Part 9 - Merebut Hiro 2

1724 Words
“Kak Naurin, kakak gak suka aku dekat dengan kak Hiro?” tanya Dira dengan sangat berani pada Naurin. “Kak, aku mau menantang kakak. Aku akan merebut Hiro dari kakak! Awalnya aku mau nyerah karena kelihatannya kakak adalah orang baik. Tetapi kalau kak Naurin sampai bikin kak Hiro sedih kayak tadi itu artinya kakak bukan orang baik. Jadi aku mau merebut kak Hiro dari kak Naurin!” genderang perang telah dibunyikan. Hiro dan Naurin hanya terbengong mendengar semua kalimat yang diucapkan oleh Dira. Anak itu tidak sedang sakit kan? “Dira, kamu lagi kenapa? Salah makan atau gimana? Kenapa ngomongnya ngelantur gitu?” tanya Hiro keheranan pada Dira yang tiba-tiba menantang Naurin. “Aku gak salah makan kok! Kak Hiro mau ngejauhin aku kan? Aku gak mau! Aku suka sama kak Hiro!” Dira menyatakan perasaannya pada Hiro. “Hah? Apa kamu bilang?” Hiro menaikan kedua alisnya pada Dira. Sedangkan Naurin hanya terdiam di belakang Hiro. “Eh aku bilang apa tadi? Aku keceplosan.” Dira menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Pipinya langsung merona kemerahan di hadapan Hiro dan Naurin. “Duuhh ini mulut ngomong apa sih! Gak bisa di rem sedikit apa? Kan malu nihh jadinya” Dira menggerutu dengan suara pelan agar tidak terdengar Hiro dan Naurin. Naurin melangkah maju mendekati Dira dan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Dira. Mata indah Naurin menatap Dira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Naurin sedikit memajukan wajahnya lebih dekat pada telinga Dira. “Coba saja kamu rebut Hiro dari aku. Aku sangat mendukung kamu. Tetapi jika sekali saja kamu membuat Hiro sedih, maka aku akan sangat marah padamu.” Naurin membisikan kalimat tersebut di telinga Dira. Tubuh Dira langsung membeku mendengar kalimat yang baru saja di dengarnya. Ini Naurin gak salah ngomong kan? Hiro menepuk pundak Naurin pelan. Naurin pun membalikan badannya menghadap Hiro. “Sudah yuk Rin, kita pulang saja. Dira juga lagi sibuk kan?” Kemudian Hiro menggandeng tangan Naurin dan menuntunnya agar mengikuti kemana Hiro melangkah. Dira melihat sikap Hiro yang sangat lembut pada Naurin membuat hati kecilnya seperti tergelitik. Dia cemburu. Dia juga ingin diperlakukan lembut seperti itu oleh Hiro. Tetapi Dira kembali berpikir apakah dirinya sanggup merebut Hiro dari wanita secantik Naurin. Setelah kepergian Hiro dan Naurin, Dira pun kembali ke ruang tunggu band Furizu. Dia ingin merapihkan barang-barang miliknya agar bisa cepat bergegas pulang. Semangatnya hilang begitu saja. Brraakk. Dira membuka pintu dengan tenaga yang sedikit berlebih. Satya dan teman-temannya langsung menoleh ke arah Dira yang terpaku di depan pintu mengetahui mereka masih berada disana. “Kamu habis putus cinta makanya ngedobrak pintu?” celetuk Robi, dan celetukannya hampir mendekati perasaan Dira saat ini. “Aku kira kalian sudah pulang semua. Maaf ya aku juga gak bermaksud ngedobrak pintu.” Sedikit malu-malu Dira meminta maaf pada semua anggota band Furizu. Sesaat sebelumnya semangat Dira hilang, tetapi ternyata tenaganya masih tersisa untuk mendobrak pintu. “Aku nungguin kamu. Mana buku yang aku minta?” Satya mengulurkan tangannya pada Dira. “Hah? Buku? Buku apa?” tanya Dira kebingungan. “Tadi kan aku minta tolong kamu untuk cariin buku di perpustakaan. Mana bukunya?” “Oohh iya ya! Duhh gara-gara tadi ketemu kak Hiro sama kak Naurin aku jadi lupa deh!” Dira menepuk jidatnya. Sebelumnya memang Satya meminta Dira untuk mencarikan dia sebuah buku du perpustakaan. Tetapi pada saat itu Dira menemukan Hiro yang sedang bermesraan dengan Naurin. Oleh karena itu Dira langsung lupa tujuan awalnya ke perpustakaan dan malah mengajukan sebuah tantangan pada Naurin untuk merebut Hiro. “Jadi bukunya gak kamu cari?” tanya Satya kesal. “Maaf, maaf! Aku cariin lagi deh! Kamu tunggu disini ya bang Sat!” Dira hendak berbalik dan menjauh dari ruangan tersebut. “Eh sebentar sebentar, tadi bilang apa? Kamu ngomong gak sopan sama gue?” Satya langsung mengerutkan dahinya dan memberikan tatapan tajam pada Dira karena mendengar Dira mengucapkan sebuah kata yang tidak sopan pada Satya. “Kok gak sopan?” Dira malah bertanya balik keheranan. “Tadi kamu bilang b*****t kan?” jelas Satya. “Hah? Oohh bang Sat, yaa bang Satya! Hahahaha” lamgsung Dira melarikan diri secepat kilat dari hadapan Satya dan juga teman-temannya setelah membuat lucon yang tidak lucu menurut Satya. Semua teman-teman Satya langsung tertawa hingga terpingkal-pingkal melihat Satya yang dikerjai oleh Dira. Nama Satya dibuat lelucon seperti itu oleh Dira. Robi sampai memegangi perutnya yang mulai terasa sakit karena tertawa terus menerus. Satya yang merasa malu lebih memilih untuk meninggalkan ruang tunggu tersebut. Teman-temannya sempat menahannya agar tidak pergi karena Dira yang kembali ke perpustakaan untuk mengambilkan buku untuk Satya. Tetapi Satya langsung pergi begitu saja tak menghiraukan teman-temannya. Dira? Biarkan saja! Satya dibuat malu olehnya.   ***   Hiro sedang merapihkan buku-buku yang berserakan di lantai kamarnya. Naurin hanya duduk di pinggir ranjang menemani Hiro. “Rin, kamu gak ada niat bantuin aku?” tanya Hiro. Kemudian Naurin tersenyum dan beranjak dari tempatnya. Dia membungkukan tubuhnya untuk membantu Hiro mengambil buku yang berada di dekatnya. Naurin bukanlah manusia lagi. Dia berkali-kali mencoba untuk mengambil buku tersebut namun tangannya menembus buku dan tak bisa menggenggamnya. Hiro melihat hal tersebut, lalu kedua mata mereka saling bertatapan. Naurin hanya memberikan senyuman pada Hiro memberi kode jika dia tak bisa membantu Hiro. “Yasudah gak apa-apa Rin, kamu duduk manis saja. Sudah ada niat bantu aku juga aku sudah senang kok” ucap Hiro sambil mengambil buku yang tergeletak di samping kaki Naurin. “Maaf ya Hiro, kalau saja aku bisa bantu kamu pasti kamar kamu ini lebih rapih dari yang sekarang” jawab Naurin. “Hmm kayaknya juga kamu gak pernah bantuin aku Rin, kamu tuh dulu senangnya ya bikin kmar aku makin berantakan sama komik-komik kamu” sahut Hiro sambil mengembalikan kenangannya dulu saat Naurin masih hidup. Dulu Naurin sangat suka berkunjung ke rumah Hiro hanya untuk sekedar membaca komik. Bahkan sangat sering kamar Hiro menjadi penuh dengan tumpukan komik milik Naurin. Pada akhirnya Hiro tetap merapihkan kamarnya seorang diri karena Naurin tak bisa membantunya. Sesekali Hiro melirik ke arah Naurin, hatinya terasa sedikit sedih mengingat jika Naurin yang sedang duduk di pinggir ranjangnya itu hanyalah arwah yang masih menemaninya hingga sekarang. “Hiro? Kamu kenapa ngelirik ke arah aku terus?” tanya Naurin yang mengetahui jika Hiro terus melirik padanya. “Memangnya aku gak boleh ya ngelirik kamu?” Hiro balik bertanya pada Naurin. “Ya enggak apa-apa” jawab Naurin singkat. “Rin, aku gak bisa bayangin kalau suatu saat nanti kamu bakal benar-benar hilang dari kehidupan aku.” Suara Hiro terdengar sendu mengatakan kalimat tersebur. Naurin tidak menjawab Hiro, dia hanya memberikan senyumannya pada Hiro. Masing-masing dari mereka tahu jika suatu saat nanti mereka akan benar-benar terpisah. Arwah Naurin tak mungkin selamanya ada untuk menemani Hiro. Naurin masih diberi kesempatan berada di sisi Hiro hanya untuk memastikan jika Hiro akan menemukan kebahagiaannya saat Naurin pergi. “Hiroo, bisa bantu mama sebentar gak?” Ibu Lidya, mamanya Hiro, memanggil Hiro karena membutuhkan bantuannya. Tanpa berpamitan terlebih dahulu Hiro pun meninggalkan Naurin untuk menghampiri mamanya. Hiro tak mau Naurin melihat wajah sedihnya lagi. Karena Hiro tahu, Naurin juga pasti akan merasakan kesedihan yang sama dengannya. Di tempat lain, di kediaman Dira, kini Dira dan Friska sedang mengobrol di dalam kamar. Dira menceritakan tentang kejadian tadi siang saat Dira memergoki Hiro sedang berciuman dengan Naurin. “Apa Ra? Hiro ciuman? Di perpustakaan?” reaksi terkejut Friska setelah mendengar jika Hiro berciuman dengan kekasihnya. “Iya Fris. Mana katanya kak Hiro juga mau ngejauhin aku karena pacarnya kelihatan gak suka kalau kak Hiro dekat sama aku.” Raut wajah Dira mendadak muram. Dia tidak mau jika harus jauh dari Hiro. “Jadi Hiro senpai juga bilang kalau mau ngejauhin kamu? Dia bilang gitu Ra?” tanya Friska yang kembali terkejut setelah mengetahui jika Hiro bisa berkata demikian. Friska mengira jika Hiro tak akan mungkin setega itu. Tetapi nyatanya untuk orang yang dia cintai, Hiro bisa mengatakan hal demikian. “Iya Friskaa.. Duuhh tuhh kan jadi ilang lagi deh mood aku!” jawab Dira kesal. “Terus kamu bilang apa?” Friska mulai penasaran bagaimana Dira memberikan tanggapan pada perkataan Hiro. “Aku malah nantangin pacarnya kak Hiro, aku bilang kalau aku bakal ngerebut kak Hiro. Duh gak tau itu aku kenapa ngomong gitu. Padahal pacarnya kak Hiro itu cantik banged loh Fris. Udah kalah fisik aku kalau harus diadu sama dia.” Dira menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menyesali apa yang sudah dia ucapkan pada Naurin jika dia ingin menantang Naurin dan akan merebut Hiro dari sisinya. “Seriusan kamu Ra? Kamu bisa nantangin pacarnya kayak gitu? Berani juga kamu.” Friska tak menyangka teman imutnya itu bisa menantang orang lain jika menyangkut Hiro. “Iya serius Fris, aku juga sempet nyatain ke kak Hiro kalau aku tuh suka sama dia. Keceplosan aku.” Dira menjadi tak berani membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya. Wajahnya pasti merah seperti kepiting rebus, dan Friska pasti akan meledeknya. Perkiraan Dira kali ini salah. Friska sama sekali tidak meledek atau mengusilinya. Justru Friska malah terdiam membeku mendengar jika Dira sudah menyatakan rasa sukanya pada Hiro. Dira benar-benar serius untuk merebut Hiro dari kekasihnya. “Ra..” Friska memanggil Dira dengan suara berat. Dira membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya. “Iya Fris? Kamu kenapa kok natap aku serius banget kayak gitu?” tanya Dira yang melihat keseriusan dari raut wajah Friska. “Kamu serius mau merebut Hiro senpai dari pacarnya?” tanya Friska dengan tatapan mata yang tajam pada Dira. “Memangnya kenapa Fris?” Dira bertanya balik pada Friska. “Kalau aku juga ikut merebut Hiro senpai, gimana?” Friska melontarkan pertanyaan yang membuat Dira langsung berdiri dengan dahi yang berkerut. “Maksud kamu apa Fris?” tanya Dira dengan nada sedikit marah. “Aku juga mau merebut Hiro. Gak hanya dari pacarnya, tetapi juga dari kamu.” Friska memperjelas pernyataannya tentang merebut Hiro. “Fris, kamu kan sudah punya pacar. Putra senpai kan pacar kamu!” Dira mengingatkan Friska jika dirinya sudah memiliki seorang kekasih. “Pacaran sama Putra senpai itu hanya sebuah ketidaksengajaan, Ra. Aku juga sebenarnya menaruh rasa suka sama Hiro senpai.” Dengan lugas Friska mengatakan perasaannya. Dira terkejut tak menyangka jika sahabatnya juga menaruh hati pada lelaki yang sama. Sesaat atmosfer diantara kedua sahabat itu menjadi berbeda. Seperti ada kilat yang menyambar-nyambar diantara mereka. Apakah persahabatan mereka harus terpecah hanya karena memperebutkan seorang lelaki?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD