Daddy Mertua

1379 Words

Pagi itu bel apartemen Hugo berbunyi terlalu ceria untuk ukuran hari kerja. Hugo yang sudah rapi, kemeja disetrika Cahyati, sepatu sudah bersih mengilap, berhenti tepat di depan pintu. Ada rasa bangga kecil di dadanya. Hari ini, akhirnya, ia kembali ke kantor. Bekerja lagi, hidupnya berjalan lagi. Begitu dibuka, semangat itu langsung retak. Rowan berdiri santai di depan pintu, satu tangan membawa paper bag berisi kopi, satu tangan lagi sudah lebih dulu menepuk kepala Cahyati, seperti refleks yang terlalu terlatih. “Pagi, Cayang,” kata Rowan ringan. “Gue bawain kopi kesukaan lo. Yang manis, kayak lo. Yang pait buat Hugo, kayak selera hidpunya.” Cahyati mendengus, tapi tetap mengambil gelasnya. “Lo datang kepagian.” “Enggak kok,” bantah Rowan. “Ini waktu paling pas buat ganggu orang.”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD