembali terluka mendengar nama itu. Jika Naurin adalah segala-galanya untuk Hiro. Maka Dira akan mengubur perasaan yang tidak akan terbalas itu untuk selamanya.   ***   Keesokan harinya para mahasiswa dan mahasiswi di kampus Hiro sudah benar-benar disibukkan dengan persiapan acara bunkasai atau festival kebudayaan Jepang. Hari ini lebih sibuk dari hari-hari persiapan sebelumnya. Karena besok acara bunkasai sudah akan dimulai. Dira dan Friska juga ikut serta di kesibukan tersebut. Mereka masih junior, jurusan Sastra Jepang pula, itu artinya mereka juga harus membantu persiapan festival kebudayaan tersebut. Dira membantu teman-teman lainnya mengurusi salah satu personil band indie yang akan mengisi acara. Sedangkan Friska bertugas untuk mengurusi stand bazaar yang akan turut serta dalam acara kebudayaan tersebut. Hari ini Dira harus menemani band indie jejepangan yang akan melakukan gladi bersih di panggung. Band bernama Furizu yang berisikan 5 orang lelaki muda sebagai personilnya itu akan diurusi oleh Dira sampai besok. “Furizu.. Furizu.. ayo check sound dulu!” teriak Dira memanggil para personil band tersebut dengan hanya nama band nya saja, bukan nama mereka masing-masing. Para personil band tersebut pun berkumpul dan melakukan check sound sesuai arahan Dira. hanya 15 menit saja mereka mendapatkan waktu untuk check sound. Setelah itu mereka digiring oleh Dira ke sebuah ruangan untuk diberikan kalungan nametag agar besok mereka bisa masuk ke dalam kampus dengan mudah. “Ini untuk kalian ya! Tolong besok dipakai, jangan sampai ketinggalan. Terus apa saja yang kalian butuhkan sudah ditulis di form ini kan?” Dira menunjukan selembar kertas berisi daftar kebutuhan band Furizu untuk acara besok. “Iya iya sudah! Kamu juga besok jangan sampai ada yang kurang dari yang kami tulis di situ ya!” salah seorang personil langsung berdiri bersiap meninggalkan Dira. “Woy Sat! Tungguin kita jangan ngabur sendirian!” teriak personil lainnya. Alhasil semua personil band Furizu meninggalkan Dira seorang diri tanpa mau mendengarkan penjelasan lainnya. “Ehh ehh kok pada pergi ninggalin aku sih? Heeyy tunggu dulu kenapa pada pergi!” Dira berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya memanggil para personil band Furizu yang sudah terlihat jauh dari pandangannya. Bukannya kembali, para personil band tersebut malah semakin menjauh dan mulai menghilang dari pandangan Dira. Satya, vokalis dari band tersebut ternyata masih mahasiswa yang juga mengenyam pendidikan di kampus itu. Satya juga masih junior sama seperti Dira, hanya berbeda jurusan. Namun Satya juga terlalu sering absen dan jarang menunjukkan batang hidungnya. Dia berkuliah hanya untuk menyenangkan hati orang tuanya, bukan karena keinginannya sendiri. “Sat, cewek yang tadi itu bukannya cewek yang ada di foto itu? yang lu jadiin wallpaper kan?” ucap Robi, gitaris dari band furizu. “Diem gak lu! Nanti yang lain tahu!” Satya menyuruh Robi untuk menutup mulutnya karena personil yang lainnya sudah beberapa langkah lagi akan sejajar dengan Satya dan Rosi. Dira yang sudah ditinggal pergi oleh para personil band Furizu kini hanya bisa menggerutu seorang diri di ruangan tempat mereka berkumpul sebelumnya. “Iihh rese banget sih itu orang-orang! Gak bisa apa ngehargain aku? Aku kan capek harus mondar mandir dari tadi, ehh sampe disini main ditinggal gitu aja! Lihat aja besok, gak bakal aku urusin mereka!” Dira menggerutu dilengkapi