Restoran Vignetta menyambut pagi dengan cara yang tidak terkesan eksklusif. Lampu gantung berwarna hangat menyala sejak matahari belum sepenuhnya naik. Aroma roti panggang dan saus tomat rebus bercampur dengan wangi kopi segar, menyelinap sampai ke pintu depan. Elegan, tapi tidak dingin. Tempat ini terasa seperti ingin didatangi, bukan sekadar difoto. Cahyati berdiri di dekat pintu masuk, nyaris tidak dikenali. Blazer abu-abu tua menutup tubuhnya rapi. Rambutnya disanggul ketat, tanpa satu helai pun memberontak. Kacamata besar bertengger di hidung, bukan untuk gaya, tapi untuk mengaburkan. Masker menutupi separuh wajahnya, membuat siapa pun yang menatapnya dua kali akan langsung berpikir ia pegawai kantoran yang flu karena kebanyakan lembur. Rowan berhenti di sampingnya, menilai dari uj