dengan bibir cemberutnya. “Eh ada Dira?” Hiro tiba-tiba muncul di ruangan tersebut. Dira yang mendengar suara Hiro tentu saja langsung berbalik dan menampilkan wajah tersenyumnya pada Hiro. “Kamu jadi panitia buat besok ya?” tanya Hiro. Dia melihat tanda kepanitiaan yang dikalungkan dileher Dira. “Iya kak, kan hampir semua junior yang jadi panitianya. Si Friska juga jadi panitia kok” jawab Dira. Hiro hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti. “Kak Hiro mau ngapain?” tanya Dira. “Aku? Mau ngambil ini nih!” Hiro menuju ke salah satu meja yang tersedia di ruangan tersebut. Dia mengambil sebuah majalah bergambar animasi dari laci meja tersebut lalu ditunjukan pada Dira. “Si Putra naruhnya sembarangan aja. Untung gak ilang! Kalo ilang bisa marah si Naurin!” tambah Hiro. “Hoo jadi itu majalah punya kak Hiro apa kak Naurin sih? kok kayaknya kak Hiro cinta banget sama kak Naurin sampai-sampai setiap ketemu sama kak Hiro pasti ngomonginya kak Naurin terus deh! Kak Hiro gak tahu apa kalau aku kan jadi cemburu!” kalimat tersebut diucapkan Dira di dalam hatinya. Hiro sudah duduk di dekat Dira dan membaca majalah yang animasi tadi. Dira tak ingin menginterupsi Hiro kali ini. Dia membiarkan Hiro dengan dunianya sendiri. Sedangkan Dira merapihkan barang-barang miliknya dan bersiap untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut. “Dira, besok Naurin pasti datang! Dia suka banget sama kebudayaan Jepang” lagi-lagi Hiro membicarakan Naurin di hadapan Dira. “Hmm gitu ya kak..” jawab Dira berusaha tak peduli. “Kamu masih mau ketemu Naurin?” tanya Hiro pada Dira yang mulai menunjukan raut wajah sedih karena lelaki di dekatnya ini selalu membicarakan kekasihnya. “Memang gak apa-apa kalau aku ketemu kak Naurin lagi?” “Gak apa-apa. Lagian kayaknya juga kamu doang yang bisa ketemu Naurin” jawab Hiro namun dengan pandangan mata yang tetap mengarah ke majalah di tangannya. “Loh kenapa gitu kak?” tanya Dira penasaran. “Hmm.. karena.. yaa gitu deh! Pokoknya besok kita ketemu Naurin ya!” Hiro menggantungkan jawabannya kemudian dia beranjak terlebih dahulu meninggalkan Dira. Dira tak mau mengambil pusing, tetapi dia masih penasaran mengapa Hiro mengatakan jika hanya dirinya yang bisa bertemu dengan Naurin. Dira langsung berpikir jika Naurin sebenarnya tidak terlalu suka bergaul. Oleh karena itu dia tak mau bertemu dengan orang lain. “Eh atau jangan-jangan kak Naurin udah tahu kalau aku tuh kemarin diantar pulang sama kak Hiro? Duh bisa gawat deh kalau gitu! Kak Naurin kalau marah tuh serem deh kayaknya. Besok aku harus jelasin duluan sebelum dilabrak sama kak Naurin. Eh aku kejar kak Hiro aja deh kali aja dia tahu besok kak Naurin mau ngomong apa” Dira bermonolog, menerka-nerka apa yang akan terjadi besok saat bertemu dengan Naurin. Dira mengangkat semua barang-barang miliknya dan menggendongnya seperti sedang membawa bayi. Kemudian dia keluar dari dalam ruangan dengan sedikit terburu-buru. Dia ingin mengejar Hiro. Dia ingin menanyakan tentang apa yang Naurin ingin bicarakan besok dengannya. Namun sangat disayangkan, Dira masih kurang cepat sehingga Hiro sudah tak terlihat lagi dimana-mana. Dira menghela nafasnya dengan lesu. Dia harus mempersiapkan dirinya besok untuk menemui Naurin.   ***   Hari pun sudah berganti. Acara Festival Kebudayaan kini sedang berlangsung dengan sangat meriah. Dira kini sangat sibuk mengurusi band Furizu yang para anggotanya sangat sulit diatur. “Robi yang mana sih? ini tolong dong kamu pakai kalung namanya biar aku gak susah nyari kamu!” Dira sedang mengomeli Robi karena tak mau menggunakan kalung penanda pengisi acara. “Si Satya aja gak pake kok gak diprotes? Itu protes dulu si Satya!” Robi menolak dan meminta Dira agar menyuruh Satya terlebih dahulu untuk menggunakan kalung penanda pengisi acara tersebut. Dengan perasaan kesal Dira pun menghampiri Satya yang sedang duduk santai sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Saat sampai di hadapan Satya, Dira langsung menyodorkan tanda pengisi acara agar dipakai oleh Satya. “Apaan tuh?” tanya Satya dengan mengerutkan dahi melihat kalung tanda pengisi acara yang disodorkan oleh Dira. “Ini pakai! Biar teman-teman kamu yang lain juga pakai!” ujar Dira. “Gak mau ah! Kamu pegang saja ya!” Satya menolak untuk mengenakan kalung tanda pengisi acara. Dira menjadi semakin kesal. Dia mengepalkan kedua tangannya menahan emosinya agar tidak membludak. Dira menatap Satya dengan tatapan penuh kemarahan. Karena Satya adalah orang yang memimpin band Furizu, maka Satya yang harus disalahkan jika semua anggotanya tak mau menurut pada Dira. “Kenapa kamu ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Satya pada Dira yang ingin melampiaskan amarahnya. “Kamu itu ya! Gara-gara kamu …” “Woii yang namanya Dira! Nih ada yang nyariin!” Dastan, bassis band Furizu, memanggil Dira saat Dira ingin melampiaskan amarahnya. Dira dan juga Satya langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu ingin melihat siapa yang sudah mencari-cari Dira. Mata Dira berubah menjadi berbinar-binar saat melihat Hiro sudah berdiri di depan pintu. Satya melihat perubahan raut wajah Dira yang kini menjadi sangat gembira dengan kedatangan lelaki yang belum dia kenal itu. “Kak Hiroo..” Dira langsung melangkahkan kakinya mendekat pada Hiro. Mata Satya terus memperhatikan Dira. Satya ingin tahu siapa sebenarnya lelaki yang mencari Dira itu. “Kamu lagi sibuk ya? Belum bisa di ganggu?” tanya Hiro. “Hemm sebentar lagi mereka manggung kok terus habis itu aku free deh kak!” jawab Dira. Tak lupa Dira menunjukan senyum di wajahnya. “Yasudah kalau gitu nanti setelah band yang kamu urus itu selesai manggung, aku tunggu kamu di belakang stand pernak-pernik ya!” ajak Hiro. Dira semakin mengembangkan senyum di wajahnya dan menerima ajakan Hiro barusan. “Yess ajakan kencan!” begitulah yang ada dalam pikirannya. Kemudian Hiro pergi tak ingin mengganggu Dira. Dira pun melambaikan tangannya hingga Hiro benar-benar tak terlihat lagi. Jantung Dira berdegub dengan kencang setelah menerima ajakan dari Hiro. Sedangkan pemilik sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan Dira merasa tidak suka melihat Dira tersenyum karena lelaki lain. “Saingan tuh Sat.” ucap Robi dengan berbisik. “Diem deh gak usah berisik!” Satya mengerlingkan matanya tajam pada Robi. Dia tak ingin teman-teman yang lainnya mendengar apa yang baru saja Robi katakan. Setelah menemui Dira, Hiro kini menuju ke perpustakaan. Satu-satunya tempat yang tidak terlalu ramai disaat festival kebudayaan berlangsung. Hiro memilih tempat agak sedikit ke pojok agar tidak ada orang yang melihatnya berbicara sendiri. Berbicara dengan Naurin. “Rin, kamu lihat kan tadi banyak banget yang pakai kostum dari film animasi yang kamu suka itu tuh” ucap Hiro pada Naurin yang kini sudah hadir di hadapannya. Naurin tersenyum menanggapi pertanyaan Hiro. Lalu Hiro melanjutkan obrolannya. “Hmm Rin, kamu kalau pakai yukata pasti kelihatan cantik. Kamu mau coba gak? Kan ada stand penyewaan yukata jadi kita bisa sewa yukatanya” kali ini Naurin menggelengkan kepalanya menolak tawaran Hiro. Lagipula bagaimana mungkin Naurin menyewa yukata disana? “Oh iya, nanti kita jadi ketemu sama Dira ya.. Aku udah ajakin dia tadi. Kamu mau kan ketemu sama Dira lagi? Jadi kamu bisa ngobrol banyak sama dia” kali ini Naurin tidak memberikan respon apapun. Dia hanya menatap lurus pada Hiro dengan tatapan serius. “Riinn.. Kamu kok gak jawab aku?” tanya Hiro yang masih menunggu jawaban Naurin. Tiba-tiba Naurin menundukan kepalanya dengan raut kesedihan terpampang di wajah cantiknya. Hiro tak mengerti mengapa Naurin menjadi sedih seperti itu. Hiro menyentuh dagu Naurin dan mengangkat wajahnya. “Rin, kamu gak suka kalau aku dekat sama Dira?” Hiro seakan mengerti dengan apa yang dirasakan Naurin. Bisakah hantu cemburu? “Rin, kalau kamu gak suka maka aku gak akan ngobrol sama Dira lagi” Hiro mendekatkan wajahnya pada Naurin. Kemudian kedua bola mata Naurin menatap Hiro dengan sendu. “Aku gak tahu harus senang atau sedih kalau kamu dekat dengan yang lain. Karena aku tetap disini juga hanya untuk memastikan kalau kamu bisa menjalani hidup kamu tanpa terus meratapi kesalahan kamu.” Suara Naurin juga terdengar sendu. Hiro menarik tubuh Naurin ke dalam pelukannya. Entah sebenarnya dia bisa merasakan tubuh Naurin atau hanya seperti memeluk udara yang ditangkapnya. Tetapi Hiro ingin menunjukan apa yang dia rasakan terhadap Naurin. Kemudian Hiro sedikit melonggarkan pelukannya dan mencium bibir Naurin. Hiro sudah tak bisa menahannya lagi. Sudah sangat lama dia menahan perasaannya ini. Bibir Naurin terasa dingin, tubuhnya yang masih dalam pelukan Hiro juga terasa dingin. Tetapi tak ada ketakutan sama sekali di hati Hiro. Dia mencintai Naurin. Hanya itu yang kini ingin dia tunjukan pada Naurin. Dug! Terdengar seseorang seperti menabrak rak buku yang berada di dekat Hiro dan Naurin. Hiro langsung menoleh ke sumber suara. Terlihat Dira sedang memegangi lututnya dan sedikit meringis kesakitan. “Kamu ngapain disini?” tanya Hiro pada Dira yang sedang memegangi lututnya. “Anu kak.. itu.. Anu.. aku mau ambil buku” Dira sudah terbata menjawab Hiro. “Kamu lihat kami berciuman?” tanya Hiro dengan nada suara berat. “Iya. Eh enggak, maksudnya gak sengaja lihat!” jawab Dira dengan sedikit bingung harus berkata jujur atau tidak. Sebenarnya Dira sudah melihat dan hampir mendengar semuanya. Dira mendengar jika Hiro akan menjauhinya karena Naurin tidak suka jika Hiro dekat-dekat dengannya. Tetapi Dira tak ingin sampai hal itu terjadi. Di dalam hati Dira seperti ada sesuatu yang ingin melompat keluar. Sesuatu yang ingin mengatakan pada Naurin jika Dira juga ingin tetap dekat dengan Hiro. “Kak Naurin, kakak gak suka aku dekat dengan kak Hiro?” tanya Dira dengan sangat berani pada Naurin. “Kak, aku mau menantang kakak. Aku akan merebut Hiro dari kakak! Awalnya aku mau nyerah karena kelihatannya kakak adalah orang baik. Tetapi kalau kak Naurin sampai bikin kak Hiro sedih kayak tadi itu artinya kakak bukan orang baik. Jadi aku mau merebut kak Hiro dari kak Naurin!” genderang perang telah dibunyikan. Hiro dan Naurin hanya terbengong mendengar semua kalimat yang diucapkan oleh Dira. Anak itu tidak sedang sakit kan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD